Liu Yuning Bongkar Persaingan Kotor di Industri Drama China, Pemeran Pendukung Rasa Aktor Utama
Liu Yuning - instagram.com/@md_liuyuningg
Kapanlagi.com - Industri drama China kembali jadi sorotan. Bukan karena visual kostum yang megah atau kisah cinta epik, melainkan karena pengakuan blak blakan dari Liu Yuning. Aktor sekaligus penyanyi ini mengungkap sisi gelap persaingan di balik layar yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.
Dalam siaran langsungnya pada 26 Januari, Liu Yuning membahas fenomena yang dikenal dengan istilah Xian Zhuo, yaitu kondisi ketika pemeran pendukung justru “menggebrak meja” dan mencuri sorotan secara tidak sehat. Pernyataannya langsung memicu diskusi panas di kalangan penggemar drama China.
Advertisement
1. Menolak Peran Utama karena Naskah Tidak Masuk Akal
Liu Yuning mengungkap bahwa ia pernah menolak tawaran sebagai pemeran utama dalam sebuah drama kostum. Alasannya bukan soal jadwal atau bayaran, melainkan ketimpangan penokohan yang menurutnya sudah kelewat batas.
Ia menilai banyak drama saat ini justru melemahkan karakter utama, sementara peran pendukung dibuat jauh lebih menarik dan dramatis. Akibatnya, pemeran utama terlihat datar dan harus berjuang sendirian menopang cerita.
Menurut Liu Yuning, pola ini bukan kebetulan, melainkan kegagalan serius dalam penulisan naskah.
2. Karakter Utama Dibuat Datar, Pemeran Pendukung Dipermanis
Dalam penjelasannya, Liu Yuning memberi contoh tipikal karakter yang sering muncul di drama kostum China.
Pemeran utama pria sering digambarkan sebagai bangsawan dengan karakter kaku dan hanya mengandalkan dialog pedas. Sementara itu, pemeran pendukung kedua atau ketiga justru diberi latar yang lebih emosional, seperti tokoh CEO sakit sakitan yang obsesif atau pria tragis dengan masa lalu kelam.
Penokohan semacam ini membuat penonton lebih mudah bersimpati pada pemeran pendukung, meskipun kemampuan aktingnya biasa saja. Liu Yuning menegaskan bahwa ini bukan soal aktor, melainkan kesalahan struktur cerita yang sengaja atau tidak sengaja menciptakan persaingan tidak sehat.
3. Kritik Pedas untuk Strategi Pemasaran yang Kotor
Tak berhenti di naskah, Liu Yuning juga mengecam praktik pemasaran yang menurutnya sudah melewati batas etika. Ia menyoroti strategi promosi yang sengaja menjatuhkan pemeran utama demi mengangkat popularitas aktor pendukung.
Sebagai aktor yang namanya melejit lewat drama A Journey to Love dan The Legend of Anle, Liu Yuning menegaskan bahwa ambisi untuk naik kelas adalah hal wajar. Namun, cara mencapainya tetap harus bermartabat.
“Ingin naik posisi itu wajar, tapi jangan melakukannya dengan cara yang buruk. Itu sangat kotor, dan saya tidak akan melakukannya,” tegasnya.
4. Tetap Profesional Tanpa Permainan Licik
Liu Yuning juga mencontohkan sikap profesional yang selama ini ia pegang. Ia mengaku selalu menjaga hubungan baik dengan lawan mainnya, termasuk Zeng Shunxi dan Gong Jun, tanpa perlu memainkan strategi manipulatif demi terlihat paling menonjol.
Baginya, kerja sama yang sehat di lokasi syuting jauh lebih penting dibanding persaingan tidak sehat yang justru merusak kualitas drama secara keseluruhan.
5. Pernyataan Liu Yuning Jadi Perbincangan
Pernyataan Liu Yuning membuka diskusi besar di kalangan penonton drama China. Apakah popularitas sebuah karakter benar benar lahir dari kualitas akting dan penokohan, atau justru hasil dari strategi pemasaran agresif yang mengatur persepsi publik?
Yang jelas, keberanian Liu Yuning berbicara jujur memperlihatkan bahwa di balik gemerlap industri hiburan, masih ada aktor yang memilih menjaga etika dan integritas. Dan mungkin, inilah alasan mengapa namanya terus mendapat tempat di hati penonton.
(kpl/chn)
Advertisement
D Academy 8
-
Dangdut Academy Selfi Yamma Curhat, Anak Didik di Dangdut Academy 8 Tinggal Satu
