Kapanlagi.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah tawadhu yang berkaitan dengan sikap rendah hati. Apa arti tawadhu sebenarnya dan mengapa sifat ini begitu penting dalam Islam?
Tawadhu merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Sikap ini tidak hanya mencerminkan kerendahan hati, tetapi juga menunjukkan kedewasaan spiritual seseorang dalam memahami posisinya di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.
Mengutip dari buku 1001 Tanya Jawab Dalam Islam karya Ust. Muksin Matheer dan Ilham Dewangga, tawadhu termasuk dalam dua puluh satu macam akhlak mahmudah (terpuji) yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pemahaman mendalam tentang apa arti tawadhu akan membantu kita mengembangkan karakter yang lebih mulia dan dicintai Allah SWT.
Secara etimologi, tawadhu berasal dari bahasa Arab yang berarti rendah hati atau merendahkan diri. Namun, pengertian tawadhu dalam konteks Islam jauh lebih mendalam dari sekadar tidak sombong.
Menurut terminologi Islam, tawadhu adalah sikap ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya, sedangkan melecehkan diri adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tawadhu adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya. Definisi ini menunjukkan bahwa tawadhu bukan tentang merendahkan diri secara berlebihan, melainkan menempatkan diri pada posisi yang semestinya.
Dalam pandangan yang lebih luas, tawadhu merupakan sikap dan perbuatan manusia yang menunjukkan adanya kerendahan hati, tidak sombong dan tinggi hati, serta tidak mudah tersinggung. Melansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, tawadhu adalah sikap dan perbuatan manusia yang menunjukkan adanya kerendahan hati, tidak sombong dan tinggi hati, mudah tersinggung.
Al-Ghazali dalam pemikirannya menjelaskan bahwa tawadhu adalah setiap akhlak dan budi pekerti yang mempunyai dua ujung dan pertengahan antara dua ujung tersebut. Ujung yang lebih condong pada kelebihan dinamakan sombong atau takabur, dan ujung yang condong pada kekurangan adalah rendah diri dan rendah jiwa. Pertengahan antara kedua sifat tersebut adalah yang disebut tawadhu atau merendahkan hati.
Islam memberikan penekanan khusus pada keutamaan tawadhu karena sifat ini membawa berbagai manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Berikut adalah keutamaan-keutamaan utama dari sikap tawadhu:
Mengutip dari buku AKHLAK karya Bisri, M.Fil.I, rendah hati termasuk sikap terpuji yang menunjukkan seseorang bersikap merendahkan diri untuk tidak bersikap sombong. Sikap ini mencerminkan kedewasaan spiritual dan emosional seseorang.
Untuk memahami lebih dalam tentang tawadhu, penting mengenali ciri-ciri orang yang memiliki sifat mulia ini:
Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam menerapkan sikap tawadhu. Beliau mencontohkan berbagai perilaku tawadhu yang dapat kita teladani:
Rasulullah SAW biasa memberi salam kepada anak-anak kecil dan mengusap kepala mereka. Anas berkata: "Sungguh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka." (HR. Ibnu Hibban)
Di rumah, Rasulullah SAW membantu pekerjaan istri-istrinya. Ketika ditanya tentang aktivitas Nabi di rumah, Aisyah menjawab: "Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat." (HR. Bukhari no. 676)
Bahkan untuk pekerjaan sederhana seperti menjahit baju yang sobek atau mengesol sandal, Rasulullah SAW melakukannya sendiri. Urwah bertanya kepada Aisyah: "Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala bersamamu?" Aisyah menjawab: "Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember." (HR. Ahmad)
Mengembangkan sifat tawadhu memerlukan latihan dan kesadaran yang konsisten. Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayat Al-Hidayah menjelaskan lima upaya yang harus dilakukan dalam mencapai sifat tawadhu:
Selain itu, sifat tawadhu dapat terbentuk melalui kebersyukuran yaitu memahami bahwa apapun yang kita miliki adalah pemberian Yang Maha Kuasa, menghindari sifat pamer, bersikap sabar dalam menghadapi cobaan, dan berusaha mengendalikan diri untuk tidak menampakkan kelebihan kepada orang lain.
Para ulama memberikan nasihat berharga tentang tawadhu yang dapat menjadi renungan bagi kita:
Al Hasan Al Bashri berkata: "Tahukah kalian apa itu tawadhu? Tawadhu adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu."
Imam Asy Syafi'i berkata: "Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya."
Abdullah bin Al Mubarrok berkata: "Puncak dari tawadhu adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya."
Abu Bakr Ash Shiddiq berkata: "Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat takwa, qona'ah (merasa cukup) muncul karena yakin (pada apa yang ada di sisi Allah), kedudukan mulia didapati dari sifat tawadhu."
Tawadhu adalah sikap pertengahan yang seimbang antara sombong dan rendah diri. Tawadhu berarti menempatkan diri pada posisi yang semestinya tanpa merasa lebih tinggi atau terlalu merendahkan diri, sedangkan rendah diri adalah sikap menempatkan diri terlalu rendah hingga melecehkan hak diri sendiri.
Tawadhu adalah sikap yang tulus dari hati yang mengakui bahwa segala kelebihan berasal dari Allah, sedangkan sikap munafik adalah pura-pura rendah hati untuk mendapat pujian atau keuntungan tertentu. Tawadhu dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan untuk mendapat pengakuan manusia.
Tidak, tawadhu tidak bertentangan dengan percaya diri. Orang yang tawadhu tetap percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya, namun tidak sombong dan selalu mengakui bahwa kemampuan tersebut adalah anugerah dari Allah SWT.
Tawadhu dapat diajarkan kepada anak melalui keteladanan orang tua, mengajarkan untuk selalu bersyukur atas nikmat yang dimiliki, tidak membanding-bandingkan anak dengan orang lain secara berlebihan, dan mengajarkan untuk menghargai semua orang tanpa memandang status sosial.
Tawadhu justru dapat mengantar seseorang pada kesuksesan sejati karena orang yang tawadhu lebih mudah belajar, menerima kritik, bekerja sama dengan orang lain, dan mendapat dukungan dari banyak pihak. Allah juga berjanji akan meninggikan derajat orang yang bertawadhu.
Cara mengatasi sombong adalah dengan selalu mengingat bahwa semua kelebihan berasal dari Allah, sering berdzikir dan berdoa, bergaul dengan orang-orang shalih, memperbanyak sedekah, dan selalu mengingat kematian serta akhirat.
Tidak, tawadhu memiliki beberapa tingkatan yaitu tawadhu terhadap Allah SWT dengan menerima segala ketentuan-Nya, tawadhu terhadap sesama manusia dengan menghargai semua orang, dan tawadhu terhadap ilmu pengetahuan dengan mengakui bahwa pengetahuan adalah kurnia dari Allah.