FILM INDONESIA

Kisah Asmara dan Makanan di 'ARUNA DAN LIDAHNYA' Bikin Gagal Fokus

Minggu, 23 September 2018 21:52 Penulis: Sanjaya Ferryanto

Dian Sastrowardoyo & Nicholas Saputra © Kapanlagi/Adie Dwi Dharmawan

Kapanlagi.com - Film ARUNA DAN LIDAHNYA begitu eksploratif terhadap 21 menu makanan, minuman dan cemilan dari 4 kota yang dikunjungi para tokohnya. Tidak hanya itu, kuliner yang memanjakan lidah itu disajikan dalam kemasan balutan cinta dan asmara.

"Film ini memadukan elemen-elemen percintaan, persahabatan, konspirasi dan makanan itu menjadi rasakan yang pas. Film ini cita-citanya ingin membuat masakan yang lezat, nah sajian yang lezat itu sajiannya harus pas. Jadi tidak akan yang mendominasi, tapi semuanya akan menjadi satu perpaduan," jelas Nicholas Saputra di meet and greet di Matos Kota Malang, Sabtu (22/9).

Penonton, kata Nicho, kalau mengabungkan perpaduan elemen itu akan bisa merasakan enak dan lezatnya film yang dibintanginya bersama Dian Sastrowardayo itu. Nicho sendiri mengaku tidak bisa menjelaskan prosentase perbandingan antara masakan dan kisah asmaranya.

1. Penonton Bakal Gagal Fokus

Sementara Dian Sastrowardoyo mengatakan, wajar jika para penonton filmnya akan gagal fokus, karena memang bintang utama film itu tidak hanya para aktor atau karakter, tetapi juga makanan. Visualisasi dalam bentuk dialog dan gambar tentu menjadi pemikat bagi para penonton.

"Memang katanya Bung Edwin (sutradara) sengaja tujuannya itu, karena bintang utamanya makanan. Bukan Kami-kami, karakter ini. Ndak cuma makanan, film ini juga bercerita tentang manusia-manusianya yang sedang makan itu," jelasnya.

Konsep penyajiannya, kata Dian, juga lumrah-lumrah saja dengan pendekatan kegiatan sehari-hari dan rileks. Sebagai contoh, bagaimana menghadapi perbedaan pendapat, tetapi terjadi di atas meja makan atau di warung.

2. Gunakan Pendekatan Sehari-Hari

"Kan perbedaan pendapat normal banget dalam keluarga, kita ketemu sama orang yang beda pendapatnya, tapi menyikapi perbedaan pendapat bisa kita hadapi dengan sangat ringan. Yaitu sambil makan bareng," katanya.

Begitupun mengenai kisah romantisnya, banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesuatu yang yang keseharian itu penonton jadi bisa ikut merasakan yang terjadi.

"Kadang-kadang dalam hidup tidak selalu kisah cinta itu harus ada jawabannya, kadang kisah-kisah itu tidak berbalas, atau dikira cinta ternyata tidak. Kayak gitu, ini sangat terjadi dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

3. Pilih Makanan Sebagai Daya Tarik

Sementara Edwin, sutradara Aruna dan Lidahnya menyatakan film ini sengaja memilih makanan sebagai daya tarik, selain itu karakter empat tokoh yang memiliki dinamika komplek. Tetapi bisa disajikan dengan ringan karena dekat dengan keseharian.

"Saya pribadi suka dengan makanan, saya juga suka film yang kekuatannya karakter dan dialognya. Bagaimana makanan ini bisa berinteraksi seakan menjadi teman para penonton, itu tujuan kami. Kami ingin mendekatkan apa yang ada di film dengan penonton," katanya.

(kpl/dar/frs)

Reporter: Darmadi Sasongko


REKOMENDASI
TRENDING