Kapanlagi.com - Indonesia mengenal beragam perayaan pergantian tahun, termasuk tahun baru Islam yang jatuh pada 1 Muharram dan tahun baru Masehi pada 1 Januari. Meski keduanya sama-sama menandai awal tahun baru, kedua perayaan ini memiliki latar belakang yang sangat berbeda.
Perbedaan tahun baru Islam dan Masehi yang paling mendasar terletak pada sistem penanggalan yang digunakan. Kalender Hijriah mengikuti siklus peredaran bulan mengelilingi bumi, sedangkan kalender Masehi berpedoman pada revolusi bumi mengelilingi matahari.
Bagi siapa saja yang ingin memahami konteks ibadah dan tradisi keagamaan, perbedaan tahun baru Islam dan Masehi menjadi topik yang penting untuk dikaji. Berikut ulasan lengkap mengenai perbedaan keduanya dari berbagai aspek.
Advertisement
Mengacu pada EBSCO Research, kalender Islam yang juga dikenal sebagai kalender Hijri atau kalender lunar dimulai pada 16 Juli 622 Masehi, menandai peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi tonggak berdirinya komunitas Muslim pertama.
Sebagaimana dikutip dari Islamic Relief Australia, kalender Hijriah mendapatkan namanya dari kata "hijrah" yang berarti "perpindahan," karena dimulai dari tahun di mana Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi akibat penganiayaan oleh kaum Quraisy. Singkatan AH yang sering ditemui dalam penulisan tahun Hijriah berasal dari bahasa Latin Anno Hegirae yang bermakna "tahun hijrah."
Di sisi lain, tahun baru Masehi adalah peringatan pergantian tahun berdasarkan kalender Masehi atau kalender Gregorian. Sistem ini juga disebut kalender Barat atau kalender Kristen dan merupakan kalender yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, dinamai sesuai Paus Gregorius XIII yang memperkenalkannya pada tahun 1582 sebagai kalender solar. Perhitungannya didasarkan pada revolusi bumi mengelilingi matahari, dengan satu tahun terdiri dari 365 hari atau 366 hari pada tahun kabisat. Tahun baru Masehi jatuh setiap tanggal 1 Januari dan dirayakan secara global.
Meskipun kedua kalender ini sama-sama memiliki 12 bulan dalam satu tahun, perbedaan mendasarnya terletak pada acuan astronomi. Karena tahun lunar lebih pendek, bulan-bulan Islam bergeser mundur sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahunnya dalam kalender Gregorian. Kondisi ini menjadikan setiap perayaan Islam, termasuk Ramadan dan Idul Fitri, berpindah tanggal dalam kalender Masehi setiap tahun.
Baca juga: Informasi Lengkap Kalender Hijriyah dan Tanggal Merah
Dilansir dari IslamicFinder, tahun Islam rata-rata lebih pendek 11 hingga 12 hari dibandingkan tahun Gregorian karena kalender lunar Islam tidak bergantung pada perubahan musim atau kondisi cuaca.
Berikut tujuh perbedaan utama yang perlu dipahami:
Baca juga: Panduan Ucapan Selamat Tahun Baru dalam Bahasa Arab
Merujuk Sound Vision, Khalifah Umar memilih peristiwa hijrah sebagai epok kalender baru karena hijrah merupakan momen di mana Nabi Muhammad SAW dan 70 orang Muslim dari Makkah ke Madinah pertama kali memperoleh otonomi keagamaan dan politik. Meskipun sebagian sahabat mengusulkan agar kalender dimulai dari bulan Ramadan atau dari kelahiran Nabi, Khalifah Umar menetapkan bulan Muharram sebagai bulan pertama dengan alasan bahwa Muharram mengikuti selesainya musim haji sehingga menjadi waktu yang tepat untuk memulai tahun baru.
Adapun kalender Masehi yang digunakan secara global saat ini berakar dari peradaban Romawi kuno. Awalnya, Romulus menerapkan penanggalan yang hanya terdiri dari 10 bulan dan 304 hari. Kemudian Numa Pompilius menambahkan dua bulan, yakni Januarius dan Februarius. Penyempurnaan berikutnya dilakukan oleh Julius Caesar dengan bantuan ahli astronomi, menghasilkan kalender Julian yang menetapkan satu tahun menjadi 365,25 hari.
Namun, kalender Julian ternyata masih memiliki ketidaktepatan sehingga pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian sebagai kalender solar yang lebih akurat. Kalender Gregorian diadopsi secara bertahap oleh negara-negara di dunia. Adopsi kalender Gregorian oleh Inggris bahkan dilaporkan sempat memicu kerusuhan, karena transisi dari kalender Julian membutuhkan penghapusan 11 hari dari penanggalan yang sedang berjalan.
Baca juga: Kumpulan Ucapan Menyambut Tahun Baru Islam
Dalam konteks ibadah, bulan Muharram menyimpan keutamaan besar bagi umat Islam. Puasa di bulan Muharram, terutama puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, sangat dianjurkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Aku berharap kepada Allah agar puasa pada Hari Asyura dapat menebus dosa-dosa setahun yang telah lalu" (Sahih Muslim).
Berbeda halnya dengan tahun baru Masehi yang umumnya dirayakan secara meriah dengan kembang api, konser musik, hitung mundur, dan berbagai acara publik di seluruh dunia. Banyak orang menjadikan momen pergantian tahun Masehi sebagai waktu untuk membuat resolusi, yakni target atau harapan yang ingin dicapai di tahun mendatang. Perayaan biasanya dimulai pada malam 31 Desember dan berlanjut hingga dini hari tanggal 1 Januari.
Perbedaan cara merayakan ini mencerminkan filosofi yang berbeda antara kedua sistem penanggalan. Tahun baru Islam pada hakikatnya adalah waktu untuk introspeksi dan penyucian diri. Sementara itu, tahun baru Masehi lebih bersifat sekuler dan sosial. Meski demikian, keduanya sama-sama menjadi momen berharga untuk merefleksikan perjalanan hidup.
Baca juga: Ucapan Islami yang Menyentuh Hati untuk Orang Terkasih
Berdasarkan catatan Destination KSA, terdapat selisih 578 tahun antara kalender Gregorian dan kalender Islam. Namun, pada tahun 20.874 Masehi, kedua kalender ini akan menunjukkan angka tahun yang sama.
Baca juga: Panduan Ucapan dan Doa dalam Bahasa Arab
Tahun Hijriah terdiri dari 354 hingga 355 hari, sedangkan tahun Masehi terdiri dari 365 hingga 366 hari. Selisih sekitar 10 hingga 12 hari ini menyebabkan tanggal 1 Muharram mundur setiap tahunnya dalam penanggalan Masehi. Perbedaan tahun baru Islam dan Masehi dalam hal jadwal perayaan inilah yang membuat umat Islam bisa mengalami Muharram di berbagai musim sepanjang hidupnya.
Meskipun tidak ada ibadah wajib khusus pada 1 Muharram, umat Islam sangat dianjurkan memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram, terutama puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram dan puasa Tasua pada tanggal 9 Muharram. Selain berpuasa, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk muhasabah diri, memperbanyak doa, dan meningkatkan amal kebaikan sebagai bekal menjalani tahun baru Hijriah.
Penetapan 1 Januari sebagai hari pertama tahun baru Masehi dilakukan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582 melalui reformasi kalender Gregorian. Sebelumnya, berbagai peradaban memiliki tanggal awal tahun yang berbeda-beda. Bangsa Romawi kuno sendiri awalnya menetapkan Maret sebagai bulan pertama, dan pergantian ke 1 Januari dilakukan sebagai penghormatan kepada dewa Janus, dewa permulaan dalam mitologi Romawi.
Memahami perbedaan tahun baru Islam dan Masehi secara menyeluruh memberikan wawasan tentang betapa kayanya keberagaman sistem penanggalan yang digunakan manusia sepanjang sejarah. Kedua kalender ini memiliki nilai historis, ilmiah, dan spiritual yang sama-sama layak untuk diapresiasi, baik oleh umat Islam maupun masyarakat dunia secara umum.
Daftar Referensi
(kpl/fed)