7 Rekomendasi Film Thailand Coming of Age yang Bikin Nostalgia Masa Sekolah yang Wajib Kamu Tonton
7 Rekomendasi Film Thailand Coming of Age. (Foto: SuckSeed (2011) - IMDb)
Kapanlagi.com - Masa sekolah selalu punya cara sendiri untuk kembali lewat layar kaca. Rekomendasi film Thailand coming of age yang bikin nostalgia masa sekolah ini bisa jadi teman yang pas untuk mengenang cinta monyet, geng pertemanan, sampai perjuangan menghadapi ujian. Semua kisah dikemas dengan cara yang dekat dengan keseharian remaja.
Industri perfilman Tailan memang dikenal jago meracik cerita remaja jadi tontonan yang mengena. Karakter yang dibangun terasa dekat, konflik yang diangkat pun sering dialami banyak orang saat masih duduk di bangku sekolah. Tidak heran banyak penonton di berbagai negara ikut terhanyut saat menontonnya.
Berikut ini adalah tujuh judul film Tailan yang layak masuk daftar tontonan, dirangkum oleh KapanLagi.com dari berbagai sumber, Rabu (22/7/2026). Mulai dari kisah cinta pertama, persahabatan, ambisi meraih nilai terbaik, sampai pergulatan mencari jati diri turut diangkat. Rekomendasi film Thailand coming of age yang bikin nostalgia masa sekolah berikut ini dapat menemani waktu santai sambil bernostalgia dengan masa remaja.
Advertisement
1. A Little Thing Called Love (2010)
Film ini bercerita tentang Nam, siswi yang jatuh cinta pada senior tampan bernama Shone. Karena merasa kurang menarik, Nam berusaha mengubah penampilannya demi mendapat perhatian. Perjalanan panjang itu membawa penonton merasakan naik turunnya perasaan remaja saat menyukai seseorang untuk pertama kali.
Peran Nam dimainkan oleh Pimchanok Luevisadpaibul, aktris yang lewat film ini mulai dikenal luas. Mario Maurer berperan sebagai Shone dan turut mencuri perhatian penonton. Chemistry keduanya menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat cerita terasa hidup dan mudah diingat.
Cinta pertama yang penuh keraguan digambarkan dengan jujur sepanjang cerita. Prosesnya tidak instan dan terasa realistis, sehingga banyak penonton merasa relate dengan perjuangan Nam. Unsur komedi ringan yang diselipkan juga membuat film tetap terasa hangat sepanjang durasi.
2. SuckSeed (2011)
Kisah film ini berpusat pada Ped dan teman-temannya yang membentuk band demi mendekati gadis pujaan hati. Perjalanan mereka belajar musik dari nol penuh momen kocak sekaligus mengharukan. Cerita berkembang menjadi lebih dari sekadar usaha mendapatkan perhatian seseorang.
Jirayu La-ongmanee berperan sebagai Ped, didampingi oleh Nattasha Nauljam sebagai Ern yang menjadi alasan awal band itu terbentuk. Interaksi antar anggota band turut memperkuat sisi humor sekaligus emosional dari cerita ini secara keseluruhan.
Tema mimpi dan kegagalan diangkat dengan cara yang jenaka namun tetap menyentuh. Perjalanan band amatir ini mengingatkan penonton pada masa mencoba banyak hal baru bersama teman semasa sekolah dahulu.
3. Bad Genius (2017)
Film ini mengikuti Lynn, siswi jenius yang mengembangkan sistem contekan canggih untuk teman-temannya. Apa yang dimulai sebagai bantuan kecil berubah menjadi rencana besar melibatkan ujian internasional. Ketegangan terus meningkat seiring rencana itu semakin berisiko dijalankan.
Chutimon Chuengcharoensukying memerankan Lynn dengan sangat meyakinkan, didampingi Chanon Santinatornkul sebagai Bank, teman sekaligus rival dalam strategi mencontek. Keduanya berhasil membangun ketegangan yang membuat penonton ikut tegang di setiap adegan ujian.
Topik akademik dikemas jadi thriller yang mendebarkan dari awal sampai akhir. Tekanan nilai dan ekspektasi orang tua diangkat dengan cara yang jujur, sehingga banyak pelajar maupun mantan pelajar merasa dekat dengan cerita ini.
4. Not Friends (2023)
Cerita film ini mengikuti Pae, siswa yang mencoba membuat film dokumenter untuk tugas sekolah. Idenya berubah drastis setelah teman sekelasnya meninggal dunia secara mendadak. Ia lalu memanfaatkan momen tersebut demi proyek yang lebih menarik perhatian juri festival film.
Peran Pae dibawakan oleh Anthony Buisseret, didukung oleh sejumlah pemeran muda lain yang membentuk kelompok pertemanan di sekolah. Dinamika antar karakter terasa natural dan menghidupkan suasana sekolah menengah dengan baik.
Isu berat ini diangkat lewat sudut pandang remaja yang jujur, bahkan cenderung egois. Sisi gelap dari ambisi meraih pengakuan dibungkus dengan humor satir yang membuat cerita terasa berbeda dari film sekolah kebanyakan.
5. May Who? (2015)
Film ini mengisahkan May, siswi introver yang menyimpan rahasia bisa mengeluarkan aliran listrik setiap kali detak jantungnya meningkat. Kehidupan sekolahnya perlahan berubah setelah Pong, siswa pencinta komik yang juga dianggap aneh oleh teman-temannya, mengetahui rahasia tersebut dan mulai dekat dengannya.
Sutatta Udomsilp berperan sebagai May, didampingi Thiti Mahayotaruk sebagai Pong yang gemar menuangkan imajinasi lewat gambar komik buatannya sendiri. Thanapob Leeratanakajorn turut hadir sebagai Tor, senior tampan yang menjadi incaran hati May sepanjang cerita.
Tema soal merasa berbeda dan sulit diterima lingkungan diangkat lewat balutan komedi dan sentuhan animasi ringan. Kemampuan unik yang dimiliki May dijadikan metafora atas rasa canggung dan kikuk yang lekat dengan masa remaja, sehingga ceritanya terasa dekat dengan pengalaman banyak orang.
6. You & Me & Me (2023)
Film ini menceritakan Yu, siswi yang tinggal berdampingan dengan saudara kembarnya, Mi, dan berbagi hampir semua hal dalam hidup. Keduanya sama-sama jatuh hati pada seorang pemuda bernama Mark, sehingga kedekatan yang selama ini mereka jaga mulai diuji oleh perasaan yang tidak bisa dibagi berdua.
Thitiya Jirapornsilp memerankan Yu dan Mi sekaligus dalam film ini. Anthony Buisseret berperan sebagai Mark, sosok yang menjadi pemicu konflik di antara kedua saudari kembar tersebut sepanjang cerita berlangsung.
Hubungan saudara dibahas dengan cara yang jarang diangkat, yaitu lewat persaingan cinta pertama. Ikatan keluarga dan rasa cemburu dipadukan secara halus, membuat ceritanya terasa dekat dengan pengalaman banyak orang.
7. Hormones (2008)
Film ini mengikuti sekelompok remaja di sekolah menengah yang menghadapi berbagai persoalan khas usia belasan tahun. Mulai dari cinta hingga tekanan pergaulan dibahas lewat beberapa kisah yang saling terhubung satu sama lain.
Sejumlah pemeran muda seperti Charlie Trairat dan Sirachuch Chienthaworn turut membintangi film ini. Masing-masing karakter membawa cerita berbeda, sehingga penonton bisa melihat berbagai sisi kehidupan remaja secara bersamaan dalam satu film.
Topik yang jarang diangkat secara terbuka pada masanya berhasil dibahas dengan berani. Pendekatan yang jujur membuat Hormones dikenang sebagai salah satu film remaja Thailand yang berpengaruh hingga melahirkan versi serial televisinya.
8. Pertanyaan Seputar Film Thailand Coming of Age
Apa film coming of age Thailand yang paling terkenal? A Little Thing Called Love sering disebut sebagai salah satu film coming of age Thailand paling populer karena kisah cinta pertamanya yang mudah diingat banyak penonton.
Kenapa film Thailand bertema sekolah banyak disukai? Cerita yang diangkat terasa dekat dengan keseharian remaja, mulai dari pertemanan, cinta, hingga tekanan akademik, sehingga mudah membuat penonton merasa relate.
Apakah Bad Genius diangkat dari kisah nyata? Bad Genius terinspirasi dari kasus kecurangan ujian internasional yang sempat ramai diberitakan, meski alur ceritanya sudah dikembangkan secara fiksi oleh penulis naskah.
Di mana bisa menonton film Thailand coming of age ini? Sebagian besar judul tersedia di platform streaming seperti Netflix maupun Viu, meski ketersediaannya bisa berbeda tergantung wilayah masing-masing penonton.
Apakah Hormones memiliki kelanjutan cerita? Hormones kemudian dikembangkan menjadi serial televisi berjudul Hormones: The Series yang melanjutkan kisah para tokohnya dengan cerita yang lebih panjang.
(Ibunda Zaskia Adya Mecca Alami Serangan Stroke dan dibawa ke UGD.)
(kpl/bim)
Advertisement
D Academy 8
-
Dangdut Academy Mila DA7 dan Valen DA7, Tampil Kompak Ala Barbie & Ken di DA8
-
Fashion Selebriti Jirayut Kenakan Jersey Setengah Merah Biru di Final FIFA ASEAN Cup
