SELEBRITI

Dianggap Sebarkan Berita Bohong, Anji dan Professor Hadi Pranoto Dilaporkan ke Polisi

Senin, 03 Agustus 2020 22:31 Penulis: Sanjaya Ferryanto

Kapanlagi/Bayu Herdianto

Kapanlagi.com - Percakapan musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji dengan seorang yang disebut professor bernama Hadi Pranoto, berbuntut panjang. Keduanya kini dilaporkan oleh Ketua Umum Cyber Indonesia, Muanas Alaidid atas dugaan penyebaran berita bohong ke Polda Metro Jaya, Senin (3/8/2020).

Menurut Muanas, percakapan yang dimuat di akun YouTube @duniamanji tersebut terindikasi memuat informasi bohong perihal penemuan obat virus Corona atau Covid-19.

"Kami datang ke SPKT Polda Metro Jaya untuk melaporkan secara resmi terkait unggahan konten channel YouTube milik Anji. Itu durasinya sekitar 35 menit yang kita dapat berkaitan dengan interview, Konon seorang professor bernama Hadi Pranoto yang kabarnya dia mengklaim telah menemukan penemuan terhadap obat Covid-19," kata Muanas usai melapor di Polda Metro Jaya.

Muanas beranggapan, pernyataan Hadi Pranoto bisa meresahkan masyarakat. Pertama, soal harga rapid dan swab test. "Pernyataan yang dianggap kontroversial dalam keterangan dari si professor itu pada saat dilakukan interview antara lain adalah menyebut soal penanganan model rapid test dan swab test yang kabarnya dia punya teknologi atau digital teknologi. Biayanya itu cukup Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu katanya. Padahal kita tahu di Rumah Sakit selama ini biaya yang dikeluarkan masyarakat ratusan ribu hingga jutaan. jangan sampai masyarakat berpikir dibodohi dan diperas ternyata semua akal-akalan dan demi keuntungan semata," kata Muanas.

 

1. Bellum Diuji Klinis

Kedua, adalah pernyataan Hadi Pranoto yang menyatakan sudah menemukan obat covid-19. Padahal, obat yang diklaim Hadi Pranoto tersebut belum diuji secara klinis.

"Penemuan obat Covid ini ditentang oleh IDI. Mereka menyatakan bahwa tidak ada penemuan soal covid itu bahkan sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan itu. Kita melihat professor ini menyatakan di dalam interviewnya begitu memastikan bahwa dia bisa menyembuhkan dengan korban yang sudah disembuhkan," tutur Muanas.

2. Dilaporkan Dengan Pasal Berbeda

Muanas pun melaporkan Anji dan Hadi Pranoto dengan pasal berbeda. Untuk Hadi Pranoto, ia menjerat dengan Pasal 14 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946.

Pasal tersebut berbunyi barang siapa dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat, dihukum setinggi-tingginya sepuluh tahun.

Sementara, Anji dijerat dengan pasal 28 ayat 1 Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Undang-undang Informasi Teknologi dan Informasi (ITE).

Adapun Pasal tersebut berbunyi setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah.


REKOMENDASI
TRENDING