Pada tahun 1823 di kerajaan Dahomey, Afrika Barat, seorang jenderal tangguh bernama Nanisca
memimpin pasukan perempuan elit yang dikenal sebagai Agojie. Dalam sebuah operasi berani,
Nanisca dan para prajuritnya menyerang kamp musuh dan berhasil membebaskan sejumlah wanita
Dahomey yang sebelumnya diculik oleh para pedagang budak dari Kekaisaran Oyo.
Aksi heroik
itu memancing kemarahan Oyo dan membuat Raja Ghezo, penguasa Dahomey, memutuskan untuk
bersiap menghadapi perang besar demi mempertahankan kehormatan dan kebebasan rakyatnya. Ia
menugaskan Nanisca untuk melatih generasi baru prajurit perempuan agar siap menghadapi
pertempuran yang akan datang.
Di antara para calon prajurit muda itu terdapat Nawi, gadis
keras kepala dan pemberani yang diserahkan oleh ayahnya kepada raja karena menolak dijodohkan
dengan pria kasar yang ingin memukulnya. Nawi menolak tunduk pada tradisi dan memilih menjadi
prajurit demi memperjuangkan harga diri dan kebebasan.
Dalam pelatihannya,
ia bersahabat dengan Izogie, seorang prajurit senior yang bijak dan tangguh. Dari Izogie, Nawi belajar
bahwa menjadi Agojie bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang keberanian hati,
pengendalian diri, dan loyalitas kepada sesama. Namun di tengah kedekatan mereka, Nawi mulai
menyadari ada rahasia besar yang menghubungkannya dengan Nanisca.
Saat
mandi di sungai suatu hari, Nawi bertemu Malik, seorang pria setengah Dahomey yang datang
bersama rombongan pedagang budak Portugis yang dipimpin oleh Santo Ferreira. Malik berbeda dari
para penjajah lain, ia memiliki darah campuran dan menunjukkan rasa hormat terhadap budaya dan
rakyat Dahomey.
Pertemuan itu menumbuhkan pertemanan antara keduanya,
meskipun hubungan itu dilarang karena Malik datang bersama pihak yang bersekutu dengan musuh.
Diam-diam, Nawi tetap menemui Malik dan melalui percakapan mereka, ia mengetahui rencana jahat
yang sedang disusun oleh Kekaisaran Oyo bersama para pedagang Portugis: mereka berencana
menyerang Dahomey dan memperluas jaringan perbudakan di Afrika Barat.
Tanpa memikirkan konsekuensinya, Nawi memutuskan untuk melaporkan hal ini kepada
Nanisca. Namun tindakannya dianggap ceroboh dan berbahaya. Dalam amarah dan kekhawatiran,
Nanisca menegur Nawi dengan keras. Pertengkaran itu membuka luka lama yang selama ini
disembunyikan Nanisca. Ia akhirnya mengungkapkan rahasia kelam dari masa lalunya, bahwa ketika
masih muda, ia pernah ditangkap oleh pasukan Oyo yang dipimpin oleh Jenderal Oba Ade.
Nanisca diperkosa dan hamil akibat kejadian itu. Tak sanggup membesarkan anak
hasil kekerasan tersebut, ia terpaksa menyerahkannya kepada orang lain. Sebelum melepaskan
bayinya, Nanisca menanamkan sepotong gigi hiu ke bahu kiri sang anak sebagai tanda pengenal agar
suatu hari mereka dapat saling mengenali.
Pengakuan itu membuat Nawi
terkejut dan terdiam. Dengan tangan gemetar, ia memperlihatkan sebuah bekas luka di bahu kirinya
kepada Nanisca. Melihat luka itu, Nanisca tersentak dan segera membantu Nawi menyingkirkan
sesuatu yang tertanam di bawah kulitnya.
Saat potongan gigi hiu itu akhirnya
dikeluarkan, keduanya menyadari satu kebenaran, Nawi adalah putri kandung Nanisca yang selama ini
hilang. Momen emosional itu mengubah hubungan mereka sepenuhnya. Dari sekadar komandan dan
prajurit, kini mereka adalah ibu dan anak yang disatukan kembali oleh takdir di tengah ancaman
perang besar.
Sementara itu, ancaman dari Kekaisaran Oyo semakin nyata.
Jenderal Oba Ade, pria yang pernah menghancurkan hidup Nanisca, kini memimpin pasukan besar dan
bersekutu dengan para pedagang budak untuk menaklukkan Dahomey. Malik, yang terjebak di antara
dua dunia, darah Afrika dari ibunya dan warisan Eropa dari ayahnya, mulai menyadari kekejaman
sistem perbudakan yang dijalankan oleh bangsanya sendiri. Ia menghadapi dilema berat, tetap setia
pada rombongan Portugis atau membantu Nawi menyelamatkan rakyatnya.
Di
tengah ketegangan yang meningkat, Nanisca menyadari bahwa perang yang akan datang bukan hanya
tentang mempertahankan tanah air, tetapi juga tentang menebus dosa masa lalunya dan melindungi
putrinya dari penderitaan yang pernah ia alami. Ia bertekad untuk memimpin pasukannya melawan
Oyo, meskipun tahu bahwa pertarungan itu bisa menjadi yang terakhir baginya. Dengan semangat
yang diwariskan dari generasi perempuan tangguh sebelum mereka, Nanisca dan Nawi bersiap
menghadapi takdir yang telah menunggu.
Ketika malam terakhir sebelum
perang tiba, seluruh pasukan Agojie berkumpul di bawah cahaya obor di halaman istana. Mereka
berlatih, bernyanyi, dan saling menyemangati untuk menyingkirkan rasa takut. Nawi berdiri di samping
Nanisca, kali ini bukan hanya sebagai murid, tetapi sebagai darah daging yang siap berjuang di sisinya.
Malik diam-diam mengirimkan pesan kepada Dahomey tentang pergerakan pasukan Oyo,
membuktikan keberpihakannya.
Sementara Raja Ghezo mengumumkan bahwa
kemenangan Dahomey bukan hanya kemenangan sebuah kerajaan, melainkan kemenangan atas
perbudakan dan penindasan. Dalam keheningan malam itu, Nanisca menatap ke arah cakrawala dan
berjanji bahwa selama darah perempuan Dahomey masih mengalir, kebebasan akan selalu
diperjuangkan.
Mampukah Nanisca dan Nawi mempertahankan kerajaan
mereka serta menebus luka masa lalu yang kembali menghantui mereka?
Penulis artikel: Abdilla Monica Permata B.