Adrian Yunan Bangga Atas Pencapaian Efek Rumah Kaca, Dari Satu Album ke Panggung Besar

Adrian Yunan Bangga Atas Pencapaian Efek Rumah Kaca, Dari Satu Album ke Panggung Besar
Adrian Yunan Bangga Atas Pencapaian Efek Rumah Kaca © KapanLagi.com/Fikri Alfi Rosyadi

Kapanlagi.com - Adrian Yunan mengingat kembali momen lahirnya Efek Rumah Kaca (ERK) bersama Cholil Mahmud. Keduanya kembali sering berkumpul setelah band lama masing-masing bubar, menghabiskan waktu bermain gitar dan menemukan kecocokan menulis lagu.

"Kenapa karena dulu awalnya emang aku sama Cholil tuh berdua. Jadi tuh kami tuh orang-orang yang band kami bubar. Satu SMA, satu kelas, terus satu tongkrongan," ujar Adrian Yunan saat ditemui di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dari kebersamaan itu, ide-ide lagu mulai terkumpul. Mereka menata langkah perlahan, tanpa ekspektasi tinggi, sebelum kemudian merumuskan rencana sederhana yang menjadi pijakan awal berdirinya ERK.

1. Mulai Dari Keinginan Punya Satu Album

Adrian Yunan Efek Rumah Kaca © KapanLagi.com/Fikri Alfi Rosyadi

Pada mulanya, Adrian dan Cholil hanya ingin merekam satu album sebagai dokumentasi perjalanan pertemanan. Saat merintis, keduanya masih bekerja di kantor dan bermusik di sela waktu.

"Targetnya sebenarnya sesederhana pengen punya album. Karena waktu itu aku kerja kantoran, Cholil kerja kantoran," katanya.

Materi awal ERK lahir dari sesi gitaran berdua di kamar Cholil. Dari situ muncul lagu-lagu yang kemudian direkam, termasuk "Debu-debu Berterbangan", "Ballerina", dan "Hujan Jangan Marah".

"Itu hasil kami gitaran berdua di kamarnya Cholil. Itu Debu-debu Berterbangan, terus tadi Ballerina, Hujan Jangan Marah," ujarnya.

2. Lepas Pekerjaan dan Fokus Bermusik

Rencana yang sederhana berubah arah setelah album perdana ERK yang dirilis pada 2007 mendapat sambutan besar. Sejak itu, Adrian dan Cholil perlu membagi fokus antara pekerjaan kantor dan jadwal bermusik yang semakin padat.

Di tengah geliat tersebut, perjalanan Adrian bersama ERK harus melambat karena kondisi matanya yang kian menurun sejak pertengahan 2000-an.

"2008 aku resign dari kantor karena emang nggak bisa kerja lagi. Kalau Cholil ya, karena kantornya sibuk banget dan akhirnya dia memilih musik gitu," ungkapnya.

3. Kondisi Penglihatan Makin Menurun

Penurunan penglihatan Adrian juga menjadi latar salah satu lagu ERK yang dikenal luas, “Sebelah Mata”. Perubahan kondisi itu hadir bertahap dan berdampak pada aktivitas hariannya.

"Ketika itu tahun 2004 apa 2005, aku udah mulai low vision. Dan sebelah kanan mataku tuh yang hampir low vision. Jadi setelah itu aku praktis cuma pakai sebelah mata kiri yang masih berfungsi, sampai akhirnya total gelap gitu," jelasnya.

Adrian menyesuaikan diri perlahan hingga akhirnya tidak dapat melihat sama sekali. Proses adaptasi dilakukan dari waktu ke waktu untuk menyikapi perubahan yang berlangsung progresif.

4. Adrian Yunan Bangga Atas Pencapaian Band

Walau sudah lama tidak lagi menjadi bagian dari ERK, Adrian menyampaikan kebanggaannya melihat band yang ia rintis terus berkembang dan bertahan sebagai salah satu band besar di Indonesia.

Ia menyebut melihat ERK tetap berjalan membuatnya senang dan bersyukur, menganggap perjalanan yang terjadi sebagai bonus yang tak terduga.

"Ya sekarang senang aja melihat Efek Rumah Kaca jalan terus gitu. Bisanya cuma bersyukur. Karena dulu nggak nyangka jadi menganggap ini bonus lah ya," tuturnya.

Rekomendasi

Trending