Apa Arti Pansos: Memahami Fenomena Panjat Sosial di Era Digital

Kapanlagi.com - Istilah pansos kini semakin populer di kalangan pengguna media sosial Indonesia. Pansos adalah singkatan dari "panjat sosial" yang merujuk pada perilaku seseorang untuk meningkatkan status sosialnya melalui berbagai cara.

Fenomena ini menjadi semakin marak seiring dengan perkembangan teknologi dan media sosial. Banyak orang berlomba-lomba menunjukkan kehidupan yang tampak sempurna untuk mendapat pengakuan dari lingkungan sosialnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pansos adalah usaha yang dilakukan untuk mencitrakan diri sebagai orang yang mempunyai status sosial tinggi, dilakukan dengan cara mengunggah foto, tulisan, dan sebagainya di media sosial. Pemahaman tentang apa arti pansos ini penting untuk memahami dinamika sosial di era digital saat ini.

1 dari 7 halaman

1. Pengertian dan Definisi Pansos

Untuk memahami apa arti pansos secara mendalam, kita perlu melihat dari berbagai perspektif. Pansos merupakan akronim dari "panjat sosial" yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai social climbing atau social climber. Istilah ini menggambarkan upaya seseorang untuk naik kelas sosial dengan berbagai cara, baik yang etis maupun tidak.

Dalam konteks modern, pansos sering dikaitkan dengan aktivitas di media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, YouTube, dan platform lainnya. Para pelaku pansos biasanya mengunggah konten yang menunjukkan gaya hidup mewah, kedekatan dengan orang terkenal, atau pencapaian yang dibesar-besarkan untuk menciptakan kesan bahwa mereka memiliki status sosial yang tinggi.

Mengutip dari buku "Kebijakan Pemberian Bantuan Sosial Bagi Keluarga Miskin" karya Amru Alba dan Rudi Kurniawan, fenomena panjat sosial sebenarnya bukan hal baru dalam masyarakat. Namun, dengan adanya media sosial, perilaku ini menjadi lebih mudah dilakukan dan lebih terlihat oleh publik.

Perilaku pansos dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, mulai dari yang relatif tidak berbahaya seperti memamerkan barang-barang mewah, hingga yang lebih problematik seperti memanfaatkan hubungan dengan orang lain untuk keuntungan pribadi. Yang membedakan pansos dari upaya peningkatan diri yang legitimate adalah motivasi dan cara yang digunakan, yang cenderung bersifat manipulatif dan tidak genuine.

2. Psikologi di Balik Perilaku Pansos

Memahami apa arti pansos tidak lengkap tanpa mengetahui aspek psikologis yang melatarbelakanginya. Menurut Psychology Today, perilaku panjat sosial berasal dari harga diri yang rendah dan kecenderungan ekstrem terhadap perbandingan diri. Terlepas dari penampilan luar yang percaya diri, para pelaku pansos sebenarnya sangat insecure tentang diri mereka sendiri.

Para pemanjat sosial akan menghargai hubungan antarmanusia berdasarkan popularitas dan status karena kedua hal tersebut merupakan kebutuhan utama mereka. Mereka tidak pernah melihat kedalaman dan keintiman dalam persahabatan karena hanya akan berteman dengan orang-orang yang "mengenal orang penting". Hal ini menciptakan pola hubungan yang dangkal dan transaksional.

Kebutuhan akan pengakuan menjadi faktor utama yang mendorong perilaku pansos. Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diakui dan dihargai oleh orang lain, dan pansos menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan ini, terutama bagi mereka yang memiliki rasa tidak aman atau rendah diri. Selain itu, keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok tertentu juga memotivasi perilaku ini.

Di era media sosial, ketakutan akan ketinggalan zaman (FOMO - Fear of Missing Out) juga berkontribusi terhadap perilaku pansos. Banyak orang merasa tertekan untuk mengikuti tren terbaru dan menunjukkan gaya hidup yang ideal, sehingga pansos menjadi cara untuk mengatasi rasa takut ini dan merasa "up-to-date".

3. Ciri-Ciri dan Karakteristik Orang Pansos

Untuk lebih memahami apa arti pansos dalam praktiknya, berikut adalah ciri-ciri yang dapat diidentifikasi pada pelaku panjat sosial:

  1. Terdorong Status - Mereka selalu mementingkan status dan menjalin pertemanan berdasarkan siapa yang dikenal atau apa yang dimiliki orang lain.
  2. Name Dropper - Suka menyebut nama orang terkenal atau penting dengan cara yang akrab, terlepas dari kenyataan hubungan yang sebenarnya.
  3. Show Off Berlebihan - Selalu menunjukkan kelebihan seperti rumah, perhiasan, kendaraan mewah, atau aset lainnya di media sosial.
  4. Terlalu Peduli Penampilan - Berusaha keras terlihat seperti bagian dari golongan sosial tertentu dengan memamerkan label desainer dan aksesoris menarik.
  5. Pemburu Teman Selektif - Cenderung "membajak" persahabatan untuk lebih dekat dengan orang yang lebih penting atau berprestasi.

Melansir dari berbagai sumber psikologi, karakteristik lain yang sering muncul adalah kurang empati, tidak bisa diandalkan, dan mencoba mengontrol lingkaran sosial. Mereka juga sering menggunakan pencapaian orang lain untuk keuntungan pribadi dan membuat konten kontroversial atau sensasional untuk mendapat perhatian.

4. Dampak Positif dan Negatif Pansos

Dalam memahami apa arti pansos, penting untuk menyadari bahwa perilaku ini memiliki dampak yang beragam. Dari sisi positif, pansos dapat meningkatkan popularitas seseorang, membantu membangun jaringan sosial yang lebih luas, dan dalam beberapa kasus, meningkatkan kepercayaan diri melalui pengakuan yang diterima.

Bagi selebriti atau public figure, melakukan aktivitas yang bisa dikategorikan sebagai pansos merupakan bagian dari pekerjaan mereka dan tidak selalu memiliki konotasi negatif. Mereka perlu mempertahankan visibilitas publik untuk karier mereka.

Namun, dampak negatif pansos jauh lebih signifikan. Perilaku ini dapat menimbulkan rasa iri dan kebencian dari orang lain, menurunkan kredibilitas karena dianggap tidak genuine, dan ironisnya, dapat memperburuk rasa insecure yang menjadi akar masalah awal. Orang yang terlalu fokus pada validasi eksternal sering kali kehilangan identitas autentik mereka.

Pansos juga dapat merusak hubungan interpersonal karena sifatnya yang transaksional dan manipulatif. Banyak pelaku pansos yang tidak dapat dipercaya karena akan cepat meninggalkan orang lain jika melihat peluang sosial yang lebih baik untuk diri mereka sendiri.

5. Fenomena Pansos dalam Konteks Sosial Indonesia

Untuk memahami apa arti pansos dalam konteks Indonesia, kita perlu melihat bagaimana fenomena ini berkembang dalam masyarakat kita. Media sosial telah menjadi panggung utama bagi para pelaku pansos untuk menampilkan diri mereka. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi sarana untuk memamerkan gaya hidup yang seringkali tidak sesuai dengan kemampuan finansial sebenarnya.

Fenomena ini juga terkait dengan budaya konsumerisme yang semakin menguat di Indonesia. Banyak orang merasa perlu memiliki barang-barang bermerek atau mengikuti tren tertentu untuk dianggap "sukses" atau "keren" oleh lingkungan sosialnya. Hal ini menciptakan tekanan sosial yang mendorong perilaku pansos.

Mengutip dari Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung, perilaku pemanjat sosial sebenarnya bukan fenomena baru. Dahulu, social climber berada di sekeliling raja, pemimpin, orang kaya, dan bangsawan. Mereka memanfaatkan pengaruh para penguasa dengan berpura-pura menjadi pendukung setia, namun memiliki agenda tersembunyi untuk keuntungan pribadi.

Dalam konteks modern, target pansos tidak lagi terbatas pada penguasa politik, tetapi meluas ke influencer, selebriti, pengusaha sukses, dan siapa saja yang dianggap memiliki status sosial tinggi. Media sosial memudahkan akses dan interaksi dengan figur-figur ini, sehingga peluang untuk melakukan pansos menjadi lebih terbuka.

6. Cara Menyikapi dan Mengatasi Perilaku Pansos

Memahami apa arti pansos juga berarti mengetahui cara menyikapinya dengan bijak. Bagi yang ingin meningkatkan status sosial, ada cara-cara yang lebih positif dan sehat daripada pansos. Fokus pada pengembangan diri, membangun hubungan yang genuine dengan orang lain, dan berkontribusi positif bagi masyarakat adalah alternatif yang lebih baik.

Untuk menghindari jebakan pansos, penting untuk membangun harga diri yang sehat dan tidak bergantung pada validasi eksternal. Mengembangkan kemampuan dan prestasi nyata akan memberikan kepuasan yang lebih mendalam dibandingkan pengakuan semu dari media sosial.

Bagi yang menghadapi orang dengan perilaku pansos, penting untuk menjaga batasan yang sehat dan tidak mudah terpengaruh oleh manipulasi mereka. Mengenali ciri-ciri pansos dapat membantu kita lebih waspada dalam menjalin hubungan sosial.

Edukasi tentang dampak negatif pansos juga penting, terutama bagi generasi muda yang sangat aktif di media sosial. Mereka perlu memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jumlah followers, likes, atau barang mewah yang dimiliki, tetapi oleh karakter dan kontribusi nyata mereka.

7. FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa perbedaan pansos dengan networking yang sehat?

Pansos bersifat manipulatif dan transaksional dengan tujuan utama mengambil keuntungan pribadi, sedangkan networking yang sehat dibangun atas dasar saling menguntungkan, kejujuran, dan hubungan yang genuine tanpa ada pihak yang dieksploitasi.

Apakah semua orang yang aktif di media sosial bisa dikategorikan pansos?

Tidak, tidak semua pengguna aktif media sosial adalah pansos. Yang membedakan adalah motivasi dan cara mereka berinteraksi. Pansos ditandai dengan perilaku manipulatif, tidak genuine, dan selalu mencari keuntungan pribadi dari hubungan sosial yang dibangun.

Bagaimana cara mengenali apakah seseorang sedang melakukan pansos?

Ciri-ciri utama meliputi: selalu memamerkan kedekatan dengan orang terkenal, terlalu fokus pada status dan penampilan, sering name dropping, tidak konsisten dalam pertemanan, dan cenderung meninggalkan orang lain ketika ada peluang yang lebih menguntungkan.

Apakah pansos selalu berdampak negatif?

Meskipun umumnya dipandang negatif, dalam beberapa konteks seperti dunia entertainment, aktivitas yang mirip pansos bisa menjadi bagian dari strategi karier yang legitimate. Namun, ketika dilakukan dengan cara yang manipulatif dan merugikan orang lain, dampaknya cenderung negatif.

Mengapa perilaku pansos semakin marak di era digital?

Media sosial memberikan platform yang mudah dan luas untuk memamerkan diri, menciptakan tekanan untuk tampil sempurna, dan memudahkan akses ke figur-figur terkenal. Budaya instant gratification dan validasi melalui likes serta followers juga mendorong perilaku ini.

Bagaimana cara mengatasi keinginan untuk pansos?

Fokus pada pengembangan diri yang autentik, bangun harga diri yang tidak bergantung pada validasi eksternal, kembangkan kemampuan dan prestasi nyata, serta jalin hubungan yang genuine berdasarkan kesamaan nilai dan minat, bukan status sosial.

Apa yang harus dilakukan jika berteman dengan orang yang pansos?

Tetapkan batasan yang jelas, jangan mudah terpengaruh manipulasi mereka, evaluasi apakah hubungan tersebut memberikan nilai positif bagi kedua belah pihak, dan jika perlu, kurangi intensitas interaksi untuk melindungi diri dari eksploitasi.

(kpl/fds)

Topik Terkait