SELEBRITI

Forum Gus Discussion Gelar Musyawarah Besar, Tanggapi Banyaknya Pemberitaan Negatif di Kalangan Pesantren

Rabu, 21 September 2022 10:20

Forum Gus Discussion / Credit Foto: Dokumentasi Pribadi

Kapanlagi.com - Dalam beberapa waktu terakhir ini, banyak sekali bermunculan pemberitaan negatif yang terjadi di area pesantren. Salah satu dugaan yang muncul adalah karena kurangnya kesiapan dari pihak pesantren untuk menghadapi perkembangan teknologi dan informassi serta perkembangat zaman yang begitu cepat dan pesat.

Berkaca dari fakta di atas, para kyai, bunyai, gus dan ning yang tergabung dalam forum Kyai, Nyai, Gus dan Ning Pesantren se-Indonesia menggelar musyawarah di pondok pesantren Ora Aji Sleman Yogyakarta asuhan Gus Miftah pada tanggal 18 September 2022.

Hadir dalam acara ini dari unsur PBNU, PWNU, dunia akademisi, dan kalangan kampus, serta dari SAS institute, tentunya para kyai, bunyai, gus dan ning perwakilan dari daerah di Jawa dan Sumatera.

Hasil musyawarah dan diskusi menyikapi problematika dunia pesantren belakangan ini adalah dunia pesantren harus berubah, di mana para pengasuh, kyai, bunyai, gus dan ning harus menyesuaikan zaman dan teknologi dalam mengelola pesantren dengan tetap mempertahankan tradisi lama yang baik dan mereformasi tradisi lama yang buruk untuk disesuaikan dengan tuntutan zaman tanpa melanggar ketentuan syariat, kultur dan budaya pesantren, dan ketaatan terhadap hukum NKRI.

Oleh karena itu, para kyai dan bunyai sepakat agar masing-masing pesantren saling menguatkan dan membangun solidaritas yang tinggi disertai kemauan saling berbenah untuk mengambil yang terbaik dari pesantren yang sudah mengelola sistem manajemennya secara profesional. Sekaligus melakukan pendampingan terhadap pesantren yg masih melakukan perbaikan sistem dan menejemen oleh pesantren yang sudah maju dan profesional.

Hal ini penting dilakukan karena sampai detik ini pendidikan pesantren yang mengkombinasikan disiplin ilmu, akhlak, keteladanan dan kemandirian masih merupakan pendidikan terbaik di negeri ini. Dan pesantren Aswaja terbukti telah menjadi penopang utama tegaknya NKRI dan pembibitan rasa nasionalisme bagi kalangan generasi penerus bangsa.

1. Hasil dari Musyawarah

Atas dasar itulah, pertemuan merekomendasikan beberapa point tindak lanjut yang harus segera dilakukan oleh kalangan dunia pesantren, khususnya pesantren-pesantren NU.

Point tersebut adalah:

1. Pesantren harus waspada atas framing pemberitaan kekerasan fisik di lingkungan pesantren, dengan tetap melakukan evaluasi besar-besaran atas peraturan atau sistem yang memungkinkan terjadinya pelanggaran hukum dan pelanggaran syariat agama.

2. Pesantren perlu membuat lembaga bantuan hukum atau menyediakan para legal (ahli hukum) yang membackup dan mengantisipasi terjadinya potensi-potensi pelanggaran hukum dikalangan pesantren.

3. Keluarga besar pesantren harus muhasabah total baik itu kyainya, pengurus, wali santri dan santri, agar tidak terjadi lagi potensi pelanggaran hukum, salah satunya dengan membuat komitmen antara pengelola pesantren dengan wali santri sehingga kyai bisa lebih fokus dalam menjaga dan mengawal pesantren untuk menjadi lebih baik.

4. Kalangan pesantren harus membangun networking dengan semua pihak termasuk dengan aparat penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, peradilan) untuk menyelesaikan potensi pelanggaran hukum jika terjadi dilingkungan pesantren sekaligus mengantisipasi terjadinya pelanggaran hukum di pesantren.

5. Karena pesantren bukan pabrik yang akan melahirkan produk yang sama outputnya, maka diperlukan kebijaksanaan oleh para pengasuh dan pengelola dalam mengatasi berbagai problematikanya yang muncul. Salah satu wujud kebijaksanaan itu adalah dengan terus memohon pertolongan Allah dengan mujahadah, istighosah tirakat, doa-doa dan muhasabah dari para pengelola sehingga santri-santri lebih mudah diarahkan dan dibimbing untuk menjadi anak yang sholeh-sholehah dan futuh ketika belajar ilmu serta bermanfaat ketika sudah kembali di masyarakat.

6. Kedisiplinan di pesantren tetap di berlakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.

7.segala bentuk takziran (hukuman) tidak berbentuk takzir fisik yang mengakibatkan luka sedikitpun diganti dengan takziran menjerakan yang mempunyai nilai tarbiyyah seperti menghafal surat surat pendek dan bait-bait, qoidah-qoidah dan lain-lain.

8. Saling mempunyai rasa kasih sayang dari dan kepada seluruh yang ada di pesantren.

Pengasuh Ponpes Ora Aji, Gus miftah melihat forum diskusi seperti ini sangatlah penting, mengingat begitu banyaknya isu-isu yang terjadi di pesantren. Gus miftah melihat forum diskusi ini sekaligus menjadi muhasabah para pengasuh pesantren agar ke depan pesantren bisa lebih baik lagi.

"Kyai dan gus itu kan manusia biasa yang tidak Ma'shoem dan berpotensi melakukan salah, khilaf dan dosa. Bagi saya juga nggak ada salahnya kyai minta maaf bila ada salah, minta maaf kan mulia dan terhormat," ungkap Gus Miftah.

(kpl/gtr)

REKOMENDASI
TRENDING