Apa Arti Gengsi: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya
apa arti gengsi
Kapanlagi.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah gengsi yang digunakan dalam berbagai konteks. Apa arti gengsi sebenarnya dan mengapa hal ini menjadi topik yang penting untuk dipahami?
Gengsi merupakan salah satu aspek psikologis yang berkaitan erat dengan harga diri dan martabat seseorang. Pemahaman yang tepat tentang apa arti gengsi dapat membantu kita mengelola perilaku dan hubungan sosial dengan lebih baik.
Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gengsi adalah kehormatan dan pengaruh, harga diri, serta martabat. Dalam konteks psikologi, gengsi dapat menjadi motivator positif namun juga berpotensi merugikan jika berlebihan.
Advertisement
1. Pengertian dan Definisi Gengsi
Untuk memahami apa arti gengsi secara mendalam, kita perlu melihat definisi dari berbagai perspektif. Menurut KBBI, gengsi memiliki beberapa makna yaitu sanak keluarga atau hubungan keturunan, kehormatan dan pengaruh, harga diri, serta martabat.
Dalam konteks psikologi sosial, gengsi dapat didefinisikan sebagai persepsi seseorang tentang bagaimana ia ingin dipandang oleh orang lain. Hal ini berkaitan erat dengan konsep harga diri dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
Mengutip dari jurnal Pengaruh Gaya Hidup, Prestise dan Kelompok Referensi Terhadap Keputusan Pembelian, Kuenzel dan Halliday menjelaskan bahwa gengsi adalah persepsi orang lain, pendapat yang dihargai, dihormati, dikagumi atau terkenal. Sementara Atmodjo mendefinisikan gengsi sebagai keadaan di mana seseorang merasa mempunyai kebanggaan tersendiri pada saat mengkonsumsi barang dan jasa tertentu.
Kata gengsi sendiri berasal dari bahasa Hokkien yaitu "Kuan-si" yang memiliki makna relasi atau hubungan. Istilah ini kemudian masuk ke Indonesia melalui bahasa Melayu dan berkembang maknanya menjadi lebih luas seperti yang kita kenal sekarang.
2. Ciri-Ciri dan Karakteristik Perilaku Gengsi
Memahami ciri-ciri perilaku gengsi penting untuk mengenali apakah seseorang memiliki kecenderungan gengsi yang berlebihan. Berikut adalah karakteristik utama dari perilaku gengsi:
- Mengejar Status Sosial - Cenderung membeli barang mewah atau branded untuk menaikkan citra diri di mata orang lain, meskipun secara finansial memaksakan diri.
- Suka Pamer Prestasi - Gemar membagikan capaian di media sosial untuk mendapatkan validasi dan pengakuan dari lingkungan sosial.
- Takut Dinilai Remeh - Enggan tampil sederhana karena khawatir dianggap inferior atau tidak memenuhi standar tertentu.
- Membandingkan Diri dengan Orang Lain - Selalu membandingkan kendaraan, rumah, gaya hidup, atau pencapaian dengan orang lain sebagai tolok ukur harga diri.
- Kecemasan Sosial Tinggi - Merasa gelisah jika dianggap tidak memenuhi ekspektasi lingkungan atau kehilangan muka di depan orang lain.
Melansir dari Psychology Today, gengsi yang berlebihan sering dibentuk sebagai benteng terluar untuk menutupi kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Pada sebagian orang, hal ini bahkan dapat memicu perilaku berbohong atau menipu demi mempertahankan citra.
3. Dampak Psikologis dari Perilaku Gengsi
Perilaku gengsi yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan mental dan kehidupan sosial seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa gengsi berlebihan dapat memicu perilaku antisosial atau defensif karena individu merasa harus mempertahankan citra baiknya.
Dampak psikologis yang dapat timbul antara lain stres kronis akibat tekanan untuk tampil sempurna, depresi ketika ekspektasi tidak tercapai, dan konsumsi impulsif yang berujung pada masalah finansial. Selain itu, gengsi berlebihan juga dapat menyebabkan perfeksionisme yang tidak sehat, hubungan interpersonal yang rapuh, dan burnout akibat upaya berlebihan mempertahankan status sosial.
Dalam konteks keperawatan jiwa, menurut buku Keperawatan Jiwa oleh H. Tukatman dkk, harga diri rendah dapat terjadi ketika seseorang terlalu bergantung pada pengakuan eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa gengsi berlebihan justru dapat berkaitan dengan masalah harga diri yang mendasar.
Dampak lainnya termasuk kurangnya otonomi dalam pengambilan keputusan, risiko pola narsistik, perilaku defensif yang berlebihan, dan gangguan dalam pengambilan keputusan moral. Semua ini dapat mengganggu kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis seseorang.
4. Faktor Penyebab Munculnya Gengsi Berlebihan
Untuk memahami apa arti gengsi secara komprehensif, penting juga mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya gengsi berlebihan. Faktor-faktor ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
- Faktor Psikologis - Termasuk penolakan orang tua, harapan yang tidak realistis, kurangnya sistem reward yang sehat, dan dampak dari penyakit kronis yang mempengaruhi self-esteem.
- Faktor Sosial - Kemiskinan, isolasi dari lingkungan, interaksi yang kurang baik dalam keluarga, dan tekanan dari kelompok sebaya dapat memicu gengsi berlebihan.
- Faktor Kultural - Tuntutan peran sosial dan perubahan budaya yang cepat dapat menciptakan tekanan untuk mempertahankan status tertentu.
- Pengaruh Media Sosial - Paparan konstan terhadap gaya hidup orang lain di media sosial dapat memicu perbandingan sosial yang tidak sehat.
- Lingkungan Kompetitif - Berada dalam lingkungan yang sangat kompetitif dapat mendorong seseorang untuk selalu ingin tampil lebih baik dari orang lain.
Mengutip dari buku Sadar Penuh Hadir Utuh oleh Adjie Silarus, kecenderungan untuk terlalu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang kita, ketimbang bagaimana kita sendiri dapat jujur pada diri sendiri, sering menjadi akar dari masalah gengsi berlebihan.
5. Hubungan Gengsi dengan Harga Diri dan Konsep Diri
Dalam memahami apa arti gengsi, penting untuk memahami hubungannya dengan konsep harga diri dan konsep diri secara keseluruhan. Menurut buku Keperawatan Jiwa, konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui oleh individu tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Harga diri merupakan salah satu komponen penting dari konsep diri. Harga diri yang sehat berbeda dengan gengsi berlebihan. Harga diri yang sehat didasarkan pada penerimaan diri yang realistis, sementara gengsi berlebihan sering kali didasarkan pada kebutuhan akan validasi eksternal.
Ketika seseorang memiliki harga diri yang rendah, ia mungkin menggunakan gengsi sebagai mekanisme kompensasi. Namun, hal ini justru dapat memperburuk masalah karena menciptakan ketergantungan pada pengakuan orang lain untuk merasa berharga.
Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara gengsi yang sehat sebagai motivator untuk berkembang, dengan gengsi berlebihan yang justru menghambat pertumbuhan personal dan hubungan sosial yang autentik.
6. Cara Mengatasi dan Mengelola Gengsi Berlebihan
Setelah memahami apa arti gengsi dan dampaknya, langkah selanjutnya adalah mengetahui cara mengatasi gengsi berlebihan. Berikut adalah strategi yang dapat diterapkan:
- Mengakui dan Menerima Kelemahan Diri - Mulailah dengan mengakui kelemahan diri sendiri alih-alih menutupinya dengan kebohongan. Kembangkan kemampuan diri menjadi lebih baik secara bertahap.
- Belajar dari Pengalaman - Lakukan identifikasi kelemahan diri dan cari jalan untuk mengatasinya dengan tepat tanpa harus menutupinya dengan perilaku artifisial.
- Tetap Menjadi Diri Sendiri - Jangan memaksakan diri mengikuti atau meniru orang lain yang belum tentu sesuai dengan kepribadian atau keadaan Anda.
- Berhenti Membandingkan Diri - Pahami bahwa harga diri setiap orang bersifat subjektif dan tidak dapat dibandingkan. Fokus pada rasa syukur dan penerimaan diri.
- Mengelola Emosi dengan Baik - Pahami bahwa menang dan kalah adalah hal yang lumrah. Hindari sifat keras kepala dan belajar menerima kritik konstruktif.
- Membiasakan Diri Berterima Kasih dan Meminta Maaf - Hal ini menunjukkan kerendahan hati dan kemampuan menghargai orang lain.
Jika gengsi berlebihan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari dan menyebabkan masalah serius seperti depresi, kecanduan belanja, atau gangguan hubungan, sebaiknya mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.
7. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa perbedaan antara gengsi dan harga diri?
Gengsi lebih fokus pada bagaimana orang lain memandang kita dan cenderung bergantung pada validasi eksternal, sedangkan harga diri yang sehat didasarkan pada penerimaan diri yang realistis dan tidak bergantung sepenuhnya pada penilaian orang lain.
Apakah gengsi selalu berdampak negatif?
Tidak selalu. Gengsi dalam porsi yang wajar dapat menjadi motivator positif untuk berkembang dan meningkatkan diri. Namun, gengsi berlebihan dapat merugikan diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
Bagaimana cara membedakan gengsi yang sehat dengan yang berlebihan?
Gengsi yang sehat mendorong perbaikan diri tanpa merugikan orang lain atau diri sendiri, sementara gengsi berlebihan sering melibatkan kebohongan, pemaksaan diri, dan ketergantungan berlebihan pada pengakuan orang lain.
Apa saja tanda-tanda seseorang memiliki gengsi berlebihan?
Tanda-tandanya meliputi sering membandingkan diri dengan orang lain, takut dinilai remeh, cenderung berbohong tentang prestasi atau harta, sulit menerima kritik, dan selalu ingin tampil sempurna di depan orang lain.
Bisakah gengsi berlebihan diatasi sendiri?
Ya, dengan kesadaran diri yang tinggi dan komitmen untuk berubah, gengsi berlebihan dapat diatasi melalui berbagai strategi seperti menerima diri sendiri, berhenti membandingkan dengan orang lain, dan fokus pada pengembangan diri yang autentik.
Kapan sebaiknya mencari bantuan profesional untuk masalah gengsi?
Bantuan profesional sebaiknya dicari ketika gengsi berlebihan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, menyebabkan masalah finansial, depresi, kecemasan berlebihan, atau merusak hubungan interpersonal.
Apa peran lingkungan dalam pembentukan gengsi seseorang?
Lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan gengsi. Keluarga, teman sebaya, media sosial, dan budaya masyarakat dapat mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
(kpl/fds)
Advertisement