Kapanlagi.com - Jumat Agung merupakan hari paling sakral dalam kalender liturgi Kristiani yang memperingati penyaliban dan kematian Yesus Kristus di Bukit Golgota.[1] Membaca ayat Alkitab Jumat Agung menjadi tradisi penting bagi umat beriman untuk merenungkan makna pengorbanan tersebut secara mendalam.
Berbagai ayat dalam Alkitab berbicara tentang peristiwa Jumat Agung, mulai dari nubuatan Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama hingga narasi penyaliban dalam keempat Injil kanonik.[3] Setiap ayat Alkitab Jumat Agung mengandung pesan tentang kasih, penebusan, dan pengharapan kekal yang diberikan Allah kepada umat manusia melalui pengorbanan Anak-Nya.
Melansir dari Christianity.com, Jumat Agung disebut "good" bukan karena peristiwa di dalamnya menyenangkan, melainkan karena penderitaan dan kematian Yesus menggenapi rencana keselamatan Allah bagi seluruh umat manusia.[1] Menurut Britannica, sejak masa awal kekristenan, Jumat Agung telah diperingati sebagai hari penuh duka, tobat, dan puasa.[2] Oleh karena itu, membaca dan merenungkan ayat-ayat Alkitab terkait hari ini menjadi langkah bermakna dalam menghayati iman.
Advertisement
Baca juga: Mengenal Istilah Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah
Jumat Agung, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Good Friday, adalah hari Jumat sebelum Paskah yang memperingati penyaliban Yesus Kristus dan kematian-Nya di Kalvari.[1] Hari ini juga dikenal dengan sebutan Holy Friday, Great Friday, atau Black Friday di berbagai tradisi Kristen.[5] Bagi umat Kristiani, Jumat Agung bukan sekadar peringatan historis, melainkan momen refleksi mendalam tentang pengorbanan terbesar dalam sejarah keselamatan. Peringatan ini merupakan bagian dari Pekan Suci yang dimulai dari Minggu Palma dan berakhir pada Minggu Paskah.
Menurut Britannica, asal-usul sebutan "Good" pada Good Friday berasal dari makna lama bahasa Inggris yang berarti "holy" atau kudus.[2] Dalam bahasa Jerman, hari ini disebut Karfreitag yang berarti "Jumat Penuh Sengsara."[2] Justin Holcomb, teolog dan imam Episkopal, menjelaskan bahwa "penderitaan dan kematian Yesus menandai puncak dramatis dari rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa."[1] Terlepas dari asal-usul sebutannya, Jumat Agung dianggap tepat karena mengarah pada kebangkitan Kristus yang menjadi kabar baik bagi seluruh dunia.
Dalam tradisi liturgi, Jumat Agung merupakan bagian dari Tri Hari Suci Paskah (Triduum Paschale) bersama Kamis Putih dan Sabtu Suci.[9] Menurut Britannica, hingga abad ke-4, Perjamuan Terakhir, kematian, dan kebangkitan Yesus diperingati dalam satu perayaan tunggal pada malam sebelum Paskah.[2] Sejak saat itu, ketiga peristiwa tersebut mulai diperingati secara terpisah. Berbagai denominasi Kristen memperingati Jumat Agung dengan ibadah khidmat, pembacaan ayat Alkitab, nyanyian pujian, puasa, dan perenungan akan pengorbanan Kristus di kayu salib.[4]
Menurut GotQuestions.org, Alkitab tidak secara spesifik memerintahkan maupun melarang perayaan Jumat Agung, namun memberikan kebebasan kepada umat beriman dalam hal ini (Roma 14:5).[4] Yang terpenting, fokus perayaan haruslah pada pengorbanan Kristus yang agung. Seperti ditegaskan dalam 1 Korintus 11:26, setiap kali umat mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, mereka memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang kembali.[4]
Alkitab memuat banyak ayat yang sangat relevan untuk direnungkan pada hari Jumat Agung. Ayat-ayat ini membentang dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, masing-masing menyoroti aspek berbeda dari pengorbanan Kristus. Melansir dari Crosswalk.com, ayat-ayat Jumat Agung mencakup nubuatan Perjanjian Lama hingga narasi detail dalam Injil tentang sengsara Kristus.[3] Berikut kumpulan ayat Alkitab Jumat Agung yang paling sering dibaca dan direnungkan oleh umat Kristiani.
Baca juga: Renungan Minggu Palma yang Menyentuh Hati dan Menguatkan Iman
Salah satu aspek yang membuat ayat Alkitab Jumat Agung begitu istimewa adalah keterkaitan antara nubuatan dalam Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam peristiwa penyaliban Yesus. Menurut Crosswalk.com, Alkitab memberitahu bahwa korban diperlukan untuk memperbaiki hubungan antara Allah yang sempurna dan manusia yang berdosa, dan Perjanjian Lama telah menubuatkan kedatangan Mesias yang akan menjadi korban tertinggi.[3] Berikut nubuatan-nubuatan penting yang digenapi pada hari pengorbanan Kristus.
Menurut Crosswalk.com, salib mengubah maknanya setelah kematian dan kebangkitan Yesus karena umat Israel pada awalnya memandang salib sebagai benda terkutuk berdasarkan Ulangan 21:23.[3] Namun setelah peristiwa Jumat Agung, salib menjadi simbol kematian terhadap diri sendiri untuk hidup bersama Kristus dan pengingat akan pengorbanan-Nya demi kehidupan kekal.
Baca juga: Cerita Alkitab Minggu Palma dan Kisah Yesus Memasuki Yerusalem
Salah satu tradisi renungan ayat Alkitab Jumat Agung yang paling mendalam adalah meditasi atas tujuh perkataan terakhir Yesus di kayu salib. Menurut Jesuits.org, tradisi ini dimulai pada abad ke-17 oleh seorang imam Yesuit di Peru yang mengembangkan devosi meditasi berdasarkan kata-kata terakhir Yesus.[7] Teolog Dominikan Timothy Radcliffe melihat angka tujuh sebagai signifikan karena merupakan angka kesempurnaan dalam Alkitab, dan menurutnya "tujuh perkataan ini adalah bagian dari penyelesaian Allah atas ciptaan-Nya."[6]
Ketujuh perkataan ini dikumpulkan dari keempat Injil dan disusun dalam urutan kronologis berikut.[6]
Fr. James Martin, SJ, penulis buku Seven Last Words, berharap kata-kata Yesus di kayu salib mengundang umat pada persahabatan yang lebih dalam dengan Sang Juruselamat. Ia mengingatkan bahwa "Jumat Agung adalah satu hari dalam kehidupan Yesus. Kehidupan Yesus bukan hanya tentang penderitaan dan rasa sakit."[7] Sementara itu, Fr. Kesicki menegaskan bahwa "lebih dari apa pun dalam hidup, Ia ingin mati untuk kita, karena kasih tanpa syarat yang murni."[7]
Baca juga: Bacaan Minggu Palma Lengkap Beserta Makna dan Cara Menghayatinya
Membaca ayat Alkitab Jumat Agung tidak cukup hanya sekadar membaca teks secara sekilas. Diperlukan penghayatan dan refleksi mendalam agar makna pengorbanan Kristus benar-benar meresap dalam hati. Menurut GotQuestions.org, bagaimanapun cara umat Kristiani memilih untuk memperingati Jumat Agung, fokus utamanya haruslah pada pengorbanan besar Kristus.[4] Melalui perenungan yang sungguh-sungguh, ayat-ayat ini dapat menjadi sumber kekuatan dan pembaruan iman.
Salah satu cara yang direkomendasikan adalah mengikuti ibadah Tenebrae, sebuah tradisi di mana lilin-lilin dipadamkan satu per satu saat ayat Alkitab dibacakan, melambangkan kegelapan yang menyelimuti bumi saat penyaliban Yesus.[3] Cara lainnya adalah membaca satu ayat per hari selama Pekan Suci, disertai pertanyaan refleksi yang membantu memperdalam pemahaman. Selain itu, umat juga dapat merenungkan ayat Alkitab Jumat Agung bersama keluarga untuk membangun ikatan rohani yang lebih kuat. Dalam tradisi Katolik, ibadah Jalan Salib juga menjadi sarana meditasi yang mendalam tentang penderitaan Kristus.
Hope Bolinger, penulis dan editor Kristen, menyampaikan bahwa "meskipun kita mengakui sifat khidmat Jumat Agung, kita menanti Minggu Kebangkitan, di mana kita akhirnya menyatakan, 'Ia telah bangkit!'"[3] Perspektif ini penting karena mengingatkan umat bahwa perenungan ayat Alkitab Jumat Agung selalu diarahkan pada pengharapan akan kebangkitan. Ayat-ayat seperti Roma 6:5 menegaskan bahwa jika umat beriman telah menjadi satu dengan kematian Kristus, mereka juga akan bersatu dengan kebangkitan-Nya.[8]
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, perenungan atas ayat-ayat ini dapat diterapkan melalui sikap pengampunan terhadap sesama, kerendahan hati dalam melayani, dan ketabahan dalam menghadapi penderitaan. Sebagaimana Yesus berdoa bagi para penyalib-Nya di kayu salib, umat Kristiani diajak untuk mempraktikkan kasih dan pengampunan yang tanpa batas.[4] Membagikan ucapan Jumat Agung yang penuh makna kepada sesama juga menjadi bentuk solidaritas rohani yang mempererat persaudaraan dalam iman.
Baca juga: Ucapan Minggu Palma 2026 Penuh Makna untuk Keluarga dan Sahabat
Baca juga: Warna Baju untuk Minggu Palma dan Panduan Lengkap Berpakaian di Pekan Suci
Jumat Agung adalah hari Jumat sebelum Paskah yang memperingati penyaliban dan kematian Yesus Kristus di Bukit Golgota.[1] Hari ini merupakan bagian dari Tri Hari Suci Paskah dan menjadi momen refleksi mendalam bagi umat Kristiani untuk mengenang pengorbanan tertinggi demi keselamatan manusia.[9]
Kata "Good" dalam Good Friday berasal dari makna lama bahasa Inggris yang berarti "kudus" atau "suci."[5] Hari ini disebut agung karena meskipun penuh penderitaan, pengorbanan Yesus menggenapi rencana keselamatan Allah dan membuka jalan pengampunan serta kehidupan kekal bagi umat manusia.[1]
Beberapa ayat yang paling sering dibaca meliputi Yohanes 3:16 tentang besarnya kasih Allah, Yesaya 53:5 tentang Hamba yang Menderita, Roma 5:8 tentang kasih Allah bagi orang berdosa, serta narasi penyaliban dalam Matius 27, Markus 15, Lukas 23, dan Yohanes 19.[3][8]
Tujuh perkataan terakhir Yesus dikumpulkan dari keempat Injil, yaitu perkataan pengampunan (Lukas 23:34), keselamatan (Lukas 23:43), hubungan (Yohanes 19:26-27), kesendirian (Matius 27:46), penderitaan (Yohanes 19:28), kemenangan (Yohanes 19:30), dan penyerahan (Lukas 23:46).[6] Tradisi merenungkan tujuh perkataan ini telah berlangsung sejak abad ke-17.[7]
Jumat Agung diperingati setiap hari Jumat sebelum Minggu Paskah, dan tanggalnya berubah setiap tahun karena mengikuti kalender lunar.[2] Pada tahun 2026, Jumat Agung jatuh pada tanggal 3 April.[9]
Umat Kristiani memperingati Jumat Agung dengan berbagai cara, antara lain ibadah khidmat di gereja, pembacaan Kisah Sengsara, penghormatan salib, puasa dan pantang, serta Jalan Salib.[4] Beberapa tradisi juga mengenakan pakaian hitam atau merah sebagai tanda duka dan penghormatan terhadap pengorbanan Kristus.[9]
Jumat Agung dan Paskah merupakan dua peristiwa yang tidak terpisahkan dalam iman Kristiani. Jumat Agung memperingati kematian Yesus di kayu salib, sedangkan Paskah merayakan kebangkitan-Nya pada hari ketiga.[1] Tanpa pengorbanan pada Jumat Agung, tidak ada kemenangan kebangkitan pada Minggu Paskah — keduanya adalah satu kesatuan dalam rencana keselamatan Allah.[1]
Daftar Referensi
(kpl/fed)