CLOSE

'NAGABONAR 2' Warnai Pertemuan Pelajar di Den Haag

Kapanlagi.com - Di tengah maraknya perfilman nasional yang dilatarbelakangi cerita hantu atau percintaan remaja, Deddy Mizwar mencoba memberi warna baru dalam film NAGABONAR 2 karena film ini mengetengahkan kontekstualisasi nasionalisme dalam era kontemporer dengan cara yang menarik.Film yang diputar mengawali Pertemuan Pelajar Indonesia (PPI) di Den Haag dengan tema "Indonesia Masa Depan: Peran Kaum Muda", akhir pekan itu nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut menginspirasi peserta dalam memaknai nasionalisme sesuai dengan bidang dan kompetensi yang dimiliki.Tim media Pertemuan Pelajar Indonesia Denhaag, Ratna Yunita dalam keterangannya di London, Senin menyebutkan bahwa film ini menjadi refleksi menarik bagi para peserta pertemuan pelajar Indonesia untuk mengungkapkan ide sesuai dengan kompetensinya dalam menjawab kerisauan atas permasalahan Indonesia di masa depan.Film ini ditulis Musfar Yasin dan dibintangi sekaligus disutradarai Deddy Mizwar, tokoh senior perfilman nasional Indonesia menarik banyak peserta pertemuan yang datang dari berbagai negara di Eropa.Usai pemutaran film ini yang banyak mengangkat nilai nilai mulai dari solidaritas, keberagaman, cinta dalam konteks yang lebih luas dari sekedar cinta dua insan remaja, rasa percaya terhadap orang lain, dan tentunya cinta terhadap bangsa.Film yang sarat dengan pesan moral dengan cara penyuguhan yang diselingi komedi yang cerdas dan segar yang jauh dari kesan menggurui bercerita mengenai seorang pencopet yang menjelma menjadi Jenderal.Dalam sekuel yang turut dibintangi Tora Sudiro, Wulan Guritno dan Lukman Sardi. Tora Sudiro berperan sebagai Bonaga, anak tunggal Nagabonar yang tumbuh sukses menjadi pengusaha di Jakarta. Bonaga mengajak Nagabonar ke Jakarta untuk membujuk sang Ayah untuk do the impossible.Menjual perkebunan kelapa sawit milik keluarganya, dimana terdapat makam orang-orang yang telah berjasa dan memiliki kenangan sejarah, kepada investor asing demi memajukan perusahaannya.Plot inti dari film ini adalah pertentangan klasik antar dua generasi, namun dengan berdiri tersendiri. kedua cara pandang yang berbeda ini, dengan jalan cerita yang kadang lucu, kadang menyentuh dan selalu membekas di nurani.Deddy Mizwar terbukti berhasil dalam cara penyampaian pesan kepada khalayaknya, karena para penonton menunjukkan apresiasi dengan memberikan standing ovation seusai pemutaran film.Peserta kemudian dilibatkan dalam diskusi interaktif dengan Deddy Mizwar. Isu yang diangkat dalam acara diskusi sangat beragam, mulai dari pemaknaan simbol nasionalisme, hingga peran religi dalam masyarakat Indonesia.Di akhir diskusi, Deddy Mizwar mengutip monolog Nagabonar yang diucapkan kepada anaknya, yang mampu menjembatani cara pandang antar generasi yang seringkali berseberangan. "Salahku cuma satu, Bonaga. Aku masih hidup di zamanmu"."Zaman yang tidak aku mengerti, tetapi aku coba untuk mengerti karena aku begitu mencintaimu." Ternyata pada dasarnya, film ini tetaplah sebuah kisah cinta. Baik cinta ayah terhadap anaknya, maupun cinta tanah air. Kekuatan cinta terbukti dapat mengatasi segala persoalan, termasuk permasalahan negeri tercinta, Indonesia.

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

(*/erl)

Rekomendasi

Trending