Kapanlagi.com - Setiap tahun, umat Kristiani di seluruh dunia memperingati Jumat Agung sebagai salah satu hari paling sakral dalam kalender liturgi. Memahami arti Jumat Agung secara mendalam penting bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh makna pengorbanan dan kasih dalam tradisi Kekristenan.[1]
Hari ini mengenang penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di bukit Golgota, peristiwa yang diyakini sebagai pengorbanan tertinggi demi penebusan dosa umat manusia. Pada Jumat Agung, gereja-gereja mengadakan ibadah khusus yang dipenuhi suasana hening dan perenungan mendalam.[4]
Melansir dari Britannica, Jumat Agung telah diperingati "sejak masa awal Kekristenan sebagai hari penuh kedukaan, pertobatan, dan puasa."[1] Pada tahun 2026, arti Jumat Agung kembali direnungkan oleh jutaan umat yang memperingatinya pada 3 April, dua hari sebelum Hari Paskah.[9]
Advertisement
Baca juga: Ucapan Jumat Agung yang Menyentuh Hati dan Sarat Renungan
Jumat Agung adalah hari suci umat Kristiani yang diperingati setiap hari Jumat sebelum Paskah untuk mengenang penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di Kalvari. Hari ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Jumat Suci (Holy Friday), Jumat Besar (Great Friday), dan Jumat Sengsara Tuhan.[4] Dalam tradisi Kristiani, peristiwa ini dianggap sebagai puncak pelayanan Yesus di dunia, sehingga diberi sebutan "Agung" yang merujuk pada makna spiritual mendalam tentang pengorbanan suci.
Menurut Christianity.com, umat Kristiani menyebutnya "baik" (Good) bukan karena peristiwa itu menyenangkan, melainkan karena "penderitaan dan kematian Yesus menggenapi rencana keselamatan Allah."[2] Candida Moss, Profesor Teologi di University of Birmingham, menjelaskan melalui National Geographic, "'Good' dalam konteks ini berarti sesuatu seperti 'kudus' atau 'saleh.'"[3] Penjelasan ini menegaskan bahwa kata "Agung" atau "Good" mengacu pada kekudusan, bukan pada perasaan senang atau gembira.
Jumat Agung merupakan bagian integral dari Trihari Suci Paskah atau Paschal Triduum, bersama Kamis Putih dan Sabtu Suci. Rangkaian tiga hari ini menjadi puncak tahun liturgi gereja dan memuat peristiwa-peristiwa paling penting dalam iman Kristiani, yakni Perjamuan Terakhir, penyaliban, serta kebangkitan Yesus Kristus.[4] Hari ini bukan sekadar pendahuluan menuju Paskah; Jumat Agung memiliki keagungannya tersendiri karena tanpa kematian Yesus di kayu salib, tidak akan pernah ada kebangkitan dan kemenangan atas dosa.
Secara khusus, Jumat Agung juga menjadi satu-satunya hari dalam kalender liturgi Katolik ketika Misa Kudus tidak dirayakan. Gereja hanya mengadakan ibadat liturgis yang terdiri dari pembacaan narasi Sengsara, penghormatan Salib, dan Komuni Kudus.[1] Suasana ini bertujuan menekankan kedukaan dan perkabungan mendalam atas wafatnya Kristus sebelum sukacita kebangkitan tiba pada Minggu Paskah.
Baca juga: Ucapan Selamat Hari Jumat Agung Penuh Makna
Penamaan Jumat Agung atau Good Friday memiliki sejarah linguistik yang menarik dan menjadi perdebatan para ahli selama berabad-abad. Melansir dari Britannica, tradisi peringatan hari ini telah ada sejak era awal Kekristenan dan berkembang dalam berbagai budaya dengan penyebutan yang berbeda-beda.[1] Berikut beberapa fakta sejarah penting seputar asal-usul dan penamaan Jumat Agung.
Baca juga: Makna Minggu Palma dan Cara Menghayati Pekan Suci
Salah satu aspek paling mendalam dari peringatan Jumat Agung adalah renungan atas Tujuh Sabda Terakhir (Seven Last Words) yang diucapkan Yesus saat tergantung di kayu salib. Melansir dari Jesuits.org, tradisi merenungkan tujuh sabda ini dimulai pada abad ke-17 oleh seorang imam Jesuit di Peru yang mengembangkan ibadah meditasi khusus untuk Jumat Agung.[5] Ketujuh sabda ini diambil dari empat Injil kanonik dan disusun dalam urutan kronologis yang menggambarkan perjalanan spiritual Yesus dari pengampunan hingga penyerahan diri kepada Bapa.
Fr. James Martin SJ, penulis buku Seven Last Words, berharap sabda-sabda Yesus di kayu salib mengajak umat pada persahabatan yang lebih dalam dengan Sang Juruselamat. Ia menyatakan, "Jumat Agung hanyalah satu hari dalam kehidupan Yesus. Kehidupan Yesus tidak semuanya penderitaan dan kesakitan."[5]
Baca juga: Bacaan Injil dan Panduan Memaknai Kisah Sengsara Kristus
Meskipun makna inti Jumat Agung konsisten di seluruh dunia Kristiani, cara memperingatinya sangat beragam dan mencerminkan kekayaan budaya masing-masing negara. Melansir dari National Geographic, komunitas keagamaan memiliki tradisi unik yang merefleksikan budaya mereka dalam memperingati hari suci ini.[3] Berikut berbagai tradisi menarik dari berbagai penjuru dunia.
Brent Strawn, seorang pakar studi Alkitab, menjelaskan melalui NBC New York bahwa "sifat ibadah yang tenang dan khusyuk pada Jumat Agung menunjukkan bahwa umat Kristiani berusaha memaknai titik terendah itu secara serius."[6] Di Indonesia sendiri, umat memperingati hari ini melalui ibadah khusus di gereja yang meliputi liturgi sabda, penghormatan salib, dan Komuni.[8]
Baca juga: Panduan Lengkap Berpakaian di Pekan Suci
Arti Jumat Agung melampaui sekadar peringatan historis atas kematian Yesus Kristus. Hari ini mengandung nilai-nilai spiritual yang mendalam dan terus relevan bagi kehidupan umat beriman di era modern. Setiap aspek peristiwa penyaliban mengajarkan pelajaran hidup yang dapat diterapkan dalam keseharian, mulai dari kasih tanpa syarat hingga ketabahan menghadapi penderitaan. Fr. Kesicki dari komunitas Jesuit mengungkapkan bahwa kerinduan terdalam Yesus adalah "menyelesaikan apa yang telah ditakdirkan untuk dilakukan-Nya — Ia ingin mati untuk kita, karena kasih tanpa syarat yang murni."[5]
Salah satu makna terpenting dari Jumat Agung adalah pengampunan. Yesus yang disalibkan justru mendoakan ampunan bagi para penyiksanya, menunjukkan bahwa kasih jauh lebih kuat daripada dendam. Nilai ini mengajarkan umat untuk berani memaafkan, bahkan dalam situasi yang paling menyakitkan. Selain itu, Jumat Agung juga mengajarkan bahwa pengampunan adalah inti dari pesan salib yang harus terus dihayati sepanjang hidup. Di tengah kehidupan modern yang penuh konflik, pesan ini menjadi pengingat untuk membangun hubungan yang dilandasi kasih dan rekonsiliasi.
Makna berikutnya terletak pada kenyataan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi umat Kristiani, kematian Yesus di kayu salib adalah awal dari kebangkitan dan kehidupan baru. Justin Holcomb, teolog dari Reformed Theological Seminary, menulis melalui Crosswalk.com bahwa "nama Jumat Agung sepenuhnya tepat karena penderitaan Yesus menandai puncak dramatis dari rencana Allah."[7] Perspektif ini mengajarkan bahwa setiap ujian hidup memiliki tujuan yang lebih besar. Jumat Agung menjadi simbol harapan bahwa di balik kegelapan terdalam, terang kebangkitan selalu menanti.
Jumat Agung juga menjadi momen untuk refleksi dan pertobatan diri. Hari ini mengajak setiap orang untuk mengevaluasi perjalanan imannya, memohon ampun atas kesalahan, dan memperbarui komitmen untuk hidup sesuai ajaran kasih. Sebagaimana dirangkum oleh Kapanlagi.com, Jumat Agung adalah "waktu yang penuh makna untuk merenung dan introspeksi diri."[8] Nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan ini — kasih tanpa syarat, kerendahan hati, pengampunan, dan pengorbanan bagi sesama — dapat diterapkan oleh siapa saja untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna dan penuh belas kasih.
Baca juga: Ucapan Minggu Palma 2026 Penuh Makna untuk Keluarga
Arti Jumat Agung adalah hari suci umat Kristiani yang diperingati setiap Jumat sebelum Paskah untuk mengenang penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di bukit Golgota. Kata "Agung" merujuk pada makna spiritual yang kudus dan suci dari pengorbanan Yesus demi keselamatan umat manusia, bukan pada perasaan gembira.[2]
Istilah Good dalam Good Friday kemungkinan besar berasal dari bahasa Inggris Kuno yang bermakna "kudus" atau "saleh." Teori lain menyebut istilah ini merupakan perkembangan dari frasa God's Friday (Jumat milik Tuhan). Umat Kristiani memandang hari ini sebagai "baik" karena pengorbanan Yesus membuka jalan keselamatan bagi manusia.[6]
Jumat Agung diperingati pada hari Jumat sebelum Minggu Paskah. Tanggalnya berubah setiap tahun karena mengikuti perhitungan kalender lunar dan jatuh antara 20 Maret hingga 23 April. Pada tahun 2026, Jumat Agung jatuh pada tanggal 3 April.[1]
Jumat Agung adalah bagian dari Trihari Suci Paskah bersama Kamis Putih dan Sabtu Suci. Hari ini mengenang kematian Yesus, sementara Paskah merayakan kebangkitan-Nya pada hari ketiga. Tanpa pengorbanan di Jumat Agung, tidak akan ada kemenangan atas dosa dan kematian yang dirayakan pada Paskah.[4]
Tradisi umum meliputi menghadiri ibadah khusus di gereja, berpuasa, berdoa Jalan Salib (Stations of the Cross), dan melakukan perenungan rohani. Di beberapa negara, terdapat tradisi unik seperti prosesi jalanan di Spanyol, menerbangkan layang-layang di Bermuda, serta memakan hot cross buns di Inggris.[4]
Ya, Jumat Agung merupakan hari libur nasional di Indonesia yang dikenal dengan nama resmi Hari Wafat Isa Al-Masih. Penetapan ini mencerminkan penghormatan terhadap keberagaman agama di Indonesia dan memberikan kesempatan bagi umat Kristiani untuk menjalankan ibadah dengan khidmat.[9]
Tujuh Sabda Terakhir adalah tujuh pernyataan yang diucapkan Yesus saat di kayu salib, dikumpulkan dari empat Injil kanonik. Ketujuh sabda ini merangkum tema pengampunan, keselamatan, hubungan kasih, keputusasaan, penderitaan, kemenangan, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Tradisi merenungkan sabda-sabda ini dimulai pada abad ke-17 dan menjadi bagian penting dari ibadah Jumat Agung hingga saat ini.[5]
Daftar Referensi
(kpl/fed)