Apa Arti Body Shaming: Memahami Perilaku Merendahkan Fisik dan Dampaknya

Kapanlagi.com - Apa arti body shaming menjadi pertanyaan penting di era digital ini ketika komentar negatif tentang penampilan fisik semakin mudah tersebar. Body shaming adalah perilaku mengkritik atau mengomentari penampilan fisik seseorang dengan cara yang merendahkan dan menyakitkan.

Perilaku ini tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui media sosial dan platform digital lainnya. Sayangnya, banyak orang yang melakukan body shaming tanpa menyadari dampak serius yang ditimbulkannya terhadap kesehatan mental korban.

Mengutip dari buku "Lentera Literasi Digital Indonesia: Panduan Literasi Digital Kaum Muda Indonesia Timur", body shaming termasuk dalam kategori perundungan siber yang dapat menghambat perkembangan pribadi seseorang. Kasus seperti yang dialami Maria Simorangkir, pemenang Indonesian Idol 2018, menunjukkan betapa berbahayanya dampak body shaming terhadap individu berprestasi sekalipun.

1 dari 6 halaman

1. Pengertian dan Definisi Body Shaming

Pengertian dan Definisi Body Shaming (c) Ilustrasi AI

Body shaming adalah tindakan atau perkataan negatif yang ditujukan untuk merendahkan penampilan fisik seseorang, baik mengenai berat badan, tinggi badan, warna kulit, bentuk wajah, maupun bagian tubuh lainnya. Perilaku ini dapat berupa ejekan langsung, sindiran halus, komentar di media sosial, atau bahkan pertanyaan yang tampak tidak bersalah namun sebenarnya menyinggung.

Menurut Alodokter, body shaming merupakan bentuk bullying yang dapat mengakibatkan trauma emosional yang serius, terutama pada usia muda. Perilaku ini sering kali tidak disadari oleh pelakunya karena korban cenderung menutupi rasa tersinggungnya dengan tertawa atau berpura-pura tidak peduli.

Dalam konteks yang lebih luas, body shaming mencakup tiga manifestasi utama: mengkritik penampilan diri sendiri melalui perbandingan dengan orang lain, mengkritik penampilan orang lain di hadapan mereka, dan mengkritik penampilan seseorang tanpa sepengetahuan orang tersebut. Ketiga bentuk ini sama-sama berbahaya karena melanggengkan budaya menilai seseorang berdasarkan penampilan fisiknya.

Yang membuat body shaming semakin berbahaya adalah normalisasi perilaku ini dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang menganggap komentar negatif tentang fisik sebagai hal yang wajar, bahkan lucu, padahal dampaknya bisa sangat merusak kepercayaan diri dan kesehatan mental seseorang.

2. Bentuk-Bentuk Body Shaming dalam Kehidupan Sehari-hari

Bentuk-Bentuk Body Shaming dalam Kehidupan Sehari-hari (c) Ilustrasi AI

Body shaming dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan situasi. Bentuk yang paling umum adalah komentar tentang berat badan, seperti "Kamu makin gemuk ya, lagi hamil?" atau "Kurus banget kayak orang sakit, makan yang banyak dong." Komentar semacam ini sering dianggap sebagai bentuk perhatian, padahal justru menyakiti perasaan.

Tinggi badan juga sering menjadi sasaran body shaming, terutama di lingkungan sekolah. Anak-anak yang terlalu pendek atau terlalu tinggi dibanding teman sekelasnya kerap mendapat julukan seperti "si Jangkung" atau "si Kontet." Nama panggilan ini bisa melekat seumur hidup dan meninggalkan trauma mendalam.

Kondisi kulit menjadi target sensitif lainnya, terutama bagi perempuan. Komentar tentang warna kulit, jerawat, atau kondisi kulit lainnya dapat membuat seseorang merasa sangat rendah diri. Begitu juga dengan rambut, yang sering diejek karena tekstur, warna, atau kepadatannya.

Bentuk wajah dan bagian-bagiannya seperti hidung, bibir, mata, dan pipi juga kerap menjadi bahan ejekan. Komentar seperti "Pinjam gigimu buat buka botol" atau "Itu kuping atau parabola?" mungkin terdengar lucu bagi yang mendengar, tetapi sangat menyakitkan bagi yang menjadi sasaran.

3. Faktor Penyebab Terjadinya Body Shaming

Faktor Penyebab Terjadinya Body Shaming (c) Ilustrasi AI

Akar permasalahan body shaming terletak pada rendahnya rasa hormat terhadap orang lain. Para pelaku body shaming umumnya tidak suka melihat kesuksesan atau kebahagiaan orang lain, sehingga mereka berusaha menjatuhkan dengan cara mengejek penampilan fisik.

Media massa dan media sosial turut berperan dalam memperparah fenomena ini. Standar kecantikan yang tidak realistis yang terus-menerus ditampilkan di berbagai platform menciptakan tekanan sosial yang luar biasa. Hal ini membuat orang merasa perlu mengomentari atau mengkritik penampilan yang tidak sesuai dengan standar tersebut.

Budaya populer juga berkontribusi terhadap normalisasi body shaming. Banyak acara televisi, film, dan konten hiburan yang menjadikan karakter dengan penampilan tertentu sebagai bahan lelucon. Pola ini menciptakan persepsi bahwa mengejek penampilan fisik adalah hal yang wajar dan menghibur.

Faktor psikologis pelaku juga berperan penting. Seseorang yang memiliki masalah dengan kepercayaan diri atau merasa tidak puas dengan hidupnya cenderung melampiaskan frustrasi tersebut dengan merendahkan orang lain. Mereka merasa lebih baik dengan cara membuat orang lain merasa buruk tentang diri mereka sendiri.

4. Dampak Serius Body Shaming terhadap Kesehatan Mental

Dampak Serius Body Shaming terhadap Kesehatan Mental (c) Ilustrasi AI

Dampak body shaming terhadap kesehatan mental sangatlah serius dan tidak boleh diabaikan. Korban body shaming berisiko mengalami gangguan kecemasan, terutama saat berada di tempat ramai atau bertemu orang baru. Mereka menjadi sangat sadar diri dan khawatir akan mendapat komentar negatif lagi.

Depresi adalah dampak lain yang sering terjadi. Korban yang terus-menerus mendapat perlakuan body shaming dapat kehilangan semangat hidup dan tidak lagi mampu menikmati aktivitas sehari-hari. Mereka terjebak dalam perasaan malu, rendah diri, dan putus asa terhadap kondisi tubuhnya.

Gangguan makan seperti anoreksia, bulimia, atau binge eating juga sering muncul sebagai akibat body shaming. Korban melakukan diet ekstrem atau pola makan yang tidak sehat dalam upaya mengubah penampilan fisiknya agar sesuai dengan ekspektasi orang lain.

Dalam kasus yang lebih parah, body shaming dapat menyebabkan gangguan dismorfik tubuh, di mana penderita merasa sangat malu dengan kondisi tubuhnya hingga mengucilkan diri dari lingkungan sosial. Bahkan, beberapa korban dapat mengalami keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

5. Strategi Efektif Menghadapi dan Mencegah Body Shaming

Strategi Efektif Menghadapi dan Mencegah Body Shaming (c) Ilustrasi AI

Menghadapi body shaming memerlukan strategi yang tepat dan konsisten. Langkah pertama adalah memberitahu pelaku bahwa ucapan mereka termasuk body shaming dan menyakiti perasaan, meskipun mungkin dimaksudkan sebagai candaan. Penting untuk menegaskan bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima.

Jika situasi tidak memungkinkan untuk konfrontasi langsung, korban sebaiknya tetap tenang dan tidak memberikan respons apa pun. Mengalihkan pembicaraan ke topik lain atau dengan sopan meninggalkan percakapan dapat menjadi pilihan yang lebih aman.

Membangun kepercayaan diri dan self-love menjadi kunci penting dalam menghadapi body shaming. Korban perlu mengingatkan diri bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh penampilan fisiknya, melainkan oleh karakter dan tindakannya. Dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat sangat diperlukan dalam proses ini.

Untuk pencegahan, penting bagi setiap individu untuk memulai dari diri sendiri dengan berkomitmen tidak melakukan body shaming. Seperti yang disebutkan dalam buku "Lentera Literasi Digital Indonesia", kita perlu mempromosikan respek dan menciptakan konten positif di dunia digital. Jika menyaksikan body shaming di media sosial, kita dapat melaporkannya sebagai konten yang tidak pantas.

6. FAQ (Frequently Asked Questions)

FAQ (Frequently Asked Questions) (c) Ilustrasi AI

Apa yang dimaksud dengan body shaming?

Body shaming adalah perilaku mengkritik, mengejek, atau mengomentari penampilan fisik seseorang dengan cara yang negatif dan merendahkan. Perilaku ini dapat berupa komentar langsung, sindiran, atau bahkan pertanyaan yang tampak tidak bersalah namun sebenarnya menyinggung.

Apakah body shaming termasuk bullying?

Ya, body shaming termasuk dalam kategori bullying atau perundungan, khususnya perundungan verbal. Perilaku ini dapat menyebabkan trauma emosional yang serius, terutama jika dilakukan secara berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang lama.

Apa saja contoh kalimat yang termasuk body shaming?

Contoh kalimat body shaming antara lain: "Kamu makin gemuk ya?", "Kurus banget kayak orang sakit", "Kulitmu hitam banget", "Hidungmu pesek sekali", atau "Rambutmu keriting kayak sikat". Meskipun mungkin dimaksudkan sebagai candaan, kalimat-kalimat ini dapat menyakiti perasaan.

Bagaimana cara menghentikan kebiasaan melakukan body shaming?

Untuk menghentikan kebiasaan body shaming, mulailah dengan menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, fokus pada diri sendiri daripada mengomentari orang lain, cari topik pembicaraan yang lebih positif, dan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan tidak menyakiti perasaan orang lain.

Apa dampak body shaming terhadap kesehatan mental?

Body shaming dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan makan, gangguan dismorfik tubuh, menurunnya kepercayaan diri, dan dalam kasus yang parah dapat menyebabkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Bagaimana cara menghadapi body shaming yang diterima?

Cara menghadapi body shaming antara lain: tetap tenang dan jangan memberikan respons emosional, beritahu pelaku bahwa ucapannya menyakiti, alihkan pembicaraan ke topik lain, bangun kepercayaan diri dengan self-love, cari dukungan dari orang terdekat, dan jika perlu konsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Kapan perlu mencari bantuan profesional terkait body shaming?

Bantuan profesional diperlukan ketika body shaming sudah menimbulkan stres berkepanjangan, menurunkan kepercayaan diri secara signifikan, memengaruhi kehidupan sehari-hari, menyebabkan gangguan makan, atau memunculkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Psikolog atau psikiater dapat memberikan bimbingan dan terapi yang sesuai.

(kpl/fds)

Topik Terkait