Pernahkah kamu merasa sudah bangun dari tidur, menjalani rutinitas pagi, lalu tersentak dan menyadari bahwa semua itu ternyata masih bagian dari mimpi? Fenomena membingungkan inilah yang mendorong banyak orang mencari tahu arti dari mimpi dalam mimpi.
Dalam istilah ilmiah, pengalaman ini dikenal sebagai false awakening atau kebangkitan palsu. Kondisi mimpi dalam mimpi ini sering terasa begitu nyata sehingga sulit dibedakan dari kenyataan. p>
Dilansir dari Sleep Foundation, false awakening umumnya terjadi pada fase tidur REM (rapid eye movement), yakni tahap tidur yang paling erat kaitannya dengan bermimpi. Memahami arti dari mimpi dalam mimpi membantu kita menyikapinya dengan lebih tenang, tanpa rasa takut yang berlebihan.
Advertisement
Secara sederhana, mimpi dalam mimpi adalah skenario yang sangat hidup ketika seseorang bermimpi bahwa dirinya telah bangun, padahal sebenarnya masih tertidur. Setelah "terbangun" palsu itu, orang biasanya bermimpi sedang melakukan rutinitas pagi seperti mandi atau sarapan. Karena seseorang seolah terbangun dari mimpi yang di dalamnya juga ada mimpi, pengalaman semacam ini mengambil bentuk mimpi ganda atau mimpi di dalam mimpi.
Berbeda dengan mimpi biasa yang cenderung fantastis, mimpi dalam mimpi justru terasa realistis. Para peneliti menyebutkan bahwa meski si pemimpi keliru mengira dirinya sudah terjaga, ia tetap mempertahankan semacam kesadaran dan seolah menyadari bahwa dunia mimpi dan dunia nyata sama-sama ada. Sebagaimana disampaikan Psychology Today, false awakening kadang disebut sebagai "hybrid state", yaitu campuran antara kondisi tidur dan terjaga. Inilah pembeda utamanya dengan lucid dream, karena saat lucid dream si pemimpi sadar bahwa ia sedang bermimpi, sedangkan pada false awakening kesadaran itu justru absen dan ia yakin sudah bangun.
Keduanya sering muncul berdampingan. Dalam sebuah studi yang dipimpin psikolog Harvard, Deirdre Barrett, sebanyak 2.000 mimpi dari 200 subjek dianalisis, dan hasilnya menunjukkan bahwa false awakening serta lucid dream lebih mungkin muncul dalam mimpi yang sama atau pada malam yang sama. Jika false awakening mengikuti sebuah lucid dream, kondisinya dapat berubah menjadi "pre-lucid dream", yakni ketika si pemimpi mulai mempertanyakan apakah ia benar-benar sudah bangun. Sikap kritis seperti inilah yang membedakan pengalaman biasa dengan mimpi berulang yang terasa berlapis.
Meski film seperti Inception mempopulerkan ide "lapisan" tidur yang bisa dimasuki satu per satu, secara biologis sebenarnya tidak ada lapisan tersebut. Yang terjadi hanyalah perpindahan adegan di dalam otak, dari mimpi standar menuju versi mimpi tentang kamar tidur kita sendiri. Karena itu, arti dari mimpi dalam mimpi tidak perlu ditakuti secara berlebihan; ini adalah pengalaman yang umum dan manusiawi. Baca juga: Arti Mimpi Menurut Primbon Betaljemur.
Meski terasa aneh, mimpi berlapis sebenarnya punya sejumlah pemicu yang dapat dijelaskan. Faktor-faktornya berkisar dari kondisi fisiologis otak saat tidur hingga kondisi psikologis di kehidupan sehari-hari.
Mengutip Sleep Doctor, para ahli meyakini fenomena ini muncul ketika batas antara tidur REM dan kondisi terjaga menjadi kabur. Berikut beberapa penyebab yang paling sering dikaitkan dengan mimpi dalam mimpi:
Baca juga: Arti Mimpi Diculik, Makna Tersembunyi dan Cara Menyikapinya.
Tidak semua pengalaman mimpi berlapis terasa sama. Mengacu pada ulasan Healthline, peneliti Celia Green membagi false awakening menjadi dua tipe utama. Pembagian ini membantu kita memahami mengapa sebagian orang merasa biasa saja, sementara yang lain merasa ngeri saat mengalaminya.
Tipe pertama adalah versi yang paling umum dan cenderung datar. Pada tipe ini, setelah "bangun" seseorang melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan, dan pengalaman itu umumnya tidak terasa menakutkan meski bisa membuat bingung atau sedikit terganggu begitu benar-benar terjaga. Skenario khasnya adalah bermimpi bangun kesiangan lalu panik karena merasa terlambat, hingga akhirnya benar-benar terbangun.
Tipe kedua jauh lebih jarang, tetapi terasa lebih mencekam. Pada tipe ini seseorang bisa terbangun dengan firasat buruk atau keyakinan bahwa sesuatu yang aneh dan tidak menyenangkan akan segera terjadi. Peneliti Celia Green, dalam bukunya Lucid Dreams, menggambarkan tipe kedua ini, "Subjek tampak terbangun secara realistis, tetapi ke dalam suasana yang penuh ketegangan."
Ketika kebangkitan palsu terjadi berulang kali dalam satu malam, muncullah yang disebut false awakening loop. Efek "mimpi di dalam mimpi di dalam mimpi" inilah yang dipopulerkan film Inception, ketika seseorang bangun, berpakaian, berjalan ke dapur, lalu terbangun lagi dan ternyata masih di tempat tidur. Fenomena mimpi berlapis yang berturut-turut bukan hal baru; filsuf Bertrand Russell bahkan mengaku mengalami sekitar seratus kebangkitan palsu secara beruntun saat pulih dari pengaruh anestesi umum.
Dari sisi psikologis, mimpi dalam mimpi sering dibaca sebagai sinyal tentang kondisi batin. Sebagaimana dikutip dari Centre of Excellence, mimpi jenis ini dapat mengindikasikan adanya persoalan atau kekhawatiran yang belum terselesaikan, sekaligus menjadi pengingat untuk membereskan aspek hidup yang selama ini diabaikan. Sigmund Freud, bapak psikoanalisis, dalam karyanya The Interpretation of Dreams menyatakan, "Interpretasi mimpi adalah jalan raya menuju pengetahuan tentang aktivitas pikiran bawah sadar."
Di sisi lain, ada pembacaan yang lebih positif. Lapisan-lapisan bangun dan bermimpi dapat mewakili proses mengupas lapisan kesadaran diri menuju penemuan jati diri yang lebih dalam. Sebagian pendekatan spiritual mengaitkannya dengan shadow work, yakni upaya mengenali sisi diri yang selama ini ditekan, sebuah gagasan yang berakar pada psikologi Carl Jung. Terkait hal ini, Carl Jung menyatakan, "Sampai Anda menjadikan ketidaksadaran menjadi kesadaran, hal itu akan mengarahkan hidup Anda, dan Anda akan menyebutnya takdir." Simbol seperti melihat versi diri sendiri sering muncul dalam konteks ini, mirip pembahasan pada arti mimpi mandi air kotor dari sudut pandang Jungian, maupun tema kehilangan kendali diri.
Dalam tradisi primbon Jawa, mimpi berlapis kerap dianggap sebagai peristiwa spiritual yang menyimpan makna tersembunyi, bahkan dipercaya sebagai sarana komunikasi dengan alam gaib atau pesan dari leluhur. Pandangan budaya ini menekankan pentingnya introspeksi dan kepekaan terhadap detail mimpi, sebagaimana banyak diulas dalam arti mimpi menurut primbon Jawa. Meski begitu, makna semacam ini bersifat personal dan tidak bisa dipukul rata untuk semua orang, karena emosi dominan yang muncul saat mimpi turut memengaruhi tafsirannya, seperti pada mimpi soal air dan perasaan kewalahan atau tenggelam.
Dalam perspektif Islam, mimpi juga tidak dipandang seragam. Para ulama membagi mimpi menjadi tiga kategori utama, yakni ru'yah (mimpi baik dari Allah), hulm (mimpi buruk dari setan), dan hadits an-nafs (mimpi yang bersumber dari pikiran diri sendiri). Karena itu, mimpi dalam mimpi bisa termasuk salah satu dari ketiganya tergantung konteks dan kondisi pemimpi, sehingga umat dianjurkan tidak menjadikan mimpi sebagai satu-satunya pedoman hidup, sebagaimana banyak dibahas dalam tafsir mimpi dikejar setan, arti mimpi meninggal menurut Islam, hingga makna mimpi ziarah ke makam. Sisi identitas dan perubahan diri pun kerap tersimbolkan dalam mimpi, mirip ulasan arti mimpi dikasih baju.
Kabar baiknya, ada banyak langkah praktis untuk menghadapi mimpi berlapis, terutama bila terasa mengganggu. Kuncinya ada pada ketenangan dan perbaikan kualitas tidur secara keseluruhan.
Sebagaimana dilaporkan Centre of Excellence, melatih reality check dan memperbaiki higiene tidur dapat membantu mengurangi frekuensi kemunculan false awakening. Berikut cara menyikapinya:
Pada akhirnya, sikap kritis dan objektif jauh lebih bermanfaat daripada rasa takut, apalagi karena interpretasi mimpi bersifat personal, seperti tampak pada tafsiran mimpi tentang orang yang kita suka.
Secara umum tidak berbahaya. Meski digambarkan sangat hidup dan terkadang terasa aneh, para ahli tidak meyakini false awakening bersifat membahayakan, walaupun pada momen tertentu bisa memunculkan rasa takut, gelisah, atau cemas. Jika terlalu sering dan mengganggu tidur, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional.
Frekuensi yang tinggi biasanya berkaitan dengan tidur REM yang aktif dan daya ingat mimpi yang kuat. Sering mengalami false awakening justru bisa menjadi pertanda REM yang sangat aktif dan recall mimpi yang baik. Stres, jadwal tidur tidak teratur, serta kebiasaan berlatih lucid dreaming juga turut memperbesar peluangnya.
Tidak sama, meski keduanya berkaitan erat. Pada lucid dream seseorang sadar penuh bahwa ia sedang bermimpi, sedangkan pada mimpi dalam mimpi ia justru yakin sudah bangun padahal masih tertidur. Banyak orang menggunakan false awakening sebagai jembatan untuk menjadi lucid, misalnya dengan melakukan reality check begitu merasa "terbangun".
Pada intinya, mimpi dalam mimpi adalah pengalaman lumrah yang berada di persimpangan antara sains, psikologi, dan spiritualitas. Alih-alih membuat panik, fenomena ini bisa dijadikan bahan introspeksi sekaligus dorongan untuk memperbaiki kualitas tidur dan kesehatan mental sehari-hari.
Daftar Referensi
(kpl/phi)