Kapanlagi.com - Silent treatment merupakan perilaku ketika seseorang memilih untuk diam dan mengabaikan orang lain sebagai respons terhadap konflik atau ketidaknyamanan. Perilaku ini bukan sekadar meminta waktu untuk menenangkan diri, melainkan tindakan mendiamkan yang dilakukan dalam jangka waktu lama.
Fenomena ini dapat terjadi dalam berbagai jenis hubungan, mulai dari pasangan romantis, keluarga, teman, hingga rekan kerja. Apa arti silent treatment sebenarnya lebih kompleks dari sekadar diam biasa karena melibatkan aspek psikologis yang mendalam.
Dalam konteks komunikasi terapeutik, teknik diam memang dikenal sebagai salah satu metode yang memberikan waktu bagi seseorang untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan. Namun, apa arti silent treatment berbeda karena bersifat manipulatif dan dapat merusak hubungan interpersonal.
Silent treatment adalah bentuk perilaku di mana seseorang secara sengaja menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain sebagai bentuk hukuman atau kontrol. Perilaku ini melibatkan pengabaian total terhadap keberadaan seseorang, termasuk tidak merespons percakapan, pesan, atau panggilan telepon.
Berbeda dengan teknik diam dalam komunikasi terapeutik yang bertujuan memberikan ruang refleksi, silent treatment dilakukan dengan maksud memanipulasi dan mengontrol orang lain. Menurut penelitian dalam bidang psikologi hubungan, perilaku ini dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan emosional karena dampak psikologis yang ditimbulkannya.
Melansir dari Manajemen Konflik & Stress Kerja, konflik tersembunyi dapat diekspresikan secara pasif dan agresif, baik terang-terangan maupun tersamar. Silent treatment termasuk dalam kategori konflik tersembunyi yang ditunjukkan secara pasif, seperti tidak mau bekerjasama, mengabaikan, atau mogok bicara sebagai bentuk hukuman atau ketidaksetujuan.
Perilaku ini juga dapat muncul dalam konteks yang lebih luas, seperti yang dijelaskan dalam Perempuan Dalam Lingkaran KDRT, di mana kekerasan psikis dapat berupa perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, dan penderitaan psikis berat. Silent treatment dapat masuk dalam kategori ini ketika dilakukan secara berulang dan sistematis.
Mengutip dari ILMU KEPERAWATAN JIWA, dalam komunikasi terapeutik, teknik diam sebenarnya bertujuan memberikan waktu bagi klien untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan. Namun, dalam konteks silent treatment, diam digunakan sebagai senjata psikologis untuk menghukum dan mengontrol.
Terdapat berbagai faktor yang mendorong seseorang melakukan silent treatment, mulai dari ketidakmampuan mengelola emosi hingga trauma masa lalu yang belum terselesaikan.
Melansir dari penelitian psikologi, silent treatment sering kali merupakan manifestasi dari perilaku pasif-agresif yang bertujuan menghukum orang lain tanpa harus menghadapi konfrontasi langsung.
Silent treatment dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius bagi penerima perlakuan ini. Dampak tersebut tidak hanya bersifat emosional tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.
Dampak emosional yang paling umum meliputi perasaan kebingungan, ketakutan, marah, dan merasa ditolak. Korban silent treatment sering kali mempertanyakan nilai dan harga diri mereka sendiri, yang dapat berkembang menjadi masalah self-esteem yang serius.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Evolutionary Neuroscience menunjukkan bahwa korteks cingulate anterior, bagian otak yang mencatat rasa sakit, bekerja keras saat menghadapi silent treatment. Hal ini menunjukkan bahwa dampak psikologis dari silent treatment dapat dirasakan secara fisik oleh otak.
Dalam jangka panjang, silent treatment yang berulang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan bahkan gangguan makan. Stres berkepanjangan akibat perlakuan ini juga dapat meningkatkan risiko penyakit fisik seperti hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
Mengutip dari ASUHAN GIZI DAN KEPERAWATAN HIPERTENSI, stres dan ketegangan jiwa yang berkepanjangan dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk hipertensi yang sering disebut sebagai "silent killer" karena gejalanya yang tidak terlihat namun berbahaya.
Menghadapi silent treatment membutuhkan pendekatan yang bijaksana dan kesabaran ekstra. Strategi yang tepat dapat membantu memutus siklus komunikasi yang tidak sehat ini.
Melansir dari Dasar-dasar Komplementer, meditasi dapat menjadi salah satu cara efektif untuk mengatasi stres dan menenangkan pikiran. Teknik meditasi dapat membantu mengurangi dampak negatif dari silent treatment dengan melatih pikiran untuk tetap tenang dan fokus.
Jika silent treatment terus berlanjut dan mulai mempengaruhi kesehatan mental secara signifikan, penting untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau konselor yang dapat memberikan strategi coping yang lebih efektif.
Silent treatment adalah perilaku mendiamkan yang dilakukan dalam jangka waktu lama dengan tujuan menghukum atau mengontrol, sedangkan meminta waktu untuk menenangkan diri adalah strategi sehat yang bersifat sementara untuk mengelola emosi sebelum berkomunikasi kembali.
Tidak selalu, namun silent treatment dapat menjadi bentuk kekerasan emosional ketika dilakukan secara berulang, sistematis, dan dengan tujuan memanipulasi atau mengontrol orang lain. Konteks dan intensitas perilaku ini menentukan apakah termasuk kekerasan emosional atau tidak.
Introvert yang butuh waktu sendiri biasanya akan mengomunikasikan kebutuhan mereka dan memberikan jaminan bahwa mereka akan kembali berkomunikasi. Silent treatment melibatkan pengabaian total tanpa komunikasi atau penjelasan yang jelas.
Ya, silent treatment dapat terjadi di lingkungan kerja dan dapat menciptakan atmosfer yang tidak sehat, mengganggu produktivitas, dan mempengaruhi dinamika tim. Hal ini perlu ditangani secara profesional melalui manajemen atau HR.
Silent treatment dapat berlangsung dari beberapa hari hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan dalam kasus yang ekstrem. Durasi yang lama menunjukkan bahwa perilaku ini bukan sekadar cara mengelola emosi tetapi bentuk manipulasi.
Hubungan dapat pulih jika kedua pihak berkomitmen untuk mengubah pola komunikasi dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Namun, pemulihan membutuhkan waktu, usaha, dan kesediaan untuk belajar cara berkomunikasi yang lebih sehat.
Bantuan profesional diperlukan ketika silent treatment mulai mempengaruhi kesehatan mental, menyebabkan depresi atau kecemasan, atau ketika pola ini terus berulang meskipun sudah ada upaya untuk mengatasinya. Konselor atau psikolog dapat memberikan strategi yang lebih efektif.