Selebriti Korban Empuk 'Cyber Crime'

Sabtu, 28 Januari 2006 17:30 Penulis:
Kapanlagi.com - Maraknya dunia cyber membuat para pelaku cyber crime merajalela. Mulai dari iseng sampai hal yang sebenarnya diinginkan, yaitu melampiaskan nafsu syahwat melalui dunia maya.

Internet adalah sebuah teknologi yang canggih, Sebagaian orang menggunakan internet untuk mengakses hal hal yang bersifat technologi, tentunya memperoleh informasi dengan secepat mungkin, akan tetapi informasi memang beranekaragam, bisa berupa hal positif begitu juga hal negative, seperti tampilan tampilan webcam di internet yang akibatnya akan merusak moral bangsa.

Banyak artis atau publik figur di sekitar kita yang dijadikan ajang pelecehan seksual melalui internet, mungkin sebagian hal itu benar, akan tetapi ada pula yang menjadi target fitnah.

Kita lihat saja artis yang baru saja tersandung cyber crime yaitu Ratu Felisha. Sebelumnya ada beberapa artis yang bernasib sama, sebut saja Artika Sari Devi, Mayangsari, Lola Amaria, Bíjah dengan Sukma Ayu, Bíjah dengan Tri Indah, Syaharani dan masih banyak artis bernasib sial.

Wajah ayu dan tubuh seksi para artis dengan sengaja dipertontonkan, tentunya kita tidak bisa menyalahkan siapa yang salah, karena disini ada dua indikator bisa pelakunya ataupun orang yang dengan sengaja merusak nama baik para camgirls.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, kenapa dengan mudahnya orang memposting dirinya di internet, hal itu membuat salah seorang Anggota Dewan Pengawas Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Heru Nugroho turut bicara

Saat dikonfirmasi wartawan KapanLagi.com tentang hal tersebut di kantornya di bilangan Mampang Bang Heru mengatakan bahwa tindakan tersebut hanya sebuah keisengan.

Ditanya lebih lanjut tentang mengaktualisasi tubuh seksi ataupun foto-foto seronok melalui webcam, Heru mengatakan pengurus atau provider itu ibarat yang punya swalayan, content-nya mau di isi apa saja, itu tergantung penyewa tempat, nah begitu juga internet, provider hanya sebatas memiliki, isinya yang tahu hanyalah user atau pengguna jasa internet, jelas pria yang selama ini sering dimintai keterangan kesaksian di kepolisian itu.

Tidak adanya kekuatan hukum dalam yang mengatur, melarang atau membatasi hal tersebut, bahkan rancangan undang undang pornografi dan pornoaksi pun tidak disangkut-pautkan dengan keberadaan internet yang makin porak-poranda dengan suguhan-suguhan yang mengundang birahi membuat pemilik jasa internet tak memiliki kuasa atas apa yang akan dilakukan pengguna jasa mereka.

Pelaku cyber crime sendiri adalah kejahatan yang sudah melanggar norma, bedanya norma yang berlaku di Indonesia 'sangat budaya barat', bagaimana semua itu akan dibatasi kalau budaya barat sendiri menghalalkan hal itu, karena disini internet bukanlah milik satu negara, melainkan seluruh dunia.

Sebagai pengawas dan penyelenggara jasa internet Heru berharap pemerintah bisa membuat rancangan undang-undang secara tertulis, artinya kalau ada undang-undang hukum baru bisa ditegakkan, dan ada pelanggaran pun pasti akan ada sangsinya. 

(k//ww)

Editor:


REKOMENDASI
TRENDING