Festival Film Indonesia 2025

Mengapreasisasi Warna Baru Perfilman

image image image image
image image image image

Kredit foto: Visinema Pictures, Cerita Films, Cinesurya, Gambar Gerak Film, dan Come and See Pictures

“Kala nanti badai 'kan datang.
Angin akan buat kau goyah. Maafkan,
hidup memang. Ingin kau lebih kuat”

Bait lagu “Selalu Ada di Nadimu” yang menjadi OST JUMBO ini memenuhi ruang-ruang bioskop, media sosial, bahkan dalam momen graduation sekolah. Membawa ingatan kita ke 2008, kita LASKAR PELANGI menjadi magnet penonton. JUMBO adalah angin segar perfilman Indonesia di 2025 ini. Tidak ada yang menyangka bahwa film animasi akan menjadi film terlaris sepanjang masa karena telah dinikmati 10.233.002 penonton selama pemutarannya.

Sore (Istri dari masa depan)

Ada juga SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN yang telah memikat 3.082.079 penonton lewat roman berbalut fiksi ilmiah dan konsep time loop yang segar. Seketika media sosial dipenuhi dengan refleksi penonton yang tak hanya terpikat tapi juga tersentil dalam memaknai relasi setelah menonton filmnya. Terlepas dari itu, tentu saja Sheila Dara sukses menjadi Indonesia Movie`s sweetheart karena aktingnya.

Tahun ini menjadi tahun yang penuh warna baru. Sineas Indonesia mendorong kreativitas mereka lebih jauh lagi melalui medium animasi, konsep fiksi ilmiah, bahkan efek visual dalam cerita horor yang disajikan. Dari situ, penonton pun mendapatkan pengalaman baru.

10
Film Bioskop Terlaris Indonesia di 2025

  1. 1
    10.233.002
  2. 2
    4.726.760
  3. 3
    3.242.843
  4. 4
    3.082.079
  5. 5
    3.002.303
  6. 6
    2.808.689
  7. 7
    2.470.552
  8. 8
    2.214.441
  9. 9
    1.892.369
  10. 10
    1.374.330

Festival Film Indonesia dengan Piala Citra sebagai bentuk apresiasi tertinggi bagi insan perfilman menyadari keberagaman warna yang dihadirkan. Oleh karenanya, pada 20 November akan dilangsungkan Malam Penganugerahan Piala Citra FFI 2025 untuk mereka yang sudah memberikan karya terbaik. Sekaligus nantinya momen ini menjadi wadah bagi penikmat film Indonesia untuk bisa merayakan keberagaman warna baru film-film Indonesia.

Puspawarna Sinema Indonesia

Menandai usia yang ke-70 sejak pertama kali digelar, Festival Film Indonesia (FFI) 2025 hadir dengan tema Puspawarna Sinema Indonesia. Tema ini jadi ajang perayaan FFI 2025 yang berkaitan dengan keberagaman dalam dunia perfilman nasional, baik itu dari segi bahasa, budaya, maupun estetika sinema.

Nggak hanya itu, tema tersebut menjadi refleksi bahwa Indonesia adalah negara dengan keragaman yang membuatnya semakin kaya dan indah. Perbedaan ini sekaligus menjadi kekuatan yang semakin memperkaya karakter film Indonesia.

FFI bukan cuma sekadar penghargaan, tapi juga menjadi simbol perjalanan zaman yang terus bergerak dan menyalakan semangat kreativitas, kerja keras, dan cinta pada seni bercerita lewat layar lebar. Film pun hadir sebagai cermin budaya, yang merekam sejarah, menumbuhkan empati, memperkuat identitas bangsa, sekaligus membuka ruang ekspresi buat generasi selanjutnya.

Jejak Panjang Festival

Film Indonesia

dari Masa ke Masa

1955

Perdana Hadir sebagai Pekan Apresiasi Film Nasional

FFI pertama kali digelar tahun 1955 di Jakarta, masih dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional. Dua legenda perfilman Tanah Air, Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik, jadi sosok di balik lahirnya ajang bergengsi ini. Sejak awal, FFI punya misi buat membangkitkan semangat para pembuat film Indonesia biar terus berkarya dan dikenal luas.

1973

Resmi Menyandang Nama Festival Film Indonesia

Perjalanannya nggak selalu mulus. Setelah debutnya di 1955, FFI sempat vakum dari 1956 sampai 1959, kemudian comeback lagi tahun 1960. Tapi belum lama berlangsung, ajang ini kembali absen selama tujuh tahun. Nama Festival Film Indonesia sendiri baru resmi dipakai pada 1973. Sejak itu, FFI mulai rutin digelar tiap tahun dengan gaung yang makin besar.

Era 70-80an

Masa Emas FFI

Masuk ke era 1970-1980-an, FFI jadi ajang paling bergengsi buat insan perfilman Indonesia. Banyak nama besar lahir dari sini, mulai dari Teguh Karya, Christine Hakim, sampai Slamet Rahardjo. Film-film yang menang di FFI nggak cuma bikin bangga di dalam negeri, tapi juga berhasil menembus panggung internasional. Di masa ini, FFI benar-benar jadi simbol prestise di dunia sinema Tanah Air.

1993-2003

Mati Suri Dunia Perfilman Tanah Air

Sayangnya, di akhir 1990-an, perfilman Indonesia sempat drop. Film asing merajalela, produksi lokal menurun, dan bioskop lebih sering memutar film impor. FFI ikut vakum panjang dari 1993 sampai 2003. Buat banyak orang, masa itu jadi periode paling suram dalam sejarah film Indonesia. Tapi di balik kelesuan itu, muncul generasi sineas muda yang mulai melawan arus dan mencari cara baru buat ngebangkitin perfilman nasional.

2024

Kebangkitan Film Indonesia, FFI Hadir dengan Semangat Baru

Setelah tidur panjang, FFI bangkit lagi di 2004 dengan energi baru. Era ini melahirkan wajah segar perfilman Indonesia, seperti Riri Riza dan Mira Lesmana lewat karya legendaris GIE. Walau sempat diterpa kontroversi di penyelenggaraan tahun 2006, semangat FFI nggak pernah padam. Justru, FFI makin berkembang dengan membuka kategori baru, dari film layar lebar, dokumenter, film pendek, sampai animasi.

Sekarang, FFI bukan cuma ajang penghargaan, tapi juga cermin evolusi perfilman Indonesia. Tiap tahunnya, festival ini jadi bukti bahwa kreativitas sineas Tanah Air nggak pernah berhenti. Dari generasi ke generasi, FFI terus jadi panggung kebanggaan buat para pencinta film Indonesia.

Di Balik Panggung Megah FFI 2025

Di balik kemeriahan FFI 2025, pastinya ada sederet sosok yang berperan penting dalam penyelenggaraannya. Dua nama yang paling mencuri perhatian adalah Ario Bayu dan Prilly Latuconsina, bintang beda generasi yang jadi representasi semangat FFI tahun ini.

Ario Bayu

Ario Bayu resmi ditunjuk sebagai Ketua Komite Festival Film Indonesia (FFI) periode 2024-2026. Ia melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan setelah sebelumnya dijabat oleh Reza Rahadian.

Sebagai aktor yang udah malang melintang di dunia akting, Ario Bayu dikenal dengan karismanya yang kuat dan dedikasinya terhadap seni peran. Cek aja sejumlah filmografi yang pernah dibintangi, dari SOEKARNO hingga GUNDALA, ia selalu bisa kasih 'jiwa' berbeda di setiap karakter yang diperankan.

Prilly Latuconsina

Prilly Latuconsina didapuk sebagai Ketua Bidang Program FFI 2025. Ia adalah sosok yang melambangkan wajah baru industri film Indonesia. Dari awal dikenal sebagai aktris muda hingga kini berkembang jadi produser, Prilly nunjukin kalau generasi muda juga bisa punya pengaruh besar di balik layar.

Di tangannya, Prilly melanjutkan perjalanan FFI ke arah yang lebih inklusif. FFI banyak menggandeng festival film lokal dan institusi pendidikan lintas jurusan yang belum terlibat dengan kegiatan FFI agar bisa ikut serta. Nggak cuma itu, FFI juga berkolaborasi dengan masyarakat adat membuat film pendek tentang budaya setempat.

image
image

Ringgo Agus Rahman
& Sheila Dara

Wajah FFI 2025 yang Fresh dan Penuh Warna!

Tiap tahun, Festival Film Indonesia (FFI) selalu punya wajah baru yang jadi simbol semangat perfilman Tanah Air. Nah, tahun ini giliran dua nama yang udah nggak asing lagi di dunia hiburan: Ringgo Agus Rahman dan Sheila Dara Aisha. Duo beda generasi ini resmi terpilih jadi Duta FFI 2025, dan kehadiran mereka langsung bikin ajang ini terasa lebih hidup dan berwarna!

Menurut Prilly Latuconsina, Ketua Bidang Program FFI 2025, pemilihan Ringgo dan Sheila bukan tanpa alasan. Keduanya dianggap paling pas mewakili tema besar tahun ini, Puspawarna Sinema Indonesia. Ringgo dikenal sebagai aktor dengan karier panjang dan fleksibilitas luar biasa, mulai dari komedi, drama keluarga, sampai romansa. Coba aja lihat film-filmnya seperti GET MARRIED (2007), KELUARGA CEMARA (2019), dan JATUH CINTA SEPERTI DI FILM-FILM (2023), semuanya menunjukkan sisi Ringgo yang selalu autentik dan relate banget buat penonton.

Sementara itu, Sheila Dara Aisha jadi sosok yang melambangkan semangat baru perfilman Indonesia. Meski usianya masih muda, prestasinya udah nggak main-main. Sheila sukses memikat hati penonton lewat perannya di NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI (2019), JATUH CINTA SEPERTI DI FILM-FILM (2023), hingga film terbarunya yang banyak dibahas para moviegoers, SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN (2025). Plus, jangan lupa, tahun lalu Sheila juga berhasil meraih Piala Citra FFI 2024 sebagai Aktris Pendukung Terbaik!

Sheila Dara, aktris yang belakangan mencuri perhatian lewat Ngeri-Ngeri Sedap dan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, turut dikenal karena perannya dalam Film Sore: Istri Dari Masa Depan, film yang menampilkan sisi emosional dan mendalam dirinya sebagai aktris. Dalam kunjungan di Palangka Raya, Sheila berbagi pandangan bahwa sinema Indonesia akan semakin kaya jika cerita-cerita dari daerah diberi ruang.

Menurutnya, Kalimantan memiliki potensi besar dengan budaya dan alam yang unik. Jika diolah dengan serius, karya sineas lokal bisa menjadi tontonan menarik yang tidak kalah dari film-film besar di ibu kota. Ia melihat banyak talenta muda yang butuh kesempatan untuk berkembang. Dukungan festival seperti FFI diharapkan dapat membuka jalan bagi karya-karya baru dari berbagai daerah.

"Kita harus percaya diri dengan identitas budaya. Melihat budaya Kalimantan, saya langsung tertarik untuk main film di sini. Tinggal menunggu ada film maker yang mengajak," ujar Sheila.

Istri dari penyanyi dan penulis lagu Vidi Aldiano itu juga menaruh harapan pada keberanian sineas untuk mengeksplorasi genre dan tema yang belum banyak digarap. Baginya, keragaman itu justru membuat film Indonesia semakin kaya dan mampu menarik perhatian penonton internasional.

Festival Film Indonesia Menjangkau Sineas di Penjuru Tanah air

Penyelenggaraan Festival Film Indonesia tidak hanya terfokus pada Malam Penganugerahannya saja. Panitia bersama dengan Duta FFI menjangkau penjuru tanah air untuk terus memberikan informasi serta gambaran tentang perfilman Indonesia saat ini. Semua itu untuk membuat kepercayaan masyarakat terhadap film Indonesia makin meningkat.

Tahun ini, FFI mengadakan program roadshow ke tiga daerah di Indonesia, yakni Aceh, Bali, dan Kalimantan Tengah. Sheila Dara dan Ringgo Agus berkunjung ke Serambi Mekah, Aceh Film Festival pada September 2025. Selanjutnya, mereka ditemani Ketua Program FFI 2025 Prilly Latuconsina menjalani roadshow ke Minikino Film Week di Denpasar, Bali. Ditutup dengan Sheila dan Prilly roadshow ke Kalimantan Indigenous Film Festival, Palangkaraya.

Lewat roadshow ini mereka melihat potensi yang kuat tentang cerita-cerita dari penjuru Indonesia yang mengunggulkan aspek budaya yang kuat. "Saya ingin ada film dengan aspek budaya yang kuat tetapi tetap jujur dengan keresahan masyarakat. Saya berharap perfilman Indonesia berani mengeksplorasi genre yang jarang dilihat, sehingga semakin banyak orang berani mengeluarkan kreativitasnya dan menambah warna baru," ungkap Sheila.

Mendukung pernyataan Sheila, Prilly menekankan pentingnya film sebagai medium memperkenalkan budaya sebagai representasi identitas bangsa. "Film bukan cuma ditonton, tapi juga bikin bangga dengan identitas budaya. Indonesia punya beragam suku, budaya, dan cerita rakyat. Jika ditampilkan di film, itu bisa jadi daya tarik di internasional," katanya.

Kelokalan Sebagai Sebuah Kekuatan dalam Film-FIlm FFI

Selaras dengan tema Puspawarna Sinema Indonesia, film-film yang masuk nominasi mengemas kearifan lokal sebagai elemen penting dalam cerita. GOWOK garapan Hanung Bramantyo mengangkat tentang profesi Gowok yang bertugas mendidik dan mempersiapkan calon pengantin laki-laki memasuki dunia pernikahan. Tradisi Gowok yang diangkat dalam film adalah akulturasi budaya Jawa dan China. Ada juga PANGKU yang menjadikan praktik kopi pangku di daerah pesisir pantai utara Jawa sebagai latar penting dalam cerita.

Dari ranah animasi ada KWARTET: GUPALA THE GUARDIAN OF SENJOKOLO (film pendek) dan PANJI TENGKORAK (film panjang) yang apik menyertakan detail kelokalan dalam elemen cerita dan visualnya. Sementara SANONG INGIN KE PESTA lebih jauh lagi menggambungkan konsep musikal serta hikayat sastra yang kental adat Kalimantan Barat.

SANONG INGIN KE PESTA

Kekayaan cerita dalam kearifan lokal ini sangat bisa tersampaikan lewat medium film dokumenter. Terlihat dari film-film yang menjadi nomine sebagian besar menyorot seputar sosok dan fenomena sosial yang ada di masyarakat.

Dalam SADIANG HARUS PULANG ada kisah pengumpul air di Sungai Mandar, Tinambung, Sulawesi Barat. Dalam kesehariannya Sa’diang menyisir Sungai Mandar untuk menemukan sumber air dan mengumpulkannya dalam jerigen. Dari pulau lain di Indonesia ada sosok Veronika Nona dalam film SEI, satu-satunya orang yang masih tinggal di utara Gunung Gai, Nusa Tenggara Timur. Ia merawat dan menjaga tanaman-tanaman di sana dari ancaman pencuri. Masih dari Nusa Tenggara, SWARADWIPA yang menyorot jagat Sumba.

Beralih ke tema yang lebih tajam dan kritis, ada TAMBANG EMAS RA RITEK tentang penolakan tambang emas di Trenggalek. Merekam cerita kehidupan dari hulu hingga hilir tentang gerakan yang dilakukan oleh kelompok agama, perempuan, pemuda, petani, dan nelayan.

Kekayaan cerita lokal juga bisa dinikmati dari kisah dinamika keseharian keluarga TKI dalam GOODBYE TARLING, FORGIVE ME DARLING, sosok local hero Yogyakarta dalam JAGAD'E RAMINTEN: KABARET KEHIDUPAN sampai KIDUNG TANI yang merefleksikan nilai-nilai kearifan lokal dalam praktik pertanian berkelanjutan.

2025, Tahun Keemasan Animasi Indonesia

Tahun 2025 bisa dibilang jadi momen kebangkitan besar buat film animasi Tanah Air. Soalnya, lewat film JUMBO, para sineas lokal berhasil menunjukkan kalau animasi buatan Indonesia udah selevel sama karya internasional. JUMBO jadi simbol kebangkitan animasi Indonesia yang penuh warna, sarat pesan bermakna, dan pastinya memikat hati penonton dari anak-anak hingga dewasa.

Diproduksi oleh Visinema Studios dan disutradarai oleh Ryan Adriandhy, JUMBO sukses bikin gebrakan. Bayangin aja, proyek ini digarap selama 5 tahun oleh lebih dari 420 kreator, dan hasilnya bener-bener luar biasa. Sejak tayang perdana 31 Maret 2025, film ini langsung mencatat rekor 1 juta penonton dalam 7 hari pertama penayangan!

Jejak JUMBO nggak berhenti sampai di situ saja. Film ini bertahan hingga 70 hari penayangan dan mengunci rekornya di angka 10.073.332 penonton. Angka ini sekaligus mengesahkan JUMBO sebagai film terlaris di Indonesia, menggeser KKN DI DESA PENARI (2022) yang sebelumnya berada di peringkat teratas dengan 10.061.033 penonton. Gokil banget kan!

JUMBO Resmi Jadi Film Indonesia Paling Laris!

JUMBO (2025)

10.073.332

KKN DI DESA PENARI (2022)

10.061.033

AGAK LAEN (2024)

9.125.188

WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 (2016)

6.858.616

PENGABDI SETAN 2: COMMUNION (2022)

6.390.970

DILAN 1990 (2018)

10.061.033

Miracle in Cell No. 7 (2022)

9.125.188

Vina: Sebelum 7 Hari (2024)

6.858.616

Dilan 1991 (2019)

6.390.970

Sewu Dino (2023)

6.390.970

Source: Cinepoint, data per 2 Juni 2025

Tahun ini, prestasi JUMBO makin lengkap setelah masuk 7 nominasi bergengsi di Festival Film Indonesia 2025. Hal ini sekaligus jadi bukti kalau film animasi Indonesia bisa bersinar seterang-terangnya karena karya sineas lokal juga nggak kalah keren!

Sejarah Akan Terukir di FFI 2025?

Dalam Malam Penganugerahan Piala Citra, 20 November akan ada nama-nama yang dibacakan di atas panggung sebagai pemenang. Siapapun yang menang nantinya, akan ada kemungkinan bahwa sejarah tercipta dalam FFI 2025 ini.

  1. Debut Manis Para Penulis Skenario

    Dalam kategori Penulis Skenario Asli Terbaik ada nama-nama yang baru saja melakukan debut dalam perfilman. Ada Z. Z. Mulja Galih (GOWOK), Kristo Immanuel & Jessica Tjiu (TINGGAL MENINGGAL), Reza Rahadian & Felix K. Nesi (PANGKU) dan Ryan Adriandhy & Widya Arifianti (JUMBO)

  2. Potensi Kemenangan Beruntun

    Yandi Laurens mendapat Piala Citra atas Penulisan Skenario dan juga Film Terbaik lewat JATUH CINTA SEPERTI DI FILM-FILM pada 2024. Jika kemudian ia meraih kategori yang sama lewat SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN maka ia mendapatkan Piala Citra di kategori yang sama secara beruntun.

  3. Film Animasi Sebagai Film Terbaik?

    JUMBO memang sudah menikmati raihan fantastis lewat penjualan tiketnya. Akan tetapi apabila film ini ternyata diapresiasi oleh juri FFI sebagai FIlm Terbaik, tentu ini akan menjadi sejarah tersendiri dalam perfilman Indonesia.

  4. Debut Reza Rahadian Akan Berbuah Manis?

    PANGKU sudah menyabet banyak penghargaan di BUsan International Film Festival. Jika nanti tren tersebut berlanjut di FFI, maka ini akan menjadi debut manis Reza Rahadian sebagai sutradara di FFI.

DAFTAR LENGKAP NOMINASI FESTIVAL FILM INDONESIA 2025

Penulis Skenario Asli Terbaik

  • Hanung Bramantyo & Z. Z. Mulja Galih - GOWOK
  • Joko Anwar - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Kristo Immanuel & Jessica Tjiu - TINGGAL MENINGGAL
  • Reza Rahadian & Felix K. Nesi - PANGKU
  • Ryan Adriandhy & Widya Arifianti - JUMBO
  • Timo Tjahjanto - THE SHADOW STRAYS
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit foto: Tripar Multivision Plus

Penulis Skenario Adaptasi Terbaik

  • Asaf Antariksa, Gea Rexy & Charles Gozali - QODRAT 2
  • Mouly Surya - PERANG KOTA
  • Wodya Arifianti & Sabrina Rochelle Kalangie - HOME SWEET LOAN
  • Yandy Laurens - 1 KAKAK 7 PONAKAN
  • Yandy Laurens - SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit foto: Tripar Multivision Plus

Penata Busana Terbaik

  • Hagai Pakan - PANGGIL AKU AYAH
  • Hagai Pakan - GOWOK
  • Meutia Pudjowarsito - PERANG KOTA
  • Retno Ratih Damayanti - SIAPA DIA
  • Victoria Esti Wahyuni - THE SHADOW STRAYS
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit foto: Frontier Film, XYZ Films

Penata Rias Terbaik

  • Aktris Handradjasa - SIAPA DIA
  • Eba Sheba - PERANG KOTA
  • Ernaka - THE SHADOW STRAYS
  • Faradila Evariani - GOWOK
  • Novie Ariyanti - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Foto: Fabis Entertainment

Film Animasi Pendek Terbaik

  • GET MONEY
  • KWARTET: GUPALA SANG JAGAWANA
  • SANONG INGIN KE PESTA
  • SO I PRAY
  • WAE
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Dipadira Studios

Film Animasi Panjang Terbaik

  • JUMBO
  • PANJI TENGKORAK
  • WARKOP DKI KARTUN
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Visinema Pictures

Pemeran Pendukung Pria Terbaik

  • Boris Bokir - PANGGIL AKU AYAH
  • Jerome Kurnia - PERANG KOTA
  • Omara Esteghlal - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Reza Rahadian - GOWOK
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Tripar Multivision Plus

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik

  • Artika Sari Devi - DIA BUKAN IBU
  • Christine Hakim - PANGKU
  • Hana Malasan - THE SHADOW STRAYS
  • Raihaanun - GOWOK
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Gambar Gerak Film

Film Dokumenter Pendek Terbaik

  • PENDEKAR DASTER ROMBENG & PENDONGENG SAKTI
  • SA'DIANG HARUS PULANG
  • SATU LANGKAH LAGI
  • SIE
  • THE OTHER DAUGHTER
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: DocLab

Film Dokumenter Panjang Terbaik

  • GOODBYE TARLING, FORGIVE ME DARLING
  • JAGAD'E RAMINTEN: KABARET KEHIDUPAN
  • KIDUNG TANI
  • SWARADWIPA: DI ANTARA BUNYI DAN SUNYI DI JAGAT SUMBA
  • TAMBANG EMAS RA RITEK
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Kalyana Shira Foundation

Karya Kritik Film Terbaik

  • 20 Tahun Tentang Dia: Membingkai Keintiman Sapphic di Indonesia 2000-an — Catra Wardhana
  • Ilusi Kebebasan Perempuan dalam Gowok — Aurelia Gracia Novena
  • Rambut dalam Nana: Tempat Trauma dan Rahasia yang Digelung Bersama — Catra Wardhana
  • Smong Aceh: Duka yang Tak Selesai dan Segala Ketangguhan Itu — Raisa Kamila
  • Tendangan, Pengkhianatan, dan Mimpi di Tengah Mafia: Alegori Elang (2025) dalam Psiko-Politik Sepak Bola Nusantara — Purwoko Ajie
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Cinemapoetica

Penyunting Gambar Terbaik

  • Akhmad Fesdi Anggoro - PANGKU
  • Aline Jusria - HOME SWEET LOAN
  • Dinda Amanda - THE SHADOW STRAYS
  • Haris F Syah & Wawan I Wibowo - GOWOK
  • Hendra Adhi Susanto - SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
  • Joko Anwar, Erwin Prasetya Kurniawan, & Teguh Raharjo - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Visinema Pictures

Penata Efek Visual Terbaik

  • Abby Eldipie, Kalvin Irawan, Qanary Studio, LMN Studio, GajaFX & No3G Visual Effects - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Bintang Adi Pradana - DIA BUKAN IBU
  • Gaga Nugraha Ramadhan - QODRAT 2
  • Mattebox Visualworks (Riza Thohariansyah & Rifandy Rasyid) - THE SHADOW STRAYS
  • Muhammad Nur Huda - PERANG KOTA
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit foto : Rapi Films

Pengarah Artistik Terbaik

  • Ahmad Zulkarnaen - PANGGIL AKU AYAH
  • Antonius Boedy - THE SHADOW STRAYS
  • Dennis Sutanto - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Dita Gambiro - 1 KAKAK 7 PONAKAN
  • Eros Eflin - PANGKU
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit Foto: Visinema Pictures

Pengarah Sinematografi Terbaik

  • Batara Goempar, I.C.S. - THE SHADOW STRAYS
  • Dimas Bagus Triatma - SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
  • Ical Tanjung, I.C.S. - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Muhammad Firdaus - SIAPA DIA
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit Foto: Fabis Entertainment

Film Cerita Pendek Terbaik

  • ANAK MACAN
  • DENGARLAH NYANYIAN PING PONG
  • LITTLE REBELS CINEMA CLUB
  • PELABUHAN BERKABUT
  • SAMMI, WHO CAN DETACH HIS BODY PARTS
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit Foto: Studio Antelope

Penata Suara Terbaik

  • Anhar Moha - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Arief Budi Santoso - THE SHADOW STRAYS
  • Ridho Fachri & Indrasetno Vyatrantra - HOME SWEET LOAN
  • Satrio Budiono & Ichsan Rachmaditta - RANGGA & CINTA
  • Syaifullah Praditya - TINGGAL MENINGGAL
  • Wahyu Tri Purnomo - PANGGIL AKU AYAH
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit Foto: Miles Films

Penata Musik Terbaik

  • Aghi Narotama - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Fajar Yuskemal - THE SHADOW STRAYS
  • Ofel Obaja - JUMBO
  • Ricky Lionardi - PANGKU
  • Zeke Khaseli & Yudhi Arfani - PERANG KOTA
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit Foto: Cinesurya

Pencipta Lagu Tema Terbaik

  • Anindyo Baskoro, Arya Aditya Ramadhya, & Ilman Ibrahim Isa (Laleilmanino) - Selalu Ada Di Nadimu (JUMBO)
  • Brigita Meliala - Berakhir di Aku (HOME SWEET LOAN)
  • Gerald Situmorang, Iga Massardi, & Asteriska - Terbuang Dalam Waktu (SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN)
  • Ifa Fachir & Simhala Avadana - Dengar Hatimu (JUMBO)
  • Melly Goeslaw - Tegar (PANGGIL AKU AYAH)
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Visinema

Pemeran Utama Perempuan Terbaik

  • Acha Septriasa - QODRAT 2
  • Aurora Ribero - THE SHADOW STRAYS
  • Claresta Taufan - PANGKU
  • Lola Amaria - GOWOK
  • Sheila Dara Aisha - SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Gambar Gerak Film

Pemeran Utama Pria Terbaik

  • Arswendy Bening Swara - TALE OF THE LAND
  • Dion Wiyoko - SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
  • Morgan Oey - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Nicholas Saputra - SIAPA DIA
  • Ringgo Agus Rahman - PANGGIL AKU AYAH
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine” Kredit: Visinema

Sutradara Terbaik

  • Joko Anwar - PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • Mouly Surya - PERANG KOTA
  • Ryan Adriandhy - JUMBO
  • Timo Tjahjanto - THE SHADOW STRAYS
  • Yandy Laurens - SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine”

FILM CERITA PANJANG TERBAIK

  • JUMBO
  • PANGKU
  • PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
  • PERANG KOTA
  • SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
“Foto adegan yang dipakai hanya sebatas ilustrasi saja, bukan preferensi penulis kepada salah satu nomine”

Mengapresiasi warna baru perfilman

Penulis: Wuri Anggarini Cinthya Septavy

Diterbitkan:

image

“Kala nanti badai 'kan datang. Angin akan buat kau goyah. Maafkan, hidup memang. Ingin kau lebih kuat”

Bait lagu “Selalu Ada di Nadimu” yang menjadi OST JUMBO ini memenuhi ruang-ruang bioskop, media sosial, bahkan dalam momen graduation sekolah. Membawa ingatan kita ke 2008, kita LASKAR PELANGI menjadi magnet penonton. JUMBO adalah angin segar perfilman Indonesia di 2025 ini. Tidak ada yang menyangka bahwa film animasi akan menjadi film terlaris sepanjang masa karena telah dinikmati 10.233.002 penonton selama pemutarannya.

Editor: Mahardi Eka