CLOSE

Belum Terlambat! Mulai Bikin Kompor Tungku Sekarang Sebelum Gas LPG Langka

Belum Terlambat! Mulai Bikin Kompor Tungku Sekarang Sebelum Gas LPG Langka
Belum Terlambat! Mulai Bikin Kompor Tungku Sekarang Sebelum Gas LPG Langka (h)

Kapanlagi.com - Kelangkaan gas elpiji 3 kg bukan lagi sekadar rumor di grup WhatsApp ibu-ibu. Fenomena ini sudah menjadi kenyataan pahit yang dirasakan jutaan keluarga Indonesia, mulai dari kota besar hingga pelosok desa. Harga yang melonjak, antrean panjang di pangkalan, hingga stok yang menghilang berminggu-minggu telah memaksa banyak rumah tangga mencari jalan keluar. Secara global, sekitar 2,1 miliar orang masih memasak menggunakan bahan bakar padat seperti kayu, arang, dan kotoran hewan di tungku terbuka dan kompor yang tidak efisien. Di Indonesia sendiri, sekitar 89,71% rumah tangga masih mengandalkan gas atau elpiji sebagai bahan bakar utama memasak, sementara baru 0,43% yang beralih ke listrik.

Ketergantungan yang sangat tinggi pada satu sumber energi ini menjadikan dapur keluarga Indonesia sangat rentan terhadap gangguan pasokan. Kabar baiknya, ada solusi sederhana yang sudah teruji selama lebih dari empat dekade dan bisa dirakit siapa pun dalam hitungan menit: kompor tungku rocket.

1. Mengapa Gas LPG Semakin Sulit Didapat di Berbagai Daerah

(c)Ilustrasi AIFenomena kelangkaan gas elpiji 3 kg di Indonesia dipicu oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Perubahan regulasi distribusi dari pengecer ke pangkalan resmi sempat menimbulkan kekacauan di lapangan. Temuan di lapangan menunjukkan harga eceran tertinggi LPG 3 kg yang seharusnya berkisar Rp16.000–Rp19.000 per tabung, di beberapa wilayah bisa mencapai Rp50.000. Kondisi ini diperparah oleh praktik penimbunan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Ketergantungan ini berbahaya karena sebagian besar LPG Indonesia masih berasal dari impor, sehingga harga domestik rentan terhadap gejolak pasar energi global. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, situasi ini bukan sekadar ketidaknyamanan—melainkan ancaman terhadap kelangsungan dapur sehari-hari. Saat gas tidak tersedia, aktivitas memasak terhenti dan kebutuhan gizi keluarga terancam.

Baca juga: Persiapan menghadapi krisis energi yang wajib ada di rumah

2. Kompor Tungku Rocket: Teknologi Sederhana dengan Efisiensi Luar Biasa

(c)Ilustrasi AIDesain kompor tungku rocket pertama kali dikembangkan pada 1982 oleh Dr. Larry Winiarski di Aprovecho Research Center, Oregon, sebagai upaya meningkatkan efisiensi memasak dengan biomassa di wilayah yang minim sumber daya. Teknologi ini bekerja berdasarkan prinsip ruang pembakaran berbentuk "L" yang terisolasi, menciptakan aliran udara terarah dan pembakaran yang hampir sempurna.

Dilansir dari Salt and Prepper, ruang pembakaran berbentuk L memaksa udara melewati jalur sempit dan terisolasi, menciptakan suhu tinggi dan pembakaran sempurna sebelum gas mencapai permukaan memasak. Hasilnya sangat mengesankan: kompor rocket menggunakan 70–90% lebih sedikit kayu dibanding api terbuka untuk memasak hidangan yang sama.

Mengacu pada riset yang dipublikasikan Mother Earth News, kedua tungku menyala dengan mudah, membakar panas, dan hanya menggunakan beberapa batang kayu karena desainer kompor rocket mengincar efisiensi radikal. Berdasarkan riset yang dipublikasikan ScienceDirect, pengujian performa kompor rocket menunjukkan peningkatan efisiensi termal hingga 32% dibandingkan tungku tiga batu tradisional yang hanya mencapai 14%.

Keunggulan Kompor Tungku Rocket Dibanding Tungku Biasa

Berbeda dengan tungku tradisional tiga batu yang membuang sebagian besar panas ke udara, kompor rocket memusatkan energi panas tepat di bawah panci. Ruang pembakaran kompor rocket diisolasi agar api tetap panas di atas 650°C sehingga kayu terbakar lebih sempurna, serta mengurangi asap yang merupakan bahan bakar yang belum terbakar seluruhnya.

Beberapa keunggulan utama kompor tungku rocket meliputi:

  • Modal pembuatan sangat murah, di bawah Rp50.000, dengan bahan bakar ranting yang bisa didapat gratis.
  • Efisiensi termal mencapai 29%, dengan pengurangan konsumsi bahan bakar spesifik 43%, penurunan emisi CO sebesar 42%, serta pengurangan PM2.5 hingga 81% dibandingkan tungku tradisional tiga batu.
  • Asap hampir tidak ada berkat pembakaran yang sangat panas dan sempurna.
  • Bisa dirakit dari bahan daur ulang yang tersedia di sekitar rumah.

Baca juga: Panduan lengkap bikin kompor tungku rocket modal 50 ribu

3. Bahan dan Alat untuk Membuat Kompor Tungku dari Batu Bata

Metode paling populer dan mudah adalah menggunakan batu bata merah. Kompor rocket dari batu bata bisa dirakit dalam waktu kurang dari 15 menit dan langsung siap digunakan untuk memasak. Berikut bahan yang perlu disiapkan:

  • 16–25 buah batu bata merah
  • Satu potong kawat ram atau rak besi bekas berukuran sekitar 20x20 cm
  • Tanah liat atau pasir untuk penambal celah (opsional)
  • Alas datar dari tanah padat atau batu datar untuk fondasi

Sebagaimana disampaikan Mother Earth News, teknologi kompor rocket DIY memungkinkan siapa pun membangun solusi memasak yang sangat efisien dengan bahan umum dan alat dasar.

4. Langkah-Langkah Merakit Kompor Tungku Rocket

(c)Ilustrasi AITahap 1: Persiapan Fondasi

Pilih permukaan tanah yang rata dan kokoh di halaman atau area outdoor rumah. Pastikan lokasi jauh dari bahan mudah terbakar, bangunan, dan dahan pohon menggantung. Siapkan alas dari tanah padat atau batu datar untuk fondasi.

Tahap 2: Menyusun Batu Bata

Letakkan 4–5 batu bata dalam formasi huruf "U" atau "L" di atas fondasi. Sisakan satu sisi terbuka sebagai lubang pemasukan bahan bakar. Lubang ini juga berfungsi sebagai jalur masuk udara segar untuk pembakaran.

Jika tersedia, letakkan kawat ram atau rak besi bekas di bagian dasar sebagai grate. Fungsi kawat ram ini memungkinkan abu jatuh ke bawah sehingga api mendapat cukup oksigen untuk pembakaran optimal. Lanjutkan menambah lapisan batu bata ke atas hingga membentuk cerobong vertikal setinggi 4–6 lapis.

Tahap 3: Uji Coba dan Penyesuaian

Untuk menyalakan, masukkan sedikit penyala seperti kertas koran atau daun kering ke bagian bawah tungku, lalu nyalakan. Gunakan ranting kering yang diameternya tidak lebih tebal dari ibu jari. Saat uji coba pertama, air bisa mendidih dalam waktu sekitar tujuh menit.

Baca juga: Cara bikin kompor tungku untuk masak hemat tanpa gas LPG

5. Membuat Kompor Tungku Darurat dari Kaleng Bekas

Selain batu bata, kompor tungku rocket juga bisa dibuat menggunakan kaleng bekas. Metode ini sangat cocok untuk situasi darurat ketika gas habis mendadak atau saat berkemah. Bahan yang dibutuhkan sangat sederhana:

  • Satu kaleng besar (kaleng susu atau cat ukuran 1 kg) sebagai badan luar, dan satu kaleng kecil (kaleng kopi) sebagai ruang pembakaran dalam. Abu kayu, pasir, atau tanah kering digunakan sebagai isolator di antara kedua kaleng.

Langkah pembuatannya: Buat lubang di kaleng besar sesuai diameter kaleng kecil di sisi bawah untuk pemasukan bahan bakar horizontal. Masukkan kaleng kecil dengan kedua ujung terbuka secara horizontal melalui lubang yang sudah dibuat, membentuk terowongan pembakaran. Isi celah antara kedua kaleng dengan abu atau pasir sebagai isolator panas. Prinsip dasarnya sama persis dengan versi batu bata, hanya dalam skala lebih kecil.

Baca juga: Perbedaan alat masak tradisional dan modern

6. Tips Penggunaan dan Perawatan agar Tahan Lama

(c)Ilustrasi AIMembuat kompor tungku memang mudah, tetapi ada beberapa hal penting yang menentukan performa jangka panjangnya.

Gunakan kayu yang benar-benar kering. Jangan gunakan kayu basah. Kondisi bahan bakar yang tidak optimal seperti biomassa basah atau terlalu besar mendorong pembakaran tidak sempurna, menghasilkan asap tebal. Di Indonesia yang beriklim tropis, keringkan ranting di bawah sinar matahari selama 1–2 hari sebelum digunakan.

Bersihkan abu secara rutin. Penumpukan abu di dalam ruang pembakaran akan menghalangi aliran udara dan menurunkan efisiensi pembakaran secara signifikan.

Masak secara batch. Rencanakan menu agar bisa memasak beberapa hidangan sekaligus, memaksimalkan panas yang sudah dihasilkan. Dengan cara ini, bahan bakar yang digunakan jauh lebih sedikit dibanding memasak berkali-kali dalam porsi kecil.

Lindungi dari hujan. Kompor tungku dari batu bata tanpa semen bisa bertahan berbulan-bulan dengan penggunaan rutin, sementara versi yang direkatkan dengan mortar bisa bertahan bertahun-tahun. Rata-rata umur pakai kompor biomassa adalah sekitar 5 hingga 10 tahun.

Baca juga: Cara menggunakan oven tangkring yang benar untuk hasil panggang sempurna

7. Risiko Kesehatan Memasak dengan Bahan Bakar Padat dan Cara Meminimalkannya

Meskipun kompor tungku rocket jauh lebih bersih dibanding tungku terbuka, penting untuk memahami bahwa memasak dengan bahan bakar padat tetap memiliki risiko kesehatan yang perlu dimitigasi. Sebagaimana dilaporkan WHO, dampak kesehatan masyarakat dari memasak dengan bahan bakar padat sangat besar. WHO memperkirakan terdapat 3,8 juta kematian secara global per tahun yang disebabkan oleh polusi udara rumah tangga.

Mengacu pada Our World in Data, polusi udara dalam ruangan terutama diakibatkan pembakaran bahan bakar padat untuk memasak dan memanaskan rumah tangga. Pembakaran bahan bakar ini menghasilkan partikulat yang menjadi risiko kesehatan utama, terutama untuk penyakit pernapasan. Pembakaran di ruang tertutup seperti rumah kecil merupakan faktor risiko besar bagi penyakit tersebut.

Untuk meminimalkan risiko tersebut saat menggunakan kompor tungku rocket:

  • Selalu tempatkan kompor di area terbuka atau berventilasi sangat baik, bukan di dalam ruangan tertutup.
  • Gunakan hanya kayu kering—kayu basah menghasilkan asap jauh lebih banyak.
  • Pastikan desain cerobong cukup tinggi agar asap terarah ke atas, menjauhi area bernapas.
  • Jangan pernah meninggalkan kompor menyala tanpa pengawasan, terutama jika ada anak kecil di sekitar.

Merujuk laporan Frontiers in Energy Research, panel ahli teknologi kompor menetapkan standar baru untuk kompor biomassa yang ditingkatkan, yaitu setidaknya 90% pengurangan emisi dan 50% penghematan bahan bakar dibanding teknologi dasar api terbuka tiga batu. Kompor rocket telah mendekati standar ini, menjadikannya pilihan yang jauh lebih aman dibanding memasak langsung di atas api terbuka.

Baca juga: Cara memperbaiki kompor gas yang apinya kecil

8. Kalkulasi Penghematan Nyata dalam Rupiah

(c)Ilustrasi AIBerapa besar penghematan yang bisa dirasakan? Penghematan Rp274.000–Rp365.000 per bulan paling realistis tercapai bagi pengguna LPG non-subsidi yang mengganti 60–80% aktivitas memasak dengan kompor tungku rocket, dengan syarat memiliki akses ke ranting atau biomassa gratis di lingkungan sekitar. Untuk keluarga di area semi-urban atau pedesaan Indonesia, syarat ini umumnya terpenuhi.

Dengan modal awal maksimal Rp50.000, break-even point tercapai di bulan pertama penggunaan. Setiap bulan berikutnya adalah penghematan bersih.

Berikut perbandingan opsi memasak untuk keluarga 4–5 orang:

Kriteria Kompor Tungku Rocket Kompor Gas LPG Kompor Listrik Induksi Modal Awal Rp21.000–Rp50.000 Rp150.000–Rp500.000 Rp900.000–Rp1.500.000 Biaya Bahan Bakar/Bulan Rp0 (biomassa gratis) Rp95.000–Rp456.000 Tergantung tarif listrik Portabilitas Tinggi (versi kaleng) Rendah (tabung berat) Sedang Ketergantungan Impor Tidak ada Tinggi Sedang (listrik PLN)

Baca juga: Gas bumi sebagai alternatif energi rumah tangga

9. Alternatif Lain yang Bisa Dikombinasikan

Kompor tungku rocket bukan satu-satunya solusi. Mengombinasikannya dengan teknologi lain bisa mewujudkan dapur yang benar-benar mandiri energi.

Biogas Rumahan

Bagi yang memiliki akses ke limbah organik, biogas rumahan bisa menjadi pelengkap sempurna. Biogas rumahan hadir sebagai jawaban nyata: bahan bakar gratis yang bisa diproduksi sendiri dari halaman belakang rumah, tanpa perlu membeli gas atau minyak setiap bulan.

Baca juga: Panduan lengkap cara bikin biogas dari nol

Gas Bumi melalui Jaringan Pipa

Untuk keluarga yang tinggal di wilayah yang sudah terjangkau, gas bumi disalurkan secara terus-menerus tanpa perlu mengganti tabung dan sudah menjangkau 17 provinsi di Indonesia melalui Jaringan Gas Bumi (Jargas). Biayanya juga lebih hemat karena dibayar sesuai pemakaian.

Kompor Listrik Induksi

Opsi ini cocok untuk memasak ringan, meskipun biaya investasi awalnya lebih tinggi dan bergantung pada ketersediaan listrik. Gunakan kompor rocket untuk memasak berat seperti merebus dan menggoreng, dan kompor listrik induksi bertenaga surya untuk memasak ringan.

Baca juga: Cara membuka gas portable dengan aman dan benar

10. Peluang Usaha dari Kompor Tungku Rocket

(c)Ilustrasi AIKeterampilan membuat kompor tungku tidak hanya berguna untuk konsumsi pribadi. Bagi yang sudah mahir, kompor tungku rocket bisa dijadikan peluang usaha kecil. Jual kompor rocket siap pakai dari batu bata atau kaleng bekas ke tetangga, warung, atau pedagang kaki lima. Harga jual Rp75.000–Rp150.000 per unit dengan margin keuntungan yang cukup menarik.

Di beberapa daerah, kelompok tani dan PKK sudah menyelenggarakan pelatihan pembuatan kompor tungku hemat energi. Ini menjadi ajang berbagi ilmu sekaligus memperkuat ketahanan energi di tingkat desa. UNICEF telah mendistribusikan kompor rocket di negara-negara seperti Burundi dan Nepal, melatih perempuan lokal dalam konstruksinya untuk mendorong kemandirian ekonomi, dengan hasil berupa penghematan kayu bakar hingga 40%.

Selain kompor, abu yang dihasilkan juga bermanfaat. Abu dari kompor rocket menjadi sumber kalium untuk tanaman, sementara limbah kebun bisa dikomposkan menjadi pupuk organik. Pelajari juga cara komposting rumahan untuk pupuk subur tanpa beli pupuk kimia agar siklus keberlanjutan di rumah semakin lengkap.

11. Kesalahan Umum yang Harus Dihindari Pemula

Agar hasil maksimal, hindari beberapa kesalahan berikut saat pertama kali membuat dan menggunakan kompor tungku rocket:

  1. Mengisi bahan bakar terlalu banyak sekaligus. Bahan bakar harus dimasukkan sedikit demi sedikit agar seluruh material terbakar efisien tanpa membebani proses pembakaran.
  2. Tidak memasang pot skirt. Bungkus sisi panci dengan selembar logam tipis berjarak 6–7 mm dari dinding panci. Selubung logam ini merupakan cara sederhana namun penting untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar.
  3. Mengabaikan aliran udara. Jika api sulit menyala atau berasap tebal, periksa apakah celah di antara batu bata terlalu rapat atau abu menghalangi jalur udara.
  4. Menempatkan kompor di dalam ruangan. Selalu gunakan kompor tungku di area terbuka atau setidaknya berventilasi sangat baik untuk menghindari paparan asap.

Baca juga: Tips mengatasi kompor gas yang tidak menyala

12. Langkah Nyata Menuju Kemandirian Energi Dapur

Di tengah kenaikan harga LPG non-subsidi dan ketidakpastian energi global, kemandirian dimulai dari dapur. Kompor tungku rocket bukan pengganti seluruh metode memasak modern, melainkan pelengkap cerdas yang bisa menghemat ratusan ribu Rupiah setiap bulan.

Mulai dari satu langkah sederhana hari ini. Kumpulkan 16 batu bata dari sekitar rumah, susun dalam formasi "L", dan nyalakan api pertama Anda. Dalam hitungan menit, air akan mendidih—tanpa gas, tanpa antrean, tanpa ketergantungan. Dengan modal di bawah Rp50.000 dan bahan bakar ranting gratis, teknologi sederhana yang dikembangkan Dr. Larry Winiarski empat dekade lalu kini menjadi salah satu jawaban paling relevan bagi keluarga Indonesia yang ingin memulai langkah nyata menuju kemandirian energi rumah tangga.

Baca juga: Kompor tungku rocket terbukti hemat gas LPG hingga 300 ribu per bulan

Daftar Referensi

  1. WHO. Household Air Pollution. Diakses pada 5 Juni 2026, dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/household-air-pollution-and-health
  2. Mother Earth News. DIY Rocket Stove Plans. Diakses pada 5 Juni 2026, dari https://www.motherearthnews.com/diy/diy-rocket-stove-designs-zm0z16onzbre/
  3. Salt and Prepper. DIY Rocket Stove: Ultra-Efficient Cook Stove from Cinder Blocks. Diakses pada 5 Juni 2026, dari https://www.saltandprepper.com/learn/skills/rocket-stove-diy
  4. Our World in Data. Indoor Air Pollution. Diakses pada 5 Juni 2026, dari https://ourworldindata.org/indoor-air-pollution
  5. Frontiers in Energy Research. Current Challenges and Future Prospect of Biomass Cooking and Heating Stoves in Asian Countries. Diakses pada 5 Juni 2026, dari https://www.frontiersin.org/journals/energy-research/articles/10.3389/fenrg.2022.880064/full

(kpl/fed)

Rekomendasi

Trending