CLOSE

Nicholas Saputra Galang Dukungan Untuk Film Nasional

Kapanlagi.com - Masyarakat Film Indonesia (MFI) melakukan aksi damai di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (30/3) sore untuk memperingati Hari Film Nasional. Puluhan aktor, aktris, sutradara, dan pekerja film lainnya membagi-bagikan buklet kecil bersampul hitam yang berjudul 'Saya Peduli Film Indonesia' kepada para pengguna jalan yang melintas sore itu.

Tujuan kegiatan itu, menurut salah satu juru bicara MFI, aktor Nicholas Saputra, adalah untuk menggugah masyarakat untuk lebih peduli terhadap produk film dalam negeri.

"Film adalah salah satu bentuk kebudayaan, dan harus mendapatkan penghargaan," kata Nicholas.

Aksi damai sore itu disebut Nico sebagai salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh MFI kepada masyarakat umum selain kegiatan lain yang direncanakan untuk digelar seperti seminar dan workshop.

MFI sendiri terbentuk tanggal 3 Januari 2007 ketika sekitar 30 piala Citra dikembalikan para sineas untuk memprotes penyelenggaraan Piala Citra karena memenangkan film yang 'melanggar hak cipta'.

Selain mengembalikan Piala Citra, MFI juga melakukan upaya perbaikan terhadap dunia perfilman Indonesia seperti mengubah UU No.8 tahun 1992 tentang Perfilman yang dianggap telah ketinggalan zaman dan memperbaiki klasifikasi film (rating).

"Saat ini sedang dilakukan formulasi mengenai kategori sensor yang tepat, pastinya sih bukan dengan cara menggunting film dengan semena-mena, tapi mungkin dengan memberikan klasifikasi tontonan apakah untuk dewasa atau anak-anak," kata Nico.

Untuk melakukan formulasi klasisfikasi film yang tepat bagi Indonesia, MFI melakukan studi banding ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand maupun Filipina.

"Malaysia sebagai negara Islam memang memberlakukan sensor yang ketat terhadap film, bahkan terhadap tontonan lain sementara di Singapura bebas. Tapi di Indonesia, karena bukan merupakan negara Islam, harusnya tidak melalui pengguntingan seperti itu," ujar bintang ADA APA DENGAN CINTA itu.

Meskipun demikian, Nico menjelaskan bahwa para sineas tetap akan memperhatikan karakteristik unik Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

"Jika ada film yang tidak sesuai, misalnya, dapat saja dilarang diputar di Aceh, atau dilarang sepenuhnya, tapi tidak digunting karena pengguntingan itu dapat merusak film," katanya.

Aksi damai itu juga dihadiri antara lain oleh Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Fauzi Baadila, Surya Saputra, Dominique, Adinia Wirasti, Rachel Maryam, dan Herjunot Ali.

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

(*/boo)

Rekomendasi

Trending