SELEBRITI

LoveCare Indonesia: Marketplace Pertama di Indonesia, Aplikasi Penyedia Jasa Profesional Kesehatan

Rabu, 20 April 2022 23:12

Lovecare (credit: Dokumentasi Pribadi)

Kapanlagi.com - Veronica Tan menyampaikan kisah baru. Membantu orang untuk peduli terhadap orang-orang tercinta yang membutuhkan perawatan, lewat Lovecare Indonesia.

Meski masih terbilang baru, Veronica Tan bersama para pendiri LoveCare Indonesia, berhasil memenangkan UN Women Care Accelerator pada tahun 2021.

Senin, 18 April 2022, berlangsung di Kunstkring, Veronica Tan, selaku President of Commissioner LoveCare, berbincang-bincang dengan media.

Topik yang diangkat adalah tentang Lovecare Indonesia, marketplace pertama di Indonesia yang menyediakan aplikasi penyedia jasa profesional kesehatan, seperti perawat, caregiver, dan babysitter untuk lansia dan anak-anak.

LoveCare menghubungkan dan mencocokkan penyedia jasa medis maupun nonmedis dengan pengguna jasa berdasarkan kebutuhan, lokasi, dan preferensi secara aman, cepat, dan nyaman.

1. Lahir Dari Pengalaman

LoveCare didirikan pada tahun 2019, lahir dari pengalaman pribadi, serta keinginan untuk melayani dan membuat perubahan di sektor layanan kesehatan.

Didirikan oleh Veronica Tan, Annette Anhar, Susan Nio, Dr. Venita Eng, dan Renold Sutadi, LoveCare berhasil memenangkan UN Women Care Accelerator pada tahun 2021.

Sejak 2019 LoveCare telah menjadi wadah yang memberikan dampak nyata bagi para keluarga Indonesia. Veronica mengatakan, “Saya mendapat inspirasi ketika saya pertama kali mengenal kata “paliatif”, yaitu pelayanan kualitas hidup pada pasien terminal yang tidak hanya memerlukan medical treatment tetapi mereka membutuhkan pelayanan holistik yang memakai hati," kata Veronica.

"Saya melihat bahwa kebutuhan akan tenaga perawat, caregiver selalu ada di mana-mana, realitanya, tidak mudah mendapatkan tenaga perawat dan caregiver ini. Itulah awalnya Lovecare dibuat, untuk menyediakan tenaga perawat untuk balita sampai lansia yang memiliki ketulusan, serta kasih dan sayang dalam merawat pasiennya dengan basis teknologi. Aplikasi lovecare ini mempertemukan kebutuhan klien dari berbagai kota, dengan tenaga perawat balita hingga lansia berkompetensi yang berada di berbagai daerah," kata Veronica.

2. Tak Mudah Dapat Tenaga Perawat

Namun ternyata, tidak mudah mendapatkan tenaga perawat dan caregiver homecare.

"Di sisi lain, saya juga dikelilingi kerabat dan teman-teman anak muda yang fokus di dunia digital dan memiliki hati yang sama untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan mental kuat untuk melakukan perubahan," lanjut Veronica.

"Saya berpikir, sepertinya akan jadi mudah ya, kalau ada aplikasi yang bisa mempertemukan pasien atau keluarganya dengan tenaga caregiver ini. Bayangan saya seperti Gojek tapi buat caregiver," kata Veronica.

Cuma disadari Veronica bahwa mencari tenaga caregivernya harus disiapkan dengan baik, mengingat orangtua, keluarga dan bayi merupakan anugerah dalam kehidupan.

"Sehingga tenaga caregiver ini menjadi bagian dari upaya mengelola kualitas kehidupan berkeluarga. Dan aplikasi inilah yang menjembataninya. Butuh homecare ingat Lovecare," sambung Veronica.

“Saya dan tim di Lovecare ingin membuat usaha yang tidak hanya menyelesaikan problem, mendapatkan laba, namun juga usaha ini harus bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat. Berupa membuka lapangan pekerjaan dengan tenaga kerja serta sumber daya manusia yang mentalnya terdidik dan terlatih dengan baik," kata Veronica.

3. LoveCare Sempat Lewati Beberapa Rintangan.

"Sebelum ada sistem marketplace, kendala terbesar LoveCare adalah ketika harus mencocokkan klien dengan petugas yang tepat dalam waktu yang singkat," kata Susan Nio, sebagai CEO & CTO LoveCare.

Hal yang dimaksud Susan adalah kondisi masing-masing customer itu unik, memiliki kebutuhan dan preferensi yang berbeda-beda.

Ada yang punya kebutuhan medis maupun non medis, ada yang membutuhkan bantuan perawat dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

"Ada juga yang mau pekerja (perawat) menguasai kompetensi tertentu, termasuk juga preferensi gender, usia dan budget tertentu. Di sisi lain, setiap mitra petugas pun unik, memiliki kompetensi, preferensi bekerja dan latar belakang yang berbeda-beda. Dulu kami harus satu-persatu cek dan tanya mitra dan bolak balik konfirmasi dengan customer. Hal itu sangat tidak efisien," papar Susan.

4. Gabungkan Konsep Standarisasi dan Personalisasi

Akhirnya team Lovecare memikirkan kemungkinan untuk menggabungkan konsep standarisasi dan personalisasi.

"Kami membuat standarisasi proses rekrutment para mitranya, sehingga jelas apa kompetensinya, bersedia bekerja di lokasi mana, jangka panjang atau pendek, masuk level mana dan berapa fee-nya. Sehingga kemudian customer bisa tinggal klik, otomatis mencocokkan dan personalisasi kebutuhannya dengan mitra-mitra yang memang sesuai pada saat pemesanan melalui aplikasi," lanjut  Susan.

Langkah itu dinilainya lebih mudah, cepat, dan akurat. Maka lahirlah marketplace LoveCare yang segera ditawarkan pada masyarakat.

Saat ini sudah ribuan mitra dari berbagai wilayah Indonesia yang mendaftar menjadi mitra LoveCare, namun yang lolos tes hanya 20%.

"LoveCare memastikan tiga faktor penting yang wajib dimiliki mitra LoveCare, yaitu Kompetensi, Mental, dan Hati (KOMET). Saat ini ada 200 mitra yang tersebar di lebih dari 50 kota dan kabupaten Indonesia. Detailnya, caregiver sekitar 40%, perawat 30%, babysitter 7%, dan selebihnya dokter, bidan, dan terapis," kata Susan yang bersama tim melakukan rekruitmen setiap hari.

5. Lakukan Roadshow ke Daerah-daerah

Di akhir April dan Mei LoveCare akan melakukan roadshow ke daerah-daerah untuk rekruitmen mitra Caregiver LoveCare.

LoveCare Indonesia langsung disambut baik, karena banyak orang membutuhkan tenaga-tenaga yang disediakan LoveCare Indonesia.

Salah satunya adalah 'generasi sandwich' yang harus mengurus keluarga mereka sendiri, tetapi juga harus mengurus orangtua dalam waktu bersamaan.

Roslina Verauli, Psikolog klinis anak, remaja, & keluarga, yang juga hadir dalam acara bincang-bincang dengan media, mengatakan, "Keberadaan ‘generasi roti lapis’ atau ‘sandwich generation’ tak dipungkiri merupakan beban berat bagi orang dewasa, terutama bagi perempuan bekerja saat ini," kata Verauli.

6. Lebih DItuntut Anak Perempuan

Umumnya, anak perempuan dalam keluarga, terutama di Asia, dituntut untuk lebih available terlibat dalam pengasuhan orangtua yang sudah lanjut usia dibandingkan anak laki-laki. Demikian data menyebutkan.

"Padahal, perempuan dalam rumah tangga juga dituntut untuk memiliki peran yang lebih besar dalam pengasuhan anak-anaknya. Tak heran bila kebutuhan akan 'in-home non-relative care,' seperti; perawat, caregiver, nanny, semakin dirasa penting," lanjut Verauli.

Tentu saja kebutuhan tiap keluarga dan rumah tangga akan sangat bervariasi.

"Itulah sebabnya, keberadaan marketplace yang mampu memberikan intervensi yang trust-based dalam bentuk program pelatihan yang berguna menjadi sangat penting, "lanjut Verauli.

7. Tak Hanya Andalkan Skill

Veronica Tan menambahkan, “Tenaga kesehatan, adalah profesi yang tidak hanya mengandalkan skill, akan tetapi juga harus memiliki mental yang sehat. Mereka harus bisa memberikan layanan dari hati berupa perhatian, kasih sayang, ketulusan yang semuanya berawal dari kemampuan menaklukkan dirinya sendiri."

Soal itu, Verauli pun setuju. "Secara psikologis, peran dan tantangan menjadi pelaku ‘in-home non relative care’ sangat besar. Dibutuhkan kemampuan berempati, menjalin komunikasi, sekaligus memberikan lingkungan yang aman, dan paham kebutuhan individu yang mereka rawat.

Termasuk untuk mampu secara aktif memberi support agar yang dirawat adjust dengan ‘new life-nya.’ Jadi, tekanan caregiver sedemikian besar, terutama dalam bentuk tekanan emosional dalam jangka panjang".

Salah satu alasan utama seorang caregiver harus memiliki mental yang sehat adalah caregiver merupakan salah satu sumber semangat dari para pasien.

8. Ceritakan Kisah Haru

Veronica menceritakan kisah mengharukan ketika klien mengatakan ketakutannya karena usianya yang sudah lanjut, atau kondisi penyakitnya yang sudah terminal.

"Kadang klien itu menahan ketakutannya karena tidak mau membuat keluarganya khawatir, tapi dia bisa bercerita pada caregiver. Sampai ada yang cerita mau mengakhiri hidupnya saja, tapi untungnya dimotivasi oleh caregiver, sehingga punya semangat hidup kembali,” kata Veronica.

Susan Nio memastikan bahwa caregiver yang disediakan oleh LoveCare sangat berkualitas dan sudah melewati training yang cukup.

“LoveCare menyediakan program training tambahan untuk mitra caregiver yang ingin upgrade kompetensi mereka. Yang diajarkan dalam program training LoveCare bukan hanya kompetensi dasar dalam merawat klien, namun juga pengetahuan lain seperti hospitality, service excellence, dan communication.”

9. Ingin Terus Berkembang

Soal training yang mumpuni, memang amat penting. Verauli menambahkan, "Merawat klien dalam hal ini, mereka rentan mengalami stres dan burn out, bahkan mengalami masalah yang berkaitan dengan isu kesehatan mental lainnya, seperti depresi. Caregiver membutuhkan support terutama skills atau keterampilan ‘coping strategies’ yang efektif agar mampu tetap terjaga kesehatan mentalnya."

Melalui Visi dan Misi-nya, LoveCare ingin terus berkembang menjadi marketplace yang terpercaya bagi keluarga Indonesia untuk terhubung dengan perawat, caregiver, dokter, dan babysitter lokal melalui aplikasi LoveCare.

LoveCare berkomitmen untuk memberikan kesempatan sukses yang sama kepada semua karyawan dan mitra, tanpa memandang jenis kelamin mereka dan membantu mereka belajar dan berkembang secara profesional.

"Layanan perawatan di rumah harus profesional, disesuaikan, dan terjangkau. LoveCare adalah layanan yang menekankan pada penyediaan perawatan berkualitas tinggi kepada pasien dan keluarganya," tambah Dr. Akhilesh, Advisor of LoveCare.

"Beruntung sekali keluarga Indonesia mendapatkan layanan Lovecare Indonesia. Semoga koalisi "multicaregiver" yang harmonis dapat lebih tercipta," ucap Verauli.

Now that you are AWAKE, it's time for you to wake right now!

Awake
REKOMENDASI
TRENDING