Kapanlagi.com - Barcode atau kode batang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern kita. Setiap kali berbelanja di supermarket atau menerima paket, kita pasti melihat garis-garis hitam putih yang tersusun rapi ini.
Namun, apa arti barcode sebenarnya dan bagaimana sistem ini bekerja? Barcode adalah teknologi identifikasi yang revolusioner dalam dunia bisnis dan logistik.
Menurut KUMPULAN AKTIVITAS DAN SOAL NULIS (NUMERASI & LITERASI) PASCA PANDEMIK COVID-19 yang ditulis oleh Prof. Dr. Zulkardi, M.I.Komp., M.Sc dkk, barcode didefinisikan sebagai "suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin". Definisi sederhana ini menggambarkan esensi dari teknologi yang telah mengubah cara kita mengelola dan mengidentifikasi produk di seluruh dunia.
Untuk memahami apa arti barcode secara komprehensif, kita perlu melihat dari berbagai perspektif. Barcode adalah sistem identifikasi unik yang terdiri dari garis-garis horizontal dan spasi yang memiliki panjang dan jarak berbeda-beda. Sistem ini dirancang khusus untuk dapat dibaca oleh mesin scanner atau kamera, memungkinkan identifikasi data dengan tepat dan cepat.
Secara teknis, barcode mengumpulkan data dalam lebar garis dan spasi garis sejajar, yang disebut sebagai kode batang atau simbologi linear atau 1D (1 dimensi). Namun teknologi ini juga berkembang menjadi bentuk persegi, titik, heksagon dan bentuk geometri lainnya dalam gambar yang disebut kode matriks atau simbologi 2D (2 dimensi).
Barcode bekerja dengan memanfaatkan pemindai yang menggunakan sinar laser atau kamera untuk membaca pola garis atau blok pada barcode. Informasi dari pola tersebut diterjemahkan oleh perangkat lunak menjadi data numerik atau alfanumerik yang dapat digunakan oleh sistem komputer. Sistem ini memungkinkan pengambilan data secara cepat dan akurat, yang sangat berguna untuk inventarisasi, transaksi penjualan, dan pelacakan produk.
Penggunaan awal barcode adalah untuk mengotomatiskan sistem pemeriksaan di swalayan, tugas di mana mereka semua menjadi universal saat ini. Penggunaannya telah menyebar ke berbagai kegunaan lain juga, tugas yang secara umum disebut sebagai Auto ID Data Capture (AIDC). Kesederhanaan, universalitas dan harga rendah barcode telah membuatnya tetap relevan hingga saat ini, dengan biaya pembuatan hanya sekitar US$0.005 per kode barang.
Sejarah barcode dimulai pada tahun 1932 ketika Wallace Flint membuat sistem pemeriksaan barang di perusahaan retail. Namun perkembangan signifikan terjadi pada tahun 1948, ketika pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Institute of Technology di Philadelphia untuk membuat sistem pembacaan informasi produk selama checkout secara otomatis.
Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland, lulusan Drexel, bergabung untuk mencari solusi atas permintaan tersebut. Woodland awalnya mengusulkan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet, namun purwarupa ini ditolak karena tidak stabil dan mahal. Setelah penelitian lebih lanjut, pada tanggal 20 Oktober 1949 Woodland dan Silver berhasil membuat purwarupa yang lebih baik.
Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1952, mereka mendapat hak paten dari hasil penelitian mereka. Penemuan mereka menggunakan cahaya ultraviolet untuk mengukur jarak antara garis-garis dan spasi pada barcode, sehingga dapat dibaca oleh mesin scanner. Penemuan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam pelayanan di toko-toko kelontong.
Pemakaian komersial pertama barcode terjadi pada tahun 1970 ketika Logicon Inc. membuat Universal Grocery Products Identification Standard (UGPIC). Perusahaan pertama yang memproduksi perlengkapan barcode untuk perdagangan retail adalah Monach Marking, sementara pemakaian di dunia industri pertama kali dilakukan oleh Plessey Telecommunications. Pada tahun 1973, UPC-A (Universal Product Code) menjadi standar barcode pertama yang digunakan di Amerika Serikat.
Memahami apa arti barcode juga berarti mengenal berbagai jenisnya yang digunakan untuk keperluan berbeda. Terdapat 6 kategori barcode berdasarkan kegunaannya yang perlu dipahami.
Selain kategori di atas, barcode juga dapat dibedakan berdasarkan dimensinya. Linear barcode atau barcode 1D terdiri dari garis-garis vertikal dan spasi dengan lebar bervariasi, sedangkan barcode 2D memanfaatkan dua dimensi yaitu horizontal dan vertikal untuk menyimpan data dalam jumlah lebih banyak dalam ruang yang lebih kecil.
Untuk benar-benar memahami apa arti barcode, penting untuk mengetahui fungsi dan manfaatnya dalam berbagai sektor industri. Barcode memiliki peran vital dalam meningkatkan efisiensi operasional di berbagai bidang.
Dalam industri retail, barcode mempermudah pelacakan produk mulai dari penerimaan barang, penyimpanan, hingga pengiriman. Sistem ini membantu retailer mengelola inventory barang sehingga setiap pergerakan barang dapat terlacak dengan akurat. Barcode juga memungkinkan penerapan sistem FIFO (First In, First Out) untuk produk yang memiliki tanggal kedaluwarsa.
Di sektor manufaktur, barcode berfungsi untuk memantau suku cadang dan bahan baku sepanjang proses produksi. Dalam industri kesehatan, barcode digunakan untuk melacak obat-obatan dan rekam medis pasien, memastikan keamanan dan akurasi dalam pemberian treatment. Sektor transportasi memanfaatkan barcode untuk mengelola pengiriman dan bagasi, termasuk penggunaan standar IATA 2D barcode di boarding passes sejak tahun 2005.
Manfaat utama penggunaan barcode meliputi peningkatan kecepatan input data, karena barcode scanner dapat membaca dan merekam data lebih cepat dibandingkan proses manual. Teknologi barcode juga mempunyai ketepatan dan akurasi yang sangat tinggi dalam pencarian data, sehingga dapat mengurangi biaya operasional dengan mengindari kerugian dari kesalahan pencatatan data.
Dengan data yang lebih cepat, tepat dan akurat, pengambilan keputusan oleh manajemen akan jauh lebih baik dan tepat, yang nantinya sangat berpengaruh dalam menentukan kebijakan perusahaan. Hal ini juga membantu perusahaan menjaga kemampuan bersaing dengan kompetitor di pasar.
Memahami apa arti barcode tidak lengkap tanpa mengetahui bagaimana sistem scanner bekerja. Barcode yang tertera pada setiap barang dibaca oleh alat bernama barcode scanner, kemudian komputer menangkap hasil scan dan memasukkannya ke dalam aplikasi database.
Cara kerja barcode scanner terbagi menjadi tiga sistem utama. Pertama adalah sistem manual (wand-type reader), di mana operator langsung menggosokkan ujung pena scanner dari satu sisi ke sisi lain barcode. Sistem ini biasa digunakan pada barcode scanner jenis pena.
Kedua adalah sistem semi otomatis (handheld readers), di mana operator tidak perlu menggosok barcode tetapi cukup memposisikan mesin pembaca tepat di depan label barcode. Model ini biasa digunakan di kasir supermarket dan memberikan kemudahan operasional yang lebih baik.
Ketiga adalah sistem otomatis (fix-mount reader), yang memudahkan pengguna karena bisa terbaca hanya dari bagian samping produk tanpa harus sejajar dengan kodenya. Barcode scanner model ini sering digunakan pada perusahaan industri yang memproduksi barang dalam jumlah besar.
Pada awalnya, pembaca kode batang dibangun dengan mengandalkan cahaya tetap dan satu photosensor yang secara manual digosokkan pada kode batang. Perkembangan teknologi kemudian menghadirkan berbagai jenis scanner berdasarkan koneksi ke komputer, mulai dari jenis RS-232, PS/2 atau AT keyboard, hingga USB barcode scanner yang lebih modern dan mudah diinstal.
Dalam memahami apa arti barcode, penting juga untuk membedakannya dengan QR Code yang semakin populer. Meskipun keduanya berfungsi untuk menyimpan dan memindai informasi, terdapat beberapa perbedaan mendasar.
Dari segi bentuk, barcode terdiri dari serangkaian garis-garis vertikal yang dipindai secara horizontal, sedangkan QR Code terdiri dari persegi hitam-putih yang membentuk pola kotak dan bisa dipindai di berbagai arah. Perbedaan visual ini mencerminkan perbedaan teknologi yang mendasarinya.
Kapasitas penyimpanan merupakan perbedaan signifikan lainnya. Barcode memiliki kapasitas penyimpanan informasi yang terbatas, sehingga hanya dapat menyimpan informasi dasar seperti nomor identifikasi dan harga. Sebaliknya, QR Code memiliki kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar, dapat menyimpan informasi kompleks termasuk teks, gambar, dan hyperlink.
Dari segi kecepatan pembacaan, QR Code dapat dipindai lebih cepat daripada barcode karena informasi yang disimpan dapat dibaca sekaligus, sedangkan barcode harus dipindai satu per satu. Dalam hal penggunaan, barcode biasanya digunakan dalam industri ritel dan logistik untuk mengidentifikasi produk dan melacak inventaris, sementara QR Code digunakan dalam berbagai aplikasi seperti pemasaran, media sosial, dan pembayaran elektronik.
Ketersediaan pembaca juga berbeda, di mana scanner barcode tersedia di hampir semua toko dan pusat logistik, sedangkan pembaca QR Code umumnya tersedia pada smartphone dengan aplikasi pembaca QR Code yang terinstall.
Barcode adalah suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin, berupa garis-garis hitam dan putih dengan ketebalan berbeda yang menyimpan informasi tentang suatu produk dan dapat dipindai untuk identifikasi cepat.
Barcode scanner bekerja dengan menggunakan sinar laser atau kamera untuk membaca pola garis pada barcode, kemudian menerjemahkan informasi tersebut menjadi data digital yang dapat diproses oleh sistem komputer.
Barcode 1D hanya menggunakan garis-garis horizontal untuk menyimpan data dengan kapasitas terbatas, sedangkan barcode 2D menggunakan dua dimensi (horizontal dan vertikal) sehingga dapat menyimpan informasi lebih banyak dalam ruang yang lebih kecil.
Barcode ditemukan oleh Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland pada tahun 1948-1949, dan mereka mendapat hak paten pada tanggal 7 Oktober 1952 setelah mengembangkan sistem yang dapat dibaca oleh mesin scanner.
Keuntungan utama barcode meliputi peningkatan kecepatan input data, akurasi yang tinggi, pengurangan kesalahan manusia, penghematan biaya operasional, dan kemudahan integrasi dengan sistem manajemen lainnya.
Jenis barcode yang umum digunakan antara lain EAN-13 untuk retail internasional, UPC-A untuk Amerika Serikat, Code 39 untuk keperluan non-retail, QR Code untuk informasi kompleks, dan Code 128 untuk data berkapasitas tinggi.
Ya, barcode masih sangat relevan karena kesederhanaan, universalitas, dan biaya rendah pembuatannya. Meskipun ada teknologi baru seperti RFID, barcode tetap menjadi pilihan utama untuk banyak aplikasi bisnis dan industri.