Tuai Perdebatan, Para Tokoh Mainan dalam 'TOY STORY' Itu Abadi atau Bisa Mati?

Minggu, 09 Agustus 2020 07:41 Penulis: Editor KapanLagi.com
Tuai Perdebatan, Para Tokoh Mainan dalam 'TOY STORY' Itu Abadi atau Bisa Mati? Foto: Para Tokoh Mainan TOY STORY (Kredit: KapanLagi)

Kapanlagi.com - TOY STORY merupakan salah satu waralaba paling sukses sepanjang masa. Film animasi ini diproduksi oleh Pixar Animation Studios dan dirilis oleh Walt Disney Pictures. TOY STORY juga sebagai film kartun pertama yang mengaplikasikan teknologi CGI dalam pembuatanya di tahun 1995. Animasi CGI atau Computer Generated Imagery adalah proses penerapan grafik komputer 3D untuk menghasilkan gambar animasi.

Sampai saat ini film animasi TOY STORY sendiri memiliki 4 seri. Mulai dari TOY STORY (1995), TOY STORY 2 (1999), TOY STORY 3 (2010) dan TOY STORY 4 (2019). Semua serinya memiliki jalan cerita yang bagus dan susah ditebak. Tak mengherankan, jika banyak dari penggemar yang memperdebatkan akhir ceritanya selama beberapa dekade.

Salah satu pertanyaan yang menjadi perdebatan paling bertahan lama yaitu mengenai para pemain di film ini. Seperti yang kita ketahui, sebagian besar tokoh dalam film ini merupakan mainan yang bisa berpikir bahkan berbicara. Pertanyaan yang menjadi perdebatan, apakah mainan itu abadi atau dapatkah mereka mati?

Mempertanyakan apakah sebuah mainan bisa hidup atau mati mungkin tampak aneh bagi yang belum tahu cerita dari film ini, tetapi hal itu sengaja dimunculkan pencipta Toy Story. Premis dari semua seri ini dimulai saat mainan pertama kali diproduksi di pabrik, kemudian ketika mainan dimiliki anak-anak dan menjadi bagian koleksi anak-anak. Mainan-mainan itu diilhami memiliki perasaan, pemikiran, dan dapat berbicara seperti manusia normal dalam wujud fisik mainan.

Tak hanya bisa berbicara, mainan-mainan tersebut bisa pingsan. Tidak seperti manusia yang dibiarkan berevolusi dan tumbuh menjadi orang dewasa, mainan itu tetap terperangkap dalam tubuh yang sama, dengan pikiran dan motivasi yang sama. Kadang-kadang mengarah pada kejahatan,  kepahitan dan kedengkian, seperti yang terjadi pada  tokoh antagonis dari seri ini, Stinky Pete the Prospector dan Lotso the Bear.

Karena penggemar Toy Story termasuk dalam semua kelompok umur, dengan begitu terdapat beberapa penggemar lama yang lebih dahulu berspekulasi tentang sifat dan perasaan yang dialami mainan-mainan tersebut. Apakah fakta bahwa karakter seperti Woody dan Buzz yang memiliki badan plastik dan tidak bisa menua berarti secara teknis mereka akan abadi.

Baru-baru ini pertanyaan tersebut dijawab oleh Lee Unkrich, penulis Toy Story 3 melalui akun Twitter nya. Jawaban Unkrich mengarah pada penyelesaian perdebatan itu. “Mereka hidup selama mereka ada. Tetapi jika mereka benar-benar dihancurkan? Katakanlah, di insinerator? Tamat” tulis Unkrich di akun twitter nya. Mainan-mainan itu memang abadi dan tidak bisa dihancurkan. Dengan demikian, saatnya akan tiba ketika Woody dan teman-temannya akhirnya menemui ajalnya, bahkan jika mereka secara fisik tidak pernah menua.

(Foto: Unggahan Lee Unkrich. Kredit: Twitter/Lee Unkrich)(Foto: Unggahan Lee Unkrich. Kredit: Twitter/Lee Unkrich)

Tentu saja, pertanyaan filosofis yang begitu mendalam tidak pernah menjadi alasan di balik penciptaan TOY STORY. Sementara penggemar dewasa mungkin bertanya-tanya tentang logika di balik terciptanya tema utama dari seri-serinya. Terlepas dari semua itu, banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini, hubungan saling menghargai  antara anak-anak dan mainan mereka, tumbuhnya rasa emosional, serta teman-teman yang terpaksa meninggalkan kita seiring berjalannya waktu, dan tentunya masih banyak pelajaran-pelajaran lainnya yang bisa diambil. 

Penulis: Zakiatul Mufaricha

 

 

 

(kpl/mag)


REKOMENDASI
TRENDING