10 Biji Kopi Terbaik di Asia Versi TasteAtlas 2026, Ada Indonesia

10 Biji Kopi Terbaik di Asia Versi TasteAtlas 2026, Ada Indonesia
biji kopi terbaik di asia versi tasteatlas yang tiga di antaranya Indonesia (AI Generated)

Kapanlagi.com - Kopi menjadi minuman yang dinikmati di berbagai belahan dunia, sementara Asia dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil biji kopi dengan karakter rasa yang beragam. Perbedaan kondisi alam, ketinggian lahan, hingga cara pengolahan membuat setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan produknya.

Bagi pencinta kopi yang ingin mengenal lebih jauh rekomendasi biji kopi unggulan dari kawasan Asia, daftar terbaru yang dirilis TasteAtlas bisa menjadi referensi. Dalam pemeringkatan tersebut, kopi dari Thailand, Laos, India, dan Indonesia berhasil menempati posisi teratas dengan karakter serta metode produksi yang berbeda-beda.

1. TasteAtlas Merilis Daftar Biji Kopi Terbaik di Asia

Asia memiliki ribuan kebun kopi yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari pegunungan Thailand, dataran tinggi Laos, kawasan perkebunan India, hingga sejumlah daerah penghasil kopi di Indonesia. Masing-masing menghasilkan cita rasa yang dipengaruhi kondisi tanah, iklim, serta tradisi pengolahan yang berkembang selama bertahun-tahun.

Daftar terbaru TasteAtlas memperlihatkan bagaimana berbagai produsen kopi dari kawasan tersebut mampu mempertahankan kualitas produknya. Penilaian itu menghadirkan beragam kopi spesial yang dikenal karena karakter rasa sekaligus proses produksi yang dijaga secara konsisten.

Empat negara mendominasi daftar tersebut, yakni Thailand, Laos, India, dan Indonesia. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan tiga wakil yang berhasil masuk ke dalam jajaran sepuluh besar.

2. Doi Chaang dan Sinouk Memimpin Peringkat Teratas

Posisi pertama ditempati Doi Chaang Coffee dari Chiang Rai, Thailand, dengan rating 4,9. Kopi single origin ini berasal dari pegunungan Doi Chaang pada ketinggian sekitar 1.000 hingga 1.700 meter dan dikembangkan oleh komunitas Akha yang sejak 1990 mengalihkan lahan opium menjadi perkebunan kopi Arabika.

Seluruh biji kopi dipetik serta disortir secara manual untuk menjaga kualitasnya. Doi Chaang Coffee juga mengelola rantai produksinya sendiri, telah memperoleh status Indikasi Geografis, dan kini dipasarkan ke berbagai negara.

Peringkat kedua ditempati Sinouk Coffee dari Laos dengan rating 4,8. Produsen yang berdiri sejak 1994 di kawasan dataran tinggi Bolaven tersebut mengelola seluruh proses, mulai dari budidaya hingga pengolahan akhir.

Sinouk Coffee menggunakan metode pengolahan basah maupun kering, sementara proses sangrai dilakukan dalam batch kecil agar rasa tetap konsisten. Selain menghadirkan kopi Arabika, campuran Arabika-Robusta, kapsul, dan drip bag, perusahaan ini juga mengembangkan Café Sinouk sebagai pusat edukasi sekaligus destinasi wisata kopi.

Di posisi ketiga terdapat Cohoma Coffee dari Ghaziabad, India, yang juga memperoleh rating 4,8. Roastery ini menghadirkan produk yang dirancang mudah diseduh tanpa memerlukan peralatan khusus, dengan biji kopi yang dipanggang dalam jumlah kecil agar kesegarannya tetap terjaga.

Pilihan produknya mencakup kopi sangrai segar, kapsul, kantong seduh, hingga cold brew siap minum. Melalui konsep tersebut, Cohoma Coffee menyasar penikmat kopi rumahan yang menginginkan cita rasa berkualitas dengan cara penyeduhan yang praktis.

3. Tiga Wakil Indonesia Berhasil Menembus Posisi 10 Besar

Indonesia menempatkan tiga produknya dalam daftar 10 biji kopi terbaik di Asia versi TasteAtlas. Wakil pertama adalah Akasa Coffee dari Kintamani, Bali, yang berada di posisi keempat dengan rating 4,8.

Roastery ini menerapkan konsep Farm to Cup dengan mengawasi seluruh proses produksi, mulai dari pemilihan benih, penanaman, fermentasi, pengeringan, hingga tahap sangrai. Salah satu produk andalannya adalah varian Honey yang mempertahankan karakter khas kopi Kintamani.

Posisi kelima ditempati Expat. Roasters dari Kuta, Bali, yang juga memperoleh rating 4,8. Roastery tersebut hanya menggunakan biji Arabika pilihan dan bermitra dengan lebih dari 50 petani kecil dalam radius sekitar 40 kilometer sehingga asal setiap biji kopi dapat ditelusuri.

Selain menawarkan kopi single origin dari Bali, Jawa, dan Aceh, Expat. Roasters juga menghadirkan berbagai racikan blend, drip bag, serta kapsul yang kompatibel dengan mesin Nespresso. Mereka turut mengembangkan pelatihan seduh dan latte art, sekaligus mendorong penggunaan kemasan ramah lingkungan serta daur ulang limbah kopi.

Daftar ini ditutup oleh Wahana Estate dari Sidikalang, Sumatra Utara, di posisi ke-10 dengan rating 4,7. Perkebunan seluas sekitar 500 hektare tersebut berdiri sejak 2005 di ketinggian sekitar 1.300 hingga 1.500 meter, dengan sebagian besar lahannya digunakan untuk budidaya kopi dan sisanya sebagai area pembibitan varietas baru.

4. India dan Thailand Turut Mendominasi Daftar

India kembali menambah wakilnya melalui Bloom Coffee Roasters yang berada di posisi keenam dengan rating 4,8. Roastery asal Panchkula tersebut bekerja sama dengan perkebunan kecil di India Selatan dan melakukan proses sangrai dalam jumlah kecil dengan pengaturan suhu serta waktu yang cermat.

Bloom Coffee Roasters menggunakan metode washed, honey, dan natural untuk menghasilkan profil rasa yang beragam, mulai dari jeruk, cokelat, hingga buah-buahan. Selain memproduksi kopi, mereka juga aktif memberikan pelatihan kepada para barista di berbagai kedai kopi di India.

Thailand kembali muncul melalui Sarnies Bangkok yang menempati posisi ketujuh dengan rating 4,8. Berawal dari Singapura pada 2017, merek ini membuka cabang pertamanya di Bangkok setahun kemudian dengan memanfaatkan bangunan bekas bengkel reparasi kapal berusia lebih dari 150 tahun di kawasan Bang Rak.

Roastery tersebut menyajikan kopi spesial, roti buatan sendiri, dan menu brunch berbahan lokal Thailand. Salah satu produk yang dikenal pelanggan adalah varian Tiramisu Coffee Bean.

Posisi kedelapan ditempati Third Wave Coffee dari Bengaluru, India, dengan rating 4,7. Merek ini menggunakan 100 persen biji Arabika yang diperoleh melalui praktik pengadaan bahan baku secara etis dan dipanggang dalam batch kecil menggunakan mesin modern.

Sementara itu, posisi kesembilan menjadi milik Bombay Island dari Mumbai, India. Bernaung di bawah Rigmor Coffee Roasters, produk ini menggunakan Arabika murni dari kawasan Chikmagalur, Karnataka. Salah satu variannya, Mysore Nuggets Extra Bold, menawarkan karakter cokelat gelap, rempah, dan kacang yang dihasilkan melalui proses sangrai dalam jumlah terbatas.

5. Keunikan Pengolahan Menjadi Pembeda Tiap Biji Kopi

Daftar TasteAtlas memperlihatkan bahwa Thailand, Laos, India, dan Indonesia menjadi negara yang paling banyak menyumbangkan produk ke dalam 10 besar. Wilayah-wilayah tersebut dikenal memiliki dataran tinggi dengan kondisi yang mendukung pertumbuhan kopi Arabika berkualitas.

Setiap produsen juga mengembangkan metode pengolahan yang berbeda untuk mempertahankan karakter rasa kopinya. Sebagian memilih proses giling basah, sementara lainnya menggunakan metode natural maupun honey sesuai karakter biji kopi yang dihasilkan.

Pada metode giling basah, biji kopi dikeringkan sebagian sebelum kulit tanduknya dilepas, kemudian proses pengeringan dilanjutkan hingga mencapai tingkat kelembapan yang diinginkan. Adapun metode natural dilakukan dengan membiarkan buah kopi mengering terlebih dahulu sebelum kulit dan daging buah dipisahkan sehingga menghasilkan cita rasa yang cenderung lebih manis dan kompleks.

Perbedaan lokasi perkebunan, proses pascapanen, hingga teknik sangrai menjadi faktor yang membentuk karakter unik setiap kopi dalam daftar tersebut. Hal inilah yang membuat berbagai kopi asal Asia memiliki identitas rasa yang berbeda meski sama-sama berasal dari kawasan penghasil kopi tropis.

(kpl/mda)

Rekomendasi

Trending