Jangan Panik! Ternak Jangkrik Ini Bisa Jadi Bisnis Rumahan Saat Ekonomi Sulit
Jangan Panik! Ternak Jangkrik Ini Bisa Jadi Bisnis Rumahan Saat Ekonomi Sulit (h)
Kapanlagi.com - Ketika tekanan ekonomi makin terasa dan harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, banyak orang mulai memutar otak mencari sumber pendapatan tambahan dari rumah. Di tengah situasi seperti ini, ada satu peluang usaha yang sering luput dari perhatian namun menyimpan potensi luar biasa: ternak jangkrik. Serangga kecil yang identik dengan suara malam ini ternyata bisa menjadi mesin penghasil uang yang cukup menjanjikan, bahkan bisa dimulai dari lahan dan modal yang sangat terbatas.
Dilansir dari Small Biz Trends, budidaya jangkrik sudah menjadi industri yang berkembang pesat di Asia, Afrika, serta Amerika Selatan dan Tengah, dengan peternak kecil mampu menghasilkan rata-rata 5.000 hingga 10.000 dolar AS per tahun secara bersih. Angka ini cukup signifikan, terutama di wilayah dengan pendapatan kotor rata-rata di bawah 6.000 dolar AS. Pasar peternakan serangga secara global bahkan tercatat tumbuh dengan laju tahunan melebihi 20 persen.
Advertisement
1. Mengapa Ternak Jangkrik Menjadi Pilihan Cerdas di Masa Sulit?
Ternak jangkrik memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya cocok sebagai bisnis rumahan, terutama saat kondisi ekonomi sedang tidak bersahabat. Berbeda dari peternakan konvensional yang membutuhkan lahan luas dan modal besar, jangkrik bisa dipelihara di ruang sempit seperti garasi, gudang, atau bahkan sudut kamar.
Robert Nathan Allen, pendiri Little Herds, sebuah organisasi nirlaba yang mengedukasi publik tentang serangga sebagai pangan, dikutip dari Hello Homestead menyatakan, "Kamu bisa beternak jangkrik di dalam kotak penyimpanan di lemari, gudang, atau garasi, atau bisa juga membuat peternakan mikro di kontainer pengiriman atau bangunan kecil."
Mengacu pada data dari The Critter Depot, salah satu keunggulan ekonomis paling menarik dari beternak jangkrik adalah biaya awal dan operasional yang relatif rendah. Jangkrik membutuhkan ruang minimal, bisa hidup subur di wadah sederhana, dan pakannya terdiri dari sisa makanan yang murah atau bahkan daur ulang. Hal ini membuat hambatan masuk ke bisnis ini jauh lebih kecil dibandingkan peternakan tradisional.
Baca juga: Budidaya Jamur: Rahasia Penghasilan Sampingan Tanpa Keluar Modal Banyak
2. Modal Awal yang Sangat Terjangkau
Sebagaimana dilaporkan Small Biz Trends, jika Anda berniat memulai dengan stok awal 1.000 ekor jangkrik, biaya peralatan kemungkinan hanya sekitar 200 dolar AS atau setara kurang lebih Rp3 juta. Estimasi ini mencakup wadah pemeliharaan, alat pemanas, pakan, dan tempat minum. Untuk konteks Indonesia, modal ini tentu bisa ditekan lebih rendah lagi karena banyak bahan bisa didapatkan secara lokal dengan harga murah.
Jeff Neal, operator The Critter Depot yang membiakkan dan mengirimkan jutaan jangkrik hidup ke seluruh Amerika, dikutip dari Fortune menceritakan pengalamannya, "Saya menghasilkan antara 20.000 hingga 30.000 dolar AS per tahun dari keuntungan bersih." Neal memulai usaha ini sebagai pekerjaan sampingan pada 2016 dan kini mengelolanya hanya dengan waktu sekitar 20 jam per minggu.
Riset dari IPB (Institut Pertanian Bogor) yang dipublikasikan di David Publishing juga menunjukkan bahwa rasio pendapatan terhadap biaya (revenue and cost ratio) pada usaha ternak jangkrik skala kecil di Indonesia mencapai 1,4. Angka ini mengindikasikan bahwa usaha ternak jangkrik skala kecil mampu memberikan keuntungan yang signifikan.
3. Langkah Memulai Ternak Jangkrik dari Rumah
1. Siapkan Kandang Sederhana
Berdasarkan panduan dari Modern Farmer, kandang jangkrik tidak lebih dari wadah plastik berukuran 20 galon (sekitar 75 liter). Satu wadah seperti ini mampu menampung populasi sekitar 1.000 ekor. Permukaan wadah yang licin mencegah jangkrik memanjat dan melarikan diri. Anda membutuhkan minimal dua wadah yang digunakan secara bergilir untuk jangkrik dewasa dan bayi.
Bahan tambahan yang diperlukan antara lain karton telur (sebagai tempat bersembunyi jangkrik), wadah dangkal, kawat jaring logam, perlit atau vermikulit, spons, botol semprot, dan lampu pemanas. Karton telur berfungsi sangat penting karena menyediakan permukaan luas untuk jangkrik merangkak dan memiliki daya serap yang baik.
2. Jaga Suhu dan Kelembapan
Jangkrik adalah makhluk yang menyukai lingkungan hangat, lembap, dan teduh. Suhu optimal kandang perlu dijaga pada rentang 27–32°C (80–90°F). Setiap penurunan satu derajat di bawah suhu ideal bisa menambah 2–3 hari masa pertumbuhan, yang berarti meningkatkan biaya pakan kumulatif per wadah. Kelembapan ideal berkisar antara 50–70 persen, dan bisa dijaga menggunakan botol semprot atau humidifier sederhana.
Baca juga: Tips Menghasilkan Uang dari Rumah Saat Ancaman Resesi
3. Pemberian Pakan yang Tepat
Jangkrik bersifat omnivora dan bisa diberi makan beragam bahan. Untuk skala rumahan di Indonesia, pakan bisa memanfaatkan sayuran segar seperti wortel, kentang, dan daun singkong—bahan yang mudah ditemukan dan murah. Riset dari IPB menunjukkan bahwa jangkrik Cliring (Gryllus mitratus) yang diberi pakan daun singkong (Manihot esculenta) menghasilkan total produksi telur tertinggi mencapai 1.478 butir, dengan konsumsi pakan terendah dan konversi pakan paling efisien.
Selain pakan segar, Anda juga bisa memberikan campuran biji-bijian, dedak, atau voer khusus. Pastikan untuk menyediakan sumber air menggunakan spons basah di wadah dangkal, bukan air terbuka, karena jangkrik muda sangat mudah tenggelam.
4. Proses Pembiakan
Siklus hidup jangkrik sangat singkat, sekitar 6–8 minggu dari telur hingga dewasa. Seekor jangkrik betina mampu menghasilkan 200 hingga 1.500 butir telur. Sediakan wadah berisi tanah lembap atau lumut gambut sebagai media bertelur. Setelah beberapa hari, pindahkan wadah telur ke kontainer terpisah untuk melindungi telur dari jangkrik dewasa yang bisa memangsanya. Telur biasanya menetas dalam 7–10 hari pada suhu optimal.
Baca juga: Budidaya Lele Ember: Stok Ikan Tanpa Kolam dan Modal Besar
4. Peluang Pasar yang Luas dan Beragam
Mengutip data dari The Critter Depot, jangkrik tidak hanya dijual sebagai pakan hewan peliharaan. Pasar jangkrik terbagi ke dalam beberapa segmen yang masing-masing memiliki potensi menggiurkan:
- Pakan reptil dan burung: Toko hewan peliharaan, kebun binatang, dan pemilik reptil secara konsisten membutuhkan pasokan jangkrik hidup.
- Umpan pancing: Pemancing lokal merupakan pembeli tetap yang potensial, terutama di daerah dekat sungai atau danau.
- Konsumsi manusia: Tren makanan kaya protein alternatif terus meningkat. Tepung jangkrik kini digunakan dalam protein bar, keripik, dan berbagai produk olahan.
- Pupuk organik: Kotoran jangkrik (frass) adalah pupuk organik yang kaya nitrogen, fosfor, dan kalium—memberikan aliran pendapatan tambahan dari produk sampingan.
Sebagaimana dikutip dari Fortune, usaha ternak jangkrik Neal bahkan meningkat tajam setelah pandemi COVID-19 karena lonjakan permintaan.
5. Jangkrik: Sumber Protein Masa Depan
Salah satu alasan kuat mengapa ternak jangkrik layak dilirik adalah kandungan nutrisinya yang luar biasa. Mengacu pada riset yang dipublikasikan di ScienceDirect, FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) merekomendasikan konsumsi serangga yang bisa dimakan karena nilai gizinya yang tinggi dan kondisi peternakan yang ramah lingkungan. Tercatat lebih dari 1.900 spesies serangga dikonsumsi manusia di seluruh dunia.
Czerwony, seorang ahli diet, dikutip dari Cleveland Clinic menyatakan, "Jangkrik sangat tinggi protein per volume, dan ilmu pengetahuan menemukan bahwa mereka lebih mudah diternakkan dibandingkan hewan."
Data dari Dietitians for Climate Action menunjukkan bahwa jangkrik mengandung rata-rata protein sebesar 65 gram per 100 gram berat kering—lebih tinggi dari daging sapi, telur, susu, maupun kedelai. Jangkrik juga mengandung semua asam amino esensial, kaya vitamin B12, zat besi, dan magnesium.
6. Ketahanan Ekonomi Melalui Ternak Serangga
Sebagaimana disampaikan World Bank dalam laporannya bertajuk Insect and Hydroponic Farming in Africa, peternakan serangga dan tanaman hidroponik berpotensi meningkatkan akses terhadap makanan bergizi sekaligus menciptakan jutaan lapangan kerja, memperbaiki iklim dan lingkungan, serta memperkuat ekonomi nasional. Operasi skala kecil bisa didirikan dengan biaya rendah, membuka peluang bagi perempuan, kaum muda, dan mereka yang tinggal di lokasi dengan sumber daya terbatas.
Studi dari ScienceDirect yang diterbitkan tahun 2019 juga menegaskan bahwa dengan investasi modal awal yang rendah, peternak serangga skala kecil memiliki peluang bagus untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki penghidupan, dan berkontribusi pada ketahanan pangan serta ekonomi sirkular. Peternakan serangga mampu mendiversifikasi sumber pendapatan rumah tangga dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan ekonomi.
Baca juga: Ide Usaha Sampingan Kekinian yang Cocok Buat Milenial
7. Tantangan yang Perlu Diantisipasi
Tentu saja, beternak jangkrik bukan tanpa kendala. Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi meliputi:
- Pengendalian suhu: Jangkrik membutuhkan lingkungan hangat. Di daerah dingin atau musim penghujan, biaya pemanas bisa meningkat.
- Kebersihan kandang: Kandang harus dibersihkan minimal setiap minggu. Makanan sisa dan limbah perlu dibuang untuk mencegah jamur, kontaminasi, dan kematian massal.
- Predator dan hama: Semut, tikus, dan hama lain bisa menjadi ancaman serius. Pastikan kandang terlindungi dengan baik.
- Edukasi pasar: Di beberapa daerah, masyarakat belum terbiasa dengan konsumsi jangkrik sehingga diperlukan upaya pemasaran dan edukasi.
- Risiko penyakit: Virus Acheta domesticus densovirus (AdDNV) bisa menyerang koloni dan menyebabkan kematian massal jika kebersihan tidak dijaga.
Baca juga: Solusi Hemat dengan Kompor Tungku Saat Gas LPG Langka
8. Tips Sukses Ternak Jangkrik untuk Pemula
Berdasarkan pengamatan redaksi dari berbagai sumber, berikut beberapa tips praktis agar usaha ternak jangkrik Anda berjalan lancar:
- Mulai dari skala kecil. Cukup siapkan 2–3 wadah dan beberapa ratus ekor jangkrik untuk belajar siklus pemeliharaan sebelum memperbesar skala.
- Catat semua data. Dokumentasikan jadwal pakan, suhu harian, tingkat kematian, dan hasil panen. Data ini menjadi fondasi untuk meningkatkan efisiensi dari waktu ke waktu.
- Manfaatkan limbah dapur. Sisa sayuran dan buah dari dapur bisa menjadi pakan gratis yang bergizi tinggi bagi jangkrik, sekaligus mengurangi sampah organik rumah tangga.
- Pasarkan secara lokal lebih dulu. Hubungi toko pancing, penjual burung, dan pelaku usaha makanan di sekitar Anda sebelum memperluas jangkauan secara daring.
- Diversifikasi produk. Selain menjual jangkrik hidup, pertimbangkan menjual jangkrik kering, tepung jangkrik, atau pupuk organik dari kotoran jangkrik.
Baca juga: Cara Budidaya untuk Penghasilan Tambahan Tanpa Quit Kerja
9. Spesies Jangkrik yang Cocok untuk Indonesia
Berdasarkan riset dari IPB yang diterbitkan David Publishing, tiga spesies jangkrik lokal yang umum dibudidayakan di Indonesia adalah Gryllus spp., Gryllus mitratus (jangkrik Cliring), dan Gryllus testaceus (jangkrik Cendawang). Di antara ketiganya, jangkrik Cliring menunjukkan performa reproduksi terbaik dengan periode bertelur terpanjang (45 hari) dan produksi telur harian mencapai 32,85 butir per hari.
Untuk skala internasional, sebagaimana dikutip dari CricketOps, spesies Acheta domesticus (jangkrik rumah) merupakan rekomendasi standar bagi pemula karena memiliki data pemeliharaan paling lengkap dan bisa melayani pasar pakan maupun tepung jangkrik. Waktu pertumbuhan optimal adalah 5–6 minggu pada suhu 29–32°C.
10. Potensi Penghasilan: Simulasi Sederhana
Mari kita hitung secara kasar potensi penghasilan dari ternak jangkrik skala rumahan di Indonesia:
Komponen Estimasi Modal awal (5 wadah + peralatan) Rp500.000 – Rp1.500.000 Biaya pakan bulanan Rp200.000 – Rp400.000 Siklus panen Setiap 6–8 minggu Harga jual jangkrik hidup Rp50.000 – Rp80.000 per kg Potensi panen per siklus 5 – 15 kg (skala pemula) Pendapatan kotor per siklus Rp250.000 – Rp1.200.000
Dengan mengoptimalkan produksi dan memperluas pasar, penghasilan ini bisa meningkat signifikan dalam beberapa siklus. Sebagaimana dicatat CricketOps, operasi ternak jangkrik pakan umumnya mencapai titik impas dalam 6–9 bulan sejak dimulai.
Baca juga: Film Motivasi Bisnis yang Bisa Jadi Inspirasi Mengembangkan Usaha
11. Jangkrik dan Keberlanjutan Lingkungan
Selain menguntungkan secara finansial, ternak jangkrik juga ramah lingkungan. Jangkrik membutuhkan jauh lebih sedikit air, pakan, dan lahan dibandingkan ternak konvensional seperti sapi atau ayam. Mereka juga menghasilkan limbah yang minimal dan bisa diberi makan dari sampah organik dapur, menjadikannya bagian dari pola hidup hemat dan berkelanjutan.
Merujuk laporan World Bank, kedua teknologi ini—peternakan serangga dan hidroponik—cocok dalam model ekonomi sirkular yang bisa melengkapi pertanian konvensional. Mereka menghemat uang petani, mengurangi impor pakan dan pupuk, serta membantu menekan emisi gas rumah kaca.
Baca juga: Ide Nama Usaha Cemilan yang Kreatif untuk Bisnis Anda
12. Dari Garasi Menuju Bisnis Nyata
Ternak jangkrik bukan sekadar tren sesaat. Dengan pertumbuhan pasar yang melesat, dukungan riset dari lembaga internasional seperti FAO dan World Bank, serta modal awal yang sangat terjangkau, usaha ini layak dipertimbangkan oleh siapa saja yang ingin memiliki sumber pendapatan tambahan—terutama di masa ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Neal, peternak jangkrik asal Pennsylvania, dikutip dari Fortune mengungkapkan alasannya tetap menjalani bisnis ini, "Setidaknya saya punya bisnis rumahan kecil ini, usaha sampingan yang bisa saya andalkan. Mungkin saya akan menggunakannya sebagai penghasilan tambahan saat pensiun nanti. Jadi saya tidak melihat alasan untuk melepaskannya—bisnis ini hanya memberikan manfaat."
Kuncinya adalah memulai dari yang kecil, konsisten dalam perawatan, dan terus belajar dari setiap siklus produksi. Garasi yang sepi hari ini bisa menjadi ladang cuan yang menjanjikan esok hari. Tidak perlu panik menghadapi ketidakpastian ekonomi—kadang solusinya datang dari serangga kecil yang selama ini hanya Anda dengar suaranya di malam hari.
Baca juga: Selebriti yang Punya Bisnis Unik dan Anti Mainstream
Daftar Referensi
- Small Biz Trends. How to Make Money with a Cricket Farm. Diakses pada 10 Juni 2026, dari https://smallbiztrends.com/cricket-farm/
- Fortune. How a Millennial Dad Turned Breeding Crickets into a $30,000 Side Hustle. Diakses pada 10 Juni 2026, dari https://fortune.com/2023/04/25/breeding-crickets-millennial-side-hustle/
- The Critter Depot. How to Start Your Own Cricket Farm. Diakses pada 10 Juni 2026, dari https://www.thecritterdepot.com/blogs/news/how-to-start-your-own-cricket-farm
- Cleveland Clinic. What Is Acheta Protein? Diakses pada 10 Juni 2026, dari https://health.clevelandclinic.org/acheta-protein-eating-crickets
- World Bank. Insect and Hydroponic Farming Could Boost Food Security, Business, and the Circular Economy. Diakses pada 10 Juni 2026, dari https://www.worldbank.org/en/news/press-release/2021/12/08/insect-and-hydroponic-farming-could-boost-food-security-business-and-the-circular-economy
(kpl/fed)
Advertisement
D Academy 8
-
Event Dangdut Potret Tasya Allesia Hibur Para Penonton di Kediri
-
Dangdut Academy Harsiwi Achmad Tegaskan Couple Muncul Alami di Dangdut Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8