Kapanlagi.com - Pesimis adalah sikap atau pandangan hidup yang cenderung melihat segala sesuatu dari sisi negatif dan tidak memiliki harapan baik. Orang yang pesimis biasanya selalu khawatir akan mengalami kegagalan, kerugian, atau hal-hal buruk lainnya.
Sikap ini merupakan kebalikan dari optimis dan sering kali muncul akibat pengalaman traumatis di masa lalu atau faktor lingkungan yang kurang mendukung. Memahami apa arti pesimis sangat penting untuk mengenali dan mengatasi dampak negatifnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pesimis didefinisikan sebagai orang yang bersikap atau berpandangan tidak memiliki harapan baik, seperti khawatir rugi, khawatir kalah, atau khawatir celaka. Dalam bahasa Arab, pesimis disebut tasya'um, sedangkan orang yang berjiwa pesimis disebut mutasya'im.
Untuk memahami apa arti pesimis secara mendalam, kita perlu melihat dari berbagai perspektif. Pesimis adalah sikap mental yang mengantisipasi hasil yang tidak diinginkan dari situasi tertentu. Orang pesimis cenderung fokus pada aspek negatif kehidupan secara umum.
Mengutip dari buku AKHLAK karya Bisri, M.Fil.I, pesimis artinya orang yang bersikap atau berpandangan tidak memiliki harapan baik. Misalnya khawatir rugi, khawatir kalah, khawatir gagal atau khawatir celaka. Orang yang pesimis akan mudah sekali putus harapan dan putus asa.
Secara etimologi, kata pesimisme berasal dari bahasa Latin pessimus yang berarti "terburuk". Istilah ini pertama kali digunakan oleh kritikus Jesuit terhadap novel Voltaire pada tahun 1759 yang berjudul Candide, ou l'Optimisme. Dalam konteks psikologi, pesimisme dipandang sebagai disposisi mental yang dapat mempengaruhi cara seseorang memandang dunia.
Pesimis berbeda dengan sikap realistis. Orang realistis mempertimbangkan kemungkinan terburuk namun tetap terbuka terhadap peluang positif. Sebaliknya, orang pesimis langsung berasumsi bahwa hasil akhir akan buruk tanpa memberi ruang bagi kemungkinan positif.
Mengenali ciri-ciri sikap pesimis sangat penting untuk memahami pola pikir ini. Berdasarkan penelitian dalam The Neural Basis of Optimism and Pessimism, terdapat beberapa karakteristik yang menandai seseorang memiliki sikap pesimis.
Mengutip dari buku AKHLAK karya Bisri, M.Fil.I, akibat memiliki sifat pesimis antara lain: kalah sebelum bertanding, merasa rendah diri atau minder, kehilangan rasa percaya diri, dan kehilangan semangat berusaha serta berkompetisi.
Sikap pesimis tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk melalui berbagai faktor yang saling berinteraksi. Memahami penyebab-penyebab ini dapat membantu dalam proses mengatasi pesimisme yang berlebihan.
Menurut Hellosehat.com, beragam faktor dapat menjadi penyebab orang bersikap pesimis, termasuk genetik, interaksi dan hubungan dalam keluarga, pengaruh lingkungan dan orang sekitar, rendahnya kepercayaan diri, serta gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.
Dalam dunia kuno, pesimisme psikologis dikaitkan dengan melankolia dan diyakini disebabkan oleh kelebihan empedu hitam dalam tubuh. Studi tentang pesimisme memiliki kesamaan dengan studi tentang depresi, di mana psikolog melacak sikap pesimis hingga ke rasa sakit emosional atau bahkan biologi.
Sikap pesimis yang berlebihan dapat memberikan dampak buruk yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan. Dampak ini tidak hanya terbatas pada kesehatan mental, tetapi juga mempengaruhi kesehatan fisik dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Dampak pada Kesehatan Mental:
Dampak pada Kesehatan Fisik:
Mengutip dari buku AKHLAK karya Bisri, M.Fil.I, sifat pesimis akan membuat seseorang kehilangan semangat hidup, sehingga ia malas belajar dan bekerja. Orang yang pesimis menganggap masa depan tidak berarti baginya, dan menganggap suatu kegagalan sebagai akhir dari segalanya.
Menurut Alodokter.com, sejumlah penelitian juga menemukan bahwa pola pikir negatif yang terus-menerus dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan fisik, seperti tekanan darah tinggi dan gangguan jantung, akibat stres yang tidak terkontrol dengan baik.
Meskipun sering dipandang negatif, sikap pesimis dalam kadar yang wajar sebenarnya dapat memberikan beberapa manfaat. Penting untuk memahami bahwa tidak semua aspek pesimisme bersifat merugikan jika dikelola dengan bijak.
Mengutip dari Hellosehat.com, pesimisme bisa membuat orang jadi lebih siap menghadapi hal-hal yang buruk. Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, orang pesimis malah cenderung memikirkan langkah-langkah pencegahan. Hasilnya, mereka sering kali terlindungi dari rasa cemas berlebih.
Mengatasi sikap pesimis yang berlebihan memerlukan usaha konsisten dan pendekatan yang tepat. Berikut adalah strategi-strategi efektif yang dapat diterapkan untuk mengembangkan pola pikir yang lebih seimbang dan positif.
Strategi Mengubah Pola Pikir:
Strategi Lingkungan dan Sosial:
Mengutip dari buku AKHLAK karya Bisri, M.Fil.I, untuk dapat membiasakan diri menghindari sifat pesimis, hendaknya: biasakan bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat optimis, biasakan berfikir positif dengan berbaik sangka kepada siapapun, hindari rasa was-was dan ragu-ragu dalam menjalankan tugas, dan berdoa kepada Allah SWT agar diberi kekuatan.
Teknik Praktis Sehari-hari:
Pesimis adalah sikap yang langsung berasumsi hasil buruk tanpa mempertimbangkan kemungkinan positif, sedangkan realistis adalah sikap yang mempertimbangkan kemungkinan terburuk namun tetap terbuka terhadap peluang baik yang ada.
Tidak selalu. Sikap pesimis dalam kadar wajar dapat bermanfaat untuk membuat seseorang lebih waspada, berhati-hati, dan siap menghadapi kemungkinan buruk. Namun, pesimisme yang berlebihan dapat merugikan kesehatan mental dan fisik.
Penyebab utama meliputi faktor genetik, pengalaman traumatis di masa lalu, lingkungan keluarga yang kurang mendukung, pengaruh pergaulan, dan gangguan mental seperti depresi atau kecemasan.
Ciri-ciri orang pesimis antara lain selalu berekspektasi buruk, mudah menyerah sebelum mencoba, fokus pada kelemahan, tidak percaya diri, merasa terkejut ketika hal baik terjadi, dan cenderung menghindari risiko.
Ya, sikap pesimis dapat diatasi melalui berbagai cara seperti mengubah pola pikir, berlatih bersyukur, bergaul dengan orang positif, dan jika diperlukan, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater profesional.
Dampak jangka panjang meliputi peningkatan risiko depresi, gangguan kecemasan, penurunan sistem imun, masalah kesehatan fisik seperti hipertensi, dan terhambatnya perkembangan diri karena takut mencoba hal baru.
Bantuan profesional diperlukan ketika sikap pesimis mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pekerjaan, atau ketika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater sangat dianjurkan dalam kondisi tersebut.