CLOSE

Yohannes: Saya Tak Punya Ciri Khusus Rancangan!

Kapanlagi.com - Perancang gaun pengantin sekaligus pemilik usaha 'bridal', Yohannes E. Yunarko, mengatakan bahwa dirinya tak memiliki ciri khusus di setiap rancangannya.

"Saya tidak memiliki ciri khusus di setiap rancangan, tetapi justru itu adalah kunci kesuksesan saya karena saya dapat merangkul semua selera masyarakat," katanya di sela-sela acara 'Wedding Festivaganza 2006', di Jakarta, Sabtu (14/10).

Ia mengatakan, setiap orang memiliki selera yang berbeda sehingga ia mengatakan tidak akan memaksakan suatu model gaun pengantin kepada pelanggannya.

"Saya hanya akan memberikan masukan kepada pelanggan, misalnya bentuk lengan gaun akan lebih bagus jika dibuat seperti ini. Tetapi semua kembali kepada pelanggan, saya cukup fleksibel," katanya.

Pria yang mengawali karirnya dengan membuka salon ini mengatakan setiap gaun yang ia rancang tidak pernah ia jual, melainkan disewakan. Alasannya, dari segi bisnis, menyewakan gaun pengantin lebih menguntungkan dibandingkan menjualnya.

"Kalau disewakan kan pendapatan yang diperoleh lebih banyak dan tidak menghabiskan ongkos produksi. Kalau dijual maka akan rugi tenaga dan waktu untuk membuatnya," katanya.

Keputusannya untuk menyewakan gaun tersebut, telah ia perhitungkan resiko yang terjadi yaitu gaun rusak atau sobek. Untuk itu setelah pemakaian 6-7 kali maka gaun tersebut akan dibuang.

Untuk menjaga kualitas gaun yang ia rancang, Yohannes harus mengimpor jenis kain yang ia butuhkan dari Hongkong, Korea dan Taiwan.

"Saya tidak ingin jika gaun tersebut setelah dicuci akan mengkerut atau kusut. Untuk itu dibutuhkan bahan-bahan yang berkualitas tinggi. Dalam satu tahun saya dapat berbelanja kain 2-3 kali. Paling tidak dibutuhkan 10 piece (500 yard) untuk setiap jenis bahan," kata pria yang telah mengembangkan usaha bridalnya menjadi waralaba ini.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai tren gaun pengantin 2006 di Indonesia, ia mengatakan tren saat ini model lipit-lipit.

"Kalau model gaun pengantin maka tidak akan jauh berbeda dari prinsip gaun pengantin internasional yaitu warna putih dan modelnya pun itu-itu saja. Bagian atas dengan model bustier, tali satu, halter neck. Sedangkan bagian bawah gaun model duyung, L-line, atau ball gown," jelasnya.

Untuk setiap ide rancangannya, Johannes dengan jujur mengaku terinspirasi oleh model-model gaun pengantin di luar negeri. Ia kerap melihat-lihat majalah fashion atau pergi ke luar negeri menghadiri fashion show.

"Model lipit-lipit juga bukan asli ide kita tetapi dari luar negeri. Dari model tersebut kemudian dikembangkan, disesuaikan dan dikombinasikan sesuai dengan selera masyarakat kita," katanya.

Selain merancang gaun pengantin, Yohannes juga merangcang gaun malam dan kebaya modern.

"Untuk gaun malam dan kebaya modern dapat dibeli dan tidak disewakan. Harganyapun bervariasi. Bila pelanggan telah membawa sendiri kainnya maka ia hanya akan membayar ongkos pembuatannya saja. Tetapi kalau semua berasal dari saya, maka paling tidak harganya mencapai Rp10 juta," kata pria yang pernah belajar menjahit dan mendesain ini.

(*/bun)

Rekomendasi

Trending