Kapanlagi.com - Banyak orang baru menyadari besarnya peran orang tua setelah dewasa, dan pengaruh itu tampak dari kebiasaan kecil sehari-hari. Salah satu tanda orang dewasa terdidik orang tua adalah sikap yang tenang, sopan, dan bertanggung jawab, yang terbawa hingga sekarang.
Melansir dari penelitian Teresa Herzog dan rekan berjudul Trait Emotion, Emotional Regulation, and Parenting Styles (2015) di Journal of Educational and Developmental Psychology, pola asuh berkaitan dengan cara dewasa muda mengatur emosinya. Studi terhadap 153 dewasa muda itu menemukan bahwa pengasuhan yang hangat sekaligus tegas berkaitan dengan emosi positif yang lebih tinggi.
KL Lovers, tanda-tandanya tidak selalu besar dan mencolok. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam materi Pengasuhan Positif (2020) menyebut pengasuhan yang positif membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
Advertisement
Tanda pertama yang paling sering terlihat adalah kemampuan mengatur emosi. Orang dewasa yang dididik dengan baik biasanya tidak mudah meledak saat kecewa, dan mampu menarik napas sebelum merespons.
Sebuah kajian pustaka karya D. Kala berjudul Influence of Childhood Parenting Styles on Emotional Regulation and Relationship Functioning in Adulthood: A Review (2026) menyebut pengasuhan yang hangat dan terarah umumnya dikaitkan dengan regulasi emosi, kesadaran emosi, dan hubungan yang lebih baik. Sebaliknya, pola asuh otoriter, permisif, dan lalai dikaitkan dengan kesulitan mengelola emosi.
Contohnya, saat ditegur atasan, ia tidak langsung membela diri dengan nada tinggi. Ia mendengarkan dulu, baru menanggapi dengan kepala dingin.
Orang yang tumbuh dengan disiplin positif terbiasa belajar dari kesalahan, bukan menyembunyikannya. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Jawa Timur menyebut disiplin positif membangun anak atas kesalahan yang dibuatnya, bukan sekadar menghukum.
Karena itu, saat dewasa ia tidak sungkan berkata maaf. Ia juga tidak mencari kambing hitam ketika pekerjaan meleset. Sikap ini membuat orang di sekitarnya lebih percaya.
Kebiasaan ini terlihat sederhana, tetapi tidak semua orang mampu melakukannya. Dibutuhkan rasa aman sejak kecil agar seseorang berani mengakui kekeliruan tanpa takut dihakimi.
Ucapan terima kasih, kata tolong, dan sapaan ramah memang tampak sepele. Namun, kebiasaan itu biasanya ditularkan lewat teladan sehari-hari di rumah.
Menurut laman Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Jawa Timur, orang tua memberi gambaran perilaku yang baik lewat tutur kata yang lembut dan sikap menghargai orang lain. Anak pun belajar dengan meniru apa yang ia lihat.
Pada orang dewasa, hal ini tampak dari sikap yang sama kepada semua orang. Ia ramah kepada atasan, rekan kerja, hingga petugas kebersihan, tanpa memilih-milih.
Tanda berikutnya adalah rasa tanggung jawab. Laman yang sama menyebut pendisiplinan yang tepat dalam pengasuhan positif dapat mendorong anak mandiri mengambil keputusan serta bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Wujudnya sangat nyata pada orang dewasa. Ia menyelesaikan tugas tepat waktu, menepati janji, dan tidak melempar beban ke orang lain. Jika terjadi masalah, ia fokus mencari solusi.
Selain itu, ia paham bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi. Karena itu, ia lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan penting.
Orang dewasa yang dibimbing dengan baik biasanya tidak bergantung pada orang lain untuk hal-hal dasar. Ia terbiasa mengurus kebutuhannya sendiri dan berani mencoba hal baru.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Bantul menyebut bahwa memberi anak kesempatan mengambil keputusan, misalnya memilih pakaian atau camilan, melatih kemampuan memutuskan dan memahami akibat dari pilihan. Kebiasaan kecil itu kelak tumbuh menjadi rasa percaya diri.
Percaya diri di sini bukan berarti sombong. Ia tahu kemampuannya, tetapi tetap terbuka untuk belajar dan menerima masukan.
Orang dewasa yang dulu didengarkan pendapatnya cenderung tumbuh sebagai pendengar yang baik. Laman Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyebut bahwa mendengar pendapat anak membangun komunikasi dan kelekatan yang kuat antara orang tua dan anak.
Pada masa dewasa, ia tidak memotong pembicaraan, mau mendengar sudut pandang berbeda, dan mampu menyampaikan pendapat dengan jelas tanpa membentak. Kajian Kala (2026) juga mengaitkan pola asuh yang hangat dan terarah dengan komunikasi yang efektif.
Kemampuan ini sangat berguna dalam pekerjaan, pertemanan, maupun hubungan percintaan.
Konflik tidak selalu dihindari, tetapi juga tidak dihadapi dengan amarah. Orang dewasa yang dididik dengan baik biasanya mau membicarakan masalah secara terbuka dan mencari jalan tengah.
Kajian Kala (2026) mencatat bahwa pola asuh otoriter, permisif, dan lalai dikaitkan dengan kesulitan berkomunikasi, kecenderungan menghindari konflik, serta kepekaan terhadap penolakan. Artinya, pengasuhan yang hangat dan terarah memberi bekal untuk menghadapi perbedaan dengan lebih tenang.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia tidak memendam kekesalan berhari-hari. Ia memilih berbicara baik-baik, sambil tetap menghargai perasaan lawan bicara.
Kedisiplinan juga menjadi tanda yang sering muncul. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Bantul menganjurkan orang tua melatih anak mengelola waktu dan tanggung jawab sejak dini.
Anak yang terbiasa dengan rutinitas jelas akan membawa kebiasaan itu hingga dewasa. Ia datang tepat waktu, mencatat janji, dan mengabari jika berhalangan.
Sikap ini mungkin tampak biasa, tetapi dampaknya besar. Orang lain jadi merasa dihargai dan lebih mudah mempercayainya.
Tanda terakhir adalah kepedulian. Materi Pengasuhan Positif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020) menekankan pengasuhan yang berlandaskan kasih sayang dan saling menghargai.
Anak yang merasakan kasih sayang biasanya belajar menyayangi orang lain. Saat dewasa, ia peka terhadap kesulitan teman, mau membantu tanpa pamrih, dan tidak merendahkan orang yang berbeda dengannya.
Rasa peduli ini juga tampak dari hal sederhana, seperti menanyakan kabar atau menawarkan bantuan saat rekan kerja kewalahan.
KL Lovers tidak perlu merasa rendah diri jika belum memiliki semua tanda di atas. Penelitian Herzog dan rekan (2015) menunjukkan bahwa dampak gaya pengasuhan otoriter bergantung pada suasana emosional keluarga, sehingga hasilnya bisa berbeda pada tiap orang.
Penelitian tersebut juga bersifat hubungan, bukan sebab-akibat yang mutlak. Artinya, pola asuh bukan satu-satunya faktor yang membentuk seseorang. Lingkungan, teman, sekolah, dan pengalaman hidup ikut berperan.
Kabar baiknya, kebiasaan baik tetap bisa dilatih pada usia dewasa. Mulailah dari hal kecil, seperti menarik napas sebelum membalas pesan yang memancing emosi atau berlatih meminta maaf. Jika masa lalu terasa membebani, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi pilihan. Informasi ini tidak menggantikan saran tenaga profesional.
Agar lebih jelas, tabel berikut merangkum temuan dua kajian ilmiah tentang pola asuh dan kondisi emosi pada masa dewasa. Hasil ini menggambarkan kecenderungan, bukan kepastian bagi setiap orang.
| Pola Asuh | Kecenderungan pada Masa Dewasa | Sumber |
|---|---|---|
| Hangat dan terarah (authoritative) | Emosi positif lebih tinggi, regulasi emosi dan komunikasi lebih baik | Herzog dkk. (2015); Kala (2026) |
| Permisif | Berkaitan dengan emosi negatif yang lebih tinggi | Herzog dkk. (2015) |
| Otoriter | Hasilnya bergantung pada suasana emosional keluarga | Herzog dkk. (2015) |
| Otoriter, permisif, dan lalai | Dikaitkan dengan kesulitan mengelola emosi dan berkomunikasi | Kala (2026) |
Pada akhirnya, tanda orang dewasa terdidik orang tua tampak dari hal-hal kecil, mulai dari cara mengelola emosi hingga cara memperlakukan orang lain. Tanda-tanda ini bisa menjadi bahan refleksi diri, bukan alat untuk menghakimi.
Bagi KL Lovers yang kelak menjadi orang tua, pengasuhan yang hangat, tegas, dan penuh teladan menjadi bekal berharga bagi anak. Sementara bagi yang sedang belajar memperbaiki diri, tidak ada kata terlambat untuk mulai berubah.
Orang dewasa yang tumbuh dengan bimbingan, teladan, dan batasan jelas dari orang tua. Hasilnya tampak dari sikap seperti mengelola emosi, bersikap sopan, dan bertanggung jawab.
Tidak. Penelitian yang dikutip bersifat hubungan, bukan sebab-akibat mutlak. Lingkungan, teman, sekolah, dan pengalaman hidup juga berperan.
Pengasuhan yang hangat sekaligus terarah (authoritative). Kajian Kala (2026) mengaitkannya dengan regulasi emosi, komunikasi efektif, dan hubungan yang lebih baik.
Bisa. Mulailah dari hal kecil, seperti menarik napas sebelum membalas pesan yang memancing emosi atau berlatih meminta maaf.
Tidak. Tanda-tanda tersebut hanya gambaran umum untuk refleksi diri, karena latar belakang setiap orang berbeda.
(kpl/ibr)