FILM INTERNASIONAL

'Downfall: The Case Against Boeing', Film Dokumenter Tentang Kecelakaan Lion Air yang Penuh Fakta Menarik

Senin, 14 Maret 2022 09:35 Penulis: Editor KapanLagi.com

source: Netflix

Kapanlagi.com - Ditulis oleh: Inas Arwina Ramadhani

Downfall: The Case Against Boeing merupakan film dokumenter yang mengungkap investigasi dua kecelakaan Boeing 737 MAX yang menewaskan 346 orang. Film ini disutradarai oleh Rory Kennedy.

Film Downfall: The Case Against Boeing ini berdurasi 1 jam 29 menit. Kamu bisa menyaksikannya di Netflix. Buat kamu yang penasaran seperti apa film-nya, bisa banget simak reviewnya di bawah ini..

1. Dua Kecelakaan Pesawat

Downfall: The Case Against Boeing merupakan film dokumenter berdasarkan tragedi di dunia nyata pada tahun 2018-2019 di mana ratusan orang meninggal dunia akibat jatuhnya dua pesawat.

Dua pesawat itu adalah Lion Air penerbangan 610 berasal dari Indonesia dan Ethiopian Airlines penerbangan 302 berasal dari Afrika Timur.

2. Penyebab Kecelakaan

Disebutkan dalam film bahwa penyebab kecelakaan Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines ET 302 adalah kegagalan pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

Sistem tersebut merupakan sensor otomatis yang membuat hidung pesawat menukik ke bawah.

3. Menghadirkan Beberapa Narasumber

Downfall menampilkan wawancara Garima Sethi istri kapten Lion Air, anggota keluarga penumpang korban, mantan karyawan Boeing, pilot berpengalaman, mantan reporter kedirgantaraan Wall Street Journal Andy Pasztor hingga politisi seperti Rep. Peter DeFazio, Ketua Komite Transportasi dan Infrastruktur.

4. Boeing Berusaha Menutupi Fakta

Cerita kemudian bergulir tentang bagaimana Boeing mengalami krisis PR karena upayanya menjaga reputasi dan menutup-nutupi fakta terkait pesawat Boeing 737 Max.

Berdasarkan hasil investigasi diketahui bahwa Boeing tidak memberikan informasi tentang sistem kontrol penerbangan (MCAS) kepada pilot.

5. Sinopsis Film Downfall: The Case Against Boeing

Alur film dokumenter ini dimulai dengan latar belakang adanya dua peristiwa kecelakaan pesawat yang menggemparkan dunia. Pertama, pesawat Lion Air bernomor penerbangan 610 yang jatuh di Laut Jawa pada tanggal 29 Oktober 2018.

Kedua, Pesawat Ethiopian Airlines dengan kode perbangan 301 yang jatuh di Addis Ababa pada bulan Maret 2019. Peristiwa jatuhnya Lion Air bernomor penerbangan 610 berkisar 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Udara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, Indonesia.

Kejadian ini kemudian menewaskan seluruh kru pesawat bersama penumpang sebanyak 189 orang. Sementara Ethiopian Airlines dengan kode perbangan 301 juga jatuh setelah beberapa waktu lepas landas. Peristiwa ini menewaskan sebanyak 157 orang dari awak pesawat dan penumpang.

Terdapat hal unik dari dua kejadian ini, di mana kedua pesawat merupakan jenis Boeing 737 Max buatan perusahaan Boeing. Selain itu, jatuhnya kedua pesawat juga dalam waktu yang hampir sama, yakni beberapa saat setelah lepas landas. Peristiwa ini kemudian memunculkan pelbagai polemik perdebatan antara perusahaan, tim penyelidik, dan masyarakat.

Perusahaan Boeing sempat memberikan pernyataan bila jatuhnya pesawat disebabkan pilot yang kurang kompeten. Maskapai penerbangan juga tidak luput dari adanya tudingan, bahwa pihaknya dianggap tidak kompeten dalam menjalankan protokol penerbangan. Semua hal itu kemudian terjawab setelah tim penyelidik menemukan berbagai bukti-bukti.

Penyidik memaparkan bahwa kecelakaan dua pesawat Boeing tersebut disebabkan adanya cacat desain perangkat lunak stabilisasi penerbangan atau yang dikenal Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) atau Sistem Augmentasi Karakteristik Maneuver.

Keberadaan sistem ini tidak diberitahukan kepada para pilot yang mengoperasikan pesawat Boeng 737 Max. Kenyataan ini kemudian yang mendorong kemarahan publik dan keluarga korban kepada perusahaan Boeing.

Dalam hal ini, MCAS mengalami malfungsi yang menyebabkan pilot tidak dapat mengendalikan pesawat hingga terjatuh. Sistem baru ini disembunyikan oleh Boeing dari Federal Aviation Administration (FAA) atau lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat.

Tak hanya itu, saat pilot Lion Air meminta latihan khusus untuk mempelajari 737 Max, Boeing menolak dengan keras dan menyatakan bahwa pelatihan tidak diperlukan. Dalam penyelidikan, Boeing terbukti membohongi pilot, maskapai di seluruh dunia, termasuk FAA terkait keberadaan sistem MCAS yang menjadi penyebab kecelakaan tragis yang merenggut ratusan nyawa.


REKOMENDASI
TRENDING