Cara Menggunakan Nasal Aspirator yang Aman untuk Bayi Sesuai Jenisnya

Cara Menggunakan Nasal Aspirator yang Aman untuk Bayi Sesuai Jenisnya
cara menggunakan nasal aspirator (h)

Kapanlagi.com - Cara menggunakan nasal aspirator yang benar dimulai dengan meneteskan cairan saline ke hidung bayi, lalu menyedot lendir secara perlahan menggunakan alat yang sesuai. Proses ini sebaiknya dilakukan sebelum waktu menyusu atau tidur agar bayi bisa bernapas dengan lebih lega.

Nasal aspirator tersedia dalam tiga tipe utama, yaitu bulb syringe, oral suction, dan elektrik. Memahami cara menggunakan nasal aspirator sesuai tipe yang dimiliki akan membantu orang tua membersihkan hidung bayi tanpa menyebabkan iritasi atau cedera pada saluran pernapasannya yang masih sensitif.

Lendir atau dahak sebenarnya memiliki fungsi penting bagi tubuh. Dalam jumlah normal, lendir menjaga jaringan tetap lembap dan membantu menyaring debu serta partikel lain yang terhirup bayi. Namun, ketika terlalu banyak lendir menumpuk di saluran hidung, bayi akan kesulitan bernapas karena mereka hampir sepenuhnya bernapas melalui hidung. Dokter anak Noah Schwartz, MD, dikutip dari Cleveland Clinic menyatakan, "Kita paling sering memikirkan infeksi saluran pernapasan atas sebagai penyebab lendir berlebih pada bayi."

1. 1. Cara Menggunakan Nasal Aspirator Tipe Bulb Syringe (Pompa Karet)

1. Cara Menggunakan Nasal Aspirator Tipe Bulb Syringe (Pompa Karet) (c) Ilustrasi AI

Bulb syringe adalah tipe nasal aspirator yang paling umum ditemui dan sering diberikan oleh rumah sakit kepada orang tua baru. Cara menggunakan nasal aspirator tipe ini relatif sederhana, namun membutuhkan teknik yang tepat agar lendir bisa tersedot secara efektif tanpa melukai hidung bayi.

Robert Quillin, MD, dokter anak bersertifikat dari Pediatrix Newborn Services of Texas, dikutip dari Pediatrix menyarankan untuk menambahkan beberapa tetes cairan saline sebelum menggunakan nasal aspirator guna mengencerkan lendir, membatasi iritasi hidung, dan mencegah kerusakan pada bagian dalam lubang hidung.

  1. Cuci tangan dengan bersih: Pastikan tangan dalam kondisi higienis sebelum menyentuh alat dan hidung bayi untuk mencegah penyebaran kuman.

  2. Teteskan cairan saline ke hidung bayi: Baringkan bayi dalam posisi telentang, lalu teteskan 3 hingga 4 tetes cairan saline ke setiap lubang hidung menggunakan penetes hidung. Setelah memberikan tetesan, tahan posisi bayi dengan kepala sedikit mendongak selama sekitar satu menit agar cairan saline punya waktu untuk mengencerkan lendir.

  3. Tekan bulb hingga seluruh udara keluar: Remas seluruh udara dari dalam bola karet, lalu tahan posisi ini dan tempatkan ujung bulb yang sudah ditekan secara perlahan ke lubang hidung bayi.

  4. Arahkan ujung alat ke belakang, bukan ke atas: Posisikan ujung nozzle lurus ke arah belakang, bukan mengarah ke atas menuju mata. Hanya masukkan ujung alat secukupnya di dekat lubang hidung.

  5. Lepaskan tekanan secara perlahan: Biarkan bola karet mengembang kembali secara bertahap untuk menciptakan daya hisap yang menarik lendir keluar dari hidung bayi.

  6. Buang lendir ke tisu: Keluarkan alat dari hidung, lalu tekan bola karet untuk membuang lendir ke atas tisu. Ulangi langkah yang sama pada lubang hidung satunya.

  7. Bersihkan alat segera setelah digunakan: Cuci bulb syringe dengan air sabun hangat, bilas hingga bersih, dan pastikan benar-benar kering sebelum disimpan.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Hidung Tersumbat pada Bayi Tanpa Menggunakan Obat

2. 2. Cara Menggunakan Nasal Aspirator Tipe Oral Suction (Selang Hisap Mulut)

2. Cara Menggunakan Nasal Aspirator Tipe Oral Suction (Selang Hisap Mulut) (c) Ilustrasi AI

Tipe oral suction bekerja dengan prinsip hisapan dari mulut orang tua melalui selang yang terhubung ke ujung hidung bayi. Riset menunjukkan bahwa orang tua umumnya lebih menyukai aspirator oral dibandingkan bulb syringe, karena daya hisapnya lebih mudah dikontrol. Berikut langkah-langkah cara menggunakan nasal aspirator tipe oral suction dengan aman.

Dokter anak Noah Schwartz, MD, dikutip dari Cleveland Clinic menyatakan, "Ini membuat beberapa orang tua sedikit jijik, tetapi ada filter antara mulut Anda dan hidung bayi Anda."

  1. Pasang filter baru pada selang: Sebelum mulai, pastikan Anda memasang filter baru yang bersih ke dalam selang aspirator. Filter ini berfungsi mencegah lendir masuk ke mulut orang tua.

  2. Teteskan cairan saline terlebih dahulu: Sama seperti tipe bulb syringe, teteskan 1 hingga 2 tetes larutan garam steril ke setiap lubang hidung bayi dan tunggu sekitar 30 hingga 60 detik agar lendir mengencer.

  3. Masukkan ujung aspirator ke lubang hidung bayi: Alat ini dilengkapi pelindung yang mencegah Anda mendorong ujungnya terlalu jauh ke dalam lubang hidung bayi. Tempatkan ujung hanya di dekat pintu masuk lubang hidung.

  4. Hisap perlahan melalui corong mulut: Masukkan ujung aspirator ke hidung bayi dengan lembut, lalu letakkan corong mulut di antara bibir Anda dan hisap lendir secara perlahan.

  5. Ulangi pada lubang hidung satunya: Setelah satu sisi selesai, bersihkan ujung aspirator lalu lanjutkan ke lubang hidung berikutnya.

  6. Lepas semua komponen dan cuci bersih: Bongkar seluruh bagian alat, cuci dengan air sabun hangat, bilas, dan keringkan secara menyeluruh. Ganti filter sesuai petunjuk pabrik.

Baca juga: Cara Menggunakan Transpulmin Baby yang Benar dan Aman untuk Si Kecil

3. 3. Cara Menggunakan Nasal Aspirator Elektrik

3. Cara Menggunakan Nasal Aspirator Elektrik (c) Ilustrasi AI

Aspirator elektrik menjadi pilihan praktis bagi orang tua yang menginginkan daya hisap konsisten tanpa perlu menghisap dengan mulut. Tipe ini bekerja otomatis dengan menekan tombol dan biasanya dilengkapi beberapa level daya hisap. Memahami cara menggunakan nasal aspirator elektrik sangat penting agar prosesnya tetap nyaman bagi bayi.

Dr. Gans, dokter anak, dikutip dari The Bump menyatakan, "Prioritaskan waktunya sebelum menyusu dan sebelum tidur, saat pernapasan yang lancar paling penting."

  1. Siapkan alat dan pilih ujung yang sesuai: Pilih ujung silikon yang ukurannya pas untuk lubang hidung bayi. Ujung yang terlalu besar bisa menyebabkan ketidaknyamanan, sedangkan yang terlalu kecil tidak akan menciptakan segel yang baik.

  2. Teteskan cairan saline ke hidung bayi: Teteskan 1 hingga 2 tetes larutan saline steril ke masing-masing lubang hidung, lalu tunggu sekitar 30 detik agar lendir melunak.

  3. Nyalakan alat pada daya hisap terendah: Mulailah selalu dari level daya hisap paling rendah. Daya hisap yang terlalu kuat dapat mengiritasi lapisan hidung bayi yang sangat halus.

  4. Tempatkan ujung alat di pintu masuk lubang hidung: Jangan mendorong ujung alat terlalu dalam. Cukup tempelkan di dekat lubang hidung dan biarkan daya hisap bekerja menarik lendir keluar.

  5. Gunakan dalam durasi singkat: Lakukan penyedotan dalam waktu 1 hingga 2 detik per sesi, lalu jeda sebentar sebelum mengulangi. Beberapa alat memiliki fitur mati otomatis setelah beberapa detik.

  6. Pindah ke lubang hidung satunya: Bersihkan ujung alat dengan tisu, lalu ulangi proses yang sama pada sisi sebelahnya.

  7. Bongkar dan bersihkan semua komponen: Lepas ujung silikon dan wadah penampung lendir, cuci dengan air sabun hangat, lalu keringkan sepenuhnya sebelum dipasang kembali. Jaga agar unit motor tetap kering.

Sebagaimana disampaikan di Happiest Baby, Dr. Harvey Karp, dokter anak dan penulis buku The Happiest Baby on the Block, menyarankan agar bayi dibedong dengan tangan dalam posisi rapat sebelum proses penyedotan lendir agar tetap tenang. Ia juga menambahkan, "Kumpulkan ASI dari puting dengan pipet tetes, lalu dongakkan sedikit kepala bayi dan teteskan satu atau dua tetes ke lubang hidungnya." Ini menjadi alternatif pengganti cairan saline yang bisa digunakan orang tua.

Baca juga: 5 Strategi Ampuh dari Dokter untuk Mencegah dan Meredakan Flu serta Pilek

4. Kesalahan Umum dan Tips Aman Saat Menggunakan Nasal Aspirator

Kesalahan Umum dan Tips Aman Saat Menggunakan Nasal Aspirator (c) Ilustrasi AI

Selain mengetahui cara menggunakan nasal aspirator sesuai jenisnya, orang tua juga perlu memahami kesalahan-kesalahan umum yang sering terjadi agar proses penyedotan lendir tetap aman. Beberapa kekeliruan kecil bisa berdampak pada kenyamanan dan kesehatan hidung bayi.

Sebagaimana dilaporkan Braun Healthcare, penggunaan nasal aspirator sebaiknya dibatasi maksimal empat kali sehari, dan setiap sesi harus diberi jarak yang cukup agar hidung punya waktu untuk pulih. Jika melebihi batas ini, lapisan hidung bisa menjadi kering dan teriritasi, yang justru memperburuk masalah atau bahkan menyebabkan mimisan.

  • Memasukkan ujung alat terlalu dalam: Memasukkan ujung aspirator terlalu jauh ke dalam lubang hidung dapat menyebabkan ketidaknyamanan, merusak saluran hidung, atau memicu pendarahan ringan. Selalu masukkan ujung alat dengan lembut dan hanya sejauh yang diperlukan untuk membuat segel yang efektif. Bayi memiliki lubang hidung yang sangat pendek, sehingga risiko cedera sangat tinggi jika tidak berhati-hati.

  • Tidak menggunakan cairan saline terlebih dahulu: Cairan saline bisa membantu membersihkan lendir secara efektif. Karena tetes saline mengandung garam, cairan ini membantu memecah lendir. Tambahkan 2 hingga 3 tetes saline ke setiap sisi hidung, biarkan beberapa detik agar saline mulai memecah lendir, lalu sedot hidung.

  • Menyedot lendir terlalu sering: Meskipun nasal aspirator membantu mengeluarkan lendir, alat ini bisa digunakan terlalu sering. Penyedotan berulang-ulang dapat menyebabkan peradangan pada saluran hidung dan membuat bayi justru lebih sulit bernapas melalui hidung. Untuk bayi yang lebih kecil, sedot hidung sebelum menyusu dan sebelum tidur, biasanya setiap 3 hingga 4 jam. Untuk balita, sedot hidung saat bangun tidur, sebelum makan, dan sebelum tidur jika diperlukan.

  • Menyedot lendir setelah bayi makan: Gunakan cairan saline dan sedot hidung sebelum waktu menyusu. Jika dilakukan setelah menyusu, penyedotan bisa memicu bayi muntah. Ini adalah kesalahan umum yang sering terjadi pada orang tua baru.

  • Menekan bulb syringe saat masih di dalam hidung: Jika Anda tidak meremas bulb sebelum memasukkannya ke hidung bayi, ada risiko Anda justru mendorong udara atau lendir lebih dalam ke saluran hidung. Selalu tekan udara keluar dari bola karet terlebih dahulu sebelum memasukkan ujungnya.

  • Memaksa saat bayi menangis hebat: Dr. Gans, dikutip dari The Bump menyatakan, "Kebanyakan bayi menangis sebentar saat penyedotan. Ini adalah respons terhadap sensasi yang asing, bukan berarti kesakitan." Namun, jika bayi menangis sangat kencang dan meronta, sebaiknya hentikan dan coba lagi nanti saat bayi lebih tenang.

  • Tidak membersihkan alat setelah digunakan: Setelah membersihkan hidung bayi, hal terakhir yang ingin terjadi adalah memasukkan kuman kembali saat penggunaan berikutnya. Sayangnya, banyak nasal aspirator yang sulit dibersihkan dengan benar. Model dengan bagian rumit atau celah tersembunyi dapat menahan lendir dan kelembapan, menciptakan tempat ideal untuk pertumbuhan bakteri dan jamur.

  • Mengabaikan tanda bahaya pada bayi: Hentikan penggunaan dan segera hubungi dokter jika muncul darah dari hidung bayi, pembengkakan yang memburuk, atau bayi menunjukkan tanda kesulitan bernapas yang parah.

Merujuk Allegro Pediatrics, beberapa ahli bahkan tidak lagi merekomendasikan penggunaan bulb syringe. Bentuknya tidak memungkinkan terciptanya segel yang baik di lubang hidung, sehingga daya hisap harus lebih kuat. Lebih penting lagi, ujung bulb tidak terlihat saat berada di dalam hidung bayi, sehingga jika bayi menggerakkan kepalanya, risiko cedera pada lubang hidung yang kecil menjadi lebih tinggi.

Menjaga hidung anak tetap bersih selama sakit tetap penting bahkan setelah mereka melewati usia nasal aspirator. Sebagian besar anak sudah tidak lagi mau menggunakan aspirator pada usia 2 hingga 3 tahun. Saat ini terjadi, mulailah mengajarkan balita cara membuang ingus dengan menunjukkan cara meniup gelembung melalui hidung di dalam air saat mandi.

Selain menggunakan nasal aspirator, beberapa langkah pendukung juga perlu dilakukan untuk membantu bayi yang mengalami pilek atau hidung tersumbat. Gunakan humidifier di kamar bayi untuk menjaga kelembapan udara agar lendir tidak mengering. Pastikan bayi mendapat cukup ASI atau susu formula untuk mencegah dehidrasi, dan tinggikan sedikit posisi kepala bayi saat tidur untuk membantu drainase lendir secara alami. Jika bayi mengalami demam tinggi yang menyertai pilek, segera periksakan ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat.

Baca juga: Cara Menggunakan Thermo One dengan Benar untuk Hasil Pengukuran Suhu yang Akurat

Berdasarkan laporan di jurnal JAMA Network Open, sebuah studi pada tahun 2023 tidak menemukan perbedaan efektivitas antara aspirator elektrik dan bulb syringe dalam mengeluarkan lendir. Keduanya sama-sama menyelesaikan tugasnya dengan baik. Meski demikian, orang tua yang menggunakan bulb syringe merasa kurang puas dibandingkan mereka yang diberikan aspirator elektrik.

Baca juga: Cara Menggunakan Termometer Digital dan Manual untuk Semua Usia

Baca juga: Cara Menggunakan Bawang Merah untuk Menurunkan Panas pada Anak

5. FAQ

FAQ (c) Ilustrasi AI

Berapa kali sehari boleh menggunakan nasal aspirator pada bayi?

Penggunaan nasal aspirator sebaiknya dibatasi maksimal 3 hingga 4 kali dalam 24 jam. Waktu terbaik untuk melakukannya adalah sebelum menyusu dan sebelum tidur. Penyedotan yang terlalu sering dapat mengiritasi lapisan hidung bayi yang sangat halus dan justru memperburuk pembengkakan.

Apakah nasal aspirator aman untuk bayi baru lahir?

Nasal aspirator aman digunakan untuk bayi baru lahir jika dilakukan dengan teknik yang benar dan lembut. Gunakan ujung silikon yang paling kecil, mulai dari daya hisap terendah, dan lakukan sesi yang sangat singkat. Pastikan untuk selalu meneteskan cairan saline terlebih dahulu agar lendir mengencer dan lebih mudah disedot tanpa perlu tekanan berlebih.

Apakah harus menggunakan cairan saline sebelum menyedot lendir?

Sangat disarankan. Cairan saline membantu mengencerkan lendir yang kental dan mengeras, sehingga proses penyedotan menjadi lebih mudah dan tidak mengiritasi hidung bayi. Teteskan 1 hingga 2 tetes ke setiap lubang hidung dan tunggu sekitar 30 hingga 60 detik sebelum mulai cara menggunakan nasal aspirator pada bayi.

Tipe nasal aspirator mana yang paling baik untuk bayi?

Setiap tipe memiliki kelebihan masing-masing. Bulb syringe paling murah dan mudah didapat, oral suction memberikan kontrol daya hisap terbaik, dan aspirator elektrik menawarkan konsistensi paling tinggi. Pilihan terbaik bergantung pada preferensi orang tua dan kondisi bayi secara individual.

Bagaimana jika bayi menangis saat hidungnya disedot?

Menangis saat proses penyedotan adalah reaksi wajar karena bayi merasakan sensasi yang asing di hidungnya. Cobalah untuk membedong bayi terlebih dahulu agar lebih tenang, lakukan sesi yang singkat, dan berikan kenyamanan segera setelah selesai. Namun, jika bayi menangis sangat kencang dan meronta hebat, hentikan proses dan coba lagi di lain waktu.

Kapan harus membawa bayi ke dokter terkait hidung tersumbat?

Segera konsultasikan ke dokter jika bayi menunjukkan tanda kesulitan bernapas seperti napas cepat, cuping hidung kembang kempis, atau demam di atas 38 derajat Celsius (terutama pada bayi di bawah 3 bulan), tanda dehidrasi, menolak menyusu, atau pilek yang tidak membaik setelah lebih dari 5 hari.

Bagaimana cara membersihkan nasal aspirator setelah digunakan?

Segera setelah digunakan, bongkar semua komponen yang bisa dilepas. Cuci setiap bagian dengan air sabun hangat, bilas hingga bersih di bawah air mengalir, lalu keringkan sepenuhnya sebelum disimpan kembali. Untuk bulb syringe, sedot air sabun ke dalamnya, kocok, dan buang air berkali-kali. Simpan alat di wadah tertutup yang bersih dan jangan berbagi ujung alat antaranak untuk mencegah penyebaran kuman.

Daftar Referensi

  1. Cleveland Clinic. How To Use a Nasal Aspirator To Prevent Phlegm in Your Baby's Throat. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://health.clevelandclinic.org/nasal-aspirator-and-phlegm-in-your-babys-throat
  2. Nationwide Children's Hospital. Suctioning the Nose with a Bulb Syringe. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://www.nationwidechildrens.org/family-resources-education/health-wellness-and-safety-resources/helping-hands/suctioning-the-nose-with-a-bulb-syringe
  3. Braun Healthcare. Your Expert Guide to Nasal Aspirators. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://www.braunhealthcare.com/us_en/your-expert-guide-to-nasal-aspirators/
  4. The Bump. How to Use Nasal Aspirator - Bulb Syringe. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://www.thebump.com/a/how-to-use-bulb-syringe
  5. Happiest Baby. How to Suction Your Baby's Stuffy Nose. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://www.happiestbaby.com/blogs/baby/suction-baby-nose
  6. Allegro Pediatrics. Nasal Suctioning & Nasal Irrigation. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://www.allegropediatrics.com/blog/nasal-suctioning-nasal-irrigation
  7. Children's Mercy Hospital. How to Use a Manual Nasal Aspirator. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://www.childrensmercy.org/siteassets/media-documents-for-depts-section/documents-for-health-care-providers/evidence-based-practice/clinical-practice-guidelines--care-process-models/manual-nasal-aspirator.pdf
  8. Pediatrix. Baby Nasal Aspirators. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://www.pediatrix.com/about/for-media/news/baby-nasal-aspirators
  9. Dr. Noze Best. Common Nasal Aspirator Mistakes Parents Make. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://drnozebest.com/blogs/the-doctor-is-in/common-mistakes-parents-make-when-using-a-nasal-aspirator
  10. GROWNSY. How to Clear a Baby's Nose: 7 Mistakes Parents Make. Diakses pada 18 Mei 2026, dari https://grownsy.com/blogs/news/how-to-clear-babys-nose

(kpl/fed)

Rekomendasi

Trending