Fenomena for Revenge, Penanda Kebangkitan Skena EMO di Industri Musik Tanah Air
Fenomena for Revenge, pionir kebangkitan skena emo di Indonesia
Kapanlagi.com - EMO is back and kicking! Kalimat itu rasanya tidak berlebihan untuk digaungkan ketika melihat industri musik Tanah Air saat ini. Genre Emo begitu populer di era 2000an silam. Nama-nama seperti Asking Alexandria, The Used, Bring Me The Horizon, My Chemical Romance, Alesana hingga Alone At Last dan Killing Me Inside di Indonesia adalah segelintir nama yang pastinya sudah tak asing di skena emo. Ciri-cirinya, musik dengan instrumen cadas, namun penuh dengan lirik-lirik bernada kepedihan, kegalauan dan keputusasaan.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, era emo mulai meredup, bahkan bisa dibilang hampir habis. Lalu muncullah for Revenge, band asal Bandung yang secara mengejutkan menjadi pionir kembalinya Emo di lanskap musik tanah air.
Dibentuk tahun 2006, band yang meroket lewat lagu Serana ini telah melewati pasang surut, bongkar pasang personil, bahkan sempat hiatus karena berbagai alasan.
Advertisement
Anyway, band yang digawangi oleh Boniex (vokal), Arief (gitar), Izha (bass) dan Archims (drum) itu kini jadi salah satu band paling HOT yang begitu digilai para pecinta musik. Lihat saja jumlah views video-video for Revenge di Youtube, pun jumlah stream lagunya di platform streaming lainnya, angkanya mencapai ratusan juta! (Detailnya akan kita bahas lebih jauh nanti).
Reaksi fans tiap kali menonton for Revenge secara live (Credit foto: instagram.com/forrevengeofficial & tasyacure_)Bahkan konser mereka juga nggak pernah sepi. Tak jarang juga terlihat penonton yang nangis berjamaah kala mendengarkan lagu-lagu For Revenge saat live. Sebuah fenomena yang luar biasa.
1. Jatuh Cinta Boniex Pada Pandangan Pertama
KapanLagi menemui Boniex Noer, sang frontman dari for Revenge untuk lebih jauh menggali fakta seputar fenomena ini. Berbagai topik menarik tentang for Revenge pun mengalir dengan sendirinya saat kami menemuinya di kantor Sony Music. Mulai dari topik skena musik emo, awal mula dirinya gabung dengan band, fenomena lagu-lagu galau For Revenge yang viral dan masih banyak lainnya.
Dari situ kami tahu bahwa sejak remaja, Boniex sudah jadi seorang 'emo-kid' berkat pengaruh musik dari kakaknya. Hingga akhirnya, kesukaannya ini membawanya bertemu dengan for Revenge yang sedang manggung di sebuah acara. Pada saat itu juga, Boniex mengaku jatuh hati karena For Revenge membawakan lagu-lagu Emo, sesuai dengan selera musiknya.
"Gua lahir dari skena di Bandung. Waktu itu zaman-zaman musik Pop Punk, terus 2000an itu udah masuk Emo. Akhirnya gua tahu dan suka Emo itu karena dicekokin kakak gua. Nah gua sempat band-bandan SMA juga. Terus satu waktu gua manggung, ada for Revenge di situ, gua suka aja, ternyata ada band Bandung yang sama musiknya sama yang gua dengerin," kenang Boniex.
Kala itu, formasi for Revenge terdiri dari Archims Pribadi (drum), Abie Nugraha (bass), Hagie Juliandri (gitar), Finz Yuniar (vokal), Irman Syaiful (gitar) dan Faisal Riant (synth). Lalu pada tahun 2009, terjadi beberapa bongkar pasang personel. Finz, Irman dan Faisal memutuskan untuk keluar dari band, sehingga for Revenge pun terpaksa harus mencari vokalis baru.

Berkat koneksi dari sang kakak, Boniex memberanikan diri untuk mengajukan diri sebagai vokalis for Revenge. Meski tak berekspektasi banyak, ternyata Boniex diterima jadi sang frontman baru for Revenge. Bersamaan dengan itu, band asal Bandung ini juga kedatangan gitaris baru; Adistya Pratayangsha.
"Waktu itu vokalisnya for Revenge cabut, terus dia nyari vokalis di My Space, terus gua kayak dikenalin sama temen kakak gua. Terus akhirnya ketemu lah sama for Revenge ini, nggak ada ekspektasi apa-apa karena emang ya masih remaja gua waktu itu yaudah kayak band-bandan aja waktu itu. Seru-seruan aja ya hobi aja gitu," sambung pria bernama lengkap Muhammad Boniex Nurwega itu.
(Di luar nurul, Inara Rusli dilaporkan atas dugaan perselingkuhan dan Perzinaan!)
2. Titik Balik for Revenge
Kala itu, popularitas for Revenge belum sebesar sekarang. Beberapa tahun berjalan, bongkar pasang personel kembali terjadi. Di tahun 2015 band ini memutuskan untuk hiatus, alasannya diduga karena ada masalah internal. Setahun setelah hiatus, for Revenge kembali aktif tapi Boniex malah memilih untuk keluar dari band karena waktu itu Ia sudah meninggalkan Bandung menuju Jakarta untuk mencari nafkah di bidang lainnya.
Tanpa Boniex kala itu, for Revenge tetap berjalan. Beberapa kali mereka melakukan pergantian vokalis seperti Abiyoso Utomo hingga Simon Simorangkir. Keduanya tak bertahan lama sebagai sang frontman for Revenge. Hingga pada akhirnya, tahun 2019 Boniex memantapkan hatinya untuk comeback mengisi posisi vokal yang sedang kosong. Ceritanya, cinta lama bersemi kembali.
"Gua sempet cabut dari for Revenge waktu itu, terus after sekitar 5 tahun cabut, gua diajak balik lagi. Itu titik yang banyak mengubah gua sih, maksudnya gua kan udah banyak di luar for Revenge, terus banyak ilmu yang gua serap gitu. Terus ketika diajak balik, dari awal gua bilang ke anak-anak, gua udah nggak mau main-main lagi, maksudnya ini harus jadi band yang 'serius', jadi udah bukan yang kita bikin asal-asalan segala macem ngikutin idealis kita masa muda," kenang Boniex.

Niatan untuk membawa For Revenge menjadi band yang lebih serius ini makin ditempa oleh keadaan ketika mereka harus bertahan di tengah kondisi pandemi. Seperti yang kita tahu pandemi mengobrak-abrik tatanan sosial dan ekonomi dunia, tak terkecuali industri musik tanah air. Meski demikian, nampaknya Boniex dan for Revenge makin diyakinkan bahwa band ini punya potensi besar dan membutuhkan komitmen penuh dari mereka.
"Mulai serius itu baru setelah pandemi, gua merasakan kalau ternyata apa yang gua bikin, bisa berpengaruh ke orang lain. Dan ternyata makna lagu-lagu yang gua bikin bisa nyampe sejauh itu. Akhirnya di situ gua sama temen-temen akhirnya mikir; kita harus berhenti kerja nih, ternyata bisa menggantungkan hidup di band ini," tambah pria yang kini berusia 34 tahun itu.
Dengan arah baru tersebut, for Revenge masih harus beberapa kali mengalami pergantian formasi personel. Hingga akhirnya pada tahun 2022, mereka memantapkan membernya, yakni Boniex (Vocal), Archim Pribadi (drum), Arief Ismail (Gitar) dan Izha Muhammad (Bass) yang masih bertahan hingga saat ini.
3. Meroketnya Popularitas yang di Luar Ekspektasi
Pada satu momen, salah satu lagu mereka yang betajuk Serana meledak dan viral di berbagai media sosial. Bisa dibilang, dari situlah awal mula for Revenge mulai jadi topik hangat perbincangan dan dikenal luas oleh para pecinta musik.
Tak ada satupun personel for Revenge yang menyangka jika mereka akan jadi band yang sebesar sekarang. Mereka mengaku jika awalnya hanya sekedar ngeband hanya untuk menyalurkan hobi di luar waktu pekerjaan utamanya.
"Iya jadi kayak apa ya, gua kan kerja kantoran juga waktu itu, terus kayak gua butuh 'pelarian' lah, ada sisi lain dalam diri gua yang perlu gua salurkan ya akhirnya gua salurkan di for Revenge," ungkap Boniex.
Sang gitaris, Arief Ismail juga mengungkapkan hal serupa saat ditemui di kesempatan berbeda, "Jadi emang tujuan awalnya sama mungkin sama kayak mas Bonny sebenernya cuma hobi. Dari hobi Alhamdulillah sekarang menghasilkan. Jadi sama sekali gak ada mungkin yang sampai (level) nasional gitu kepikiran, yang penting di kalangan scene, komunitas, dikenal itu dulu. Jadi pas sekarang ternyata skalanya udah banyak dikenal, lebih ya kaget aja gitu."
Di level Internasional, banyak band beraliran screamo atau emo yang meraup kesuksesan berskala besar. Akan tetapi, hal itu memang sulit terjadi di Indonesia yang selama ini industri musiknya didominasi oleh genre pop. Dan for Revenge bisa dibilang jadi band emo pertama yang bisa ke titik tersebut.
"Kaget sih, magis banget. Ya gua dari kecil ditanya cita-cita apa, gak pernah bilang pengen jadi vokalis, pengen jadi anak band, nggak pernah gitu. Gua selalu lihat band luar itu kan bisa ya dengan genre-nya for Revenge gitu screamo, emo, hardcore orang bisa hidup di sana. Gua mikir, ah di Indonesia mah nggak bisa gitu, eh ternyata bisa," jelas Boniex.

Bukan cuma di Indonesia saja, for Revenge juga sudah mulai dikenal luas namanya di pasar musik Asia Tenggara, seperti salah satunya negara tetangga; Malaysia. Pada satu kesempatan manggung di negeri Jiran, for Revenge bahkan mendapatkan sambutan dan reaksi yang di luar ekspektasi.
"Oh gue paling kaget (waktu manggung) Malaysia sih, main di Johor Baru. Kayak itu yang nggak pernah gua (kira) bakal seramai itu. Terus semuanya nyanyi, dari semua setlist yang For Revenge bawain, mereka nyanyi. Jadi kayak, 'Kok bisa ya nyampai sini?'," kenangnya
4. Formula Lirik Galau dan Curhatan Hati Boniex
Genre emo memang lekat dengan lirik bertema galau, patah hati, perasaan insecure, keputusasaan, rasa depresi dan sejenisnya. Ini juga yang jadi salah satu kekuatan dan trademark utama lagu-lagu for Revenge. Dalam meramu liriknya, Boniex selalu memakai pengalaman pribadi sebagai inspirasi. Namun begitu, ia selalu mengajak diskusi untuk menguji apakah lirik yang dibuatnya bisa diterima oleh pendengar.
"Maksudnya belum tentu gua kasih formulanya berhasil di elu. Ya mungkin ada momen yang pas di situ ketika gua nulis itu kondisinya lagi yang bener-bener heartbreak momen semua. Kayaknya semuanya gampang sekali patah hati. Kalau cerita patah hati orang itu kayaknya mau zaman kapanpun sama. Cuma kan pasti dari bahasa yang beda gitu, dari background waktunya yang beda tapi secara tema itu ya patah hati orang itu ya sama aja sebenernya dari zaman ke zaman," jelas Boniex saat ditanya formula lirik-lirik galaunya.
Bukan cuma sekedar lirik galau pada umumnya, for Revenge bisa dibilang punya pemilihan diksi yang menarik dalam tiap kata pada bait liriknya. Usut punya usut, ternyata background pendidikan Boniex di bidang jurnalistik juga punya andil di sana. Apalagi, Boniex juga sempat mencicipi karir sebagai jurnalis di salah satu media saat hiatus dari for Revenge.
"Mungkin karena ada background gua tuh kuliah jurnalistik, gua belajar kata-kata yang baku yang orang kadang nggak menggunakan itu dalam sebuah tulisan gitu, mungkin ada pengaruh itu kali ya. Ada background jurnalis ketika menulis lirik jadinya begitu. Tapi gua jarang bikin puisi sih," sambung suami dari Cynantia Pratita itu.

But perhaps you hate a thing, and it's good for you. And perhaps you love a thing, and it's bad for you.
Adalah salah satu penggalan lirik dari lagu for Revenge yang berjudul Jakarta Hari Ini yang punya makna spiritual. Bagi kalian yang merasa tak asing, bait tersebut dikutip dari terjemahan salah satu ayat di kitab suci Al Quran, tepatnya Al Baqarah ayat 216 yang berbunyi:
Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
"Salah satu alasan suka for Revenge karena relate, pemilihan lirik dan diksinya, penyajian video klipnya. Terus yang mungkin banyak orang nggak sadar itu setiap lagunya for Revenge itu dia mengutip dari ayat AlQuran, jadi ada pesan-pesannya juga yang cukup dalem. Bahkan ada beberapa lagu yang bener-bener dari terjemahan ayat AlQuran. Dan setiap for Revenge bikin lagu baru tuh, kebanyakan orang ngerasa kalau ini bukan lagu baru, ini kisah gue," ungkap Ferdi, salah satu member For Revenge Family (sebutan komunitas fans For Revenge) saat ditemui tim KapanLagi di kesempatan berbeda.
5. Kesuksesan Menyentuh Hati Para Fans
Di tiap konser for Revenge, sebuah fenomena menarik selalu tersaji. Para penonton, utamanya barisan paling depan pasti banyak yang menangis sesenggukan sembari ikut menyanyikan lagu-lagu for Revenge. Beberapa bahkan selalu membawa kertas dengan tulisan bernada curhatan galau.
Boniex CS sangat sadar akan hal tersebut. Tak jarang, Boniex sengaja turun dari panggung, menghampiri salah satu penonton yang terlihat paling emosional, lalu memeluknya. Atau, sesekali Ia juga meminta fans untuk naik ke atas panggung untuk turut mencurahkan kegalauan yang sedang menaungi hatinya.
"Pertama kali gua masih inget di Bali waktu itu. Kita abis pandemi pertama kali off air tour ke Bali. Satu momen ada yang nangis, cewek waktu itu nangis, bingung. Akhirnya kita berhenti di lagu itu, kita berhenti terus gua tanya kenapa (nangis)? Terus akhirnya di situlah dia cerita, oh ini lagunya relate, apa ya intinya pokoknya dia baru putus padahal dia udah pacaran lama. Ternyata mantannya nikah sama temennya apa siapa gitu, itu pertama kali sih. Lumayan kaget," kenang Boniex.
Seorang fans berat for Revenge, Ferdi juga mengungkapkan hal senada. Menurutnya, lagu-lagu for Revenge memang sangat relate dengan keadaan hati banyak orang, sehingga banyak yang merasa tersentuh dan emosional ketika band idolanya tersebut tampil.
"Pemilihan liriknya yang selalu relate dari dulu dari album-album yang lawas sampai sekarang. Apalagi comeback-nya dia itu makin relate lagi sama anak-anak sekarang ya. Tentang patah hati - patah hati. Makin banyak digemari oleh Gen Z," ungkap Dika, salah satu member For Revenge Family lainnya.

Meski lirik menjadi kekuatan utama for Revenge dalam menyentuh hati para fans, Boniex CS menyebut bahwa mereka tak pernah dengan intensi khusus menulis lirik lagu untuk membuat para fans menangis atau sedih. Mereka hanya sekedar menuangkan pengalaman pahit masing-masing, yang ternyata memang selalu relate dengan banyak orang.
"Masa gua nulis lagu mikir, 'Ah gua bikin orang nangis ah', nggak juga. Gua berusaha mencurahkan di for Revenge tuh pengalaman terpahit gua aja. Entah itu bisa sampai bikin orang nangis, entah apa,yang mereka rasakan, mungkin relate sama pengalaman mereka. Gua juga kaget pertama kali ketika for Revenge manggung terus ada yang nangis, karena dulu tuh sebelum gue, for Revenge nyanyi nggak ada yang nangis gitu. Nggak tahu kenapa ya? Ada apa dengan generasi sekarang?" ungkap Boniex terkait fenomena fans-nya yang luar biasa emosional.
Di akun Youtube, for Revenge sampai punya highlight khusus untuk mendokumentasikan ekspresi para fans-nya yang luar biasa emosional di tiap konser. Akan tetapi, rupanya saat ini mulai banyak bermunculan para fans yang juga pura-pura nangis, cuma bisa demi bisa disorot oleh tim dokumentasi for Revenge. Boniex sampai hafal karakteristik para fans yang datang ke konsernya.
"Iya, bahkan yang pura-pura nangis pun ada. Bisa jadi mungkin karena for Revenge akhirnya meng-capture itu, di-capture gitu momen ada yang nangis penonton, kita naikin ke media sosial. Ada juga mungkin orang-orang yang 'gua pengen masuk juga nih'. Tapi keliatan kok. Gua tuh kalau nonton gua perhatiin, 'Wah pura-pura (nangis) nih'," tegas Boniex.
6. Perdebatan Genre, EMO Atau Pop Rock?
Hingga kini, kerap terjadi perdebatan ketika membahas genre musik dari for Revenge. Banyak yang melabelinya sebagai emo, tapi tak sedikit juga yang menyebutnya sebagai band pop rock pada umumnya. Mengenai hal ini, Boniex punya pandangan tersendiri dalam menanggapinya.
"Ya identity-nya memang itu sih (emo). Dari awal dari kita bikin band itu ya karena pengaruh musiknya dari musik-musik emo di wave-nya 2000an. Kalau sekarang ada yang nyebutnya pop atau rock ya nggak apa-apa juga. Tapi memang kalau gua, konsistennya di emo. Kan dari segi penulisan lirik ya apa yang kita tulis, apa yang kita ceritakan di karya-karya kami ya emo, that's emo," tanggapan Boniex ketika ditanya mengenai genre band-nya.
for Revenge saat ini berada di bawah naungan label Sony Music Entertainment Indonesia. Pihak SME sendiri mengakui jika salah satu daya tarik dari for Revenge adalah konsistensi mereka di genre emo. Dari situ, kolaborasi antara keduanya pun terjadi.
"Yang membuat kita sangat tertarik sama for Revenge itu adalah kekuatan lagunya dan konsistensi di genre yang seperti ini (emo). Banyak hal detail lah, penulisan lirik dari Boniex, terus ada Arief yang bikin nada dan aransemennya juga, kolaborasinya tuh dari ujung ke ujung," ungkap Keke Kananta, Head of A&R Sony Music Entertainment Indonesia.

Apapun pandangan fans tentang genre for Revenge, Boniex tak ingin memberi batasan. Satu hal yang pasti, menurutnya for Revenge akan selalu konsisten untuk menyuguhkan karya-karya yang mengeksplorasi kesedihan. Untuk saat ini tak terbesit sedikitpun di kepala Boniex untuk membuat lagu-lagu bertema fun dan kebahagiaan.
"Ke-emo-annya itu sih yang tetep kita jalani dari for Revenge pertama kali bikin sampai sekarang. Kayak ada beberapa fans lama kita yang, 'Kok for Revenge jadi gini?'. Sebenernya kalau lu denger yang lama sama yang sekarang, secara lirik secara cerita lagunya tuh sama, patah hati semua isinya, jadi nggak ada yang berubah. Itu sih benang merahnya selalu itu. Mungkin lu akan bingung kalau For Revenge bikin lagu yang happy, kayaknya bakal aneh sih, gue juga belum pernah. Nggak tau ya, nggak akan sih kayaknya haha," jawab Boniex seraya tertawa.
7. Target For Revenge
Sony Music Entertainment Indonesia punya keyakinan bahwa for Revenge suatu saat nanti akan jadi sesuatu yang sangat besar di Indonesia. Dan untuk mewujudkan keyakinan itu, Sony mendampingi for Revenge untuk selangkah demi selangkah berproses. Sebagai langkah selanjutnya, Sony berharap dalam beberapa tahun ke depan for Revenge bisa mulai masuk ke pasar Internasional, khususnya Asia.
"Simple-nya di kepala gua ya, for Revenge ini bakal jadi one of the living legend. Mereka sudah matang secara umur, mereka juga sudah dewasa dari sisi musikalitas, segi bepikir pola bisnisnya juga. Mereka udah profesional. Jadi menurut gua ke depannya for Revenge ini akan jadi band yang umurnya panjang. Dalam lima tahun ke depan, kami merasa For Revenge bisa jadi Go Internasional. Nggak usah jauh-jauh, kita akan bermain di Asia dulu, sepertinya itu mimpi yang nggak sulit-sulit amat lah buat for Revenge," harap Keke tentang masa depan for Revenge.
Menanggapi harapan dari Sony terkait masa depan for Revenge, Boniex CS tak mau terlalu muluk-muluk. Yang pasti, dalam beberapa tahun ke depan, mereka ingin band yang telah membesarkan namanya itu jadi sesuatu yang selalu diingat dan dikenal oleh para pecinta musik Indonesia.
"Pertanyaan sulit nih. Lima sampai sepuluh tahun ke depan, for Revenge harusnya ada di top three band di Indonesia ya, top three lah. At least top of mind orang tuh, 'Indonesia band nya apa ya? for Revenge'," ungkap Boniex menjawab tantangan Keke.
"Kalau keinginan saya, cuma ingin bertahan aja sih. Soalnya yang sulit itu bertahan. Mempertahankan yang sekarang, kalau bisa lebih. Tapi seenggaknya minimal bertahan gitu," jawab Arief Ismail, sang gitaris.
Sementara itu, Archims Pribadi sang drummer sekaligus pendiri for Revenge juga punya jawaban senada, "Posisinya yang menguntungkan, jalan terus. Amin. Posisi yang bener-bener akan selalu diingat aja sih, gue nggak bisa ngejabarin pengen posisi tertinggi gimana, nggak bisa. Pasti ada regenerasi."
8. Kedekatan dengan For Revenge Family
Sebagai salah satu band yang popularitasnya sedang melambung tinggi, for Revenge tentunya memiliki fanbase yang luar biasa besar di tiap kota berbeda. Dari situ terciptalah For Revenge Family, sebuah komunitas yang jadi 'rumah' tempat berkumpulnya para fans berat for Revenge. Mereka bahkan sudah punya tempat spesial di hati Boniex dan kawan-kawan.
"Gua udah mulai hafal lah orang-orangnya (For Revenge Family), pentolannya di mana uda mulai hafal. Terus kalau kita manggung di kota-kota tuh kita selalu menyempatkan diri pasti habis manggung kita ketemu sama FRF di backstage. Kalau deket banget sampai minjem duit mah nggak ya, haha. Tapi tetap kita ini ya maksudnya nggak ada mereka juga nggak bakal ada for Revenge. Tetep kita maintenance juga, kita ada grup bareng gitu sama ketua-ketuanya gitu. Pasti kalau kita bikin sesuatu yang pertama tahu pasti mereka dulu," ungkap Boniex tentang kedekatannya dengan For Revenge Family.
Archim Pribadi juga tak mau ketinggalan mengutarakan apresiasinya terhadap kehadiran dan kesetiaan para For Revenge Family, "Mereka (For Revenge Family) yang menghidupi kita. Kalau secara organik, mereka tuh denyut. Tanpa mereka siapa sih yang mau denger for Revenge. Gua berterima kasih banget sih sama For Revenge Family."

Kepopularitasan tak lantas membuat for Revenge lupa pada para penggemar setianya. Di setiap performance-nya, Boniex CS selalu menyempatkan diri untuk menemui For Revenge Family di belakang panggung untuk sekedar bertegur sapa, hingga foto bersama. Karena alasan itu pula, for Revenge juga meninggalkan kesan yang sangat mendalam di hati para fans.
"Menurut saya, for Revenge tuh kayak keluarga. Semenjak saya masuk For Revenge Family, saya bisa jadi kenal banyak orang di luar-luar kota dan banyak relasi juga. Kayak sepengaruh itu buat pribadi saya, buat bisa misalnya berangkat nonton konser di Bandung atau mana, kita ga sendirian gitu, jadi kita punya temen di luar kota," ungkap Dika, salah satu member For Revenge Family.
Nazla, ketua dari For Revenge Family juga gantian memberikan apresiasi terdalamnya untuk for Revenge, "Untuk for Revenge, terima kasih banyak untuk kepercayaannya sama aku (jadi ketua For Revenge Family). Setiap manggung kalian capek, tapi selalu nyempetin ketemu kami. Di situ aku merasa diapresiasi sama kalian dan tim komite patah hati. Hal sekecil itu bisa bikin kita merasa dianggap ada. Dan terima kasih juga untuk karya-karya hebatnya yang sejauh ini bisa didengerin sama banyak temen-temen di luar sana, yang mungkin sama kayak aku, ceritanya relate sama lagu-lagu kalian."
9. To Infinity and Beyond
Kesuksesan for Revenge di industri musik bukan cuma sekedar diukur dari dukungan fans-nya yang luar biasa. Pelantun lagu Serana ini terhitung sudah pernah masuk nominasi bergengsi seperti 'Best Rock Performance' di ajang Hammersonic Awards 2023 hingga dua kali masuk nominasi Anugerah Music Indonesia (AMI), yakni pada tahun 2023 dan 2024.
Terbaru, for Revenge mencetak sejarah dengan memenangkan kategori Duo/Group/Band of the Year di ajang Indonesian Music Awards (IMA) 2024. Band bergenre emo ini berhasil mengungguli nama-nama besar seperti Juicy Luicy, Maliq & D'essentials, JKT48, dan Lomba Sihir.
"Alhamdulillah kami bisa memboyong gelar malam ini. Kita sangat bersyukur, awalnya bisa masuk di nominasi IMA saja sudah luar biasa. Apalagi kami satu-satunya band rock/emo di kategori ini. Tapi ternyata ini adalah bentuk apresiasi positif terhadap karya-karya kami. Terima kasih banyak untuk IMA," ungkap Boniex di atas podium saat menerima piala penghargaan.

Tak berhenti sampai situ saja, for Revenge juga memiliki catatan yang sangat positif di berbagai platform streaming. Di Youtube contohnya, hingga berita ini diturunkan, MV lagu Jakarta Hari Ini telah ditonton sebanyak 48 juta kali, sementara MV lagu-lagu lainnya juga telah menyentuh angka jutaan views. Belum lagi bicara tentang jumlah streaming lagu mereka seperti di Spotify, di mana lagu Serana telah didengarkan sebanyak 363 juta kali, sementara Jakarta Hari Ini menyusul di urutan kedua dengan jumlah 161 juta kali.
Angka dan capaian di atas bisa dibilang sangat luar biasa dan fenomenal. Terlebih lagi, for Revenge mengangkat genre emo yang selama ini cenderung sulit bersaing di pasar musik mainstream. Jadi, sah-sah saja kalau kita menyebut for Revenge sebagai sang pionir kebangkitan emo di Indonesia. Karena kalau bukan sekarang musik emo bangkit, KapanLagi?
By the way, KLovers juga bisa nonton bahasan eksklusif seputar for Revenge ini dalam bentuk video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=2wqgg__eR0g&ab_channel=KapanLagiDotCom
Jangan ketinggalan baca yang ini juga!
Komunitas Agus Tanggapi Soal Viralnya Polemik Agus Donasi dan Agus Buntung
Kisah Satu Dekade Tantri Kotak dan Arda Naff 'Tumbuh Bersama' Membangun Rumah Tangga yang Harmonis dan Jauh dari Gosip Miring
Satu Minggu Setelah Rilis Lagu 'Nasihat Bapak', Ayah dari Penyanyi dan Komika Vikri Rahmat Meninggal Dunia Saat Bersandar di Pundaknya
Mengulik Lebih Dalam Kehidupan Cinta Laura, Mindful dalam Belanja hingga Arti Kebahagiaan Baginya
(Di tengah kondisi kesehatan yang jadi sorotan, Fahmi Bo resmi nikah lagi dengan mantan istrinya.)
Advertisement
-
Teen - Lifestyle Gadget Mau Foto Astetik? Kamera Mini Andalan Anak Skena yang Lagi Viral Ini Patut Dicoba
