Kapanlagi.com - Ayam pop merupakan salah satu hidangan khas Minang yang populer di rumah makan Padang. Berbeda dengan masakan Padang lainnya yang berwarna merah atau kuning dengan bumbu berlimpah, ayam pop memiliki tampilan pucat putih namun menyimpan cita rasa gurih yang istimewa.
Keunikan ayam pop terletak pada proses memasaknya yang menggunakan air kelapa dan bumbu minimalis. Hidangan ini pertama kali diperkenalkan oleh Rumah Makan Family Benteng di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan kini menjadi menu favorit di berbagai restoran Minang.
Cara memasak ayam pop sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan meskipun membutuhkan waktu cukup lama. Dengan mengikuti langkah-langkah yang tepat, Anda dapat menghasilkan ayam pop yang empuk dengan rasa gurih legit khas air kelapa yang sempurna untuk disantap bersama sambal dan nasi hangat.
Ayam pop adalah hidangan ayam khas Minangkabau yang dimasak dengan teknik perebusan menggunakan air kelapa dan bumbu rempah sederhana. Nama "pop" sendiri berasal dari bahasa Belanda "poppen" yang berarti boneka, merujuk pada warna ayam yang pucat putih seperti boneka porselen setelah dimasak.
Karakteristik utama ayam pop terletak pada warnanya yang putih pucat, berbeda dengan ayam goreng pada umumnya yang berwarna kecokelatan. Tekstur dagingnya empuk dan lembut dengan cita rasa gurih manis yang khas. Rasa gurih ini berasal dari air kelapa yang meresap sempurna ke dalam daging ayam selama proses perebusan yang cukup lama.
Proses memasak ayam pop memerlukan kesabaran karena ayam harus direbus hingga empuk dan bumbu meresap sempurna. Setelah direbus, ayam digoreng sebentar dengan api sedang agar bagian luarnya sedikit kering namun tidak sampai berwarna kecokelatan. Teknik penggorengan yang singkat ini menjadi kunci agar ayam tetap mempertahankan warna putihnya yang khas.
Ayam pop biasanya disajikan dengan sambal lado tanak (sambal kukus) yang berwarna merah oranye dan lalap daun singkong rebus. Kombinasi ayam yang gurih dengan sambal yang pedas asam menciptakan harmoni rasa yang sempurna. Hidangan ini sangat cocok dinikmati dengan nasi putih hangat sebagai menu makan siang atau makan malam.
Untuk membuat ayam pop yang lezat, Anda memerlukan bahan-bahan berkualitas dengan komposisi yang tepat. Pemilihan jenis ayam sangat menentukan hasil akhir masakan ini.
Proses memasak ayam pop memerlukan beberapa tahapan penting yang harus dilakukan dengan teliti. Setiap langkah memiliki peran penting dalam menghasilkan ayam pop yang sempurna.
Pemilihan jenis ayam sangat mempengaruhi hasil akhir masakan ayam pop. Setiap jenis ayam memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal tekstur, rasa, dan waktu memasak.
Ayam pop tidak lengkap tanpa sambal lado tanak atau sambal kukus yang menjadi pasangan sempurnanya. Sambal ini memiliki warna merah oranye dengan rasa pedas asam yang menyegarkan.
Penyajian ayam pop yang autentik melibatkan beberapa pelengkap yang menyempurnakan cita rasa hidangan ini. Kombinasi yang tepat akan menghadirkan pengalaman kuliner khas Minang yang otentik.
Waktu memasak ayam pop berkisar antara 1 hingga 1,5 jam, tergantung jenis ayam yang digunakan. Ayam kampung membutuhkan waktu lebih lama sekitar 1 jam atau lebih, sedangkan ayam pejantan bisa matang dalam 45 menit hingga 1 jam. Waktu ini belum termasuk persiapan bahan dan perendaman ayam dengan jeruk nipis yang membutuhkan 30 menit tambahan.
Air kelapa adalah bahan kunci yang memberikan cita rasa khas pada ayam pop. Air kelapa memberikan rasa gurih legit dan sedikit asam yang menjadi karakteristik utama hidangan ini. Jika tidak ada air kelapa segar, Anda bisa menggunakan air kelapa kemasan, namun pastikan memilih yang tanpa tambahan gula. Mengganti air kelapa dengan air biasa akan menghasilkan rasa yang sangat berbeda dan tidak autentik.
Penggorengan singkat pada ayam pop bertujuan untuk mengeringkan permukaan ayam tanpa mengubah warnanya menjadi kecokelatan. Ciri khas ayam pop adalah warna putih pucat yang dipertahankan dengan menggoreng hanya 2-3 menit per sisi menggunakan api sedang. Jika digoreng terlalu lama, ayam akan kehilangan karakteristik warna putihnya dan teksturnya menjadi terlalu kering.
Dalam tradisi Minang yang autentik, kulit ayam biasanya dikupas untuk mengurangi lemak berlebih dan mendapatkan tekstur yang lebih kering. Namun, ini bukan keharusan mutlak. Anda bisa mempertahankan kulit ayam jika menyukai tekstur yang lebih lembut dan rasa yang lebih gurih. Keputusan mengupas atau mempertahankan kulit tergantung pada preferensi pribadi.
Perbedaan utama terletak pada proses memasak dan bahan yang digunakan. Ayam pop direbus dengan air kelapa dan bumbu rempah hingga empuk, kemudian digoreng sebentar, sehingga berwarna putih pucat. Ayam goreng biasa langsung digoreng atau diungkep dengan bumbu kemudian digoreng hingga kecokelatan. Rasa ayam pop lebih gurih legit dengan aroma air kelapa, sedangkan ayam goreng biasa memiliki rasa yang lebih kuat dari bumbu dan tekstur yang lebih garing.
Ayam pop yang sudah matang bisa disimpan dalam wadah tertutup di kulkas hingga 2-3 hari. Pastikan ayam sudah dingin sebelum dimasukkan ke kulkas. Untuk penyimpanan lebih lama, ayam pop bisa dibekukan hingga 1 bulan. Saat akan dikonsumsi, panaskan kembali dengan cara digoreng sebentar atau dipanaskan dalam oven agar teksturnya tetap baik. Hindari memanaskan dengan microwave karena bisa membuat tekstur ayam menjadi lembek.
Sebaiknya hindari menggunakan ayam negeri (broiler) untuk membuat ayam pop karena dagingnya terlalu berlemak, berair, dan teksturnya terlalu lembek. Ayam negeri mudah hancur saat direbus lama dan tidak menghasilkan tekstur yang diinginkan. Pilihan terbaik adalah ayam kampung atau ayam pejantan yang memiliki tekstur daging lebih padat dan rasa lebih gurih, sesuai dengan karakteristik ayam pop yang autentik.