Ketika perang saudara melanda Amerika Serikat, negara itu terpecah antara pemerintah federal yang
semakin otoriter di bawah presiden yang memasuki masa jabatan ketiga dan tiga gerakan separatis
yang menuntut pemisahan dari pemerintah pusat. Di tengah klaim sang presiden bahwa kemenangan
sudah dekat, banyak pihak justru meyakini bahwa pasukan Western Forces yang dipimpin Texas dan
California tinggal selangkah lagi mencapai Washington. Kota demi kota berubah menjadi zona
pertempuran, dan kehidupan warga runtuh satu per satu.
Di tengah kekacauan itu, Lee
Smith, seorang fotografer perang veteran yang telah kehilangan banyak hal selama bertahun-tahun
bertugas, kembali berada di garis depan setelah selamat dari serangan bom bunuh diri di New York.
Tubuhnya selamat, tetapi mata dan pikirannya membawa luka yang sulit hilang. Setelah insiden
tersebut, Lee bertemu kembali dengan Joel, seorang jurnalis Reuters yang sudah lama menjadi rekan
kerja sekaligus satu dari sedikit orang yang masih memahami dirinya.
Keduanya lalu menemui Sammy, mentor sekaligus sosok senior dari The New York Times, untuk
membicarakan rencana nekat mereka. Lee dan Joel ingin menuju Washington demi mewawancarai
presiden yang semakin terisolasi. Sammy mencoba menghentikan keduanya, namun pada akhirnya
memutuskan untuk ikut bergabung agar bisa mengarahkan mereka dan setidaknya memastikan
keselamatan mereka.
Perjalanan dimulai pada pagi yang berat, dan tidak lama
kemudian Lee mengetahui bahwa Joel diam-diam mengizinkan Jessie Collin, gadis muda yang ia
temui saat insiden bom di New York, untuk ikut serta. Jessie adalah calon jurnalis foto yang penuh
ambisi, tetapi masih mentah dan belum memahami sepenuhnya apa artinya melihat kematian dari
jarak yang begitu dekat. Kehadirannya membuat Lee tidak nyaman, tetapi perjalanan itu sudah
terlanjur dimulai.
Mereka berhenti di sebuah pom bensin yang dijaga lelaki
bersenjata. Tempat itu tampak seperti zona aman, tetapi suasananya menyimpan sesuatu yang gelap.
Jessie yang penasaran berkeliling dan masuk ke area cuci mobil, tempat ia melihat para penjaga
sedang menyiksa dua pria yang mereka tuduh sebagai penjarah.
Salah satu dari
penjaga mengikuti Jessie, namun Lee datang tepat waktu dan memotret penjaga itu bersama
korbannya. Dengan foto sebagai alat negosiasi, Lee meredakan situasi, meski Jessie kemudian
merasa marah pada dirinya sendiri. Ia menyesal karena terlalu takut untuk mengambil gambar yang
menurutnya penting sebagai bukti.
Malam tiba, dan kelompok kecil itu
bermalam tidak jauh dari wilayah baku tembak. Keesokan harinya mereka tiba di lokasi pertempuran
ketika kelompok separatis melancarkan serangan terhadap bangunan yang masih dikuasai loyalis
pemerintah. Rentetan tembakan, jeritan, dan ledakan membuat udara terasa berat. Jessie, yang
awalnya ragu, akhirnya mulai memahami bagaimana memotret di tengah kekacauan.
Lee melihat potensi besar Jessie dan perlahan mulai membimbingnya. Jessie
bahkan memotret saat para separatis mengeksekusi tawanan loyalis, sebuah momen yang menandai
perubahan besar dalam mentalnya. Rasa takutnya mulai tergantikan dengan keteguhan untuk
merekam apa pun yang terjadi.
Kelompok tersebut bermalam di kamp
pengungsi sebelum melanjutkan perjalanan melewati sebuah kota kecil yang berusaha hidup seolah
perang tidak pernah ada. Penduduknya beraktivitas normal, namun mata mereka selalu waspada
terhadap penjaga bersenjata yang mengawasi setiap sudut.
Setelah
meninggalkan kota itu, mereka memasuki area bekas pasar malam yang berubah menjadi puing akibat
pertempuran. Tiba-tiba tembakan sniper menghantam udara. Para penembak jitu yang tersembunyi
justru menertawakan Joel ketika ia bertanya mereka berada di pihak siapa. Jawaban mereka
sederhana, bahwa mereka hanya membunuh orang yang mencoba membunuh mereka.
Jessie semakin terbiasa dengan pemandangan mengerikan dan keterampilannya
meningkat pesat. Pada satu titik, ia bertanya kepada Lee apakah Lee akan memotretnya jika ia mati.
Lee menjawab jujur bahwa ia akan melakukannya.
Perjalanan mereka
terganggu lagi ketika bertemu dua wartawan asing yang mereka kenal, Tony dan Bohai. Tony pindah ke
mobil Jessie dan Bohai, lalu keduanya melaju lebih dulu. Tidak lama kemudian, Lee, Joel, dan Sammy
menemukan mereka ditahan pasukan berseragam yang tidak mereka kenal. Pasukan itu sedang
mengubur warga sipil dalam kuburan massal.
Ketika mereka mencoba
bernegosiasi, pemimpin milisi itu mengeksekusi Bohai dan Tony tanpa ragu hanya karena mereka
dianggap bukan orang Amerika. Dalam kepanikan, Sammy melajukan truk mereka dan menabrak
anggota milisi untuk menyelamatkan Lee, Joel, dan Jessie. Tindakannya berhasil, namun Sammy
terluka parah dan akhirnya meninggal akibat luka tersebut.
Kehilangan Sammy
meninggalkan luka mendalam bagi ketiganya. Mereka berhasil tiba di pangkalan Western Forces di
Charlottesville dan menemukan bahwa sebagian besar loyalis telah menyerah. Ini berarti jalan menuju
Washington hampir tidak memiliki pertahanan, kecuali sisa pasukan paling fanatik yang masih setia
kepada presiden. Dalam suasana duka dan kelelahan, Joel yang mabuk mulai melampiaskan
kemarahan. Ia merasa kematian Sammy sia-sia.
Lee berusaha
menenangkannya dan mengatakan bahwa Sammy akan memilih mati saat menjalankan tugasnya.
Namun kata-kata itu tidak sepenuhnya menghapus rasa kehilangan. Sementara itu, Jessie makin
tenggelam dalam konflik batin yang tumbuh sejak perjalanan dimulai. Mereka bertiga melanjutkan
langkah menuju ibu kota yang hampir jatuh. Namun, apa yang sudah menunggu mereka di
Washington?
Penulis artikel: Abdilla Monica Permata B.