Cerita Masa Kecil Anak Dono Warkop Hingga Kuliah S3 di Swiss

Senin, 04 Januari 2016 18:15 Penulis: Fitrah Ardiyanti
Cerita Masa Kecil Anak Dono Warkop Hingga Kuliah S3 di Swiss Keluarga Dono/┬ęDokpri
Kapanlagi.com - Tak banyak yang tahu jika sosok yang kerap dibully dalam film-film Warkop DKI, Dono, pernah bekerja sebagai seorang Dosen Sosiologi di FISIP Universitas Indonesia. Sebagai seorang lulusan UI, Dono pun ternyata mengutamakan pendidikan bagi ketiga putranya, Andika Aria Sena, Damar Canggih Wicaksono dan Satrio Sarwo Trengginas.

"Bapak saya keras soal pendidikan. Pendidikan itu nomor satu. Dia bilang, 'Kalau kalian enggak masuk (perguruan tinggi) negeri, saya enggak mau bayarin'. Kita berusaha supaya masuk negeri," tutur putra sulung Dono, Andika Aria Sena, di rumahnya kawasan Lenteng Agung, Sabtu 2 Januari 2016.

Namun, Andika mengaku jika adiknya, Damar Canggih Wicaksono, punya keinginan yang berbeda dari kedua saudara bahkan bapaknya. "Tapi yang beda itu adik saya si Damar. Bapak itu lulusan UI, saya UI dan adik saya yang paling kecil itu UI. Tapi Damar enggan masuk UI, dia milih UGM jurusan Teknik Nuklir. Selama kuliah di UGM, Damar tinggal dengan adiknya bapak yang kuliah di UGM. Keluarga bapak itu keluarga dosen," jelasnya.

Damar memang terlihat lebih pintar dari kedua saudaranya. "Semangatnya beda. Saya kalau pagi mau sekolah, yang bangunin saya itu ya Damar. Dia udah siap baru bangunin saya. Pulang sekolah bareng, saya langsung main, Damar buat PR," kenangnya.

"Dia dulu gemuk, dia kalau punya tekad itu keras. Baru kurus pas masuk UGM, kalau ke UGM jalan kaki dari Sleman ke UGM. Sempat pingsan malah. Kalau main game, selalu tamat," tambah sang kakak.

Dono meminta putranya mengutamakan pendidikan/©DokpriDono meminta putranya mengutamakan pendidikan/©Dokpri

Meski sang ayah adalah seorang pesohor yang namanya abadi hingga kini, mereka bertiga harus banting tulang untuk mengejar cita-citanya. Maklum, mereka ditinggalkan oleh kedua orangtuanya di usia yang masih sangat muda.

"Ibu saya meninggal tahun '99, umur saya 19 tahun. Bapak itu meninggal tahun 2001, umur saya 21. Saya masih kuliah, adik saya Damar masih SMA dan Satrio SD. Setelah ibu saya meninggal, adik saya yang paling kecil itu sudah tinggal dengan tantenya di Cinere," ujarnya.

Berjuang dengan keras, mereka bertiga pun akhirnya bisa memenuhi keinginan mendiang kedua orangtuanya terutama sang bapak. Andika bersyukur kedua orangtuanya memberikan nama sarat makna yang membawa doa bagi mereka semua.

"(Sukses) Kemungkinan dari nama. Kalau saya Aria, artinya pemimpin dan Damar Canggih itu penerang yang canggih, Satrio Trengginas, trengginas, ke mana saja udah pernah. Doa dari nama itu bener," tutupnya.

Walaupun tinggal terpisah, ketiganya masih terus berkomunikasi. Andika bertemu dengan Damar pada momen Tahun Baru kemarin. "Tahun baru kemarin pulang, ketemu pak Indro. Masih ngumpul, tapi paling telepon," tandasnya.

(kpl/ded/tch)

Reporter:

Dedi Rahmadi

REKOMENDASI
TRENDING