FILM INDONESIA

Takut Ditangkap, Hanung Bramantyo Baca Novel 'Bumi Manusia' Sembunyi-Sembunyi

Rabu, 19 Juni 2019 21:45 Penulis: Tyssa Madelina

Hanung Bramantyo sempat sembunyi-sembunyi baca novel Bumi Manusia © KapanLagi.com/Bayu Herdianto

Kapanlagi.com - Bumi Manusia merupakan novel kontroversial karya mendiang Pramoedya Ananta Toer. Meski laris manis, novel ini sempat dilarang beredar dengan tudingan mempropagandakan paham komunisme.

Hanung Bramantyo selaku sutradara film adaptasi BUMI MANUSIA mengaku bila ia sempat membaca secara sembunyi-sembunyi. Karena pada saat itu ia takut ditangkap oleh pihak kepolisian.

"Di umur 17 tahun saat saya membaca Bumi Manusia karya mendiang Pram ini sambil sembunyi-sembunyi. Teman-teman harus tahu itu. Saya membaca Bumi Manusia sembunyi-sembunyi karena takut ditangkap sama polisi," aku Hanung dalam peluncuran poster film BUMI MANUSIA di Epicentrum XXI, kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (19/6/2019).

 

1. Awalnya Hanya Supaya Keren

Pada awalnya Hanung Bramantyo membaca novel Bumi Manusia bukan karena mengapresiasi penulisnya. Tetapi hanya agar terlihat keren di antara teman-teman sepergaulan.

"Ketika baca Bumi Manusia yang muncul itu sebetulnya bukan mengapresiasi novelnya, tapi ada polarisasi dulu bahwa pengarangnya ditahan, masuk politik, dan pada saat itu melawan rezim orde baru dianggap keren. Jangankan melawan rezim order baru, melawan kepala sekolah kita aja itu keren, apalagi kalau melawan pemerintah. Baca buku Pram pada saat itu dianggap melawan pemerintah itu dianggap keren," kenang Hanung.

Ia melanjutkan, "Jadi pada saat bergaul sama seumuran kita, 'Lo sudah baca Bumi Manusia belum?' 'Sudah dong' Nah itu menjadi suatu kebanggaan pada saat itu," jelasnya.

2. Membaca Ulang

Bila saat muda membaca supaya terlihat keren meski ketakutan, begitu mengulangnya di era sekarang, Hanung Bramantyo mendapatkan sudut pandang yang berbeda. Suami Zaskia Adya Mecca ini tak lagi ketakutan.

"Kemudian saya baca lagi di era yang sekarang-sekarang ini. Ketika saya membaca lagi, sudah beda karena akses mudah, pemerintah juga sudah tidak represif lagi. Apalagi pada saat itu saya membaca kedua kalinya tahun 2000-an, itu rasanya sudah beda lagi. Rasanya ketika saya membaca buku itu ya sudah seperti karya sastra biasa, kayak karya Hamka aja. Jadi polarisasi itu sudah hilang. Saya baca menjadi relax, nggak ada rasa ketakutan, nggak ada rasa kebanggaan apapun," tandasnya.


REKOMENDASI
TRENDING