Sinopsis 'GOWOK: KAMASUTRA JAWA' yang Dibintangi Reza Rahadian
Film terbaru GOWOK: KAMASUTRA JAWA hadir dengan kisah berlapis tentang cinta, dendam, serta tradisi Jawa yang penuh misteri. Disutradarai Hanung Bramantyo, film ini berani mengangkat praktik gowok, sebuah tradisi erotis kuno yang kontroversial namun sarat makna budaya.
Film ini tak sekadar menampilkan sisi sensualitas, melainkan juga pergulatan batin para tokohnya dalam menghadapi benturan antara cinta pribadi, dendam masa lalu, dan nilai tradisi yang membentuk hidup mereka. Dengan jajaran pemain papan atas seperti Lola Amaria, Raihaanun, Reza Rahadian, hingga Devano Danendra, kisahnya semakin hidup dan emosional.
Ikuti juga berita film GOWOK: KAMASUTRA JAWA lainnya di Liputan6.com
Lola Amaria kembali ke layar lebar memerankan Nyai Santi, seorang gowok legendaris yang bertugas memberikan pendidikan seksual tradisional bagi para pria muda sebelum menikah.
Nyai Santi memiliki anak angkat bernama Ratri, yang dijadikan muridnya. Diperankan oleh Alika Jantinia, Ratri menjadi pusat kisah perjalanan cinta, dendam, sekaligus pewarisan tradisi gowok.
Ratri remaja (Alika Jantinia) jatuh cinta pada Denmas Kamanjaya, bangsawan muda yang diperankan Devano Danendra. Namun hubungan mereka terlarang karena perbedaan status sosial dan keputusan Nyai Santi untuk memisahkan keduanya.
Patah hati, Ratri hancur ketika mengetahui bahwa Kamanjaya akhirnya menikah dengan perempuan lain. Luka ini menjadi awal dari dendam yang membekas dalam hidupnya.
Seiring berjalannya waktu, Ratri tumbuh dewasa. Diperankan oleh Raihaanun, ia mengambil alih peran sebagai penerus Nyai Santi, menjalani kehidupan baru dengan bayang-bayang masa lalu.
Kini Ratri dikenal sebagai Nyai Ratri, seorang gowok baru. Takdir membawanya kembali pada masa lalu ketika ia ditugaskan mendidik Bagas (Ali Fikry) yang ternyata adalah anak Denmas Kamanjaya, cinta pertama Ratri. Pertemuan ini membangkitkan luka lama sekaligus menjerumuskannya dalam dilema baru.
Hubungan Nyai Ratri dengan Bagas semakin rumit. Apa yang seharusnya menjadi ajaran tradisi berubah jadi keterikatan emosional yang penuh godaan dan konflik batin.
Ratri dihadapkan pada dilema besar, apakah ia akan membiarkan dendam masa lalu menguasainya, atau justru melepaskan perasaan demi menjaga tradisi dan tatanan adat Jawa yang sakral.