SELEBRITI

Banjir Kasus Pelecehan Seksual di Indonesia, Coach Rheo: Pesona Seks Mengalahkan Akal Sehat

Kamis, 14 Juli 2022 22:59 Penulis: Guntur Merdekawan

Coach Rheo soroti banyaknya kasus pelecehan seksual di Indonesia / Credit Foto: Dokumentasi Pribadi

Kapanlagi.com - Dalam beberapa waktu terakhir, banyak sekali beredar pemberitaan seputar kasus pelecehan seksual yang terjadi. Ironisnya, beberapa di antaranya justru terjadi di sejumlah lembaga sosial dan pendidikan. Masalah ini tentu bisa menimbulkan kemelut terhadap kehidupan sosial.

Mind Technology Expert (Pakar Teknologi Pikiran), Coach Rheo pun turut menyoroti kasus ini. Menurutnya, salah satu penyebab semakin tingginya berbagai kasus kekerasan seksual adalah karena semakin mudahnya pornografi diakses di cyberspace.

"Saya prihatin dengan apa yang terjadi. Orang dengan mudah mengakses ribuan situs porno yang sengaja ditawarkan dan disajikan kepada siapa saja dan di mana saja," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (14/07/2022).

1. Bandingkan dengan Jepang Selaku Negara Produsen Film Porno Terbesar Dunia

Jika belajar dari negara Jepang, meski mereka salah satu negara produsen film porno terbesar di dunia. Akan tetapi, etika yang diajarkan di sana berbeda. Dan misalkan hal itu diterapkan di Indonesia, seperti menghormati lawan jenis, saling menghargai ruang pribadi, sesungguhnya akan lebih mudah untuk kita di Indonesia menyelesaikan persoalan ini. 

"Sehingga walau banyak terpaan pornografi di mana-mana, kejahatan seksual sangat jarang terjadi. Karena jumlah paparan kita jelas berbeda dengan negara yang membuka akses secara umum terharap pornografi," papar Coach Rheo.

Namun Indonesia, menurut dia, malah dapat disebut darurat perilaku kekerasan seksual. "Kedengarannya menyeramkan. Tapi itulah faktanya. Angka kasus kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan dan anak di Indonesia masih tinggi dan malah terus meningkat," sambung Coach Rheo.

2. Jumlah Kasus Pelecehean Seksual Makin Mengkhawatirkan

Untuk dicermati, data Komnas Perempuan menunjukkan pada tahun 2014, tercatat 4.475 kasus kekerasan seksual pada kaum Hawa. Tahun 2015 tercatat 6.499 kasus dan tahun 2016 telah terjadi 5.785 kasus. Kasus kekerasan seksual di Indonesia, ujar Coach Rheo, ibarat fenomena gunung es yang  kini makin mengkhawatirkan.

"Padahal para korban setidaknya mengalami dampak psikologis. Mengalami trauma mendalam, menahun. Selain itu stres yang dialami dapat menganggu fungsi dan perkembangan otak dan kejiwaan si korban," ujar salah satu Pendiri Gadingkonseling @gadingkonseling Jakarta ini.

"Pengalaman saya di ruang sesi terapi selama 10 tahun lebih membantu mereka yang memiliki fenomena 'emotional hijack' adalah karena trauma mendalam yang pernah mereka alami," tambahnya.

Salah satu klien Coach Rheo, mengaku saat remaja pernah diremas dadanya di toko buku, pusat perbelanjaan di Jakarta. Selain itu, ada pula klien yang mengaku pernah diberi minuman alkohol sampai mabuk kemudian disetubuhi. Perbuatan asusila itu direkam oleh pelaku dan mengancam akan disebarkan jika korban melapor.

"Mungkin ini seperti kisah di film-film. Tapi mereka yang datang adalah memang orang-orang yang mengalami trauma mendalam atas kejadian yang dialami. Tidak berani melapor. Sebab pelakunya punya kuasa. Korban sangat takut," papar Coach Rheo.

3. Pelaku Juga Punya Luka Masa Lalu

Sebaliknya, papar Coach Rheo, para predator pelaku pelecehan seksual senang dan bangga merasa 'powerful' merasa 'berdaya' dan mampu ketika berhasil melakukan aksinya. Seringkali juga pelecehan seksual ini muncul karena trauma masa lalu pelaku.

Banyak kasus pelaku yang memiliki hasrat seksual berlebih pada wanita, muncul karena mereka (para predator) pernah mengalami bully di masa kecil. Mereka selalu bergerak dari keharusan otomatis bawah-sadar untuk melakukan pembuktian.

"Mewujudkan hasrat untuk merasa mampu menjajah tubuh, pikiran dan jiwa korban, membuatnya tunduk atas perintah dan prilakunya. Ini yang membuat mereka mengalami 'orgasme' mental yang mengisi relung-relung luka masa lalu mereka," paparnya.

Hal ini antara lain, kata Coach Rheo, kenapa pelaku pelecehan seksual tidak pandang bulu, dan kejadiannya tidak hanya di institusi sosial dan pendidikan saja.

"Tentu kita kerap juga mendengar peristiwa pelecehan seksual terjadi di tempat umum, angkutan umum, KRL, bus kota, ojek online, dan ruang publik lainnya," jelas Coach Rheo.

4. Pesan dari Coach Rheo

Banyak dari pelaku pelecehan seksual tahu kalau perbuatannya salah. Namun, kata Coach Rheo, beban emosi memang berbeda. Coach Rheo menganalogikan seperti ketika orang kecanduan merokok akut.

"Sulit dihentikan meski mereka tahu rokok berbahaya, menyebabkan kanker, dan penyakit lainnya. Tapi bagian otak amygdala (pusat kontrol emosi) mengambil alih semua kapasitas neo-cortex manusia berpikir logis," papar Pendiri Yayasan Konseling Harapan Indonesia (YAKHIN) ini.

Terhadap perempuan yang mengalami kekerasan seksual, Coach Rheo menghimbau, jangan takut melaporkan, ataupun meminta bantuan. Saat ini banyak lembaga dan komunitas yang membantu terkait kekerasan seksual. Termasuk Gading Counseling & Empowerment Center yang didirikannya.

Saat ini teknologi dunia pikiran dan kejiwaan, terang Coach Rheo, sudah berkembang. Trauma puluhan tahun akibat beban emosi mendalam, bisa dituntaskan dalam satu atau dua kali pertemuan. Para korban pelecehan seksual, maupun pemerkosaan yang pernah datang kepadanya memilih membuang beban emosi mereka untuk kembali bahagia.

Berdasarkan pengalaman menangani klien, mereka mengaku bisa kembali ceria dan merasa bahagia. Terbukti sampai bertahun setelahnya, mereka tetap baik-baik saja.

"Tanpa merasa ketakutan yang dulu mereka alami selama puluhan tahun, merasa jijik, merasa rendah, dan takut bersosialisasi. Semua mereka konfirmasi hilang sempurna dari diri mereka," tuntas Coach Rheo.

(kpl/gtr)


REKOMENDASI
TRENDING