Sinopsis Sinetron 'ISTRI-ISTRI AKHIR ZAMAN' Episode 10, Tayang 15 Mei 2019

Rabu, 15 Mei 2019 14:45 Penulis: Canda Permana
Sinopsis Sinetron 'ISTRI-ISTRI AKHIR ZAMAN' Episode 10, Tayang 15 Mei 2019 Sinetron Istri-istri Akhir Zaman (credit: SCTV)

Kapanlagi.com - Aa Uyo panik tidak mendapati Entin di rumahnya. Ia menyusul ke rumah orang tua Entin, tapi ternyata Entin tidak ada di sana. Uyo yang panik langsung menelfon pak Edi. pak Edi tidak berani memberi tahu, karena diancam Bu Sofie, akhirnya ia bilang kalau Entin tidak ada di sana. AA Uyo bingung memikirkan keberadaan Entin. Ia pun balik ke kampungnya dan mampir di warung Bang Kapten.

Di dalam kamar tamu rumah SOFIE, ENTIN masih sesenggukan menangis. Bayangan KANG UYO yang selingkuh dari pandangan dia menari-nari dibenaknya. ENTIN terus saja menangis. Entin bener-bener gak nyangka A’a bisa sejahat itu.. pokoknya sudah tidak ada ampun lagi buat A’a.. lebih baik Entin jadi janda.. ENTIN terisak. Benar-benar sedih, saking sedihnya dia menggunakan sprei tempat tidur kamar tamu Rumah Sofie untuk mengelap ingus tanpa sadar.

EDI DARMAWAN sampai di Masjid, di sana sudah ada KANG UYO yang terlihat duduk di emperan masjid. EDI merasa kasihan memandangi Uyo, dan membatin. Tapi ia teringat pesan istrinya untuk merahasiakan keberadaan Entin di rumah mereka. Saat keluar dari masjid, wajah KANG UYO masih terlihat layu. EDI DARMAWAN sebetulnya tidak tega melihat kondisi sahabatnya, tapi dirinya pun harus menutupi rahasia yang dipegangnya. Ia hendak buru-buru pergi, tetapi Uyo memanggilnya. Ed..! Kita pulang bareng Ed.. Saya butuuuh pisan teman bicara.. EDI terus memandangi Uyo, dalam hati dia berdoa.. Ya Allah.. jagalah mulut hamba biar nggak keceplosan.. EDI DARMAWAN terpaksa menghampiri. EDI DARMAWAN kemudian berjalan mengiringi KANG UYO yang mulai bercerita tentang ENTIN yang salah paham semalam sambil meninggalkan masjid. EDI DARMAWAN berusaha menahan diri tidak mau komentar. Mendengar cerita KANG UYO yang memelas, dia merasakan versi KANG UYO yang bisa lebih dia percaya, sesampainya di pertigaan jalanan, Edi berhenti. Karena Edi berhenti, Uyo pun berhenti sambil memperhatikan. Edi menatap Uyo. EDI akhirnya memberi tahu tanpa diminta. Uyo.., sebenarnya Entin tidur di rumah saya.. KANG UYO kaget. Maaf Kang Uyo, saya dibawah ancaman istri, dan ini juga saya ngasih tahu ke Kang Uyo karena simpati saya ke akang.. tapi saya meminta ke Kang Uyo untuk pura-pura tidak tahu kalau Entin ada di rumah. Kalau Uyo datang sekarang buat ngejemput Entin, nasib saya bisa wassalam.. Uyo mengerti posisi Edi.

ATIKA,SE sampai di kantor, dia melangkah menuju ke ruang kerjanya. DEWI yang sengaja berdiri menunggunya, menyapa Atika. Selamat pagi bu Tika.., ini ada titipan.. Dewi lalu memberikan satu goodiebag kue berisi satu kotak berisi bolu lapis keju, kepada Atika. ATIKA mengambilnya, tapi dia penasaran. Dari siapa..? DEWI menggeleng, tadi satpam yang bawa kemari katanya. ATIKA lalu masuk ke ruangannya. DEWI yang terus memperhatikan Atika, mengangkat kedua telapak tangannya. Ya Allah.. semoga niat ini membawa kebaikan.. Sebelum duduk di mejanya, ATIKA melihat kotak di tangannya yang bertuliskan : Bolu Lapis Bogor. Dia kemudian mencoba mengingat-ingat sambil duduk di kursinya. Dulu saya sering membeli bolu lapis ini sama Ramadhan, hampir setiap Minggu di toko kue, setiap pulang olah raga pagi. Bolu lapis kesukaan saya.. Atika pun terbayang dengan ingatannya bersama Ramadhan saat membeli kue bolu itu.. ATIKA memotong bolu lapis itu lalu mencemilnya, dan dia merasakan rasa yang dulu sering dia nikmati bersama Ramadhan. Dia bicara dalam hati.. Apa mungkin Ramadhan yang ngirim..? Tapi tidak ada pengirimnya? Apa perlu aku ngucapin terima kasih..? Iya kalau Ramadhan.., kalau bukan? Tapi siapa lagi kalau bukan dia..? ATIKA benar-benar terharu. Mulutnya mendesah.. Terima kasih, bang.. Dewi  langsung menelpon Pi’I, laporan. dengan suara sengaja dipelankan karena kuatir terdengar sampai keluar ruangan, DEWI memberi tahu kalau Sepertinya wajah bu Atika berseri-seri waktu memanggil saya ke dalam, dia tanya: Benar yang ngirim bukan Pak Ramadhan..? MAS PI’I yang lagi menyetir mobilnya di jalanan, juga senang mendengar berita Dewi ditelpon itu. Wah ide kamu jempolan juga Dew, saya yakin dia sepertinya mulai terbayang saat-saat bahagia dan rukun dengan Ramadhan. Mereka berdua mengaminkan.

(kpl/sctv/CDP)

Editor:

Canda Permana


REKOMENDASI
TRENDING