Kapanlagi.com - Kata "baka" merupakan salah satu kosakata bahasa Jepang yang paling dikenal di Indonesia, terutama di kalangan penggemar anime dan budaya Jepang. Apa arti baka sebenarnya menjadi pertanyaan yang sering muncul karena kata ini memiliki makna yang cukup kompleks tergantung konteks penggunaannya.
Secara umum, baka dalam bahasa Jepang berarti "bodoh", "tolol", atau "idiot" dalam bahasa Indonesia. Namun makna kata ini bisa sangat bervariasi mulai dari sekadar candaan hingga umpatan yang cukup kasar.
Menurut Kamus Jepang-Indonesia; Indonesia-Jepang (Edisi Revisi) yang ditulis oleh Enik Darwati, baka memiliki arti "bodoh", "orang yang bodoh", atau "idiot". Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kurang memiliki kecerdasan atau melakukan tindakan yang tidak masuk akal.
Kata baka (馬鹿, ã°ã, atau ãã«) merupakan istilah merendahkan yang paling sering digunakan dalam bahasa Jepang. Arti dan makna kata baka dapat menjadi sangat luas tergantung konteks dan intonasi suara yang digunakan. Secara etimologi, kata ini memiliki sejarah panjang dengan asal-usul yang tidak pasti, kemungkinan berasal dari bahasa Sanskerta atau Tiongkok Klasik.
Dalam penggunaan sehari-hari, apa arti baka bisa merujuk pada berbagai makna seperti "sialan", "bodoh", "tolol", "konyol", "tidak penting", "tidak berguna", hingga "tidak masuk akal". Kata baka tidak selalu berbentuk umpatan dan diucapkan secara tunggal, tetapi juga dapat berupa kata sifat atau keterangan dalam sebuah kalimat.
Berdasarkan analisis semantik dari berbagai kamus dan tesaurus Jepang, kata baka memiliki delapan makna yang saling berkaitan. Tiga makna dasar membedakan baka sebagai "bodoh; tolol", "idiot; dungu", dan "bebal; lamban; bodoh". Makna-makna ini ditemukan dalam banyak ekspresi bahasa Jepang yang sering digunakan seperti bakamono (馬鹿è ) yang berarti "orang bodoh", Åbaka (大馬鹿) yang berarti "sangat bodoh", dan baka-yarÅ (馬鹿éé) yang berarti "bodoh sekali".
Penggunaan tertulis pertama dari kata baka adalah selama periode Nanboku-chÅ (1336â1392), ketika "Pengadilan Utara dan Selatan" bertempur. Dalam contoh paling awal, epik sejarah Taiheiki mencatat bakamono (馬鹿è ) digunakan sebagai umpatan pada tahun 1342. Komandan Ashikaga Toki YoritÅ menolak untuk memberi hormat kepada Kaisar KÅgon yang telah pensiun, dan dalam keadaan mabuk, dia dengan keras menanyakan jenis orang bodoh (bakamono) mana yang berani memerintahkannya untuk turun dari kuda.
Menurut catatan sejarah, edisi asli Taiheiki abad keempat belas menuliskan baka dengan katakana ãã«, sementara edisi cetak bergerak kemudian (sekitar tahun 1600) menggunakan karakter kanji 馬鹿. Kamus SetsuyÅshÅ« dari era Bunmei (1469â1487) mencatat bahwa baka (馬鹿) juga ditulis sebagai æ¯å« (ibu pengantin), é¦¬å« (kuda pengantin), atau ç ´å®¶ (merusak keluarga), yang berarti rÅzeki (ç¼è) atau "kekacauan; kebingungan".
Meskipun asal-usul baka tidak pasti, para sarjana Jepang telah mengusulkan berbagai etimologi dan etimologi rakyat. Dua teori yang paling banyak dikutip adalah idiom Tiongkok Klasik dan kata pinjaman dari bahasa Sanskerta. Hipotesis tertua menunjukkan bahwa baka berasal sebagai "alusi sastra Tiongkok kepada orang bodoh historis", yaitu pengkhianat dinasti Qin, Zhao Gao yang meninggal pada 207 SM dari Records of the Grand Historian.
Etimologi ini pertama kali muncul dalam kamus Unbo IrohashÅ« (éæ©è²èé) sekitar tahun 1548, yang menjelaskan baka (馬鹿) sebagai "menunjuk rusa dan berkata kuda" (æé¹¿æ°é¦¬). Idiom Tiongkok zhÇlù-wéimÇ (æé¹¿çºé¦¬) secara harfiah berarti "menunjuk rusa dan menyebutnya kuda", dalam bahasa Jepang disebut Shika o Sashite Uma to Nasu (鹿ãæãã¦é¦¬ã¨ãªã), yang bermakna "salah representasi yang disengaja untuk tujuan tersembunyi".
Sistem penulisan bahasa Jepang modern mentranskripsikan umpatan baka sebagai ãã« dalam katakana, ã°ã dalam hiragana, atau 馬鹿 (secara harfiah "kuda rusa") dalam transkripsi kanji fonetik ateji. Rendering ateji sebelumnya termasuk è«è¿¦, æ¯å«, 馬å«, atau ç ´å®¶. Penulisan kata baka dengan hiragana dan katakana tidak memiliki aturan jelas yang mengikat, namun ada kecenderungan penulisan baka sebagai umpatan ditulis dengan katakana, terutama di kalangan anak muda.
Karakter kanji yang sama 馬鹿 "kuda rusa" yang mentranskripsikan baka juga digunakan untuk nama dalam nomenklatur zoologi Tiongkok dan mitologi Jepang. Dalam bahasa Tiongkok, mÇlù (馬鹿) merujuk pada rusa merah (Cervus elaphus), dalam bahasa Jepang disebut akashika (赤鹿). Mumashika adalah pembacaan alternatif langka dari 馬鹿 yang menamai yÅkai iblis dengan kepala kuda dan tubuh rusa.
Melansir dari Wikipedia, kata baka memiliki sejarah yang panjang dan etimologi yang tidak pasti, kemungkinan berasal dari bahasa Sanskerta atau Tiongkok Klasik, serta memiliki berbagai kompleksitas linguistik yang membuatnya menjadi salah satu kata yang paling menarik untuk dipelajari dalam bahasa Jepang.
Pragmatik linguistik dalam menggunakan umpatan seperti baka dapat bersifat spesifik bahasa. Misalnya, bahasa Jepang memiliki lebih sedikit kata untuk menyebut seseorang "bodoh" dibandingkan bahasa Inggris. Seorang ahli bahasa pernah meminta guru bahasanya untuk menyiapkan daftar umpatan, pejoratif, dan kutukan yang paling menakjubkan dan kuat dalam bahasa Jepang, tetapi terkejut bahwa daftar yang "pendek, tidak imajinatif, dan tampaknya tidak efektual" hanya memiliki dua kata: baka "bodoh" dan chikushÅ (çç) "binatang".
Ketidakjelasan yang disengaja menjelaskan bidang leksikal umpatan Jepang yang relatif kecil. Baik dalam bahasa Inggris maupun Jepang, kata-kata untuk "bodoh" memiliki makna yang bervariasi sepanjang skala ramah-bermusuhan, atau bercanda-serius. Dalam bahasa Inggris, di satu ujung skala ada kata-kata seperti "silly goose" dan di ujung lain ada kata-kata seperti "stupid asshole". Dan dalam bahasa Jepang, di satu ujung ada kata-kata seperti kamaboko baka (è²é¾é¦¬é¹¿) "orang bodoh yang lucu" dan di ujung lain ada kata-kata seperti baka-yarÅ (馬鹿éé) "orang bodoh terkutuk".
Menurut dialek Jepang, terdapat variasi regional antara menggunakan baka dalam dialek KantÅ dan aho (é¿å) atau ãã» "bodoh; idiot; keledai" dalam dialek Kansai. Selain itu, umpatan aho memiliki konotasi slang yang lebih kuat daripada baka. Banyak kamus Jepang memperlakukan kata baka dan aho sebagai sinonim. Namun, di Osaka dan sekitarnya, aho adalah istilah yang agak kasar, sementara di Tokyo dan sekitarnya, baka dianggap lebih kasar.
Kata baka memiliki berbagai bentuk turunan dan variasi yang digunakan dalam bahasa Jepang sehari-hari. Beberapa bentuk yang lebih menghina adalah bakamono (馬鹿è ) "bodoh, tolol, idiot", Åbaka (大馬鹿) "bodoh besar, idiot terkutuk", dan baka-yarÅ (馬鹿éé) "bajingan bodoh, pantat, pantat bodoh, bodoh". Beberapa kata majemuk adalah baka yoke (馬鹿ã¨ã±) "tahan bodoh; tahan idiot", baka warai (馬鹿ç¬ã) "tawa bodoh/kuda" dan baka zura (馬鹿é¢) "wajah bodoh; tampilan bodoh".
Frasa kata kerja yang menggunakan baka antara lain baka ni suru (馬鹿ã«ãã) "membuat seseorang terlihat bodoh; memperlakukan dengan penghinaan", baka yobawarisuru (馬鹿ãã°ãããã) "memanggil (seseorang) bodoh", dan baka o miru (馬鹿ãè¦ã) "membuat diri sendiri terlihat bodoh/pantat". Dua makna yang diperluas dari baka adalah "tidak berharga" dan "berlebihan" yang mengembangkan konsep "kebodohan; kekonyolan".
Baka dalam arti "tidak berharga; bodoh; tidak bernilai; sepele; tidak signifikan" digunakan dalam ekspresi seperti bakageta (馬鹿ãã) "bodoh; absurd; konyol"; bakana (馬鹿ãª) "bodoh; konyol; bodoh"; dan bakarashii (馬鹿ããã), bakabakarashii (馬鹿ã ã ããã), atau bakakusai (馬鹿èã), yang semuanya berarti "bodoh; absurd; konyol". Kata ini juga digunakan dalam frasa seperti baka ie (馬鹿è¨ã) "Omong kosong!; Ayo!", dan bakana mane o suru (馬鹿ãªçä¼¼ããã) "melakukan hal bodoh; bertindak bodoh".
Baka dalam arti "berlebihan; bodoh; absurd; ekstrem; boros" ditemukan dalam sejumlah ekspresi: bakani (馬鹿ã«) atau bakabakashiku (馬鹿ã ã ãã) "sangat; mengerikan; sangat"; bakayasui (馬鹿å®ã) "konyol/murah sekali"; bakane (馬鹿å¤) atau bakadakai (馬鹿é«ã) "konyol mahal"; bakateinei (馬鹿ä¸å¯§) "kesopanan berlebihan"; dan bakashÅjiki (馬鹿æ£ç´) "jujur sampai salah".
Dalam budaya populer, terutama anime dan manga, kata baka sering muncul dan menjadi salah satu kata bahasa Jepang yang paling dikenal di luar Jepang. Penggunaan baka dalam anime biasanya menggambarkan karakter yang sedang kesal, malu, atau bercanda dengan karakter lain. Konteks penggunaan dalam anime sering kali lebih ringan dibandingkan penggunaan dalam kehidupan nyata.
Kata baka juga populer di media sosial, terutama dalam meme dan konten viral. Frasa "sussy baka" yang populer di TikTok menggabungkan kata "sus" (suspicious) dari game Among Us dengan "baka", menciptakan istilah yang digunakan secara humoris. Popularitas ini menunjukkan bagaimana kata-kata dari bahasa Jepang dapat diadaptasi dan digunakan dalam konteks budaya global.
Dalam dunia gaming, khususnya game-game yang berasal dari Jepang, kata baka sering muncul dalam dialog karakter atau sebagai bagian dari sistem komunikasi antar pemain. Penggunaan ini membantu menyebarkan pemahaman tentang kata tersebut di kalangan gamer internasional.
Tidak selalu. Meskipun secara harfiah berarti "bodoh", kata baka dapat digunakan dalam konteks bersahabat sebagai candaan atau bahkan sebagai bentuk kemesraan dalam hubungan dekat. Konteks dan intonasi sangat menentukan apakah kata ini bermakna negatif atau tidak.
Sebaiknya tidak. Kata baka termasuk dalam kategori bahasa informal dan dapat dianggap kasar dalam situasi formal. Hindari menggunakan kata ini dalam konteks bisnis, pendidikan formal, atau saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau memiliki status sosial lebih tinggi.
Keduanya memiliki arti yang mirip yaitu "bodoh", tetapi penggunaannya berbeda berdasarkan wilayah. Baka lebih umum digunakan di wilayah KantÅ (termasuk Tokyo), sementara aho lebih sering digunakan di wilayah Kansai (termasuk Osaka). Di Kansai, baka dianggap lebih kasar daripada aho.
Baka dapat ditulis dalam tiga cara: dengan kanji (馬鹿), hiragana (ã°ã), atau katakana (ãã«). Penulisan dengan katakana sering digunakan untuk memberikan penekanan atau dalam konteks yang lebih kasual, terutama di kalangan anak muda.
Ya, ada beberapa kata lain seperti aho (é¿å), oroka (æã), dan manuke (éæã) yang memiliki arti serupa dengan baka. Namun, masing-masing memiliki nuansa dan tingkat kekasaran yang berbeda tergantung konteks penggunaannya.
Kata baka populer karena sering muncul dalam anime dan mudah diingat. Selain itu, kata ini memiliki berbagai nuansa makna yang membuatnya menarik untuk dipelajari. Banyak karakter anime menggunakan kata ini dalam berbagai situasi, dari yang lucu hingga dramatis.
Tergantung konteks dan hubungan dengan orang tersebut. Jika digunakan kepada orang yang tidak dikenal atau dalam situasi formal, kata baka dapat menyinggung perasaan. Namun, dalam hubungan pertemanan yang dekat, kata ini mungkin diterima sebagai candaan. Sebaiknya berhati-hati dalam penggunaannya.