Kapanlagi.com - Bengkuang merupakan tanaman umbi-umbian yang populer di Indonesia dengan kandungan air tinggi dan rasa yang segar. Tanaman yang berasal dari Amerika Tengah ini memiliki banyak manfaat, baik untuk kesehatan maupun kecantikan, sehingga permintaan pasarnya terus meningkat.
Budidaya bengkuang sebenarnya tidak terlalu rumit dan bisa dilakukan di pekarangan rumah. Dengan teknik penanaman yang tepat, siapa saja dapat membudidayakan tanaman ini dan menikmati hasil panen yang melimpah dalam waktu sekitar 4 bulan.
Menurut Cybext Kementerian Pertanian, bengkuang dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 200-800 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan yang cukup. Tanaman ini menghendaki tanah yang gembur dan kaya bahan organik untuk pertumbuhan umbi yang optimal.
Advertisement
Bengkuang atau Pachyrhizus erosus adalah tanaman umbi-umbian yang memiliki nama Inggris jicama atau dalam bahasa Spanyol disebut heekahmah. Nama ini berasal dari bahasa Nahuatl (bahasa Aztec) yaitu xicamatl. Tanaman ini sering disebut juga sebagai Mexican Potato atau Mexican Turnip sesuai dengan daerah asalnya.
Tanaman bengkuang memiliki karakteristik batang yang pendek sekitar 1-2 meter dengan sifat menjalar dan membelit. Daunnya berbentuk majemuk dengan 3 helai per tangkai daun. Bunga bengkuang berkumpul dalam tandan di ujung atau ketiak daun dengan panjang hingga 60 cm. Buahnya berbentuk polong pipih dengan panjang 8-13 cm yang berisi 4-9 butir biji.
Umbi bengkuang yang dipanen untuk dikonsumsi segar harus dipanen pada tahun pertama sejak penanaman. Umbi ini memiliki kulit berwarna coklat dengan daging buah berwarna putih yang kaya akan kandungan air. Bengkuang mengandung inulin, serat, vitamin C, flavonoid, dan saponin yang bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan kalorinya juga rendah, hanya sekitar 39 kkal per 100 gram, sehingga cocok untuk program diet.
Di Indonesia, bengkuang banyak dibudidayakan di kawasan Bogor dan sekitarnya karena curah hujan yang merata sepanjang tahun. Tanaman ini dapat tumbuh optimal pada lahan dengan sinar matahari penuh dan tanah vulkanis yang kaya bahan organik. Selain dikonsumsi segar atau sebagai bahan rujak, bengkuang juga sering diolah menjadi produk kecantikan karena khasiatnya untuk menghaluskan dan menyehatkan kulit.
Pemilihan benih berkualitas merupakan langkah awal yang sangat penting dalam budidaya bengkuang. Benih yang baik akan menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman dan kualitas hasil panen yang diperoleh.
Menurut artikel "How to Grow Jicama (Mexican Yam Bean)" dari Harvest to Table, benih bengkuang yang berasal dari tanaman sehat dengan produktivitas tinggi akan mempercepat proses pertumbuhan dan meningkatkan peluang keberhasilan penanaman.
Tahap penyemaian merupakan proses penting untuk menghasilkan bibit bengkuang yang kuat dan siap ditanam di lahan. Penyemaian yang benar akan menghasilkan bibit berkualitas dengan tingkat keberhasilan tumbuh yang tinggi.
Proses penyemaian biasanya memakan waktu sekitar 2-3 minggu tergantung kondisi lingkungan dan kualitas benih. Selama masa ini, perhatikan dengan seksama perkembangan bibit untuk memastikan pertumbuhan yang optimal sebelum dipindahkan ke lahan permanen.
Persiapan lahan yang baik akan mendukung pertumbuhan umbi bengkuang secara optimal. Tanah yang gembur dan kaya nutrisi menjadi kunci keberhasilan budidaya bengkuang dengan hasil panen yang maksimal.
Menurut "Planting and Growing Jicama" dari Gardening Know How, bengkuang membutuhkan tanah dengan drainase baik untuk menghindari genangan air yang dapat menyebabkan umbi membusuk. Tanah vulkanis dengan kandungan bahan organik tinggi merupakan media tanam ideal untuk budidaya bengkuang.
Waktu yang baik untuk memulai persiapan lahan adalah antara bulan September hingga November, terutama di daerah dengan musim hujan yang terkonsentrasi. Di kawasan dengan curah hujan merata sepanjang tahun seperti Bogor, penanaman bengkuang dapat dilakukan kapan saja.
Setelah bibit dan lahan siap, tahap selanjutnya adalah penanaman bibit ke lahan dan melakukan perawatan rutin. Perawatan yang konsisten akan menghasilkan tanaman bengkuang yang sehat dengan umbi berkualitas baik.
Perawatan yang konsisten dan pemangkasan bunga secara teratur merupakan kunci utama keberhasilan budidaya bengkuang. Tanaman yang dirawat dengan baik akan menghasilkan umbi berukuran besar dengan kualitas yang optimal untuk dikonsumsi atau dijual.
Bengkuang dapat dipanen setelah berusia 4-10 bulan tergantung tujuan penggunaannya. Umbi yang akan dikonsumsi segar sebaiknya dipanen pada usia 4-8 bulan, sedangkan untuk diambil patinya harus dipelihara minimal 2 tahun.
Hasil panen bengkuang sangat dipengaruhi oleh musim. Meskipun bisa dibudidayakan sepanjang tahun, petani di sekitar Bogor lebih memilih waktu panen yang bertepatan dengan musim kemarau karena minat masyarakat untuk membeli bengkuang lebih tinggi. Pada musim penghujan, permintaan bengkuang cenderung menurun karena orang lebih menyukai buah-buahan yang segar untuk rujak.
Bengkuang hasil panen dapat langsung dijual ke pasar, diolah menjadi berbagai produk makanan seperti rujak atau lumpia, atau dijadikan bahan baku kosmetik. Untuk keperluan kosmetik, pilih bengkuang yang benar-benar sudah tua karena kandungan nutrisinya lebih tinggi dan efektif untuk menghaluskan serta menyehatkan kulit wajah.
Bengkuang dapat dipanen pada usia 4-8 bulan setelah penanaman bibit untuk konsumsi segar. Tanda-tanda siap panen adalah daun mulai menguning dan mengering. Untuk hasil optimal, panen dilakukan pada usia 4-6 bulan ketika umbi sudah berukuran besar namun masih segar dan renyah.
Ya, bengkuang dapat ditanam di pot atau polybag dengan ukuran yang cukup besar, minimal diameter 40 cm dan kedalaman 50 cm. Gunakan media tanam berupa campuran tanah, kompos, dan pasir dengan perbandingan seimbang. Pastikan pot memiliki lubang drainase yang baik dan letakkan di tempat yang mendapat sinar matahari penuh.
Pemangkasan bunga sangat penting karena bengkuang hanya akan menghasilkan umbi jika semua bunganya dibuang. Jika bunga dibiarkan tumbuh menjadi polong, energi tanaman akan terfokus pada pembentukan biji sehingga umbi tidak akan terbentuk atau ukurannya sangat kecil. Pangkas bunga ketika tanaman berusia 6-7 minggu.
Bengkuang cocok ditanam pada tanah yang gembur, subur, dan kaya bahan organik dengan drainase yang baik. Tanah vulkanis merupakan media tanam ideal untuk bengkuang. Hindari tanah yang terlalu liat atau mudah tergenang air karena dapat menyebabkan umbi membusuk. pH tanah yang ideal berkisar antara 5,5-7,0.
Benih berkualitas dapat diperoleh dengan membeli di toko pertanian atau membuat sendiri dari tanaman bengkuang yang sehat. Untuk membuat benih sendiri, biarkan 1-2 tanaman berbunga dan berbuah hingga menghasilkan polong. Panen polong yang sudah tua, keluarkan bijinya, lalu rendam dalam air garam selama 12 jam. Biji yang tenggelam menandakan kualitas unggul.
Bengkuang membutuhkan air yang cukup tetapi tidak berlebihan. Lakukan penyiraman secara teratur terutama pada musim kemarau untuk menjaga kelembaban tanah. Meskipun bengkuang dapat bertahan di tanah kering, penyiraman tetap penting untuk menjaga kesuburan tanaman dan kualitas umbi. Hindari genangan air yang dapat menyebabkan umbi membusuk.
Bengkuang relatif tahan terhadap hama dan penyakit. Namun, beberapa hama yang mungkin menyerang adalah ulat daun, kutu daun, dan tungau. Penyakit yang kadang muncul adalah busuk umbi akibat genangan air atau jamur. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga drainase lahan, melakukan penyiraman yang tepat, dan menggunakan pestisida organik jika diperlukan.
(kpl/fds)