Arti Minggu Palma dan Maknanya bagi Umat Kristiani Lengkap dengan Sejarah serta Tradisinya
arti minggu palma (h)
Kapanlagi.com - Arti Minggu Palma merujuk pada peringatan masuknya Yesus Kristus ke kota Yerusalem secara penuh kemenangan, sebuah peristiwa yang tercatat dalam keempat Injil kanonik.[1] Perayaan ini jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah dan menandai dimulainya Pekan Suci dalam kalender liturgi Kristiani.[1]
Nama Minggu Palma berasal dari ranting-ranting daun palma yang dilambai-lambaikan oleh orang banyak untuk menyambut dan menghormati Yesus saat memasuki kota.[1] Umat menyerukan "Hosana!" sambil menghamparkan pakaian dan ranting dedaunan di jalan yang dilalui-Nya sebagai bentuk penghormatan tertinggi.[1]
Menurut Britannica, arti Minggu Palma memiliki dimensi ganda yang menyeimbangkan pengakuan sukacita terhadap Yesus sebagai raja dengan antisipasi akan penderitaan dan penyaliban-Nya pada Jumat Agung.[1] Perayaan ini menjadi momen penting bagi umat Kristiani untuk merenungkan perjalanan terakhir Yesus menjelang pengorbanan-Nya di kayu salib, sebagaimana juga dikenal dalam rangkaian Pekan Suci yang mencakup Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci.[9]
Advertisement
1. 1. Cara Memahami Pengertian Arti Minggu Palma dalam Tradisi Kristiani
Memahami arti Minggu Palma secara mendalam memerlukan penelusuran terhadap konteks Alkitabiah dan tradisi gereja yang telah berlangsung selama berabad-abad. Perayaan ini bukan sekadar ritual seremonial, melainkan memiliki fondasi teologis yang kuat dalam keempat kitab Injil.[1]
Pelajari konteks Alkitabiah dari empat Injil: Peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem tercatat dalam Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, Lukas 19:28-44, dan Yohanes 12:12-19.[1] Masing-masing Injil menyampaikan perspektif berbeda namun saling melengkapi tentang peristiwa tersebut.
Pahami bahwa Minggu Palma membuka Pekan Suci: Dalam tradisi Kristiani Barat, hari ini merupakan awal dari minggu terakhir masa Prapaskah yang mendahului Paskah.[2] Di gereja-gereja Timur, Pekan Suci dimulai setelah berakhirnya Masa Puasa Besar.
Kenali sebutan resmi perayaan ini: Secara resmi, hari ini juga disebut Dominica in Palmis de Passione Domini atau Minggu Palma Sengsara Tuhan, yang menggabungkan aspek kemenangan dan penderitaan dalam satu perayaan.[1]
Sadari makna ganda perayaan ini: Minggu Palma menghubungkan perayaan sukacita atas masuknya Yesus ke Yerusalem dengan keseriusan penyaliban dan kebangkitan-Nya, sehingga mempersiapkan umat secara spiritual untuk menyambut Paskah.[6]
Bagi umat Kristiani di Indonesia, pemahaman arti Minggu Palma ini menjadi landasan penting dalam menghayati perjalanan iman selama Pekan Suci.
2. 2. Cara Mengenali Simbolisme Daun Palma dalam Perayaan Minggu Palma
Daun palma merupakan simbol sentral yang memberikan nama bagi perayaan ini. Mengenali makna di balik daun palma akan memperdalam penghayatan terhadap arti Minggu Palma secara menyeluruh.
Ketahui bahwa hanya Injil Yohanes yang menyebut daun palma secara eksplisit: Dalam Yohanes 12:13, dikisahkan bahwa orang banyak mengambil daun-daun palem untuk menyongsong Yesus.[2] Injil Sinoptik lainnya menyebut ranting-ranting pohon atau pakaian yang dihamparkan di jalan.
Pahami simbolisme palma dalam budaya Yunani-Romawi: Dalam kebudayaan Kekaisaran Romawi, ranting palma merupakan simbol kemenangan dan kejayaan yang menjadi atribut utama dewi Nike atau Victoria.[2] Makna ini turut memengaruhi tradisi Kristiani.
Kenali makna palma dalam tradisi Mesir kuno: Dalam agama Mesir kuno, daun palma dibawa dalam prosesi pemakaman dan melambangkan kehidupan kekal.[2] Simbol ini kemudian diadopsi sebagai lambang kemenangan spiritual para martir Kristen atas kematian.
Pahami tradisi daun palma setelah perayaan: Daun palma yang telah diberkati biasanya disimpan sebagai pengingat kemenangan Kristus sepanjang tahun, atau dibakar untuk menghasilkan abu yang digunakan dalam perayaan Rabu Abu di tahun berikutnya.[7]
Ketahui bahwa palma juga bisa dibentuk menjadi salib: Di banyak gereja, daun palma sering dianyam menjadi bentuk salib sederhana atau bentuk dekoratif lainnya sebagai sarana devosi dan pengingat visual akan Sengsara Kristus.[1]
Ranting palma yang dilambai-lambaikan pada hari itu secara simbolis menggambarkan pujian, kemuliaan, kemenangan, dan damai, sebagaimana juga tercermin dalam Kitab Wahyu 7:9-10 di mana orang banyak berdiri di hadapan takhta sambil memegang daun-daun palem.
3. 3. Cara Memaknai Keledai sebagai Simbol Perdamaian pada Minggu Palma
Salah satu elemen penting dalam memahami arti Minggu Palma adalah pilihan Yesus untuk menunggangi seekor keledai, bukan kuda perang. Keputusan ini mengandung makna teologis yang sangat dalam.
Pahami konteks budaya Timur Dekat kuno: Di dunia kuno Timur Dekat, ketika seorang raja menunggangi kuda memasuki sebuah kota, itu berarti perang; namun ketika ia menunggangi keledai, artinya ia datang dalam damai.[3] Yesus secara sadar memilih keledai sebagai pernyataan misi-Nya.
Kenali kerendahan hati yang terkandung: Berbeda dengan citra kuda perang yang gagah, keledai adalah hewan sederhana yang digunakan oleh rakyat biasa.[4] Pilihan ini menegaskan bahwa Kerajaan-Nya bukan tentang kuasa duniawi, melainkan tentang kasih, pengorbanan, dan penebusan.
Perhatikan detail keledai muda yang belum pernah ditunggangi: Menurut Injil Markus 11:2, keledai yang digunakan Yesus belum pernah ditunggangi siapa pun.[3] Dalam budaya Yahudi, hewan yang disisihkan untuk tujuan sakral adalah hewan yang belum pernah dipakai, merujuk pada Bilangan 19:2.
Hubungkan dengan tradisi raja-raja Israel: Cara Yesus memasuki Yerusalem serupa dengan cara Salomo memasuki kota saat diurapi menjadi raja, yaitu dengan menunggangi keledai (1 Raja-raja 1:38).[3] Pesan yang disampaikan adalah bahwa Raja Mesianik telah memasuki kota suci Allah.
Baca juga: Nama Baptis dan Maknanya dalam Kehidupan Kristiani
4. 4. Cara Memahami Makna Seruan "Hosana" pada Minggu Palma
Seruan "Hosana!" yang dikumandangkan oleh orang banyak pada Minggu Palma pertama memiliki arti yang jauh lebih dalam dari sekadar pujian. Memahami makna kata ini akan memberikan perspektif baru tentang arti Minggu Palma.
Ketahui arti harfiah kata "Hosana": Kata "Hosana" berasal dari dua kata Ibrani, yaitu hosha (selamatkan) dan na (mohon), sehingga secara harfiah berarti "selamatkan sekarang" atau "mohon selamatkanlah."[8] Elder Gerrit W. Gong pernah menjelaskan, "Hosana berarti 'selamatkan sekarang.'"[8]
Pahami kaitan dengan Mazmur 118:25-26: Orang banyak yang menyerukan "Hosana bagi Anak Daud!" sebenarnya sedang mengutip Mazmur 118:25-26, sebuah nubuat Mesianik yang telah diakui.[4] Ini menunjukkan bahwa mereka mengenali Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan.
Sadari pergeseran makna kata: Seiring waktu, kata "Hosana" yang awalnya merupakan permohonan keselamatan bertransformasi menjadi seruan pujian dan perayaan.[8] Kedua dimensi ini saling melengkapi dalam konteks Minggu Palma.
Renungkan hubungan antara Hosana dan Haleluya: Elder Gong juga menjelaskan bahwa "peristiwa-peristiwa sakral antara Minggu Palma dan Minggu Paskah adalah kisah Hosana dan Haleluya. Hosana adalah permohonan kita agar Tuhan menyelamatkan. Haleluya mengekspresikan pujian kita kepada Tuhan atas harapan keselamatan."[8]
Memahami makna "Hosana" juga dapat memperkaya penghayatan saat membaca ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan peristiwa Minggu Palma.
5. 5. Cara Menghayati Genapnya Nubuatan Zakharia dalam Minggu Palma
Peristiwa Minggu Palma bukan kejadian spontan, melainkan penggenapan nubuatan yang telah dinyatakan ratusan tahun sebelumnya. Menghayati aspek profetis ini akan semakin memperkaya pemahaman tentang arti Minggu Palma.
Baca nubuatan dalam Zakharia 9:9: Nabi Zakharia menubuatkan, "Bersorak-sorailah dengan nyaring, hai puteri Sion! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai."[3] Nubuatan ini ditulis sekitar 450-500 tahun sebelum kedatangan Yesus ke Yerusalem.
Perhatikan detail penggenapannya: Yesus secara sadar mengatur agar para murid-Nya membawakan seekor keledai muda karena Ia perlu menggenapi nubuatan Zakharia 9:9.[3] Tindakan ini merupakan pernyataan publik bahwa Ia adalah Raja yang telah lama ditunggu-tunggu.
Pahami karakter raja yang dinubuatkan: Kata Ibrani ani yang digunakan Zakharia untuk menggambarkan sang raja mengandung konotasi kelemah-lembutan dan kerendahan hati.[3] Yesus bukan sekadar menunjukkan kebajikan kerendahan hati, melainkan menyatakan hakikat Kerajaan-Nya.
Hubungkan dengan Zakharia 9:10: Ayat selanjutnya menyatakan bahwa sang raja akan "memberitakan damai kepada bangsa-bangsa" dan kekuasaan-Nya akan meliputi seluruh bumi.[3] Ini menegaskan bahwa misi Yesus bersifat universal dan penuh perdamaian.
Baca juga: Arti Nama Immanuel dan Makna Teologisnya
6. 6. Cara Merayakan Minggu Palma dalam Ibadah Gereja Modern
Perayaan Minggu Palma di gereja-gereja modern memadukan tradisi kuno dengan praktik kontemporer. Berikut cara umat Kristiani merayakan hari yang penuh makna ini untuk menghayati arti Minggu Palma.
Ikuti prosesi pemberkatan dan perarakan palma: Imam atau pendeta memberkati daun-daun palma dan mendistribusikannya kepada jemaat, yang kemudian digunakan dalam prosesi perarakan menuju gereja untuk mengenang masuknya Yesus ke Yerusalem.[1]
Dengarkan pembacaan Kisah Sengsara (Passio): Ibadah Minggu Palma juga mencakup pembacaan Kisah Sengsara Tuhan yang dibacakan atau dinyanyikan sesuai dengan tahun liturgi yang berlaku.[7]
Lambaikan daun palma sambil bernyanyi: Keikutsertaan jemaat ditandai dengan melambaikan daun palma sambil menyanyikan lagu-lagu pujian yang mengenangkan sorak-sorai orang banyak menyambut kedatangan Yesus.[5]
Simpan atau manfaatkan palma yang telah diberkati: Daun palma yang diberkati bisa dibawa pulang dan diletakkan di dekat salib sebagai pengingat, atau disimpan untuk dibakar menjadi abu bagi perayaan Rabu Abu tahun berikutnya.[7]
Jadikan momen refleksi spiritual: Minggu Palma juga merupakan waktu untuk refleksi atas kasih pengorbanan Yesus Kristus dan awal perjalanan menuju Paskah, dengan tema kerendahan hati, pelayanan, dan keselamatan.[4]
Perayaan Minggu Palma merupakan bagian dari rangkaian hari-hari penting menjelang Paskah. Untuk mengetahui jadwal lengkap hari libur Paskah dan rangkaian ibadahnya, umat dapat merujuk pada kalender liturgi gereja masing-masing.
7. Sejarah Perayaan Minggu Palma dari Abad ke-4 hingga Kini
Perayaan Minggu Palma memiliki sejarah panjang yang bermula sejak abad ke-4 Masehi di Yerusalem. Menurut catatan Peregrinatio Etheriae, seorang peziarah bernama Egeria mendeskripsikan upacara liturgis yang sudah berlangsung di Yerusalem pada masa itu.[1] Umat biasanya berkumpul di Bukit Zaitun pada sore hari, mendengarkan pembacaan Injil tentang masuknya Yesus ke Yerusalem, lalu berarak menuju pusat kota sambil membawa ranting palma dan zaitun.
Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah Eropa secara bertahap. Perayaan serupa mulai diadakan di Spanyol pada abad ke-5, di Gallia (Prancis kuno) pada abad ke-7, dan di Roma pada abad ke-11.[1] Menurut Britannica, bukti paling awal mengenai upacara ini di Gereja Barat ditemukan dalam Bobbio Sacramentary yang berasal dari abad ke-8.[1]
Pada Abad Pertengahan, upacara pemberkatan palma menjadi sangat rumit dan megah. Prosesi dimulai dari satu gereja, berpindah ke gereja lain tempat palma diberkati, lalu kembali ke gereja asal untuk menyanyikan liturgi.[1] Liturgi yang mengikuti prosesi ini menampilkan nyanyian Kisah Sengsara Kristus oleh tiga diakon berdasarkan Injil Matius 26:36-27:54.[1]
Setelah reformasi liturgi Katolik Roma pada tahun 1955 dan 1969, upacara Minggu Palma disederhanakan untuk lebih menekankan penderitaan dan kematian Kristus.[1] Paus Fransiskus dalam homili Minggu Palma tahun 2019 pernah menyatakan, "Seruan sukacita atas masuknya Yesus ke Yerusalem, diikuti penghinaan-Nya. Teriakan meriah diikuti siksaan brutal. Misteri ganda ini menemani kita memasuki Pekan Suci setiap tahun."[1]
8. Tradisi Unik Minggu Palma di Berbagai Negara Dunia
Meskipun arti Minggu Palma seragam di seluruh dunia Kristiani, cara perayaannya sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain. Perbedaan ini terutama dipengaruhi oleh ketersediaan tanaman palma di masing-masing wilayah dan akulturasi dengan budaya lokal.[2]
Rusia dan Eropa Timur: Di Gereja Ortodoks Rusia dan Ukraina, ranting pussy willow (ranting berambut lembut) digunakan sebagai pengganti palma karena pohon palma tidak tumbuh di iklim dingin tersebut.[2]
Irlandia: Dalam iklim dingin Irlandia, daun yew (cemara), silver fir, atau cypress digunakan sebagai pengganti. Hari ini bahkan dikenal sebagai Domhnach an Iúir atau "Yew Sunday" dalam bahasa Irlandia.[2]
Italia: Daun palma digunakan bersama ranting zaitun kecil yang melimpah di iklim Mediterania. Ranting-ranting ini ditempatkan di pintu masuk rumah hingga Minggu Palma tahun berikutnya.[2]
Latvia: Minggu Palma disebut "Pussy Willow Sunday" di mana ranting willow yang melambangkan kehidupan baru diberkati dan dibagikan kepada umat.[2]
India Selatan (Kerala): Bunga-bunga ditaburkan di sekeliling altar saat pembacaan Injil, khususnya pada kata-kata sambutan orang banyak, "Hosana!" Tradisi ini mencerminkan adat perayaan India.[2]
Tanah Suci (Israel, Yordania, Lebanon): Peziarah Kristen menandai Minggu Palma dengan prosesi dari puncak Bukit Zaitun menuju Kota Tua Yerusalem sambil membawa ranting palma dan zaitun.[7]
Jerman: Secara historis, beberapa upacara di negara-negara berbahasa Jerman menggunakan patung Yesus menunggangi keledai yang disebut Palmesel (keledai palma) dalam prosesi meriah.[7]
Keanekaragaman tradisi ini menunjukkan bahwa meskipun jenis tanaman yang digunakan berbeda, esensi spiritual dan arti Minggu Palma tetap sama di seluruh dunia. Bagi keluarga Kristiani yang ingin mendalami tradisi iman, memahami keragaman perayaan ini bisa menjadi sumber inspirasi yang memperkaya.
9. Kontras Sukacita dan Sengsara dalam Minggu Palma
Salah satu aspek paling mendalam dari arti Minggu Palma adalah kontras tajam antara sukacita penyambutan dan kesengsaraan yang akan segera menyusul. Perayaan ini terdiri dari dua suasana yang sangat berbeda dan saling melengkapi.
Di bagian pertama, suasana penuh kegembiraan tercipta saat prosesi pemberkatan palma di luar gedung gereja. Jemaat berarak dengan meriah, melambai-lambaikan daun palma, dan menyanyikan lagu-lagu pujian yang mengenangkan sorak-sorai orang banyak menyambut Yesus sebagai Raja Damai.[6] Tradisi Minggu Palma berfokus pada nilai-nilai kerendahan hati, pelayanan, dan damai yang dicontohkan Yesus.[6]
Namun, suasana tersebut berubah drastis begitu memasuki gedung gereja. Dalam Liturgi Sabda, dibacakan Kisah Sengsara (Passio) yang mengisahkan penderitaan dan kematian Yesus.[7] Adegan ini mengingatkan bahwa orang-orang yang sama yang berteriak "Hosana!" akan segera berteriak "Salibkan Dia!" dalam waktu kurang dari seminggu.[1] Santo Bernard dari Clairvaux pernah merenungkan kontras ini, "Betapa berbedanya seruan 'Enyahkan dia, salibkan dia' dengan 'Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!' Betapa kontrasnya ranting-ranting hijau dengan salib, bunga-bunga dengan duri!"[1]
Kontras ini bukan sekadar ironi sejarah, melainkan pengingat bahwa di balik kemeriahan penyambutan, ada penderitaan yang harus ditanggung Yesus demi penebusan dosa umat manusia. Sebagaimana dinyatakan oleh Presiden Dieter F. Uchtdorf, "Sungguh tepat bahwa selama pekan dari Minggu Palma hingga pagi Paskah, kita mengarahkan pikiran kita kepada Yesus Kristus, sumber terang, kehidupan, dan kasih."[8]
10. Hubungan Minggu Palma dengan Pekan Suci dan Paskah
Minggu Palma tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan pintu gerbang menuju rangkaian perayaan paling sakral dalam kalender liturgi Kristiani. Memahami posisinya dalam konteks Pekan Suci akan memberikan gambaran utuh tentang arti Minggu Palma bagi iman Kristiani.
Rabu Suci: Hari ini menjadi pengingat akan saat-saat menjelang penderitaan Yesus, termasuk ketika Ia mulai ditinggalkan oleh para pengikut-Nya. Beberapa gereja mengadakan ibadat Tenebrae yang ditandai dengan pemadaman lilin secara bertahap.
Kamis Putih: Hari ini mengenangkan Perjamuan Terakhir bersama para rasul dan pembasuhan kaki sebagai simbol kerendahan hati. Di malam itu pula, Yesus menubuatkan pengkhianatan oleh salah satu murid-Nya.[9]
Jumat Agung: Hari mengenang penderitaan Yesus mulai dari pengadilan, penyiksaan, hingga penyaliban dan penguburan-Nya.[9] Meskipun disebut "Agung", istilah ini merujuk pada makna spiritual yang mendalam tentang pengorbanan suci.
Sabtu Suci: Hari penutup Pekan Suci yang biasanya diperingati lewat Misa Malam Paskah, penuh simbol dari kegelapan menuju terang, dari kematian menuju kehidupan.
Minggu Paskah: Puncak dari seluruh rangkaian perayaan, yaitu kebangkitan Yesus pada hari ketiga setelah penyaliban-Nya, yang menjadi lambang kemenangan atas maut dan dosa.[9]
Tanggal Minggu Palma berubah setiap tahun karena mengikuti kalender lunar, sama seperti Paskah yang jatuh pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama sesudah ekuinoks musim semi.[4] Bagi yang ingin menikmati momen reflektif selama Pekan Suci, menonton film bertema Paskah bisa menjadi salah satu cara mendalami kisah iman ini. Sementara itu, nama-nama tokoh Alkitab yang terlibat dalam peristiwa ini pun kerap menjadi inspirasi penamaan anak.
11. Pelajaran Hidup dari Arti Minggu Palma untuk Kehidupan Sehari-hari
Arti Minggu Palma bukan hanya tentang peristiwa historis, melainkan juga mengandung pelajaran spiritual yang relevan untuk kehidupan sehari-hari. Perayaan ini mengajak setiap orang beriman untuk merenungkan bagaimana menyambut Yesus dalam hati, bukan hanya dengan seruan mulut, tetapi juga dengan kesediaan mengikuti-Nya melewati suka maupun duka.
Presiden Russell M. Nelson pernah menyampaikan ajakan yang sangat menyentuh, "Saya mengundang Anda menjadikan pekan yang akan datang ini benar-benar suci dengan mengingat — bukan hanya daun-daun palma yang dilambai-lambaikan untuk menghormati masuknya Yesus ke Yerusalem — tetapi dengan mengingat telapak tangan-Nya."[8] Perkataan ini merujuk pada janji Yesus Kristus dalam Yesaya 49:16 bahwa Ia telah menggoreskan umat-Nya di telapak tangan-Nya, sebuah jaminan bahwa Ia tidak akan pernah melupakan mereka.
Minggu Palma juga mengajarkan tentang bahaya iman yang bersifat kondisional, yaitu iman yang hanya berseru "Hosana" ketika keadaan sesuai harapan, tetapi goyah ketika menghadapi tantangan.[3] Iman sejati, sebagaimana digambarkan dalam Ibrani 11:1, adalah keyakinan akan hal-hal yang diharapkan dan bukti dari hal-hal yang tidak terlihat. Perayaan ini mengajak umat untuk bergerak dari iman yang sekadar melambaikan palma menuju kepercayaan yang mendalam pada rencana Tuhan.[3]
Nilai-nilai kerendahan hati, pelayanan, dan perdamaian yang dicontohkan Yesus pada Minggu Palma tetap relevan di era modern. Keputusan-Nya untuk datang dengan damai di atas keledai, bukan dengan kekuatan militer di atas kuda perang, menginspirasi umat untuk mencari solusi perdamaian dalam setiap konflik kehidupan. Tradisi iman Kristiani mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kasih dan pengorbanan, bukan pada dominasi. Bagi orang tua Kristiani yang ingin mewariskan nilai-nilai ini, memberikan nama bermakna dari Alkitab kepada anak bisa menjadi salah satu ungkapan harapan dan doa.
12. FAQ
Apa arti Minggu Palma dalam tradisi Kristiani?
Arti Minggu Palma adalah peringatan masuknya Yesus Kristus ke kota Yerusalem secara penuh kemenangan pada hari Minggu sebelum Paskah. Perayaan ini menandai dimulainya Pekan Suci dan dinamai berdasarkan daun-daun palma yang dilambai-lambaikan orang banyak untuk menyambut-Nya.[1]
Mengapa daun palma digunakan pada Minggu Palma?
Daun palma digunakan karena merupakan simbol kemenangan dan perdamaian dalam budaya Yunani-Romawi kuno.[2] Dalam konteks Alkitab, Injil Yohanes 12:13 mencatat bahwa orang banyak mengambil daun-daun palem untuk menyongsong Yesus, menjadikannya simbol utama perayaan ini.
Mengapa Yesus menunggangi keledai dan bukan kuda pada Minggu Palma?
Yesus menunggangi keledai sebagai simbol perdamaian dan kerendahan hati. Di zaman kuno, raja yang menunggangi kuda berarti datang untuk berperang, sedangkan raja yang menunggangi keledai berarti datang dalam damai.[3] Tindakan ini juga menggenapi nubuatan Nabi Zakharia 9:9.
Apa makna seruan "Hosana" pada Minggu Palma?
Kata "Hosana" berasal dari bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti "selamatkan sekarang" atau "mohon selamatkanlah."[8] Orang banyak menyerukan kata ini sebagai bentuk pengakuan terhadap Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan dan permohonan keselamatan.
Apa yang dilakukan dengan daun palma setelah perayaan Minggu Palma?
Daun palma yang telah diberkati biasanya dibawa pulang oleh umat dan disimpan sebagai pengingat kemenangan Kristus. Pada tahun berikutnya, daun palma kering tersebut dikumpulkan dan dibakar untuk menghasilkan abu yang digunakan dalam perayaan Rabu Abu.[7]
Apakah semua gereja Kristiani merayakan Minggu Palma dengan cara yang sama?
Tidak, cara perayaan Minggu Palma bervariasi antar denominasi dan budaya. Gereja Katolik Roma memiliki prosesi pemberkatan palma yang terstruktur, Gereja Ortodoks menggunakan liturgi Bizantium dengan arak-arakan ikon, sementara sebagian besar gereja Protestan merayakannya dengan ibadah khusus yang membagikan daun palma kepada jemaat.[1]
Kapan Minggu Palma dirayakan setiap tahunnya?
Minggu Palma selalu jatuh tepat satu minggu sebelum Minggu Paskah. Tanggalnya berubah setiap tahun karena mengikuti kalender lunar, di mana Paskah diperingati pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama setelah ekuinoks musim semi, sehingga bisa jatuh antara 22 Maret hingga 25 April.[4]
Daftar Referensi
- Britannica. Palm Sunday | Christianity, Jesus, Bible, Meaning, Facts, Scripture, & Significance. Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://www.britannica.com/topic/Palm-Sunday
- Wikipedia. Palm Sunday. Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Palm_Sunday
- Christianity.com. What is Palm Sunday? Bible Story and Guide. Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://www.christianity.com/wiki/holidays/what-is-palm-sunday-bible-story-and-meaning-today.html
- Bible Study Tools. Palm Sunday: A Biblical Guide to Its Meaning and Observing the Start of Holy Week. Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://www.biblestudytools.com/bible-study/topical-studies/what-is-the-meaning-of-palm-sunday-and-why-celebrate-it.html
- Catholic Online. Palm Sunday – Easter / Lent. Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://www.catholic.org/lent/palmsunday.php
- Baylor University. Palm Sunday—Remembering Jesus. Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://magazine.web.baylor.edu/news/story/2025/palm-sunday-remembering-jesus
- KUNC. What Is Palm Sunday? Why Is the Donkey Important to the Story? And How Is It Celebrated Worldwide? Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://www.kunc.org/news/2024-03-31/what-is-palm-sunday-why-is-the-donkey-important-to-the-story-and-how-is-it-celebrated-worldwide
- The Church of Jesus Christ Newsroom. What Is Palm Sunday and Why Does It Matter to Latter-day Saints? Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://newsroom.churchofjesuschrist.org/article/what-is-palm-sunday-and-why-does-it-matter-to-latter-day-saints
- Kapanlagi.com. Mengenal Istilah Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah. Diakses pada 27 Maret 2026, dari https://plus.kapanlagi.com/mengenal-istilah-kamis-putih-jumat-agung-dan-paskah-c95c7a.html
(kpl/fds)
Advertisement
D Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8