Ratna dan N. Riantiarno Tak Sekedar Berperan Sebagai Pasutri

Kamis, 21 Juli 2005 18:13 Penulis: Darmadi Sasongko
Kapanlagi.com - Dalam kehidupan nyata, Ratna dan Nano Riantiarno adalah pasangan suami-istri yang telah menikah lebih dari seperempat abad, di atas panggung mereka bisa tampil dalam peran-peran yang berbeda.

Namun, menandai ulang tahun pernikahan ke 27, pasangan suami istri (pasutri) itu justru memilih berperan sebagai suami dan istri yang memiliki karakter "berbeda" dengan sosok mereka sendiri.

Ratna dan N. Riantiarno mencoba mencari jawaban atas pertanyaan mendasar tentang cinta, 'Masih adakah cinta di antara kita?' dalam lakon yang akan digelar pada 27-29 Juli 2005.

"Setelah hidup bersama sekian lama, kami merasakan hubungan yang sudah biasa sehingga saya sering bertanya `masih adakah cinta di antara kita`," kata Nano mengenai salah satu babak dalam hidup mereka, sambil mengerling ke arah Ratna, dalam bincang-bincang di Jakarta, Kamis (21/7).

Apa jawaban yang diberikan oleh Ratna, atas pertanyaan tersebut?

"Dia tidak pernah menjawab dengan kata-kata, tetapi menjawabnya dengan perbuatan. Tentu itu tanda cinta, tetapi laki-laki seperti saya juga perlu jawaban," kata Nano mengenai kisah hidupnya yang menjadi sumber inspirasi karya terbarunya itu.

"Naskah sudah saya tulis dan siap naik pentas pada tahun 2002 untuk memperingati pernikahan perak, tetapi tertunda terus sehingga baru tahun ini digelar," kata Nano sebagai penulis naskah, sutradara sekaligus pemeran.

Lakon 'Tanda Cinta tersebut tidak 100% mengenai kehidupan pribadi mereka, karena Nano membiaskannya pada urusan yang lebih luas, pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia mengemukakan analogi, bila tidak ada cinta dari anak bangsa, maka yang muncul adalah kekerasan, korupsi seperti yang belakangan ini melanda Indonesia.

Ratna dan Nano tampak antusias mempersiapkan pertunjukkan tersebut dengan giat berlatih selama satu bulan bersama seluruh tim pendukung dari Teater Koma, untuk membawakan cerita dalam lima babak.

"Tak dapat diingkari memang kisah pribadi yang mengilhami ceritanya, tetapi bisa menjadi renungan untuk penonton meskipun kisah ini bukan berarti bisa menjadi contoh bagi pasangan yang sudah 15 tahun ke atas menikah," ujar Nano.

Ratna yang selama ini dikenal dinamis di atas panggung, mengaku akan tampil beda, demikian pula Nano.

"Anak-anak belum berkomentar meskipun mereka malu-malu mengintip saat latihan," kata Ratna mengenai komentar apakah pasutri itu mampu membawakan peran yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.

Ratna yang juga pernah aktif menjadi penari bahkan berkarir sebagai sekretaris, menggeluti dunia teater sejak tahun 1969 sedangkan Nano yang mengawali karir panggungnya pada 1965 di kota Cirebon, juga lama aktif berkecimpung di dunia jurnalistik.

Teater merupakan wadah pertemuan mereka, dan sepertinya dunia seni pertunjukan itu pula yang membuat cinta mereka awet hingga kini.

"Dunia kami di luar teater sangat berbeda, dan di situlah kami dapat bertemu. Saya sempat menolak jabatan yang lebih tinggi agar dapat terus berteater bersama Nano," cerita Ratna.

Kekompakan mereka sudah terbukti dalam membesarkan Teater Koma. Nano yang tadinya tergabung dengan Teater Populer-nya Teguh Karya membesarkan Koma dengan naskah dan penyutradaraannya, sedangkan Ratna yang sebelumnya di Teater Kecil-nya Arifin C. Noer bekerja keras dalam promosi dan pencarian sponsor.

Sekali lagi kekompakan mereka akan diuji di atas panggung teater Tanda Cinta".

(*/dar)


REKOMENDASI
TRENDING