2 Film Hollywood yang Berlatar di Jogja, dari Kejar-kejaran di Malioboro hingga Perang Melawan Alien
film Hollywood yang berlatar di Jogja/ Netflix
Kapanlagi.com - Yogyakarta bukan hanya dikenal sebagai kota budaya dan destinasi wisata, tetapi juga pernah menjadi panggung bagi film Hollywood yang berlatar di Jogja. Jalanan kota, kawasan candi, hingga lanskap alamnya ternyata mampu memberikan visual yang menarik bagi produksi film internasional.
Kehadiran produksi berskala Hollywood di Yogyakarta menjadi sesuatu yang cukup istimewa karena penonton dapat melihat sejumlah tempat yang familier dalam kemasan sinema internasional. Bahkan, ada film yang menjadikan Yogyakarta sebagai bagian penting dari jalan ceritanya, sementara film lainnya memanfaatkan lanskap Jogja untuk menggambarkan wilayah fiksi di Asia Tenggara.
Jika selama ini Yogyakarta identik dengan film-film Indonesia, dua film berikut menunjukkan bahwa kota ini juga pernah menjadi bagian dari produksi film laga internasional, Jumat (4/9/2026).
Advertisement
1. Java Heat (2013): Yogyakarta Menjadi Panggung Utama Cerita
Film aksi yang benar-benar membawa penonton ke Yogyakarta
Di antara film internasional yang pernah mengambil gambar di Yogyakarta, Java Heat merupakan salah satu judul yang paling tepat disebut ketika membicarakan film Hollywood yang berlatar di Jogja. Film aksi yang dirilis pada 2013 ini tidak sekadar menggunakan Yogyakarta sebagai lokasi pengambilan gambar, tetapi menempatkan Indonesia sebagai bagian penting dari dunia ceritanya.
Film ini disutradarai Conor Allyn dan dibintangi Kellan Lutz, Mickey Rourke, Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, serta sejumlah aktor Indonesia lainnya. Ceritanya mempertemukan Jake Travers, seorang pria Amerika yang memiliki identitas rahasia, dengan Letnan Hashim, polisi lokal yang diperankan Ario Bayu.
Keduanya berada dalam situasi yang awalnya penuh kecurigaan. Jake menjadi saksi sekaligus tersangka setelah sebuah serangan bom terjadi di Yogyakarta. Ia kemudian harus bekerja sama dengan Hashim untuk mengungkap jaringan kriminal di balik rangkaian kejadian tersebut.
Kellan Lutz dan Ario Bayu dalam perpaduan karakter Amerika-Indonesia
Salah satu daya tarik Java Heat adalah pertemuan karakter dari dua latar belakang berbeda. Kellan Lutz memainkan Jake Travers, sementara Ario Bayu menjadi Letnan Hashim.
Konsep tersebut membuat Yogyakarta tidak hanya berfungsi sebagai latar belakang visual. Kota ini menjadi bagian dari atmosfer cerita. Interaksi antara karakter Amerika dan aparat lokal membuat penonton melihat berbagai elemen Indonesia melalui sudut pandang film laga internasional.
Film ini juga menghadirkan Mickey Rourke sebagai Malik, tokoh antagonis yang menjadi salah satu sumber konflik utama. Kehadiran aktor Hollywood bersama pemain Indonesia membuat Java Heat terasa seperti produksi lintas negara, bukan sekadar film asing yang kebetulan mengambil gambar di Indonesia.
Malioboro hingga kawasan permukiman menjadi bagian dari adegan aksi
Yogyakarta dalam Java Heat ditampilkan dengan cukup ekstensif. Jalanan kota, kawasan Malioboro, pasar, gang-gang permukiman, serta kawasan yang terinspirasi lingkungan Keraton menjadi bagian dari dunia film.
Adegan aksi di jalanan membuat ruang kota terasa lebih dinamis. Malioboro yang biasanya dikenal sebagai kawasan wisata dan pusat aktivitas masyarakat ditampilkan dalam suasana penuh ketegangan melalui kejar-kejaran dan aksi bersenjata.
Penggunaan lokasi nyata tersebut menjadi salah satu alasan Java Heat menarik bagi penonton Indonesia. Alih-alih membuat kota fiktif yang menyerupai Indonesia, film ini memperlihatkan sejumlah bagian Yogyakarta secara langsung. The Wall Street Journal bahkan mencatat bahwa film tersebut sebagian besar mengambil gambar di Yogyakarta.
Candi Borobudur menjadi bagian penting dari klimaks
Salah satu fakta produksi yang paling sering dibicarakan dari Java Heat adalah penggunaan Candi Borobudur sebagai lokasi pengambilan gambar. Film ini bahkan memperoleh izin untuk melakukan pengambilan gambar di kawasan candi, termasuk adegan yang berkaitan dengan bagian puncak Borobudur. The Jakarta Post mencatat bahwa pengambilan gambar di atas Borobudur menjadi salah satu hal yang paling menonjol dalam produksi film tersebut.
Borobudur kemudian menjadi lokasi penting dalam rangkaian klimaks cerita. Lanskap candi yang megah memberikan skala visual yang berbeda dari adegan-adegan sebelumnya di tengah kota.
Perlu dicatat, secara administratif Candi Borobudur berada di Magelang, Jawa Tengah, bukan Kota Yogyakarta. Namun, dalam konteks produksi dan promosi film, kawasan ini kerap dibahas bersama destinasi Yogyakarta karena kedekatan geografis dan keterkaitannya dengan perjalanan wisata Jogja.
Mengapa Java Heat menarik bagi pencinta Yogyakarta?
Bagi penonton yang pernah berkunjung ke Jogja, menonton Java Heat memberikan pengalaman berbeda. Jalanan, arsitektur, suasana perkotaan, dan lingkungan budaya yang biasanya muncul dalam dokumentasi wisata justru ditempatkan dalam cerita penuh aksi.
Film ini juga menunjukkan bahwa lokasi budaya tidak selalu harus ditampilkan dengan pendekatan film drama atau dokumenter. Dalam Java Heat, Yogyakarta digunakan sebagai kota yang hidup, penuh aktivitas, sekaligus menjadi arena konflik internasional.
2. Beyond Skyline (2017): Ketika Prambanan Disulap Menjadi Medan Perang Alien
Yogyakarta tampil sebagai wilayah Asia Tenggara yang fiktif
Film kedua yang tidak boleh dilewatkan adalah Beyond Skyline (2017). Namun, ada perbedaan penting dibandingkan Java Heat.
Jika Java Heat secara jelas menempatkan cerita di Indonesia, Beyond Skyline menggunakan Yogyakarta terutama sebagai lokasi syuting untuk menggambarkan tempat lain dalam cerita. Sutradara sekaligus penulis Liam O'Donnell menjelaskan bahwa tim produksi melakukan perjalanan ke Yogyakarta dan mengambil banyak bagian pertempuran klimaks di kompleks Prambanan dan Sewu. Dalam film, kawasan tersebut kemudian dibuat sebagai versi fiksi wilayah Golden Triangle di Asia Tenggara, yang berkaitan dengan Laos, Kamboja, dan Thailand.
Karena itu, Beyond Skyline lebih tepat disebut sebagai film Hollywood yang syuting di Jogja, bukan film yang secara literal berlatar Yogyakarta.
Frank Grillo, Iko Uwais, dan Yayan Ruhian melawan invasi alien
Beyond Skyline merupakan film fiksi ilmiah aksi dan sekuel dari Skyline (2010). Ceritanya mengikuti Mark Corley, seorang detektif dari Los Angeles yang berusaha menyelamatkan putranya, Trent, ketika invasi alien terjadi.
Setelah berbagai kejadian di dalam kapal induk alien, Mark akhirnya sampai di wilayah Asia Tenggara. Di sana ia bertemu kelompok perlawanan lokal yang dipimpin Sua, karakter yang diperankan Iko Uwais.
Kehadiran Iko Uwais dan Yayan Ruhian menjadi salah satu daya tarik terbesar film ini bagi penonton Indonesia. Keduanya membawa elemen bela diri Indonesia ke dalam film fiksi ilmiah yang skalanya jauh lebih besar.
Prambanan menjadi lokasi pertempuran klimaks
Bayangkan kompleks candi bersejarah dengan latar cerita tentang invasi alien. Itulah salah satu kombinasi visual yang ditawarkan Beyond Skyline.
Prambanan digunakan sebagai salah satu lokasi penting untuk adegan pertempuran. Kompleks candi yang memiliki siluet khas tersebut memberikan identitas visual yang kuat sekaligus menciptakan kesan bahwa karakter sedang berada di sebuah wilayah kuno yang berada di tengah kehancuran dunia.
Liam O'Donnell dalam wawancaranya menyebut bahwa timnya mengambil gambar di Prambanan dan Sewu, lalu menggabungkan keduanya sebagai bagian dari wilayah fiksi dalam film.
Dengan bantuan efek visual, kawasan yang sebenarnya berada di Jawa kemudian berubah menjadi medan perang pasca-apokaliptik. Perpaduan antara arsitektur candi dan makhluk alien membuat lanskap tersebut terlihat sangat berbeda dari citra Yogyakarta yang biasa dilihat wisatawan.
Candi Sewu dan lanskap alam memperkuat nuansa pasca-apokaliptik
Selain Prambanan, Candi Sewu juga menjadi bagian dari pengambilan gambar. Struktur candi dan suasana kawasan sekitarnya memberikan tekstur visual yang cocok untuk cerita tentang dunia yang mengalami kehancuran.
Produksi juga memanfaatkan lanskap alam Indonesia untuk menciptakan suasana wilayah tropis yang liar. Pengambilan gambar di Indonesia memungkinkan pembuat film mendapatkan lingkungan yang berbeda dari lanskap perkotaan Amerika Serikat.
Hasil akhirnya adalah dunia film yang terasa asing sekaligus memiliki sejumlah elemen visual yang sebenarnya sangat dekat dengan Indonesia.
Iko Uwais membuat aksi film semakin berciri Indonesia
Salah satu keputusan kreatif menarik dalam Beyond Skyline adalah memberi ruang besar bagi seni bela diri Indonesia. Iko Uwais dan Yayan Ruhian sebelumnya telah dikenal luas melalui film The Raid, sehingga kemampuan mereka dalam koreografi pertarungan menjadi aset penting.
Alih-alih menjadikan karakter Indonesia sekadar pelengkap, film ini memberikan mereka posisi penting dalam perlawanan manusia terhadap alien. Unsur silat kemudian menjadi bagian dari bahasa aksi film.
Hal ini membuat Beyond Skyline memiliki identitas yang berbeda dari film invasi alien Hollywood pada umumnya. Di tengah senjata futuristik dan efek visual, penonton justru dapat melihat pertarungan jarak dekat dengan gerakan yang terinspirasi dari pencak silat.
3. Mengapa Yogyakarta Menarik bagi Produksi Film Internasional?
Dua film tersebut memperlihatkan alasan yang cukup jelas mengapa Yogyakarta menarik bagi produksi internasional. Kota ini memiliki kombinasi lanskap budaya, bangunan bersejarah, kawasan urban, serta lingkungan alam yang mudah memberikan identitas visual.
Prambanan, misalnya, memiliki bentuk arsitektur yang sangat kuat sehingga dapat langsung dikenali sebagai bangunan bersejarah. Dalam film fiksi ilmiah, bentuk tersebut bahkan bisa diubah menjadi bagian dari dunia pasca-apokaliptik.
Sementara itu, jalanan kota dan kawasan tradisional Yogyakarta menawarkan tekstur visual yang sulit diperoleh jika seluruh adegan dibuat di studio.
Yang menarik, dua film tersebut menggunakan pendekatan berbeda. Java Heat mempertahankan identitas Indonesia dan menjadikan Yogyakarta sebagai bagian dari cerita. Sebaliknya, Beyond Skyline mengambil visual Yogyakarta lalu mengubah konteksnya menjadi wilayah fiksi di Asia Tenggara.
4. Bukan Hanya Tempat Wisata, Jogja Juga Punya Potensi Sinematik
Kemunculan Yogyakarta dalam produksi film internasional memperlihatkan bahwa kota ini memiliki kekuatan visual yang lebih luas daripada sekadar destinasi wisata.
Dalam Java Heat, penonton melihat Yogyakarta sebagai kota tempat berlangsungnya konflik kriminal dan aksi internasional. Sementara dalam Beyond Skyline, candi dan lanskap alamnya berubah menjadi bagian dari dunia yang sedang menghadapi invasi alien.
Perbedaan tersebut justru menarik. Satu lokasi yang sama dapat memiliki makna berbeda ketika ditempatkan dalam genre film yang berbeda.
Karena itu, ketika membicarakan film Hollywood yang berlatar di Jogja, penting untuk memahami perbedaan antara latar cerita dan lokasi syuting. Java Heat merupakan contoh yang paling jelas karena Yogyakarta menjadi bagian penting dari dunia ceritanya. Sementara Beyond Skyline menunjukkan bagaimana lokasi-lokasi di Jogja dapat disulap menjadi wilayah lain melalui sinematografi, penyuntingan, dan efek visual.
Keduanya tetap menjadi catatan menarik dalam sejarah hubungan antara Yogyakarta dan perfilman internasional.
5. Tanya Jawab Seputar Film Hollywood
1. Apa film Hollywood yang benar-benar berlatar di Yogyakarta?
Salah satu contoh paling jelas adalah Java Heat (2013). Film ini menempatkan Indonesia, khususnya Yogyakarta, sebagai bagian penting dari cerita dan menggunakan berbagai lokasi nyata di wilayah tersebut.
2. Apakah Beyond Skyline berlatar di Yogyakarta?
Tidak secara literal. Beyond Skyline menggunakan Yogyakarta sebagai lokasi syuting, terutama kawasan Prambanan dan Sewu, tetapi dalam cerita wilayah tersebut digambarkan sebagai bagian dari wilayah fiksi di kawasan Asia Tenggara yang berkaitan dengan Golden Triangle.
3. Film apa yang dibintangi Iko Uwais dan mengambil gambar di Yogyakarta?
Salah satunya adalah Beyond Skyline (2017). Iko Uwais berperan sebagai Sua dan beradu aksi dengan aktor internasional seperti Frank Grillo. Yayan Ruhian juga tampil dalam film tersebut.
4. Apakah Candi Borobudur muncul dalam Java Heat?
Ya. Borobudur menjadi salah satu lokasi penting dalam film dan digunakan untuk bagian klimaks cerita. Produksi film tersebut juga mendapat izin untuk melakukan pengambilan gambar di kawasan candi.
5. Apakah ada film internasional lain yang pernah syuting di kawasan Yogyakarta?
Ada. After the Dark (2013), yang juga dikenal dengan judul The Philosophers, mencatat Prambanan sebagai salah satu lokasi syuting. Namun, film tersebut tidak menjadikan Yogyakarta sebagai latar utama ceritanya, sehingga kategorinya berbeda dari Java Heat.
(Ibunda Zaskia Adya Mecca Alami Serangan Stroke dan dibawa ke UGD.)
(kpl/yni)
Advertisement
D Academy 8
-
Dangdut Academy Selfi Yamma Ciptakan Lagu 'Permainan Cintamu' untuk Rani Zamala
-
Dangdut Academy Mila DA7 dan Valen DA7, Tampil Kompak Ala Barbie & Ken di DA8
