Apa Arti Meremehkan: Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya
apa arti meremehkan
Kapanlagi.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata "meremehkan" yang digunakan untuk menggambarkan sikap negatif terhadap orang lain. Sikap ini dapat merusak hubungan interpersonal dan menciptakan konflik yang tidak perlu dalam berbagai situasi sosial.
Memahami apa arti meremehkan menjadi penting untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan orang lain. Sikap meremehkan tidak hanya merugikan orang yang menjadi target, tetapi juga dapat mencerminkan karakter negatif dari pelakunya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), meremehkan memiliki arti merendahkan, mengabaikan, atau memandang remeh terhadap sesuatu atau seseorang. Kata ini berasal dari kata dasar "remeh" yang berarti tidak penting atau tidak berharga, kemudian mendapat imbuhan "me-kan" yang menjadikannya sebagai kata kerja.
Advertisement
1. Pengertian dan Definisi Meremehkan
Meremehkan adalah tindakan atau sikap yang menunjukkan ketidakpedulian, pengabaian, atau penilaian negatif terhadap kemampuan, prestasi, atau keberadaan orang lain. Sikap ini melibatkan penurunan nilai atau martabat seseorang melalui kata-kata, tindakan, atau ekspresi yang merendahkan.
Dalam konteks psikologi komunikasi, meremehkan dapat dikategorikan sebagai bentuk agresi verbal yang bertujuan untuk menurunkan harga diri orang lain. Sikap ini sering muncul dari perasaan superioritas, ketidakamanan, atau keinginan untuk mendominasi dalam suatu hubungan sosial.
Mengutip dari buku Ungkapan-Ungkapan Diskriminasi karya Dr. Nunun Tri Widarwati, sikap meremehkan sering kali muncul dalam bentuk ungkapan diskriminasi yang dapat merendahkan martabat seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa meremehkan bukan hanya masalah komunikasi biasa, tetapi dapat berkembang menjadi bentuk diskriminasi sosial yang lebih serius.
Sikap meremehkan dapat diekspresikan melalui berbagai cara, mulai dari komentar sarkastik, pandangan merendahkan, hingga pengabaian total terhadap pendapat atau kontribusi seseorang. Dalam era digital saat ini, meremehkan juga dapat terjadi melalui media sosial dalam bentuk cyberbullying atau komentar negatif yang merendahkan.
2. Ciri-Ciri dan Bentuk Sikap Meremehkan
- Penggunaan Bahasa Merendahkan - Menggunakan kata-kata yang sengaja dipilih untuk menurunkan martabat atau kemampuan orang lain, seperti "kamu tidak akan bisa" atau "itu terlalu sulit untukmu".
- Mengabaikan Pendapat Orang Lain - Tidak memberikan perhatian atau menganggap tidak penting terhadap ide, saran, atau kontribusi yang diberikan orang lain dalam diskusi atau kerja sama.
- Membandingkan Secara Negatif - Selalu membandingkan kemampuan atau prestasi seseorang dengan orang lain dengan tujuan merendahkan, bukan untuk memotivasi atau memberikan masukan konstruktif.
- Ekspresi Non-Verbal Merendahkan - Menunjukkan sikap tubuh, mimik wajah, atau gestur yang mengindikasikan ketidakpedulian atau meremehkan, seperti mata memutar, menghela napas, atau menggelengkan kepala.
- Minimalisasi Pencapaian - Mengurangi nilai atau pentingnya pencapaian orang lain dengan komentar seperti "itu kan mudah" atau "siapa saja bisa melakukannya".
- Interupsi dan Dominasi Percakapan - Sering memotong pembicaraan orang lain atau mendominasi diskusi tanpa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapatnya.
Menurut buku Lentera Literasi Digital Indonesia karya Siswantini Amihardja dkk, sikap meremehkan dalam konteks digital dapat berkembang menjadi bentuk perundungan atau bullying yang lebih serius. Perundungan verbal yang meremehkan dapat menyebabkan korban merasa tidak nyaman, tertekan, bahkan mengalami trauma psikologis.
3. Dampak Negatif Sikap Meremehkan
Sikap meremehkan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang signifikan, baik bagi korban maupun pelaku. Dampak-dampak ini dapat mempengaruhi kesehatan mental, hubungan sosial, dan produktivitas dalam berbagai aspek kehidupan.
- Menurunkan Harga Diri - Korban sikap meremehkan sering mengalami penurunan kepercayaan diri dan harga diri. Mereka mulai meragukan kemampuan sendiri dan merasa tidak berharga dalam lingkungan sosial atau profesional.
- Menghambat Kreativitas dan Inovasi - Ketika seseorang merasa diremehkan, mereka cenderung menjadi pasif dan enggan untuk menyampaikan ide-ide kreatif atau inovatif karena takut mendapat respons negatif.
- Merusak Hubungan Interpersonal - Sikap meremehkan dapat merusak kepercayaan dan menciptakan jarak emosional dalam hubungan, baik dalam konteks personal maupun profesional.
- Menciptakan Lingkungan Toxic - Dalam lingkungan kerja atau sosial, sikap meremehkan dapat menciptakan atmosfer yang tidak sehat dan mengurangi kolaborasi serta kerja sama tim.
- Memicu Konflik dan Ketegangan - Sikap meremehkan sering menjadi pemicu konflik interpersonal yang dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar jika tidak ditangani dengan baik.
Mengutip dari buku Keperawatan Jiwa karya H. Tukatman dkk, dampak psikologis dari sikap meremehkan dapat menyebabkan seseorang mengalami harga diri rendah kronik. Kondisi ini ditandai dengan perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah, merendahkan martabat diri, dan pandangan hidup yang pesimistis.
4. Faktor Penyebab Munculnya Sikap Meremehkan
Sikap meremehkan tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal yang membentuk pola pikir dan perilaku seseorang. Memahami faktor-faktor ini penting untuk mencegah dan mengatasi sikap meremehkan.
- Insecurity dan Ketidakamanan Diri - Orang yang memiliki rasa tidak aman terhadap kemampuan atau posisi mereka sering menggunakan sikap meremehkan sebagai mekanisme pertahanan untuk menutupi kelemahan diri.
- Pengalaman Masa Lalu - Seseorang yang pernah mengalami perlakuan meremehkan di masa lalu mungkin mengembangkan pola perilaku serupa sebagai bentuk kompensasi atau balas dendam tidak langsung.
- Budaya Kompetitif yang Berlebihan - Lingkungan yang terlalu menekankan kompetisi tanpa mengajarkan nilai-nilai kolaborasi dapat mendorong munculnya sikap meremehkan terhadap pesaing atau rekan kerja.
- Kurangnya Empati dan Kecerdasan Emosional - Ketidakmampuan untuk memahami perasaan orang lain dan dampak dari kata-kata atau tindakan sendiri dapat menyebabkan seseorang tidak menyadari bahwa mereka bersikap meremehkan.
- Pola Asuh dan Lingkungan Keluarga - Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sering menggunakan kritik destruktif atau perbandingan negatif mungkin mengadopsi pola komunikasi serupa dalam kehidupan dewasanya.
- Tekanan Sosial dan Stereotip - Tekanan untuk mempertahankan status sosial atau stereotip tertentu dapat mendorong seseorang untuk meremehkan orang lain yang dianggap berada di bawah mereka.
Menurut buku Perempuan, Masyarakat Patriarki & Kesetaraan Gender karya Lusia Palulungan dkk, sikap meremehkan sering kali muncul dalam konteks diskriminasi gender dan sosial. Sistem budaya yang menempatkan kelompok tertentu sebagai superior dapat menciptakan pola pikir yang meremehkan kelompok lain yang dianggap inferior.
5. Cara Mengatasi dan Mencegah Sikap Meremehkan
Mengatasi sikap meremehkan memerlukan pendekatan yang komprehensif, baik dari sisi pencegahan maupun penanganan ketika sikap tersebut sudah terlanjur muncul. Strategi yang efektif melibatkan pengembangan kesadaran diri, keterampilan komunikasi, dan empati.
- Mengembangkan Kesadaran Diri (Self-Awareness) - Langkah pertama adalah mengenali dan mengakui ketika kita memiliki kecenderungan untuk meremehkan orang lain. Refleksi diri secara berkala dapat membantu mengidentifikasi pola perilaku negatif ini.
- Praktik Empati Aktif - Berusaha memahami perspektif, perasaan, dan situasi orang lain sebelum memberikan komentar atau penilaian. Empati membantu kita melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mengurangi kecenderungan untuk meremehkan.
- Menggunakan Komunikasi Asertif - Menyampaikan pendapat atau kritik dengan cara yang konstruktif dan menghormati martabat orang lain. Fokus pada perilaku atau hasil, bukan pada karakter personal seseorang.
- Memberikan Feedback Konstruktif - Ketika perlu memberikan masukan atau kritik, lakukan dengan cara yang membangun dan memberikan solusi, bukan hanya menunjukkan kesalahan atau kekurangan.
- Menghargai Keberagaman dan Perbedaan - Mengakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan, kekurangan, dan cara pandang yang berbeda. Perbedaan ini harus dilihat sebagai kekayaan, bukan sebagai alasan untuk meremehkan.
- Mengembangkan Kecerdasan Emosional - Meningkatkan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi sendiri serta orang lain. Kecerdasan emosional membantu dalam berkomunikasi dengan lebih efektif dan empatik.
- Menciptakan Lingkungan yang Supportif - Baik dalam keluarga, tempat kerja, atau komunitas, penting untuk menciptakan budaya yang menghargai kontribusi setiap individu dan tidak mentolerir sikap meremehkan.
Mengutip dari buku Akhlak karya BISRI, M.FIL.I, sikap rendah hati merupakan lawan dari sikap meremehkan. Rendah hati berarti bersikap merendahkan diri untuk tidak bersikap sombong, dan termasuk dalam kategori akhlak terpuji yang perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
6. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa perbedaan antara kritik konstruktif dan meremehkan?
Kritik konstruktif bertujuan untuk membantu perbaikan dengan memberikan masukan yang spesifik dan solusi, sementara meremehkan bertujuan untuk merendahkan tanpa memberikan nilai tambah atau solusi yang membangun.
Bagaimana cara merespons ketika diremehkan oleh orang lain?
Tetap tenang dan jangan terpancing emosi. Sampaikan dengan tegas bahwa Anda tidak menerima perlakuan tersebut, fokus pada fakta dan pencapaian Anda, serta jika perlu, batasi interaksi dengan orang yang sering meremehkan.
Apakah meremehkan selalu disadari oleh pelakunya?
Tidak selalu. Banyak orang yang meremehkan tanpa menyadari dampak negatif dari kata-kata atau tindakan mereka. Hal ini sering terjadi karena kurangnya kesadaran diri dan empati terhadap perasaan orang lain.
Bisakah sikap meremehkan diatasi melalui terapi atau konseling?
Ya, terapi atau konseling dapat membantu seseorang memahami akar penyebab sikap meremehkan, mengembangkan empati, dan mempelajari pola komunikasi yang lebih sehat dan konstruktif.
Apa dampak jangka panjang dari sering diremehkan?
Dampak jangka panjang dapat berupa harga diri rendah kronik, kecemasan sosial, depresi, kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal, dan penurunan motivasi untuk berkembang atau berprestasi.
Bagaimana cara mengajarkan anak untuk tidak meremehkan orang lain?
Berikan contoh perilaku yang menghargai orang lain, ajarkan empati melalui cerita dan diskusi, hindari membandingkan anak dengan orang lain secara negatif, dan berikan pujian ketika anak menunjukkan sikap menghargai terhadap orang lain.
Apakah ada hubungan antara meremehkan dengan bullying?
Ya, meremehkan dapat menjadi salah satu bentuk bullying verbal. Ketika dilakukan secara berulang dan sistematis dengan tujuan menyakiti atau menekan orang lain, sikap meremehkan dapat dikategorikan sebagai perundungan yang memerlukan penanganan serius.
(kpl/fds)
Advertisement