Apa Arti Hasad: Memahami Sifat Dengki dalam Islam

Apa Arti Hasad: Memahami Sifat Dengki dalam Islam
apa arti hasad

Kapanlagi.com - Hasad merupakan salah satu sifat tercela yang harus dihindari oleh setiap Muslim. Dalam kehidupan sehari-hari, hasad sering kali muncul tanpa disadari dan dapat merusak hubungan antar sesama.

Memahami apa arti hasad sangat penting untuk menjaga kesucian hati dan membangun karakter yang mulia. Sifat ini tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat menghancurkan kebaikan yang telah kita kumpulkan.

Mengutip dari buku AL-HADITS karya DRS. Abdul Haris et al, hasad dalam bahasa Arab berarti mengharapkan lenyapnya nikmat dari pemiliknya, baik nikmat dunia maupun nikmat agama. Seseorang yang bersifat hasad tidak suka melihat temannya bersenang-senang dengan kenikmatan dari Allah.

1. Pengertian Hasad Menurut Para Ulama

Pengertian Hasad Menurut Para Ulama (c) Ilustrasi AI

Hasad secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang berarti iri hati atau dengki. Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain, baik berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, maupun kenikmatan lainnya.

Ibnu Taimiyyah mendefinisikan hasad sebagai kebencian dan ketidaksukaan terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad. Sementara itu, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik nikmat dalam agama maupun perkara dunia.

Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan yang lebih mendalam bahwa hasad adalah sifat yang terdapat dalam diri seseorang berupa rasa benci pada kenikmatan serta suka dengan hilangnya kenikmatan orang lain. Orang yang hasad akan merasa senang ketika melihat orang lain susah, sebaliknya akan merasa susah dan marah ketika melihat orang lain bahagia.

Mengutip dari wikishia, hasad adalah mendambakan hilangnya nikmat-nikmat dan kepemilikan dari orang lain dan hanya menghendaki nikmat-nikmat tersebut bagi dirinya sendiri. Pada tingkat tertingginya, hasad dapat menyebabkan seseorang menderita karena kebahagiaan orang lain.

2. Perbedaan Hasad dengan Ghibthah

Perbedaan Hasad dengan Ghibthah (c) Ilustrasi AI

Penting untuk membedakan antara hasad dengan ghibthah (munafasah). Ghibthah adalah perasaan ingin memiliki nikmat yang sama seperti orang lain tanpa menginginkan nikmat tersebut hilang dari pemiliknya. Berbeda dengan hasad yang menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain.

Ghibthah merupakan sifat terpuji, terutama dalam hal kebaikan agama. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak boleh ada hasad kecuali pada dua perkara: orang yang dianugerahi harta lalu digunakan untuk berinfak, dan orang yang dianugerahi Al-Qur'an lalu membacanya siang malam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ghibthah adalah sifat mukmin, sedangkan hasad adalah ciri orang munafik. Hal ini menunjukkan betapa berbedanya kedua sifat tersebut dalam pandangan Islam.

Menurut Fiqh Al-Hasad karya Syaikh Musthafa Al-'Adawi, ghibthah yang dibolehkan adalah keinginan untuk memiliki kebaikan yang sama tanpa menginginkan keburukan bagi orang lain, khususnya dalam urusan agama dan ketakwaan.

3. Sebab-Sebab Timbulnya Hasad

Sebab-Sebab Timbulnya Hasad (c) Ilustrasi AI

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya sifat hasad dalam diri seseorang. Pemahaman terhadap akar penyebab ini penting untuk mencegah dan mengatasi hasad.

  1. Kurangnya rasa syukur - Orang yang tidak bersyukur terhadap nikmat Allah akan selalu merasa kekurangan dan tidak puas, sehingga mudah iri terhadap orang lain yang tampak lebih beruntung.
  2. Lemahnya keimanan - Ketika seseorang tidak percaya bahwa rezeki dan takdir Allah itu adil, ia cenderung merasa bahwa nikmat yang diterima orang lain seharusnya menjadi miliknya.
  3. Perasaan tinggi hati - Orang yang sombong biasanya tidak senang jika dirinya disaingi oleh orang lain dan menginginkan keadaan orang lain lebih rendah dari dirinya.
  4. Keinginan mendapat pengakuan - Mereka yang terlalu fokus pada status sosial dan pengakuan dari orang lain sering merasa tidak puas jika orang lain mendapat sesuatu yang lebih.
  5. Penyakit hati lainnya - Sifat seperti sombong, egois, atau buruk sangka sering berkaitan dengan hasad.

Mengutip dari buku AKHLAK karya BISRI, M.FIL.I, hasad dapat timbul karena adanya perasaan tidak senang terhadap orang lain, sehingga muncul keinginan untuk membalas dan merasa senang jika orang tersebut mendapat kesusahan.

4. Bahaya dan Dampak Hasad

Bahaya dan Dampak Hasad (c) Ilustrasi AI

Hasad memiliki dampak yang sangat berbahaya, baik bagi pelaku maupun orang di sekitarnya. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya tentang bahaya hasad melalui sabdanya yang diriwayatkan Abu Hurairah: "Hindari sifat hasad, sesungguhnya hasad makan segala kebaikan sebagaimana api makan kayu bakar."

Dampak hasad terhadap pelaku meliputi jiwa yang tidak tenang, penyakit raga, senantiasa berhasrat, kehilangan teman, dan menyakiti diri sendiri. Lebih dari itu, hasad dapat menghilangkan keimanan, memperbanyak dosa, dan menyebabkan kesengsaraan abadi.

Dari segi spiritual, hasad dapat merusak amal perbuatan seseorang. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, hasad memakan pahala kebaikan layaknya api memakan kayu bakar. Artinya, pahala ibadah yang telah dikumpulkan dapat lenyap karena sifat hasad ini.

Mengutip dari kemenag.go.id, hasad juga memiliki dampak sosial yang luas. Betapa banyak perkelahian, percekcokan, dan peperangan yang terjadi akibat sifat dengki. Hasad dapat menghancurkan tali persaudaraan dan menumbuhkan kebencian dalam masyarakat.

5. Cara Menghindari dan Mengatasi Hasad

Cara Menghindari dan Mengatasi Hasad (c) Ilustrasi AI

Islam memberikan berbagai solusi untuk menghindari dan mengatasi penyakit hasad. Para ulama akhlak telah memberikan panduan praktis dan teoritis untuk menyembuhkan penyakit hati ini.

  1. Memperkuat iman dan takwa - Menguatkan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah dan meyakini bahwa rezeki sudah diatur oleh-Nya.
  2. Senantiasa bersyukur - Dengan bersyukur atas nikmat yang dimiliki, seseorang akan merasa cukup dan tidak iri terhadap rezeki orang lain.
  3. Bersikap rendah hati - Menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, sehingga tidak merasa disaingi atau menyaingi orang lain.
  4. Fokus pada perbaikan diri - Daripada terjebak dalam perasaan iri, lebih baik fokus pada pencapaian dan perbaikan diri sendiri.
  5. Mendoakan kebaikan orang lain - Salah satu cara menghilangkan hasad adalah dengan mendoakan kebaikan bagi orang yang kita hasad.
  6. Memperkuat silaturahmi - Mempererat hubungan dengan sesama dan memiliki empati dapat mengurangi perasaan hasad.
  7. Meminta perlindungan kepada Allah - Membaca doa perlindungan seperti surah Al-Falaq dan An-Naas untuk berlindung dari kejahatan orang yang hasad.

Mengutip dari buku AKHLAK karya BISRI, M.FIL.I, cara menghindari hasad yang paling penting adalah melatih diri untuk melakukan perbuatan yang merupakan lawan dari penyebab timbulnya hasad, seperti bersyukur, menyenangi orang lain, dan hidup sesuai kemampuan.

6. FAQ (Frequently Asked Questions)

FAQ (Frequently Asked Questions) (c) Ilustrasi AI

Apa perbedaan hasad dengan iri biasa?

Hasad lebih dari sekadar iri biasa karena disertai keinginan agar nikmat orang lain hilang. Iri biasa mungkin hanya perasaan ingin memiliki yang sama, sedangkan hasad menginginkan orang lain kehilangan nikmatnya.

Apakah hasad termasuk dosa besar?

Ya, hasad termasuk dosa besar dalam Islam karena dapat merusak iman dan menghancurkan amal kebaikan. Rasulullah SAW secara tegas melarang umatnya dari sifat hasad.

Bagaimana cara mengetahui jika seseorang memiliki sifat hasad?

Tanda-tanda hasad antara lain tidak suka melihat kebahagiaan orang lain, sering menggunjing, memutus hubungan dengan orang yang dihasad, dan merasa senang ketika orang lain mendapat musibah.

Apakah hasad bisa disembuhkan?

Ya, hasad bisa disembuhkan dengan memperkuat iman, banyak bersyukur, fokus pada perbaikan diri, dan meminta pertolongan Allah untuk membersihkan hati dari sifat tercela ini.

Mengapa hasad sangat berbahaya dalam Islam?

Hasad berbahaya karena dapat menghancurkan pahala amal kebaikan, merusak hubungan sosial, menimbulkan permusuhan, dan pada hakikatnya merupakan bentuk protes terhadap ketentuan Allah.

Apa hukum hasad yang hanya ada di dalam hati?

Hasad yang hanya terlintas di hati tanpa diwujudkan dalam ucapan atau perbuatan masih dalam kategori yang bisa dimaafkan, namun tetap harus diusahakan untuk dihilangkan agar tidak berkembang menjadi tindakan nyata.

Bagaimana cara melindungi diri dari orang yang hasad?

Cara melindungi diri dari hasad orang lain adalah dengan bertakwa kepada Allah, membaca doa perlindungan, tidak menceritakan nikmat kepada sembarang orang, dan tetap fokus pada ibadah serta perbaikan diri.

(kpl/fed)

Rekomendasi
Trending