Perubahan Kata Sifat Na dalam Bahasa Jepang: Panduan Lengkap untuk Pemula
perubahan kata sifat na
Kapanlagi.com - Perubahan kata sifat na merupakan salah satu aspek fundamental dalam mempelajari tata bahasa Jepang. Kata sifat na, atau yang dikenal sebagai na-keiyoushi, memiliki pola perubahan yang berbeda dengan kata sifat i dan memerlukan pemahaman khusus.
Dalam bahasa Jepang, kata sifat na tidak memiliki akhiran spesifik seperti kata sifat i yang berakhiran ~い. Namun, ketika digunakan untuk menerangkan kata benda, kata sifat na memerlukan partikel な (na) sebagai penghubung.
Menurut Belajar Bahasa Jepang – Sensei, Oshiete dari NHK World, kata sifat na adalah jenis kata sifat yang berakhiran na setelahnya saat menerangkan kata benda, seperti "menyukai" (suki) yang menjadi sukina saat menerangkan kata benda.
Advertisement
1. Pengertian dan Karakteristik Kata Sifat Na
Kata sifat na atau na-keiyoushi adalah salah satu dari dua jenis kata sifat dalam bahasa Jepang. Berbeda dengan i-keiyoushi yang mudah dikenali karena berakhiran huruf hiragana ~い, kata sifat na tidak memiliki spesifikasi khusus dan terlihat seperti kosakata biasa. Dalam kokubunpou (tata bahasa nasional Jepang), kata sifat ini disebut keiyou-doushi, namun dalam pendidikan bahasa Jepang dikenal sebagai na-keiyoushi.
Karakteristik utama perubahan kata sifat na adalah penggunaan partikel な (na) ketika menerangkan kata benda. Misalnya, kata "suteki" (bagus) menjadi "suteki-na doresu" (gaun yang bagus). Kata sifat na juga berlaku untuk kata sifat yang diambil dari bahasa asing, seperti "hansamu" (tampan), "happi" (bahagia), dan "rakkii" (beruntung).
Perlu diingat bahwa beberapa kata sifat berakhiran ~i termasuk dalam golongan na-keiyoushi, seperti "kirei" (cantik), "kirai" (tidak suka), "saiwai" (bahagia), "zonzai" (kasar), dan "aimai" (tidak jelas). Hal ini menjadi pengecualian yang harus dihafalkan dalam mempelajari perubahan kata sifat na.
Mengutip dari Memahami Kata Sifat Bahasa Jepang di Liputan6.com, kata sifat berakhiran -na dalam bahasa Jepang sering digunakan untuk menggambarkan benda, orang, atau keadaan dan sering diikuti oleh partikel "na" sebelum kata benda.
2. Perubahan Bentuk Positif Kata Sifat Na
Perubahan kata sifat na dalam bentuk positif memiliki pola yang relatif sederhana. Untuk bentuk dasar atau kamus, kata sifat na tidak menggunakan akhiran na. Ketika digunakan sebagai predikat dalam kalimat formal, cukup tambahkan "desu" setelah kata sifat. Contohnya, "kono doresu wa suteki desu" (gaun ini bagus).
Dalam bentuk kasual atau informal, kata sifat na sering diakhiri dengan だ (da). Misalnya, "kono doresu wa suteki da" memiliki arti yang sama dengan versi formal tetapi lebih santai. Perbedaan ini penting dipahami karena menentukan tingkat kesopanan dalam berkomunikasi.
Ketika kata sifat na digunakan untuk menerangkan kata benda, wajib menambahkan partikel な (na) di antara kata sifat dan kata benda. Pola ini menjadi ciri khas perubahan kata sifat na yang membedakannya dari kata sifat i. Contoh penggunaan: "suteki-na doresu" (gaun yang bagus), "shizuka-na heya" (ruangan yang tenang).
Menurut Na – Keiyoushi = Kata sifat akhiran -na dari Bazemaru, untuk penggunaan kata sifat na secara tunggal, akhiran na dihilangkan dan menggunakan akhiran desu, seperti "ano onna wa totemo kirei desu" (gadis itu cantik sekali).
3. Perubahan Bentuk Negatif Kata Sifat Na
Pembentukan bentuk negatif dari perubahan kata sifat na mengikuti pola yang sama dengan kata benda. Untuk bentuk formal, tambahkan "de wa arimasen" setelah kata sifat na. Contohnya, "shizuka" (tenang) menjadi "shizuka de wa arimasen" (tidak tenang). Dalam percakapan kasual, "de wa" dapat disingkat menjadi "ja", sehingga menjadi "shizuka ja arimasen".
Bentuk negatif informal menggunakan akhiran "ja nai" atau "dewa nai". Misalnya, "kirei ja nai" (tidak cantik) atau "benri dewa nai" (tidak praktis). Pilihan antara "ja" dan "dewa" tergantung pada tingkat formalitas yang diinginkan, dengan "dewa" lebih formal daripada "ja".
Penting untuk memahami bahwa perubahan kata sifat na dalam bentuk negatif tidak mengubah kata sifat itu sendiri, melainkan hanya menambahkan akhiran negatif. Hal ini berbeda dengan kata sifat i yang mengalami perubahan internal pada kata sifatnya.
Contoh kalimat negatif: "ano paatii wa nigiyaka de wa arimasen" (pesta itu tidak ramai) atau "kono mondai wa kantan ja arimasen" (masalah ini tidak mudah). Struktur ini konsisten untuk semua kata sifat na tanpa pengecualian.
4. Perubahan Bentuk Lampau Kata Sifat Na
Perubahan kata sifat na ke bentuk lampau positif dilakukan dengan menambahkan "deshita" untuk bentuk formal atau "datta" untuk bentuk informal. Kata sifat na tidak mengalami perubahan internal, hanya penambahan akhiran lampau. Contohnya, "yuumei" (terkenal) menjadi "yuumei deshita" (dulu terkenal) atau "yuumei datta" dalam bentuk kasual.
Untuk bentuk lampau negatif formal, gunakan "de wa arimasen deshita" atau "ja arimasen deshita". Misalnya, "kantan de wa arimasen deshita" (tidak mudah dulu). Bentuk informal menggunakan "ja nakatta" atau "dewa nakatta", seperti "kantan ja nakatta" (tidak mudah dulu).
Pola perubahan ini konsisten untuk semua kata sifat na, termasuk yang berakhiran i seperti "kirei". Contoh: "kirei deshita" (cantik dulu), "kirei de wa arimasen deshita" (tidak cantik dulu). Konsistensi ini memudahkan pembelajaran dibandingkan dengan perubahan kata sifat i yang lebih kompleks.
Mengutip dari Kata Sifat sebagai Predikat II (Bentuk Lampau) di WKWK Japan, untuk membentuk kata sifat-na menjadi bentuk positif lampau, bubuhkan "deshita" pada akhir kata sifat-na, sedangkan untuk bentuk negatif lampau, bubuhkan "de wa ari-masen deshita".
Contoh Perubahan Lengkap
- Genki (sehat/bersemangat): genki desu → genki de wa arimasen → genki deshita → genki de wa arimasen deshita
- Shizuka (tenang): shizuka desu → shizuka ja arimasen → shizuka datta → shizuka ja nakatta
- Benri (praktis): benri desu → benri de wa arimasen → benri deshita → benri de wa arimasen deshita
- Kirei (cantik): kirei desu → kirei ja arimasen → kirei datta → kirei ja nakatta
- Yuumei (terkenal): yuumei desu → yuumei de wa arimasen → yuumei deshita → yuumei de wa arimasen deshita
5. Penggunaan Kata Sifat Na dalam Kalimat
Penggunaan perubahan kata sifat na dalam kalimat memiliki tiga fungsi utama: sebagai predikat, sebagai penerang kata benda, dan dalam kalimat majemuk. Sebagai predikat, kata sifat na berfungsi seperti kata kerja "adalah" dalam bahasa Indonesia. Contoh: "watashi wa genki desu" (saya sehat).
Ketika menerangkan kata benda, perubahan kata sifat na memerlukan partikel な sebagai penghubung. Struktur ini menjadi "kata sifat + na + kata benda". Misalnya, "shizuka na basho" (tempat yang tenang), "benri na dougu" (alat yang praktis). Partikel na ini wajib ada dan tidak boleh dihilangkan.
Dalam kalimat majemuk, kata sifat na dapat digabungkan dengan kata sifat lain atau dengan klausa lain. Untuk menggabungkan dua kata sifat na, gunakan bentuk "kata sifat + de". Contoh: "kanojo wa kirei de yasashii desu" (dia cantik dan baik hati). Pola ini memungkinkan ekspresi yang lebih kompleks dan natural.
Perubahan kata sifat na juga dapat digunakan dalam pola kausatif dan pasif, meskipun lebih jarang. Dalam konteks formal atau tulisan akademis, pemahaman penggunaan yang tepat sangat penting untuk menyampaikan makna dengan akurat dan sopan.
6. Daftar Kata Sifat Na yang Umum Digunakan
Berikut adalah daftar kata sifat na yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari beserta contoh perubahan bentuknya:
- Genki (元気): sehat, bersemangat - "genki na kodomo" (anak yang sehat)
- Kirei (綺麗): cantik, bersih - "kirei na hana" (bunga yang cantik)
- Shizuka (静か): tenang, sunyi - "shizuka na yoru" (malam yang tenang)
- Nigiyaka (賑やか): ramai, meriah - "nigiyaka na matsuri" (festival yang meriah)
- Benri (便利): praktis, berguna - "benri na kikai" (mesin yang praktis)
- Taisetsu (大切): penting, berharga - "taisetsu na tomodachi" (teman yang berharga)
- Kantan (簡単): mudah, sederhana - "kantan na shigoto" (pekerjaan yang mudah)
- Fukuzatsu (複雑): rumit, kompleks - "fukuzatsu na mondai" (masalah yang rumit)
- Shinsetsu (親切): baik hati, ramah - "shinsetsu na hito" (orang yang baik hati)
- Yuumei (有名): terkenal - "yuumei na kashu" (penyanyi yang terkenal)
7. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa perbedaan utama antara kata sifat i dan kata sifat na?
Perbedaan utama terletak pada cara perubahan bentuknya. Kata sifat i berakhiran ~い dan mengalami perubahan internal, sedangkan perubahan kata sifat na tidak mengubah kata sifat itu sendiri melainkan hanya menambahkan akhiran seperti desu, deshita, atau de wa arimasen.
Mengapa beberapa kata berakhiran i termasuk kata sifat na?
Beberapa kata seperti kirei, kirai, dan aimai secara historis berasal dari bahasa Tionghoa dan mengikuti pola perubahan kata sifat na meskipun berakhiran i. Ini merupakan pengecualian yang harus dihafalkan.
Kapan menggunakan "ja" dan kapan menggunakan "dewa" dalam bentuk negatif?
Gunakan "dewa" dalam situasi formal atau tulisan resmi, sedangkan "ja" lebih cocok untuk percakapan kasual. Keduanya memiliki arti yang sama tetapi tingkat formalitas berbeda.
Bagaimana cara menggabungkan dua kata sifat na dalam satu kalimat?
Untuk menggabungkan dua kata sifat na, gunakan bentuk "kata sifat pertama + de + kata sifat kedua + desu". Contoh: "kanojo wa kirei de shinsetsu desu" (dia cantik dan baik hati).
Apakah ada kata sifat na yang tidak beraturan dalam perubahannya?
Tidak, semua kata sifat na mengikuti pola perubahan yang sama tanpa pengecualian. Ini membuat pembelajaran perubahan kata sifat na lebih mudah dibandingkan kata sifat i.
Bisakah kata sifat na digunakan tanpa partikel na saat menerangkan kata benda?
Tidak, partikel na wajib digunakan saat kata sifat na menerangkan kata benda. Tanpa na, kalimat akan menjadi tidak gramatikal dan sulit dipahami.
Bagaimana cara membedakan kata sifat na dengan kata benda dalam kalimat?
Perhatikan konteks dan fungsinya dalam kalimat. Jika kata tersebut menjelaskan sifat atau keadaan dan dapat ditambahkan na sebelum kata benda, maka itu adalah kata sifat na. Jika tidak, kemungkinan itu adalah kata benda.
(kpl/fed)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba