SELEBRITI

Kompleksitas Perempuan akan Dikupas di Teater Monolog Trie Utami, Catat Tanggalnya!

Rabu, 27 Maret 2019 17:31 Penulis: Sanjaya Ferryanto

Trie Utami © Kapanlagi/Akbar Prabowo Triyuwono

Kapanlagi.com - Penyanyi senior Trie Utami kembali mencicipi dunia teater. Kali ini rasanya lebih menantang dan kian menarik. Pasalnya, dirinya akan bermain di sebuah teater monolog musikal yang bertajuk Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng.

Berada di bawah naungan ArtSwara Production dan Dian Hadipranowo selaku produser, pertunjukkan spesial ini akan diselenggarakan di Teater Salihara pada 27-28 April 2019 mendatang.

"Ini merupakan sesuatu yang tidak terlalu baru buat saya. Saya pernah main di Ali Topan juga sebagai Mbok Iyem, itu baru pertama kali. Secara situasional, dunia teater ini tidak terlampau baru," ucapnya di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (26/3).

Cerita lakon ini diangkat dari kisah cinta yang tragis dari sosok Srintil, seorang penari ronggeng asal Dukuh Paruk, Banyumas. Srintil sendiri merupakan tokoh dari novel berjudul "Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Tohari yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1982.

 

1. Gabungkan Beberapa Bidang Seni

Teater ini kian spesial karena menggabungkan beberapa bidang seni. Ada empat kesenian yang akan diselaraskan, yaitu seni peran, seni musik, seni lukis, dan seni tari. Karakter yang dimainkan Trie Utami pun mencapai 7 orang mengingat ini merupakan teater monolog.

"Pasti sensasional. Saya harus memerankan sesedikitnya 7 karakter. Ya saya terus belajar, karena ada prosesnya yang terus berlangsung. Bagaimana saya diajari memerankan banyak karakter. Itu menarik banget," jelasnya lagi.

2. Tak Hanya Ceritakan Dunia Ronggeng

Lebih lanjut, menurutnya, pertunjukkan ini tidak hanya bercerita mengenai dunia Ronggeng. Ada cerita yang lebih dalam, yaitu tentang kompleksitas perempuan yang bisa digali lebih jauh di dalamnya.

"Secara psikologi, saya melihat kompleksitas perempuan dengan segala persoalannya. Itu jawaban lebih menarik buat saya. Dari sisi seorang ronggeng harus ada yang dilihat, ada kompleksitas keperempuanan," jelas Trie.

"Karena naskah ini sebetulnya tidak bercerita soal ronggeng dukuh paruknya secara utuh, tapi ingin memotret Srintil sebagai seorang perempuan yang tidak bisa menghindar dari garis hidupnya sebagai ronggeng," pungkasnya.

(kpl/apt/frs)


REKOMENDASI
TRENDING