Kapanlagi.com - Hasad merupakan salah satu sifat tercela yang harus dihindari oleh setiap Muslim. Dalam kehidupan sehari-hari, hasad sering kali muncul tanpa disadari dan dapat merusak hubungan antar sesama.
Memahami apa arti hasad sangat penting untuk menjaga kesucian hati dan membangun karakter yang mulia. Sifat ini tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat menghancurkan kebaikan yang telah kita kumpulkan.
Mengutip dari buku AL-HADITS karya DRS. Abdul Haris et al, hasad dalam bahasa Arab berarti mengharapkan lenyapnya nikmat dari pemiliknya, baik nikmat dunia maupun nikmat agama. Seseorang yang bersifat hasad tidak suka melihat temannya bersenang-senang dengan kenikmatan dari Allah.
Hasad secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang berarti iri hati atau dengki. Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain, baik berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, maupun kenikmatan lainnya.
Ibnu Taimiyyah mendefinisikan hasad sebagai kebencian dan ketidaksukaan terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad. Sementara itu, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik nikmat dalam agama maupun perkara dunia.
Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan yang lebih mendalam bahwa hasad adalah sifat yang terdapat dalam diri seseorang berupa rasa benci pada kenikmatan serta suka dengan hilangnya kenikmatan orang lain. Orang yang hasad akan merasa senang ketika melihat orang lain susah, sebaliknya akan merasa susah dan marah ketika melihat orang lain bahagia.
Mengutip dari wikishia, hasad adalah mendambakan hilangnya nikmat-nikmat dan kepemilikan dari orang lain dan hanya menghendaki nikmat-nikmat tersebut bagi dirinya sendiri. Pada tingkat tertingginya, hasad dapat menyebabkan seseorang menderita karena kebahagiaan orang lain.
Penting untuk membedakan antara hasad dengan ghibthah (munafasah). Ghibthah adalah perasaan ingin memiliki nikmat yang sama seperti orang lain tanpa menginginkan nikmat tersebut hilang dari pemiliknya. Berbeda dengan hasad yang menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain.
Ghibthah merupakan sifat terpuji, terutama dalam hal kebaikan agama. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: orang yang dianugerahi harta lalu digunakan untuk berinfak, dan orang yang dianugerahi Al-Qur'an lalu membacanya siang malam.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ghibthah adalah sifat mukmin, sedangkan hasad adalah ciri orang munafik. Hal ini menunjukkan betapa berbedanya kedua sifat tersebut dalam pandangan Islam.
Menurut Fiqh Al-Hasad karya Syaikh Musthafa Al-'Adawi, ghibthah yang dibolehkan adalah keinginan untuk memiliki kebaikan yang sama tanpa menginginkan keburukan bagi orang lain, khususnya dalam urusan agama dan ketakwaan.
Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya sifat hasad dalam diri seseorang. Pemahaman terhadap akar penyebab ini penting untuk mencegah dan mengatasi hasad.
Mengutip dari buku AKHLAK karya BISRI, M.FIL.I, hasad dapat timbul karena adanya perasaan tidak senang terhadap orang lain, sehingga muncul keinginan untuk membalas dan merasa senang jika orang tersebut mendapat kesusahan.
Hasad memiliki dampak yang sangat berbahaya, baik bagi pelaku maupun orang di sekitarnya. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya tentang bahaya hasad melalui sabdanya yang diriwayatkan Abu Hurairah: "Hindari sifat hasad, sesungguhnya hasad makan segala kebaikan sebagaimana api makan kayu bakar."
Dampak hasad terhadap pelaku meliputi jiwa yang tidak tenang, penyakit raga, senantiasa berhasrat, kehilangan teman, dan menyakiti diri sendiri. Lebih dari itu, hasad dapat menghilangkan keimanan, memperbanyak dosa, dan menyebabkan kesengsaraan abadi.
Dari segi spiritual, hasad dapat merusak amal perbuatan seseorang. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, hasad memakan pahala kebaikan layaknya api memakan kayu bakar. Artinya, pahala ibadah yang telah dikumpulkan dapat lenyap karena sifat hasad ini.
Mengutip dari kemenag.go.id, hasad juga memiliki dampak sosial yang luas. Betapa banyak perkelahian, percekcokan, dan peperangan yang terjadi akibat sifat dengki. Hasad dapat menghancurkan tali persaudaraan dan menumbuhkan kebencian dalam masyarakat.
Islam memberikan berbagai solusi untuk menghindari dan mengatasi penyakit hasad. Para ulama akhlak telah memberikan panduan praktis dan teoritis untuk menyembuhkan penyakit hati ini.
Mengutip dari buku AKHLAK karya BISRI, M.FIL.I, cara menghindari hasad yang paling penting adalah melatih diri untuk melakukan perbuatan yang merupakan lawan dari penyebab timbulnya hasad, seperti bersyukur, menyenangi orang lain, dan hidup sesuai kemampuan.
Hasad lebih dari sekadar iri biasa karena disertai keinginan agar nikmat orang lain hilang. Iri biasa mungkin hanya perasaan ingin memiliki yang sama, sedangkan hasad menginginkan orang lain kehilangan nikmatnya.
Ya, hasad termasuk dosa besar dalam Islam karena dapat merusak iman dan menghancurkan amal kebaikan. Rasulullah SAW secara tegas melarang umatnya dari sifat hasad.
Tanda-tanda hasad antara lain tidak suka melihat kebahagiaan orang lain, sering menggunjing, memutus hubungan dengan orang yang dihasad, dan merasa senang ketika orang lain mendapat musibah.
Ya, hasad bisa disembuhkan dengan memperkuat iman, banyak bersyukur, fokus pada perbaikan diri, dan meminta pertolongan Allah untuk membersihkan hati dari sifat tercela ini.
Hasad berbahaya karena dapat menghancurkan pahala amal kebaikan, merusak hubungan sosial, menimbulkan permusuhan, dan pada hakikatnya merupakan bentuk protes terhadap ketentuan Allah.
Hasad yang hanya terlintas di hati tanpa diwujudkan dalam ucapan atau perbuatan masih dalam kategori yang bisa dimaafkan, namun tetap harus diusahakan untuk dihilangkan agar tidak berkembang menjadi tindakan nyata.
Cara melindungi diri dari hasad orang lain adalah dengan bertakwa kepada Allah, membaca doa perlindungan, tidak menceritakan nikmat kepada sembarang orang, dan tetap fokus pada ibadah serta perbaikan diri.