Kapanlagi.com - Pernahkah Anda merasa terjebak dalam lingkaran pikiran yang tidak berujung? Kondisi ini dikenal dengan istilah overthinking yang semakin umum dialami banyak orang di era modern.
Overthinking merupakan kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Berbeda dengan pemikiran konstruktif, overthinking justru membuat seseorang terjebak dalam siklus pikiran negatif yang tidak produktif.
Menurut buku KEPERAWATAN JIWA karya H. Tukatman dkk, ancaman minor seperti overthinking akan masa depan dapat memicu respons stres yang berkepanjangan. Kondisi ini dapat menyebabkan hormon kortisol diproduksi secara intens dalam jumlah besar, yang berpotensi berkembang menjadi berbagai gangguan kesehatan fisik dan mental.
Overthinking berasal dari kata "over" yang berarti lebih dan "think" yang berarti berpikir. Secara umum, overthinking didefinisikan sebagai perilaku atau kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan. Kondisi ini membuat seseorang terlalu banyak merenungi masa lalu, mengkhawatirkan masa depan, dan memikirkan berbagai kemungkinan yang belum tentu akan benar-benar terjadi.
Aktivitas berpikir yang berlebihan ini cenderung mengarah pada hal-hal negatif yang berulang (ruminasi) dan tidak disertai dengan proses penyelesaian masalah. Orang yang mengalami overthinking tidaklah sama dengan pemikir biasa. Mereka sering kali memikirkan hal-hal tertentu secara berlebihan, bahkan masalah kecil pun dapat menjadi lebih besar dan rumit dari yang sebenarnya terjadi.
Menurut Universitas Gadjah Mada, overthinking adalah menggunakan terlalu banyak waktu untuk memikirkan suatu hal dengan cara yang merugikan. Overthinking dapat berupa ruminasi dan khawatir, di mana ruminasi adalah kecenderungan untuk terus memikirkan hal yang telah berlalu, sedangkan khawatir adalah kecenderungan memikirkan prediksi yang negatif.
Tanpa disadari, overthinking dapat menguras energi, menghambat pengambilan keputusan, dan mempengaruhi penentuan tindakan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berpengaruh signifikan pada kesehatan mental seseorang dan mengganggu kualitas hidup secara keseluruhan.
Mengenali ciri-ciri overthinking sangat penting karena sering kali seseorang tidak menyadari sedang mengalami kondisi ini. Berikut adalah berbagai tanda yang mengindikasikan seseorang mengalami overthinking:
Menurut RSUD Kulon Progo, tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai meliputi memiliki kekhawatiran berlebih terhadap suatu hal, sering mengkritik diri sendiri, mudah merasa menyesal, menghabiskan waktu memikirkan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan, sering berandai-andai pada kejadian yang belum pernah terjadi, berfokus pada masalah tanpa berusaha menemukan solusi, keputusan pribadi bergantung pada orang lain, dan sering merasa lelah.
Hingga saat ini belum ada penelitian yang secara spesifik menyebutkan penyebab terjadinya overthinking. Namun, secara umum overthinking dapat dipicu oleh beberapa faktor yang saling berkaitan:
Dalam buku SADAR PENUH HADIR UTUH karya Adjie Silarus, dijelaskan bahwa kecenderungan untuk terlalu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang kita, ketimbang bagaimana kita sendiri dapat jujur pada diri sendiri, sering menjadi pemicu overthinking. Ketakutan-ketakutan dan kecemasan yang muncul sesungguhnya kebanyakan berasal dari pikiran kita sendiri.
Overthinking dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang signifikan bagi kesehatan fisik dan mental. Berikut adalah dampak-dampak yang perlu diwaspadai:
Salah satu dampak buruk utama dari overthinking adalah stres. Ini terjadi karena otak sibuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu secara berlebihan sehingga tekanan psikologis menjadi lebih besar. Tekanan psikologis akan merangsang tubuh untuk melepaskan hormon stres dalam jumlah tinggi.
Stres berkepanjangan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, hingga serangan panik. Sementara itu, bagi seseorang yang sudah memiliki gangguan mental, overthinking dapat memperburuk gejala yang dimilikinya.
Overthinking juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan fisik. Sakit kepala, mual, dan jantung berdebar adalah beberapa gejala fisik akibat stres yang ditimbulkan oleh overthinking. Kondisi ini juga dapat menyebabkan gangguan tidur, tubuh mudah terserang penyakit, dan kelelahan yang berkepanjangan.
Overthinking dapat berdampak pada menurunnya performa kerja. Pikiran yang berlebih akan membuat seseorang sulit untuk fokus dan berkonsentrasi sehingga aktivitas menjadi terganggu. Seseorang yang overthinking juga mengalami kesulitan menyelesaikan masalah karena lebih banyak memikirkan masalah dibanding segera mencari solusinya.
Menurut Alodokter, kebiasaan overthinking juga dapat mendorong seseorang untuk melakukan penyalahgunaan alkohol hingga narkoba sebagai bentuk pelarian dari tekanan mental yang dialami.
Mengatasi overthinking membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Berikut adalah berbagai strategi yang dapat diterapkan untuk mengendalikan kebiasaan berpikir berlebihan:
Menurut Universitas Gadjah Mada, untuk mengubah kebiasaan overthinking perlu kemauan dan tekad yang kuat. Namun, untuk mengurangi kebiasaan ini bisa dimulai dari menyadari apa yang sedang dipikirkan kemudian mengarahkan pikiran ke arah yang lebih rasional.
Tidak, overthinking berbeda dengan berpikir kritis. Berpikir kritis adalah proses menganalisis informasi secara objektif untuk mengambil keputusan yang tepat, sedangkan overthinking adalah memikirkan sesuatu secara berlebihan tanpa menghasilkan solusi yang konstruktif.
Ya, overthinking dapat menyebabkan berbagai gejala fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, jantung berdebar, tekanan darah tinggi, dan gangguan tidur. Stres berkepanjangan akibat overthinking juga dapat menurunkan sistem imun tubuh.
Overthinking dapat dikendalikan dan dikurangi intensitasnya melalui berbagai teknik dan strategi yang tepat. Meskipun mungkin tidak hilang sepenuhnya, dengan latihan konsisten, seseorang dapat belajar mengelola pola pikir ini dengan lebih baik.
Sebaiknya mencari bantuan psikolog atau psikiater ketika overthinking sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan gejala fisik yang parah, atau disertai dengan gejala depresi dan kecemasan yang berkelanjutan.
Ya, anak-anak juga dapat mengalami overthinking, terutama yang memiliki kecenderungan perfeksionis atau mengalami tekanan akademik yang tinggi. Penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tandanya dan memberikan dukungan yang tepat.
Kekhawatiran normal biasanya proporsional dengan masalah yang dihadapi dan mengarah pada pencarian solusi. Overthinking ditandai dengan pikiran berulang yang berlebihan, tidak produktif, dan cenderung memperburuk kondisi emosional tanpa menghasilkan solusi nyata.
Ya, meditasi dan praktik mindfulness terbukti efektif untuk mengatasi overthinking. Teknik ini membantu melatih kesadaran akan pikiran yang muncul dan mengembangkan kemampuan untuk tidak terjebak dalam siklus pikiran negatif yang berulang.